WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Maestro Tari Jawa Klasik

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Maestro Tari Jawa Klasik
Retno Maruti | TI | kapanlagi.com

Retno Maruti, seniman yang memiliki daya cipta tinggi. Dia maestro tari Jawa klasik. Penari dan kreografer ini sangat kreatif mengembangkan tari Jawa klasik yang dianggap 'kuno' menjadi memukau selera penonton 'modern' dalam beberapa pagelaran monumental. Selain mampu menampilkan seni tradisi dengan suatu kedalaman rasa secara kreatif, Retno juga berhasil melahirkan seniman dan penari klasik muda.

Pendiri dan Pemimpin Sanggar Tari Padnecwara
Lihat Curriculum Vitae (CV) Retno Maruti

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Retno Maruti

QR Code Halaman Biografi Retno Maruti
Bio Lain
Click to view full article
Mudaffar Sjah
Click to view full article
Adjie Notonegoro
Click to view full article
Serta Ginting
Click to view full article
Tarman Azzam
Click to view full article
Rustandi Kartakusuma
Click to view full article
Asep Kambali
Click to view full article
Imam Bonjol

Perempuan bernama lengkap Theodora Retno Maruti, kelahiran Solo, 8 Maret 1947, ini bersama suaminya yang juga penari, Arcadilus Sentot Sudiharto, mendirikan sanggar tari Padnecwara tahun 1976. Di bawah panji Padnecwara, Retno telah melakukan berbagai pagelaran hampir setiap tahun.

Sebagai koreografer dan penari, dia memelihara kejujuran dalam berkarya. Dengan kejujuran dan kreativitas itu pula dia menghasilkan beberapa karya komposisi tari yang memadukan unsur klasik, tradisi, dengan selera penonton modern. Di antaranya, Langendriyan Damarwulan (1969), Abimanyu Gugur (1976), Roro Mendut (1977), Sawitri (1977), Palgunadi (1978), Rara Mendut (1979), Sekar Pembayun (1980), Keong Emas (1981), Begawan Ciptoning (1983), Kongso Dewo (1989), Dewabrata (1998), Surapati (2001), Alap-alapan Sukesi (2004), dan Portraits of Javanese Dance (2005).

Selain itu, dia juga telah melahirkan banyak seniman tari klasik muda. Kini (2005), Padnecwara telah melahirkan generasi ketiga dengan jumlah anggota sekitar 70 orang.

Maka pantaslah Retno Maruti menerima penghargaan Akademi Jakarta (AJ) tanggal 10 November 2005, atas pencapaian seumur hidup dan pengabdiannya di bidang kesenian dan humaniora. Retno terpilih dengan memperoleh skor tertinggi dari Dewan Juri (diketuai Prof Dr Edi Sedyawati dan beranggotakan Prof Dr Taufik Abdullah, Prof Dr Budi Darma, G Sidharta Soegijo, dan Suka Hardjana) berdasarkan tiga kualifikasi menonjol, yaitu memiliki daya cipta yang tinggi, mendalami dan mengungkapkan seni tradisi dengan kedalaman rasa, dan mencetak himpunan seniman muda yang punya apresiasi tinggi dan penguasaan atas khasanah seni klasik.

Retno menyisihkan 72 kandidat dari seluruh Indonesia setelah melewati tahap seleksi Penerima Penghargaan Akademi Jakarta 2005 sejak Juni 2005. Ia orang kelima yang pernah menerima penghargaan serupa sejak tahun 1975. Mereka yang sebelumnya menerima penghargaan serupa adalah Rendra (1975), Zaini (1978), G Sidharta Soegijo (2003), Nano S dan Gusmiati Suid (2004). Kala itu penghargaan masih dinamakan "Hadiah Seni", baru tahun 2005 nama tersebut diubah menjadi "Penghargaan Akademi Jakarta".

Sebelumnya, Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
Solo yang sejak usia lima tahun sudah menari, itu telah beberapa kali menerima penghargaan atas pengabdiannya di bidang seni. Antara lain: Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
Pembangunan Citra Adikarsa Budaya (1978); Penghargaan Teknologi Seni Budaya Kalyana Kretya Utama dari Menristek Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
BJ Habibie
(1997); Citra Adhikarsa Budaya dari Citra Beauty Lotion dan SCTV (1994); Anugerah Kebudayaan dari Departemen Kesenian dan Kebudayaan RI (2003); Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
Pilihan dan Maestro dari Metro TV (2003); Nominator Women of the Year dari ANTV (2004).

Bahkan karena berbagai pengabdiannya itu oleh Paku Buwono XII, Retno Maruti diberi gelar Kanjeng Mas Ayu (KMA) Kumalaningrum dan suaminya Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Honggodipuro.

Atas Penghargaan Akademi Jakarta itu, dosen Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), ini selain menyukurinya, juga menyebut itu merupakan tanggung jawab dan kepercayaan yang harus dirawat dengan baik. Dia sendiri tidak mempunyai pretensi untuk mendapatkan penghargaan atas karya-karyanya. "Saya jalani saja. Saya tekuni itu karena saya mencintai. Bahwa dari itu saya mendapatkan sesuatu, saya sangat bersyukur dan berterima kasih," katanya.

Dengan mencintai dan menekuni kesenian Jawa puluhan tahun, dia mengaku merasa dalam hidup ini lebih ada ketenangan, kedewasaan dan menambah sikap hidup yang bijaksana.

Dia pun menyadari keterbatasannya. Sebab itu, dia pun bisa menerima orang dengan kekurangannya. Dia sangat menyadari bahwa karya tari tidak dilakukan sendirian. Melainkan harus menari dengan banyak orang, ada teman-teman panggung, produksi dan perias. Juga ada Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
dengan berbagai pujian dan kritik.

Maka, menurutnya, setiap orang yang berkecimpung dalam bidang ini harus mempunyai dowo ususe (panjang usus, banyak kesabaran), harus lenggono, harus mau menerima segala kelebihan dan kekurangan. Harus terima kalau dikritik.

Dia menyadari perjalanan hidupnya sebagai penari dan penata tari tak selalu disenangi setiap orang. Hal mana untuk suatu karya itu belum tentu setiap orang senang. Setiap orang mempunyai penilaian sendiri. Terutama Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
yang bebas menulis pujian dan kritik. Sementara banyak orang yang tidak melihat langsung pertunjukan itu hanya membaca.

Akar Budaya Jawa
Retno belajar tari, selain dari ayahnya Susiloatmadja, juga dari RT Koesoemokesowo, RAy Laksmintorukmi, RAy Sukorini dan Basuki Kuswarogo. Sementara guru tembangnya adalah Bei Mardusari dan Sutarman.

Dengan bimbingan dan dukungan orang tua dan para gurunya, kemampuan dan bakat Retno terus terasah dan berkembang. Sampai kemudian dia mewariskan kepada generasi muda, termasuk kepada anaknya Rury Nostalgia.

Puteri Solo ini sejak kecil dekat dengan akar budaya Jawa. Saat Retno kecil, ayahnya, Soesiloatmadja, seorang dalang, sering mengajaknya mendalang semalam suntuk. Retno duduk di samping kotak wayang, membantu mengambilkan tokoh wayang yang hendak dimainkan ayahnya.

Limbuk—panggilan akrab anak kedua dari tujuh bersaudara — ini kemudian dipercayakan Sang Ayah juga mengurus perizinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan seni pertunjukan kesenian Jawa itu.

Pada usia lima tahun, Retno telah dimasukkan ayahnya ke perkumpulan seni Baluwarti. Dengan amat senang, di situ ia mulai mengenal tari, gamelan, macapat, dan suluk. Kemudian, saat kelas III SD, ia pun dibimbing RT Kusumokisowo memmelajari tari yang berkiblat ke keraton. Juga mendapat bimbingan dari penari terkenal Laksminto Rukmi, selir kesayangan Pakubuwono X. Dia juga mendalami tari luar keraton, seperti ledek.

Pada saat remaja, masih di bangku SMP, Retno berkesempatan menari di Candi Prambanan dalam pergelaran kisah Ramayana, memerankan kijang kencana, sampai akhirnya mendapat julukan "Kijang Kencana".

Sampai dia menamatkan SMEA di Solo, Retno sangat tekun belajar tari. Walaupun saat itu, menari baginya hanya merupakan kesenangan. Kala itu, dia belum terpikir bercita-cita jadi penari profesional. Dia malah bercita-cita menjadi sekretaris. Maka, setamat SMEA, ia melanjut ke Akademi Administrasi Negara. Sambil kuliah, dia sempat bekerja di Desainer
Lihat Daftar Desainer
Lihat Daftar Desainer
desainer
batik Danar Hadi.

Kesenangannya menari ternyata merupakan proses perjalanan panjang hidupnya menuju penari profesional. Pada tahun 1964, Retno pun diundangan menari di New York. Setahun kemudian, dia pun terpilih sebagai salah satu penari dalam misi kepresidenan ke Jepang.

Sepulang ke Tanah Air, dia pun meningkatkan kesungguhan menggeluti tari. Dia mulai mencipta tari Langendriyan Damarwulan (1969). Disusul karya tari Jawa klasik lainnya yang dipagelarkan secara monomental. Selain menari dan mengajar tari Jawa klasik di Institut Kesenian Jakarta, Retno juga seorang perias pengantin. Sebelumnya, dia pernah kursus rambut pada Rudy Hadisuwarno, dan kursus make up pada Chairman, Chief Executive Officer, dan Pendiri Martha Tilaar Group
Chairman, Chief Executive Officer, dan Pendiri Martha Tilaar Group
Martha Tilaar
.

Di tengah kesenangan dan kreativitasnya menari, Retno menikah dengan sesama penari yang sudah dikenalnya sejak kecil, Sentot Sudiharto, di Osaka Jepang. Pasangan ini dikaruniai satu anak, Genoveva Rury Nostalgia. Sejak kecil, Sang Anak, diperkenalkan pada seni budaya. Walau bukan berarti anaknya diharuskan menjadi penari. Namun, kebetulan anaknya juga senang pada tari dan belajar menjadi koreografer.

Keberhasilan dalam perjalanan karirnya, bukannya tanpa tantangan. Retno bahkan sempat kecewa dengan dunia tari. Pasalnya, melihat kenyataan banyak anak muda yang lebih senang dan mudah menerima jenis tari kontemporer. Sangat susah mencari anak muda yang tertarik tari tradisi.

Sehingga, dosen IKJ ini sangat khawatir tak ada yang melestarikan tari tradisi, khususnya tari Jawa klasik. Tapi, kemudian kenyataan itu malah makin memacunya berusaha keras mengembangkannya dan melahirkan tari sampai akhir hayat. Retno bertekad mewariskan dan mengasah kemampuan menari kepada anak-anak didiknya di Sanggar Padnecwara, dan di Taman Komponis
Komponis
Ismail Marzuki
, serta di Institut Kesenian Jakarta. e-ti

***

Akademi Jakarta
Akademi Jakarta adalah sebuah Dewan Kehormatan bagi seniman dan budayawan sekaligus Dewan Penasihat bagi Gubernur DKI Jakarta di bidang seni dan budaya.

Keanggotaan Akademi Jakarta terdiri dari mereka yang sudah berusia 49 tahun ke atas, dan diangkat seumur hidup. Kecuali bila kesehatan fisik maupun psikisnya telah terganggu. Pengangkatan seumur hidup Anggota Akademi Jakarta dimaksudkan agar tidak terpengaruh perubahan-perubahan kekuasaan yang terjadi.

Keberadaan Akademi Jakarta tak dibentuk berdasarkan surat pengangkatan, tapi diakui berdasarkan kepercayaan masyarakat kepada para anggotanya. Seperti penduduk desa yang mempercayai para orang tua sebagai tempat meminta nasihat.

Akademi Jakarta saat ini diketuai Prof Koesnadi Hardjasoemantri, dengan wakil Goenawan Mohamad dan Ramadhan KH. Anggotanya terdiri dari nama-nama yang prestasi maupun reputasinya sudah diakui. Yaitu AD Pirous, Ahmad Guru Besar dan Ketua Umum PP Muhammadiyah (1999-2005)
Guru Besar dan Ketua Umum PP Muhammadiyah (1999-2005)
Syafii Maarif
, Ajip Rosidi, Amrus Natalsya, Endo Suanda, H Misbach Yusa Biran, Ignas Kleden, Iravati M. Sudiarso, Mochtar Pabottingi, NH Dhini, Nono Anwar Makarim, WS Rendra, Wartawan Budayawan
Wartawan Budayawan
Rosihan Anwar
, Saini KM, Sardono W Kusumo, Sitor Situmorang, Slamet Abdul Sjukur, Tatiek Maliyati WS, Taufik Abdullah, dan Toeti Heraty N. Roosseno. (Ant/OL-02).

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 20 Nov 2005  -  Pembaharuan terakhir 25 Feb 2012
Demi Korban Bencana Ratu Jamu Kecantikan Indonesia

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Tubuh manusia merupakan keseluruhan struktur fisik organism manusia. Tubuh manusia terdiri atas kepala, leher, batang badan, 2 lengan dan 2 kaki.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: