WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Totalitas Buat Gondang dan Opera Batak

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Totalitas Buat Gondang dan Opera Batak
Samosir, AWK | TI | Antarafoto

Hampir seluruh hidupnya untuk gondang, uning-uningan, tortor dan opera Batak. Ia murid langsung almarhum Tilhang Oberlin Gultom itu (pendiri opera Batak akhir tahun 1920-an). Ia amat gelisah atas perkembangan kesenian Batak dewasa ini. Sebab, menurutnya, semua orang Batak sudah menyeleweng dari budayanya. Lihat pesta-pesta perkawinan, band lebih selalu ditanggap ketimbang gondang termasuk saat mangulosi, menyampirkan ulos kepada pengantin dan kerabatnya.

Pimpinan Opera Batak Tilhang Serindo
Lihat Curriculum Vitae (CV) Samosir, AWK

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Samosir, AWK

QR Code Halaman Biografi Samosir, AWK
Bio Lain
Click to view full article
Valentina A Kusumaningtyas
Click to view full article
Sutarman
Click to view full article
Vincentius Kirdjito
Click to view full article
Fira Basuki
Click to view full article
Widya Purnama
Click to view full article
Diah Iskandar
Click to view full article
MH Thamrin

Menuju rumahnya di belahan timur Jakarta selepas tol, jalan aspal menanjak dan sempit. Hanya bilangan kilometer dari Taman Mini. Di sisi jalan menganga sebuah gang semak dan tanah coklat. Seorang Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
muda cantik sedang menanti. Ia memandu kami.

Tak sampai tiga menit, tersua hamparan tanah merah 200-an meter persegi. Kering dan keras sebab matahari sedang terik. Tak satu belukar tumbuh. Hanya rumah petak berpintu lima yang kelihatan di seberang. Lantainya satu kaki di bawah permukaan tanah merah itu. Bila hujan turun, gumpalan lumpur mesti melekat di kasut mengonggok di lantai rumah bilik itu.

Sesosok laki-laki dengan seluruh rambut memutih berdiri di mulut pintu salah satu petak. Di tahun 1970 hingga 1980-an, wajah itu kerap terlihat di TVRI. Jarinya memetik kecapi di tengah gondang atau uning-uningan Toba. Tahunan ia menata dan mengisi tayangan tortor dan opera Batak di situ. Di tahun 1990-an sesekali ia mengiringi nyanyian dan tari Batak, bersama regu band Tarida Pandjaitan br Hutauruk, dalam program Horas di televisi swasta. Ia mudah dikenali dalam sorotan kamera, sebab pada usia tujuh puluhan, rambut putihnya selalu terkucir.

"Tak sulit sampai di sini?" kata AWK Samosir dalam Batak Toba, bahasa yang kami pakai selama percakapan. Di salah satu dinding bilik tamu itu beberapa kecapi dan suling tergantung. Di sebuah sudut di baliknya tersusun seperangkat instrumen musik Batak untuk gondang dan uning-uningan. Tak lebih tiga meter dari sana dapur dengan api dan asap mengepul.

Begitu duduk di sofa tua yang compang, murid langsung almarhum Tilhang Oberlin Gultom itu (pendiri opera Batak akhir tahun 1920-an di Tapanuli dan pencipta 360 lagu, 12 tumba, dan 24 judul drama sampai akhir hayatnya tahun 1970) memulai pembicaraan dengan satu keluhan. "Pikiranku sudah buntu mengembangkan kesenian Batak sebab semua orang Batak sudah menyeleweng dari budayanya," katanya.

Yang menyedihkan, katanya, mereka terutama dari kalangan tua. Lihat pesta-pesta perkawinan. Band lebih selalu ditanggap ketimbang gondang. Ini sebetulnya tak keliru asalkan band untuk mengiringi nyanyian selingan. Akan lain ceritanya bila dipakai pula saat mangulosi, menyampirkan ulos kepada pengantin dan kerabatnya.

"Apakah ulos itu mereka maksudkan bermanfaat atau tak bermanfaat sesuai dengan hakikatnya, sebaiknya gondang yang disajikan untuk menarikan ulos sebelum disampirkan," katanya. "Sebab saat ulos ditenun dan disampirkan, selalu ada sabda pemberi makna dan penjelas fungsinya."

Jadi, siapa yang salah?
"Semuanya. Yang menyampirkan dan menerima ulos, juga pemusiknya. Semua jadi bodoh," kata Samosir yang pernah menjadi dosen tortor di Institut Kesenian Jakarta. "Bayangkan, mereka meminta lagu Poco-poco saat mangulosi. Lalu, apa artinya ulos?"

Penghargaan pada budaya sendiri pun, menurut Samosir, orang Batak sekarang sama sekali tak dapat dibanggakan. Kemunafikan sangat jelas. Baptis, sidi, kawin, memasuki rumah, mengucapkan syukur untuk kandungan berusia tujuh bulan, mati, sampai mengumpulkan belulang orang mati kepinginnya orang Batak diselenggarakan dengan adat, selain ritus keagamaan.

Akan tetapi, mereka masih setengah hati menjalankan adat. Petunjuknya apa?
"Lihat, santabi tu angka na burju (kecuali orang yang mengerti), untuk menawar band orang Batak bersedia di atas Rp 2 juta, tapi untuk gondang rela kalau di bawah Rp 1 juta," kata ketua Gondang Pardolok na Uli ini. "Yang membuat hati saya teriris adalah bila ada yang mengatakan, 'Sudah cukup Rp 700.000' untuk gondang, padahal pemain gondang yang berjumlah delapan itu seharian keringatan."

Lahir di Hutanamora, Onanrunggu, Pulau Samosir, pada 17 Agustus 1928, pria bernama Kasmin ini sudah menyanyi di usia 13 bersama opera keliling pimpinan Tilhang Gultom.

Di tahun 1941 itulah ia kehilangan ibu yang meninggal setahun setelah sang ayah wafat. "Jadi, sekolahku hanya sampai kelas dua SR," katanya.

Bergabung dengan opera berarti bergaul liat dengan pemusik, penari, dan pelakon. Dari nyanyi, Samosir belajar tortor, lakon, memetik hasapi, dan meniup sulim. Sebagian ia dapat dari seniornya, sebagian lebih besar justru dari mimpi.

"Tahun 1952 aku bermimpi diajari memetik hasapi. Begitu bangun, aku langsung bisa memainkannya," katanya. "Jadi memang ada rahasia dalam gondang dan uning-uningan ini. Sebelum para pemain mendapatkan kemahirannya dari mimpi, ia tak akan pernah mencapai tahap empu."

Gondang yang ia maksud adalah kumpulan musik untuk adat. Uning- uningan ialah regu musik untuk panggung, hiburan. Gondang bolon terdiri dari 5 tagading, 1 gordang, 1 odap, 1 sarune bolon, 4 ogung (oloan, ihutan, panggora, doal), dan 1 hesek sebagai pengendali tempo. Uning-uningan terdiri atas 1 hasapi, 1 sarune getep, 1 sulim, 1 garantung, 1 tulila, 1 alatoit, 1 mengmung, 1 bulu maringgotolong, 1 tanduk banua, dan 1 hesek sebagai pengendali tempo.

"Nah, pengetahuan tentang ini pun belum menjadi milik pemusik gondang di Jakarta yang jumlahnya sekarang cukup banyak," katanya. "Termasuk mereka yang tahun 1991 bikin Orkes Simfoni Batak."

Opera keliling yang terus berganti nama ini-Tilhang, Pantja Ragam Tilhang, Serindo, dan sebagainya-membawa Samosir menjelajahi seluruh Sumatera, Jakarta, dan Bandung. Sejak 1970, tahun Tilhang meninggal, Samosir menetap di Jakarta seusai manggung di Bandung atas sponsor Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha
sayur-mayur Thomas Simanungkalit.

Di situ ia memimpin Opera Batak Tilhang Serindo cabang Jakarta, mementaskan turi-turian rakyat di Ancol, Taman Ria, TIM, TMII, dan TVRI dari tahun 1977 sampai tahun 1987.

Sejak tahun 1985 cabang grup opera ini di Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Sumatera Utara
tak manggung lagi sebab tak mendapat dukungan dari penontonnya. Sebagian besar anggotanya hijrah ke Ibu Kota, tapi cabang Jakarta sendiri tak mampu mempertahankan staminanya seperti di masa Gubernur DKI Jakarta (1966-1977)
Gubernur DKI Jakarta (1966-1977)
Ali Sadikin
. Requiem opera Batak!

Samosir yang mendapat dua istri dari opera itu, Lihat Daftar Penyanyi
Lihat Daftar Penyanyi
penyanyi
Pardamean br Hasibuan dan Mina br Purba, tak tinggal diam menghidupkan tortor dan gondang setelah mentok di opera. Tawaran Gubernur DKI Jakarta (1966-1977)
Gubernur DKI Jakarta (1966-1977)
Ali Sadikin
supaya ia mengajar tari di IKJ ia terima hingga pensiun tahun 1986 dengan golongan I-A.

Suasana ruang tamu tempat kami berbincang tidak lazim. Satu meter dari plafon yang menaungi kami tergantung sebilah papan putih yang menempel di dinding. Di sepanjang ketiga sisinya menjuntai daun nyiur. "Ini altar tempat kami martonggo tiap Sabtu," katanya. Sumber penting tentang opera Batak ini sedang menuturkan tiga tahun lalu ia memeluk Parmalim, agama orang Batak sebelum misi masuk di Tapanuli, yang kini punya penganut 10 keluarga di Jakarta.

Terlahir sebagai Katolik, ayah tujuh anak ini menganut Islam sejak pernikahan pertamanya tahun 1948. Dia mendapat nama tambahan Abdul Wahab. "Saya masuk ke Parmalim karena inilah agama Batak," kata AWK Samosir yang telah menggubah belasan tortor. "Sejak 1998, dua tahun saya puasa, hanya minum air putih, memohon Mulajadi Na Bolon memberi saya membilang birama musik Batak." Sumber Kompas 24/4/03, Salomo Simanungkalit

TI

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 22 Mar 2003  -  Pembaharuan terakhir 28 Feb 2012
Calon Tunggal Gubernur Bi Sang Murid Sosialisme

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Genghis Khan adalah salah satu pejuang yang namanya kesohor di penjuru dunia, meski mengalami masa kecil yang berat akibat kematian tragis kepala suku yang juga adalah ayahnya.

Note: Bacaan ringan tapi bermakna.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: