WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Guru Masyarakat Empat Zaman

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Guru Masyarakat Empat Zaman
Theresia Esi Samkakai | TokohIndonesia.com | Kompas

Theresia Esi Samkakai akrab disapa Mama Esi seorang guru masyarakat dalam empat zaman di Papua. Selama 41 tahun dia mengajar mulai pada zaman Belanda, Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi. Dia warga asli Marind-anim yang lahir 1943 di Kampung Wambi, Distrik Okaba Papua. Dia secara sungguh-sungguh telah menjalankan tugas.

Anggota DPRD Provinsi Irja (1987-1992)
Lihat Curriculum Vitae (CV) Theresia Esi Samkakai

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Theresia Esi Samkakai

QR Code Halaman Biografi Theresia Esi Samkakai
Bio Lain
Click to view full article
Megawati Soekarnoputri
Click to view full article
Darmin Nasution
Click to view full article
Rahardjo Tjakraningrat
Click to view full article
Jose Rizal Manua
Click to view full article
Mira W
Click to view full article
Rinto Harahap
Click to view full article
Imam Prasodjo

Setelah menamatkan pendidikan dasar di Wambi tahun 1953, dia terpilih sebagai satu dari tiga murid terbaik di sekolah. Ia berhak mendapat beasiswa pada pendidikan guru SD atau Opleiding Dorps Onderwijzer (ODO) di Merauke. Sejak itu dia tinggal di asrama, dididik sebagai guru berdisiplin keras.

Selama menjalani pendidikan guru di ODO, Mama Esi belajar bahasa Belanda. Semua materi dan buku ditulis dalam bahasa Belanda. Setelah menyelesaikan pendidikan guru, ia ditugaskan mengajar di kampung halaman, Wambi, selama tiga tahun (1962-1964). Tahun 1964 ia pindah ke daerah Terek, Distrik Geten Tire, sampai tahun 1970.

Dia pindah lagi ke Tanah Merah (1970-1975), ke Kelapa Lima (1975-1979), dan di Polder (1979-1982). Selama di Polder, Mama Esi aktif dalam pengembangan masyarakat. Tahun 1979 ia ikut membidani lahirnya Yasanto, organisasi yang membantu pemberdayaan masyarakat Merauke dalam pendidikan dan kesehatan. Sampai kini ia aktif di Yasanto.

Dia berhenti mengajar untuk sementara karena menjadi anggota DPRD Merauke (1982- 1987) dan anggota DPRD Provinsi (1987-1992). Pada 1992 Mama Esi mengajar lagi di SD Inpres Mangga Dua, hingga pensiun tahun 2003.

Meski telah pensiun, dia tetap berkarya. Ia aktif mengorganisasi posyandu yang dibangun di rumahnya tahun 1983. Posyandu ini merupakan yang pertama di Merauke. Masa tua Mama Esi dihabiskan dengan mendidik belasan anak dari pedalaman yang ditampung di panti asuhan serta cucu tunggalnya, Mauritz Samkakai (12), dari anak tunggalnya, Frida Kindem (40). Panti itu didirikannya tahun 2002.

Empat Zaman
"2 x 2 = 94. 5 x 2 = 70". Ini bukan rumus matematika baru, melainkan jawaban seorang anak kelas V sekolah dasar di Merauke, Papua, ketika ditanya soal perkalian dalam pelajaran Matematika. Theresia Esi Samkakai (64), pensiunan guru, yang sebenarnya hanya iseng bertanya kepada keponakannya itu justru kaget, lalu tertegun.

Saya bingung kenapa anak seumur itu belum tahu berhitung sederhana. Apa kerja gurunya? Bagaimana pendidikan kita sekarang? kata Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
yang biasa dipanggil Mama Esi itu dengan nada suara tinggi.

Kekesalan Mama Esi bisa dimengerti karena selama 41 tahun mengajar pada zaman Belanda, Orde Lama, Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
, dan Reformasi, dia merasa sungguh-sungguh telah menjalankan tugas.

Pendidikan guru yang diterimanya semasa Belanda mengajarkan pada dia, guru harus bisa membekali anak-anak di tingkat pendidikan dasar dengan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. "Itu bekal yang paling dasar," ujar Mama Esi yang pertama kali ditugaskan tahun 1962 melalui misi Belanda untuk mengajar di SD Desa Wambi, Kecamatan Okaba, Merauke.

Tanpa kualitas pendidikan dasar yang baik, bisa dipastikan akan terbentuk generasi yang lemah dan tak memiliki kemampuan bersaing. Kekhawatiran Mama Esi terbukti, persis seperti itulah yang terjadi saat ini di Papua. Tak jarang ditemui anak-anak seusia SLTP yang tidak bisa baca-tulis.

"Guru-guru sekarang sering meninggalkan sekolah sesukanya. Murid dibiarkan telantar. Saya sering makan hati melihat kondisi anak-anak Papua zaman sekarang, bagaimana mereka bisa bersaing tanpa memiliki kemampuan dan ilmu pengetahuan?" tutur ibu satu anak itu.

Gambaran mengenai guru-guru di pedalaman Merauke yang meninggalkan sekolah dan menunggu gaji buta di kota adalah hal lumrah. Misalnya, di Distrik Kimam, dari 38 sekolah dasar, hanya enam yang masih beroperasi dan siswanya mengikuti ujian pada Mei 2007. Di Welputi, Okaba, dari enam sekolah yang masuk rayon tersebut, hanya tiga yang aktif. Itu pun rata-rata satu sekolah hanya punya satu atau dua guru.

Zaman yang berubah
Jika boleh membandingkan, kualitas pendidikan zaman Belanda, menurut Mama Esi, jauh lebih bagus dibandingkan dengan pendidikan saat ini. Terutama jika dilihat dari tanggung jawab guru dan perhatian pemerintah terhadap guru. Belanda masuk wilayah Merauke tahun 1905. Tahun 1930 Belanda mempelajari kebudayaan masyarakat asli Merauke untuk memahami karakter mereka. Bagi Belanda ini penting karena pendidikan harus dikombinasikan dengan budaya setempat agar dapat dicerna.

Menurut Mama Esi, Belanda juga menciptakan metode pengajaran khusus sesuai dengan budaya setempat, yakni menyampaikan materi pelajaran dengan menggunakan cerita keseharian rakyat. Misalnya, untuk mengenalkan huruf dalam kata "k-a-s-u-a-r-i", guru harus memulainya dengan cerita-cerita rakyat tentang burung kasuari.

Pelajaran juga disampaikan dengan mengajak anak didik bermain. Metode mengajar ala Belanda itulah yang digunakan Mama Esi hingga masa tugasnya berakhir. "Belanda juga mengajari guru membuat alat-alat peraga sendiri. Guru benar-benar disiapkan menghadapi medan berat dan kreatif," ceritanya.

Guru diawasi langsung oleh gereja lewat pastor atau pendeta di desa yang sama. Gaji juga diberikan melalui gereja. "Atas evaluasi dari pastor atau penilik sekolah, guru yang dinilai tak layak mengajar bisa langsung dipecat," ucap Mama Esi.

Seorang guru dipersiapkan tak hanya menjadi guru di sekolah, tetapi juga sebagai guru bagi masyarakat. "Akhirnya, banyak suku-suku di pedalaman yang masih tradisional, meminta agar didatangkan guru ke kampung mereka. Mereka yakin, jika ada guru, masyarakat pasti maju," ujarnya.

Akan tetapi, tak hanya menuntut banyak dari para guru, Belanda juga memberi penghargaan yang lebih baik terhadap guru. Dengan gaji sebulan 800 gulden atau 900 IBRP (Irian Barat rupiah) pada waktu itu, ditambah beras, tepung, dan susu yang berlebihan tiap bulan, guru bisa hidup berkecukupan.

Belanda juga meminta masyarakat agar membangunkan rumah untuk guru-guru. "Guru diposisikan tinggi di mata masyarakat, Belanda membantu mencitrakan hal ini. Kalau sekarang, guru-guru harus mencari kerja tambahan karena penghasilannya pas-pasan," tuturnya.

Di desa-desa pedalaman, Belanda juga mendirikan pasar dan toko yang bisa memenuhi kebutuhan guru. Guru tak lagi punya alasan meninggalkan desa tempatnya mengajar.

"Zaman memang berubah, tantangan lebih sulit, harusnya pendidikan lebih baik. Tetapi, kenapa justru semakin buruk?" ujar Mama Esi geregetan.

Dia patut resah karena Pemerintah Indonesia seperti lalai dengan masalah pendidikan di Papua. Sistem pengawasan guru tak berjalan. Banyak penilik sekolah yang bahkan tidak tahu bagaimana kondisi sekolah yang diawasinya.

"Ini seperti usaha melemahkan sumber daya manusia Papua. Pemerintah jangan hanya berpikir mengambil kekayaan Papua, tetapi juga harus mendidik orang Papua dengan baik. Untuk membenahi Papua harus dari pendidikan. Tanpa ini, masyarakat Papua seperti orang Aborigin di Australia yang ditempatkan di cagar alam," tegas Mama Esi. (Luki Aulia dan Ahmad Arif, Kompas Kamis, 06 September 2007) ti

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 06 Sep 2007  -  Pembaharuan terakhir 24 Feb 2012
Politisi Berpendirian Teguh Bangun Aceh Dengan Identitasnya

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Buku ini memecahkan rekor MURI sebagai Buku Sulap dengan Jenis Permainan Terbanyak. Buku ini akan menjadi koleksi berharga di perpustakaan pribadi Anda.

Note: Buku langka, kondisi masih baru namun ada bagian yang sedikit terlipat.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: