gototopgototop

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan paling lambat 16 Mei 2012.

LENGKAPI DATA: Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan kirimkan biografi dan CV Anda ke

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

  • 0
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
prev
next

Wartawan, Ahli Asia Tenggara

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Wartawan, Ahli Asia Tenggara
Rumhardjono | TokohIndonesia.com | Kompas
Pekerjaan Utama:
Wartawan Kompas 1974-1999
Lihat CV
Nama:
Rumhardjono
Lahir:
13 April 1939
Meninggal:
Jakarta, 19 September 2007
Profesi:
Wartawan Kompas 1974-1999
Pusat Data Tokoh Indonesia
Tutup CV

Rumhardjono yang akrab dipanggil Mas Rum, Wartawan Kompas (1974-1999) bertugas di Desk Luar Negeri. Perhatian pria kelahiran 13 April 1939 dan meninggal di Jakarta 19 September 2007 yang intens pada masalah Asia Tenggara menjadikannya dikenal sebagai wartawan yang ahli Asia Tenggara pada akhir tahun 1970-an dan 1980-an.

I N D E K S
Hapus highlights

Tag: Wartawan, Kompas

Kabar bahwa eks wartawan Kompas Rumhardjono Wartawan Kompas 1974-1999 Rumhardjono (68) terserang stroke diterima Redaksi Harian Kompas hari Rabu (19/9/07) malam, tepatnya pukul 22.00. Keponakannya, Endang Basanto Ratri, menelepon dan mengabarkan bahwa Mas Rum, begitu ia akrab disapa, dirawat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo Mendirikan Indische Partij (1912) Cipto Mangunkusumo di Lantai 2.

Layanan pesan singkat atau SMS pun berseliweran, dan wartawan-wartawan Kompas segera menyempatkan diri untuk menjenguknya. Di harian Kompas, Mas Rum memiliki banyak peran, baik sebagai wartawan yang ahli Asia Tenggara, sebagai tutor bagi wartawan yang lebih muda, maupun sebagai guru, khususnya bagi wartawan-wartawan Kompas yang masuk pada tahun 1987-1998.

Di antara wartawan Kompas yang datang ke IGD RSCM tampak Pemimpin Redaksi Suryopratomo dan beberapa rekan yang merupakan murid-murid pertama Mas Rum.

Saya dan rekan saya, Taufik H Mihardja dan Andi Surudji, adalah tiga wartawan Kompas yang terakhir menjenguknya di IGD RSCM. Kamis dini hari, menjelang pukul 02.00, kami bertiga meninggalkan pelataran parkir RSCM.

Pada pukul 03.30, tiba-tiba masuk SMS yang menyatakan bahwa Mas Rum telah tiada. Ia meninggal dunia pada pukul 02.50. Perasaan kehilangan pun segera muncul ke permukaan.

Mas Rum yang lahir pada 13 April 1939 memang telah pensiun dari harian Kompas pada tahun 1999. Namun, sesungguhnya hubungan Mas Rum, yang sampai akhir hayatnya melajang itu, dengan harian Kompas tidak pernah berakhir. Sesekali ia menelepon saya dan rekan lain apabila ia merasa ada hal yang perlu mendapatkan perhatian.

Kadang ia juga mengirimkan tulisan tentang masalah-masalah tertentu, terutama yang berkaitan dengan Asia Tenggara, dengan catatan, tidak untuk dimuat, hanya untuk background saja.

Ahli Asia Tenggara
Mas Rum bergabung dengan harian Kompas pada tahun 1974 dan bertugas di Desk Luar Negeri. Itu sebabnya, ia tercatat sebagai wartawan peliput di Departemen Luar Negeri (Deplu). Perhatiannya yang intens pada masalah-masalah yang berkaitan dengan Asia Tenggara menjadikan Rumhardjono Wartawan Kompas 1974-1999 Rumhardjono dikenal sebagai wartawan yang ahli Asia Tenggara pada akhir tahun 1970-an dan tahun 1980-an. Beberapa kepala pemerintahan dan Menteri Luar Negeri ASEAN mengenalnya dengan baik.

Saya mengenalnya pada tahun 1983 ketika sebagai wartawan baru saja ditugaskan untuk meliput kegiatan di Deplu, yang menjadi tempat tugas Rumhardjono Wartawan Kompas 1974-1999 Rumhardjono sejak akhir tahun 1970-an. Saat saya bertugas di sana, segala sesuatunya menjadi mudah, karena ia langsung berperan sebagai tutor saya.

Bahkan, ketika saya pertama kali ditugaskan untuk meliput Pertemuan Tahunan Menteri Luar Negeri ASEAN Ke-17 di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 1984, ia memberi saya semacam kertas kerja panduan mengenai bagaimana meliput suatu konferensi internasional dengan efisien dan efektif. Termasuk mengenai bagaimana cara memperoleh draf joint communique (komunike bersama), yang merupakan salah satu keahliannya. Dan, juga tentang bagaimana menggunakannya sebagai bahan berita.

Pengalamannya yang luas dalam meliput konferensi internasional menjadikan ia selalu bersikap santai. Sikap seperti itu diperlihatkannya saat meliput Jakarta Informal Meeting (JIM) di Istana Bogor tahun 1988. Pada saat wartawan lain sudah hadir sejak pagi, Mas Rum masih enak-enak tidur. Ia baru bangun pukul 10.00 dan datang ke Istana Bogor menjelang pukul 11.30. Namun, sore harinya, ia sudah memegang draf komunike bersama JIM. Lobinya yang sangat luas di kalangan pejabat Deplu dan kementerian luar negeri negara-negara ASEAN lain menjadikan ia selalu bisa mendapatkan draf komunike bersama yang akan keluar.

Sebagai wartawan senior, Mas Rum asyik diajak berdiskusi. Daya analisanya tajam, mendalam, dan jernih. Kemampuan berabstraksinya pun cukup menonjol. Ia selalu menemukan angle (sudut pandang) yang tepat untuk menulis.

Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama Wartawan Pendiri dan Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama yang turut mengantarnya ke pemakaman di TPU Karet Bivak, Kamis, dalam sambutannya mengatakan, analisa mendalam dan jernih, dan selalu dikemukakan dengan dingin, tanpa emosi. Mungkin itu karena latar belakangnya sebagai periset.

Menurut mantan Ketua Dewan Pers Atmakusumah Astraatmadja, yang merupakan adik ipar Mas Rum, sebelum menjadi wartawan, Mas Rum adalah seorang periset. (James B Luhulima, Kompas 21 September 2007) TI

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 21 Sep 2007  -  Pembaharuan terakhir 24 Feb 2012
Intermezzo
Indonesia menjadi tempat ditemukannya ular terpanjang di dunia yaitu Python Reticulates sepanjang 10 meter di Sulawesi.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp: (021) 8293113, Telp/SMS: (021) 32195352, 32195353, Fax: (021) 83787235
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. Salah satu cara dengan menggunakan fitur SINDIKASI ini. (2) Ucapan terima kasih di kolom komentar. (3) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Beri Komentar

Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


Kode keamanan Refresh

Bio Lainnya

Click to view full article

Selama hidupnya, doktor kesehatan masyarakat lulusan Harvard University ini fokus di dunia penelitian dan pelayanan kesehatan masyarakat. Karirnya kemudian mencapai puncak

Click to view full article

Ketua Komisi Nasional PA periode 2010-2014 ini sebelumnya dikenal luas sebagai aktivis buruh. Namun perjumpaannya dengan anak-anak yang kurang mendapat perhatian membuat ia

Click to view full article

Menurut Mangapul Sagala, keinginan untuk mendapatkan sesuatu secara instan merupakan penyebab maraknya praktik korupsi dan penyelewengan di negeri ini. Ironisnya, hal-hal yang

Click to view full article

Sebagai pendeta yang juga manusia biasa, Mangapul Sagala Staf Perkantas Jakarta, Dosen Perjanjian Baru STT IMAN dan STTRII Mangapul Sagala mau tidak mau harus berhadapan dengan tantangan hidup yang sering menguji keteguhan imannya. Lewat ujian-ujian itu


Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
 

Like and Support Us

Komunitas

  • Terbaru
  • Komentar
  • Irwan Hidayat

    m.nailul anwar noer
    Alhamdulillah, kami selaku warga negara Indonesia, sangat bangga atas tercapainya cita2 Sidomuncul, dan ...
     
  • Galaila Karen Agustiawan

    soedono adi triwanto
    Saya mengagumi anda sebagai salah satu dari sedikit tokoh yg berkarakter dan sebagai bangsa Indonesia ...

Aktivitas Terbaru di Facebook

Poling Tokoh