WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Pendobrak Batas dalam Perubahan

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Pendobrak Batas dalam Perubahan
Melanita Pranaya | TokohIndonesia.com | Kompas

Di antara teman-temannya, Melanita Pranaya Budianta (51) dikenal sebagai pribadi sederhana, rendah hati, dan selalu mau bertanya. "Banyak hal yang tidak saya ketahui di luar pengetahuan yang saya pelajari. Banyak kenyataan di lapangan yang sama sekali berbeda dari teori," ujar Melani, yang ditemui Kamis (2/2/2006) di kantornya.

Guru Besar (Profesor) Tetap FIB Universitas Indonesia (2006)
Lihat Curriculum Vitae (CV) Melanita Pranaya

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Melanita Pranaya

QR Code Halaman Biografi Melanita Pranaya
Bio Lain
Click to view full article
Wahidin Sudirohusodo
Click to view full article
Fatmawati
Click to view full article
Erastus Sabdono
Click to view full article
Kasman Singodimedjo
Click to view full article
Budi Harsono
Click to view full article
Berlian Hutauruk
Click to view full article
Iskandar Sitompul

Di bagian akhir pidato ilmiahnya Meretas Batas: Humaniora dalam Perubahan saat pengukuhan Guru Besar Tetap pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) akhir pekan lalu, Melani mengakui keterbatasan, yang sejatinya merupakan langkah awal pengembangan ilmu.

"Perjalanan saya menjadi guru besar diawali oleh pengalaman kegagalan mengajar yang fatal," kenangnya.

Ketika baru dua semester menjadi mahasiswa Jurusan Inggris Fakultas Sastra UI tahun 1970-an, ia membantu para biarawati Ursulin menjadi relawan untuk mengisi waktu luang anak-anak kampung di bilangan Tanah Abang. Di situ ia bertemu Ahyar, anak jalanan yang lincah, cerdik, tetapi susah diatur.

Suatu sore ketika teman-teman Ahyar berlomba memberikan karangan kepada Melani, Ahyar datang dengan secarik kertas diisi deretan kata-kata tanpa aturan, penuh bercak keringat. Dengan bangga Ahyar memamerkan karyanya. Teman-temannya tertawa, tetapi Melani bingung.

"Mungkin karena baru lulus kuliah Komposisi Bahasa Indonesia, saya tidak bisa menempelkan karya itu. Ketika Ahyar menanyakan mengapa, saya menguliahinya. Ahyar, yang mungkin semalaman menulis mahakaryanya di terang lilin dengan pensil pinjaman, terdiam. Lalu pergi dan tak pernah kembali."

Bagi Melani sekarang, Ahyar adalah "yang lain", yang tak mampu ia jangkau. "Ia adalah titik kelemahan dan sekaligus nurani saya. Ia selalu mengingatkan keterbatasan saya, menohok saya kalau arogansi ilmu pengetahuan yang bergengsi mulai mengalahkan saya. Ia mengingatkan saya seorang guru besar harus selalu menjadi guru kecil…"

Bagaimana "yang lain" itu memengaruhi pemikiran Anda?

Di tempat saya mengajar itu juga ada anak bernama Dini. Umurnya delapan tahun. Ia paling rajin datang untuk membaca dan belajar sambil menggendong adiknya. Suatu hari pada bulan Puasa, ketika semua sudah pulang dan saya sedang mengemasi buku-buku saya, Dini bertanya, "Tante Suster orang apa sih? Orang Kristen atau orang China?"

Saya bingung. Itu salah kategori, tetapi saya enggak tahu cara ngomongnya. Namun, pertanyaan itu terus berproses di dalam diri saya. Setelah menjadi doktor, seorang teman Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
bertanya disertasi saya tentang apa. Saya bilang, "Stephen Crane". Judulnya The Representation of Otherness in Meaning. Dia bertanya apa gunanya itu untuk masyarakat kita. Waktu pengukuhan guru besar, saya tanyakan padanya apa pertanyaan dia dulu sudah terjawab.

Kalau saya harus menjawab pertanyaan Dini sekarang, saya akan mengatakan, "Tidak penting saya Kristen atau China atau keduanya; tidak penting kamu berbeda suku, bahasa, atau warna kulit dengan saya, tidak penting kita sama atau berbeda agama. Manusia berarti bukan karena itu semua, tetapi karena hati dan perbuatannya."

Saya tidak tahu apakah khotbah romantis semacam itu cukup untuk menghentikan kecurigaan. Tetapi, saya membayangkan senyum lega tersungging di bibir Dini.

Apakah keetnisan Anda ikut memengaruhi lahirnya kegelisahan itu?

Saya rasa ada pengaruhnya. Ayah saya seorang nasionalis, Ketua Partai Katolik, aktif dalam kegiatan sosial. Proses mengetahui bahwa saya dilahirkan sebagai orang China didapat dari lingkungan. Ketika berproses itu saya menjadi seorang rasis. Ini baru saya sadari kemudian. Saya merasa seorang nasionalis, tetapi saya ditolak karena kechinaan itu. Saya jadi membenci China. Ada self-hatred, tanpa menyadarinya. Padahal ayah sudah mengajari kami untuk tidak menyalahkan, tidak sakit hati, tidak benci dikatai China. Ini adalah proses sejarah.

Waktu kecil saya tidak suka kalau ada orang bicara dalam bahasa China, apalagi kalau keras-keras di depan umum. Teman-teman saya di SD tidak ada yang percaya di rumah saya berbahasa Indonesia, bukan berbahasa China, sebab mereka di rumah berbahasa Jawa. Saya baru menyadari ini setelah membaca karya-karya sastra, seperti Uncle Tom's Cabin.

Mendobrak Batas-batas
Identitas, untuk waktu yang cukup panjang, tampaknya menjadi hal yang serius dalam kehidupan Melani. Saat hendak mengurus kartu keluarga, petugas kelurahan di Jakarta Selatan menanyakan kenapa suaminya, sastrawan Eka Budianta, tidak melengkapi surat-suratnya dengan surat ganti nama, K-1 dan seterusnya, yang berlaku bagi warga keturunan.

Melani mengatakan, semua itu tidak dibutuhkan karena suaminya tak pernah ganti nama. Ketika petugas itu tidak percaya bukan hanya karena wajah dan penampilan suaminya, tetapi karena di KTP-nya pada tahun 1980-an itu ada tanda kosong di antara angka-angka nomor KTP, Melani "berjuang" mencari jejak spasi kosong itu.

Identitas tampaknya mudah digunakan untuk "meliyankan" dan menciptakan dikotomi-dikotomi…

Huntington mengukuhkan dikotomi-dikotomi itu dalam Clash of Civilization. Sekarang ini kita ikut mempertegas dan menginternalisasikannya. Kita berteriak anti-Barat. Apa sih Barat?

Ilmuwan Edward Said sudah lama mengingatkan bahwa Barat dan Timur hanya imajinasi. Tetapi, kita terus terjebak pada oposisi biner sehingga yang terus-menerus ditemukan adalah yang menjajah dan yang terjajah. Kita terus mengkritik patriarkhi, tetapi yang terus-menerus kita temukan adalah cara-cara yang patriarkhis.

Hubungan dikotomis adalah hubungan yang saling mengalahkan. Padahal "yang lain" itu sebenarnya menjadi tantangan untuk mengukur seberapa baik kita dapat menemukan makna dari perbedaan dan mencari kesamaan-kesamaan sebagai manusia dengan hati nurani.

Ilmu humaniora dan kerja budaya dapat mendobrak dikotomi-dikotomi itu. Seperti Jakoeb Soemardjo, kritikus dengan latar belakang budaya Jawa yang menetap di Bandung dan meneliti kesusastraan dan kesenian Sunda. Atau cerita klasik anak-anak Si Doel Anak Djakarta karya Datoek Madjoindo (1934) yang mampu mengaitkan diri dengan budaya yang lain dengan ringan, tanpa beban.

Bagaimana dengan multikulturalisme?

Multikulturalisme merupakan salah satu jalan damai, tetapi nyatanya kita tetap berkutat dengan identitas. Multikulturalisme yang digagas teman-teman dari cultural studies adalah yang melintasi batas, bukan primordialisme.

Kerja budaya dan ilmu humaniora menguakkan batas-batas keilmuan yang memagari perspektif kita sehingga kita dapat mengembangkan pendekatan lintas disiplin yang terus saling memperkaya. Krisis multidimensi membukakan mata kita bahwa pendekatan multidisiplin merupakan keniscayaan.

Bagaimana Anda mendobrak tembok batas pandangan 'pohon ilmu'?

Cara berpikir monodisiplin yang tampak dari pengelolaan fakultas sebenarnya sangat berat. Kalau mau mengembangkan sesuatu masih ditentukan oleh pohon ilmu. Padahal pengembangan ilmu sekarang sudah lintas batas ilmu.

Di FIB saya membuka cultural studies, masuk ke Jurusan Sastra. Cara kita mengkaji teks dengan mengkaji masalah di luar (sastra) kan sama. Itu sebabnya saya dengan mudah dapat terjun ke kajian budaya, sastra dan dari sastra melakukan kajian politik dan budaya.

Saya berstrategi dengan memanfaatkan ruang yang ada. Saya mengajak kakak saya, Yunita, yang disiplinnya etnografi pertanian untuk ceramah budaya pertanian di FIB. Orang Guru Besar Antropologi pada Universitas Indonesia (1962-1999)
Guru Besar Antropologi pada Universitas Indonesia (1962-1999)
antropologi
bicara di sastra, tak masalah, saling mengait.

Bagaimana Anda mendobrak menara gading perguruan tinggi dan Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
me?

Seluruhnya adalah perjalanan tidak sengaja yang menghubungkan pencarian saya dengan Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
me. Saya memasuki dunia itu karena "kecelakaan" sejarah. Peristiwa Mei tahun 1998 adalah peristiwa sejarah yang kemudian secara produktif menghasilkan sesuatu. Semua topik terkait dengan minat dan perhatian saya, bukan sesuatu di luar saya.

Sekarang kalau kita mau belajar budaya anak jalanan, anak-anak itu diundang ke kelas untuk ikut bicara. Pasien diajak bicara bagaimana budaya medis memengaruhi hidupnya. Sastrawan masuk kampus dan berinteraksi dengan mahasiswa. Kita sedang memikirkan program-program yang bisa diambil masyarakat luas di jalur tanpa gelar.

Genre "baru"
Melani adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Suaminya, Eka Budianta, adalah anak pertama dari sembilan bersaudara, anak pasangan guru dari Malang. Kedua pribadi yang berpunggungan ini dipertemukan oleh sastra di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Dari kecil Melani sudah menyukai sastra. Ia masuk fakultas sastra meski di SMA masuk jurusan pasti alam. Orangtuanya sempat menentang, tetapi kemudian memberikan kebebasan memilih setelah kegagalan kuliah kakaknya di kedokteran karena menuruti keinginan orangtua. Kakak keduanya itulah yang mengajari Melani mengarang dan berefleksi diri dengan membuatkan buku harian.

"Malah setelah lulus SMA ibu meminta saya belajar steno supaya bisa langsung kerja jadi sekretaris karena ekonomi keluarga sangat sulit. Untuk menyenangkan ibu saya belajar steno, meski ijazahnya tidak pernah saya ambil," kenangnya. Bakat ilmu pasti dan kesukaannya pada sastra itu menurun pada anak sulungnya, Citra, seorang dokter, yang juga penulis dan penikmat sastra.
Akhirnya Anda meraih gelar guru besar…

Sebetulnya saya agak ragu mengurus keprofesoran saya. Saya merasa terbebani karena mitosnya begitu kuat. Profesor itu seperti sebuah klub. Rasanya saya belum pantas menjadi profesor sebelum menulis buku yang benar-benar utuh. Masalahnya, kehidupan sebagai akademikus dan aktivisme sangat menyita waktu. Bahkan saya dikejar-kejar utang tulisan terus-menerus. Saya tidak bisa mengatakan "tidak" pada yang minta tolong dibuatkan kata pengantar. Saya paling suka kata pengantar untuk buku terjemahan The God of Small Things.

Saya menjadi seperti penulis genre "kata pengantar". Sekarang karena tak punya waktu banyak, saya banyak diminta menulis komentar di belakang buku yang akan diterbitkan. Genrenya berubah jadi komentar pendek he-he-he…(Maria Hartiningsih dan Ninuk M Pambudy, Kompas, 5 Februari 2006) e-ti/ht-rh-ws

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 05 Feb 2006  -  Pembaharuan terakhir 25 Feb 2012
Menyanyi Untuk Tuhan Raja Jawa Nasionalis Sejati

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Bersikaplah gembira, murah hati, bersuka-cita dan mampu memaafkan. Ya, Anda bisa memiliki semua sikap itu sekalipun Anda miskin harta sama sekali! Tersenyumlah senantiasa sekalipun orang memusuhi Anda. Sang Buddha Tertawa akan menunjukkannya kepada kita.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: