WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Dipecat Saat Berjuang

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Dipecat Saat Berjuang
e-ti | bs

Perjuangan Melawan Flu Burung. Begitu judul Rubrik Sosok Harian Kompas 20 September 2005. Tulisan itu mengisahkan betapa sibuk, tekun dan bertanggungjawabnya Drh Tri Satya Putri Naipospos Hutabarat PhD, selaku  Direktur Kesehatan Hewan di Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, Departemen Pertanian, berjuang melawan flu burung. Namun secara mendadak dan mengejutkan, besoknya (21/9), Menteri Pertanian memberhentikannya karena dinilai gagal.

Direktur Kesehatan Hewan di Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, Depart...
Lihat Curriculum Vitae (CV) Tri Satya Putri

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Tri Satya Putri

QR Code Halaman Biografi Tri Satya Putri
Bio Lain
Click to view full article
Kiki Syahnakri
Click to view full article
Agus Suhartono
Click to view full article
Kortanius Sabeleake
Click to view full article
Icuk Sugiarto
Click to view full article
Ansyaad Mbai
Click to view full article
Umar Anggara Jenie
Click to view full article
Harprileny Soebiantoro

Tata, panggilan akrab Tri Satya Putri Naipospos, mengaku tidak menduga akan dipecat secara mendadak. Dia menerima pemberitahuan dari Dirjen Peternakan Mathur Riady tanpa ada surat pemberhentian dari Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
Pertanian (Mentan).

Dia pun heran, mengapa diberhentikan dengan cara demikian? Lalu, Tata langsung mempertanyakan alasan pemberhentiannya kepada Mentan melalui pesan layyanan singkat (SMS). Jawaban Mentan membuatnya lebih kaget. Tata dinilai gagal menangani kasus flu burung. Dia juga dinilai tidak mampu membuat laporan mengenai perkembangan kasus flu burung.

Tata tidak bisa menerima alasan pencopotannya itu. Dia menegaskan penilaian itu sangat tidak adil. "Pak Anton tidak adil menilai saya gagal hanya dari sebuah laporan," katanya kepada Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
yang mengkonfirmasi pemberhentiannya.

Tata pun memprotes Mentan dengan tidak menghadiri pelantikan pejabat yang menggantikannya, Kamis 22 September 2005 sore. Dia menegaskan protesnya tersebut bukan karena ingin mempertahankan jabatan melainkan hanya karena dia sangat kecewa atas penilaian yang tidak objektif tentang kinerjanya itu.

Para Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
juga terkejut atas pencopotan Tata secara mendadak itu. Para Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
dalam negeri dan asing banyak yang menghubunginya mempertanyakan kebenaran pencopotan dirinya itu. Di kalangan wartawan Tata dikenal sebagai pejabat yang terbuka dan berani. Bahkan Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
yang meraih gelar doktor dari Massey University, Selandia Baru (1996), itu tidak takut berbeda pendapat dengan Mentan Anton Apriantono (Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
dari Ketua MPR-RI 2004-2009
Ketua MPR-RI 2004-2009
PKS
) mengenai kebijakan yang akan diambil.

Berikut ini, artikel yang ditulis oleh Agnes Aristiarini, di Rubrik Sososk Kompas (20/9), sehari sebelum pencopotan Tata secara mendadak oleh Mentan Anton Apriantono:

Perjuangan Melawan Flu Burung

Hari-hari ini Drh Tri Satya Putri Naipospos Hutabarat PhD (51) kembali sibuk. Minggu (18/9) pagi, ketika kebanyakan orang masih menikmati hari libur dengan bergelung di tempat tidur, ia sudah sibuk rapat. Siang hari, telepon genggamnya tak berhenti berbunyi. Minggu malam, ia rapat maraton di Kantor Menko Kesra.

Sungguh, kasus flu burung yang September ini telah merenggut nyawa satu korban lagi, membuat ia jadi supersibuk. Jangankan aerobik, hobinya menyanyi juga terabaikan. Maklumlah, Tata begitu ia dipanggil adalah Lihat Daftar Direktur
Lihat Daftar Direktur
Direktur
Kesehatan Hewan di Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, Departemen Pertanian.

Andai saja waktu bisa diputar. Tahun 2003, ketika sudah banyak ayam mati dalam tempo beberapa bulan tanpa ada kejelasan, sebenarnya Tata sebagai dokter hewan lulusan Institut Pertanian Bogor (1979) sudah merasa bahwa flu burung telah menular ke Indonesia.

Namun, sulit sekali bagi pemerintah membukanya. Saat itu, tekanan industri perunggasan yang khawatir tingkat konsumsi telur dan daging ayam menurun amatlah besar.

Sebagai negara yang baru mulai bangkit dari krisis, gangguan terhadap perekonomian mati-matian dihindari tanpa menimbang dampak lebih panjang. Maka, ketika akhirnya pengakuan terhadap kasus flu burung muncul, sebenarnya penanganan sudah terlambat enam bulan.

Secara profesi, saya kadang suka merasa salah melihat dampaknya sekarang. Tetapi, kalau secara pribadi tidak karena saya tidak terkait langsung. Saat itu saya masih Lihat Daftar Direktur
Lihat Daftar Direktur
Direktur
Pengembangan Peternakan, katanya.

Telanjur meluas
Tata memang baru diangkat jadi Lihat Daftar Direktur
Lihat Daftar Direktur
Direktur
Kesehatan Hewan pada 24 Desember 2003, yang membuat ia harus bergelut dengan semua dampak itu. Tiap hari rapat dan pulang menjelang tengah malam. Situasinya gawat karena sudah telanjur melebar. Kalau semula hanya di dua kabupaten, kini tidak satu pun kabupaten di Jawa yang bisa mengklaim bebas flu burung.

Sepanjang 2004 situasinya cheos, penuh trial and error dan semua pihak cari selamat. Itu betul-betul ujian dari segi teknis dan administratif, ujar master filosofi bidang epidemiologi dan ekonomi veteriner dari Reading University, Inggris, ini.

Belum lagi urusan dana. Dari anggaran penanggulangan flu burung yang disetujui DPR Rp 212 miliar, hanya turun Rp 84,6 miliar. Orang bilang dikorupsi, padahal cuma itu yang ada. Itulah yang dipakai mengatur, memperbaiki sistem, menyiapkan vaksin, paparnya.

Tahun 2005, ketika terjadi kasus Iwan Siswara Rafei sebagai korban manusia pertama flu burung di Indonesia, DPR menyetujui lagi dana Rp 134 miliar. Dana itu kini juga belum turun. Kalaupun turun, belum tentu keluar semua, kata Tata.

Padahal, pertengahan Desember 2005 semua upaya penanggulangan harus selesai. Dalam waktu tak lebih dari 2,5 bulan, kondisi ini jadi dilema karena dana tak ada sementara pemerintah harus menyediakan desinfektan, vaksin, dan sebagainya. Belum lagi kalau harus mengikuti aturan tender yang bisa makan waktu satu bulan.

Dalam situasi kedaruratan, antara teori dan kenyataan sering tidak nyambung. Ini menyulitkan karena tuduhannya bisa macam-macam, ujar Tata yang doktornya diperoleh di Massey University, Selandia Baru (1996).

Apa yang dipercaya sebagai kaidah, misalnya tata cara prosedur pemberantasan penyakit, juga tidak selalu bisa berjalan mulus kalau sudah berhadapan dengan kenyataan di lapangan. Ada banyak faktor lain yang terlibat: politik, ekonomi, sosial.

Karena itu dibutuhkan orang yang bisa mengambil keputusan cepat dengan mempertimbangkan itu semua, tambahnya.

Penanganan ke depan
Dengan kondisi Indonesia yang sangat khas: pola peternakan yang tidak semua dikandangkan, pencampuran ternak ayam dengan non-unggas, hingga belum dipraktikkannya biosecurity secara merata di semua lini peternakan, penanggulangan penyebaran flu burung bakal menjadi perjuangan panjang.

Pemusnahan massal (stamping out) seperti yang dilakukan negara maju tidak mempan di Indonesia karena banyak peternakan ayam kampung yang dibiarkan berkeliaran.

Belum lagi UU Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan yang dipakai sebagai landasan hukum, yang sangat ketinggalan zaman.

UU tersebut sangat umum, tak ada sanksi pidana maupun administratif yang bisa jadi landasan hukum. Misalnya untuk menjerakan peternak yang menjual ternak sakit, jelas istri Parlindungan Hutabarat ini.

Dengan situasi begini, maka yang sekarang bisa dilakukan adalah meningkatkan kesadaran para kepala pemerintahan daerah, terutama untuk menggalakkan vaksinasi, biosecurity, deteksi dini, dan pelaporan.

Kenyataannya, masih ada kabupaten/kota yang sama sekali tidak punya dokter hewan. Atau ada dokter hewan tapi tidak dihargai keberadaannya. Padahal, peran mereka strategis untuk menjaga hewan dan produknya agar tidak menularkan penyakit kata pencinta anjing ini. e-ti/tsl

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 24 Sep 2005  -  Pembaharuan terakhir 25 Feb 2012
Pemimpin Berpotensi Jadi Presiden Pematung Monumen Dan Diorama Sejarah

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Genghis Khan adalah salah satu pejuang yang namanya kesohor di penjuru dunia, meski mengalami masa kecil yang berat akibat kematian tragis kepala suku yang juga adalah ayahnya.

Note: Bacaan ringan tapi bermakna.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: