Wikipedia

Kompas

Tempo

Antara

YouTube

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan ke sdm at tokohindonesia.com

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com if you CARE

    Berita Tokoh Monitor

    KPK-Hukum

    Bisnis-Entrepreneur

    Internet-Social Media

    Budaya-Sastra

    Mancanegara

    Olahraga

    Gaya Hidup

    Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap dua jam.
    Facebook TokohIndonesia.com   Twitter TokohIndonesia.com   Google Plus TokohIndonesia.com
    Berita Video Update Data & Sponsorship Intermezzo Komentar

    Negara Sebagai Arena

    • zoom in
    • zoom out
    • font color
    • bold

    CURRICULUM VITAE
    Negara Sebagai Arena
    e-ti | thc
    Penasehat Ahli Kapolri, 2000
    Lihat CV

    Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

    Tutup CV

    Konsolidasi demokrasi itu ternyata lebih mudah diucapkan ketimbang dipraktekkan. Khususnya untuk Indonesia, bayangan tentang sebuah masa pasca transisi yang menjadikan Indonesia --baik negara maupun rakyatnya-- semakin kuat, bukannya kian konkrit melainkan makin kabur. Kendati lembaga dan prosedur demokrasi sudah banyak diciptakan, kekhawatiran tentang akan adanya pembalikan (reversed) atas kecenderungan politik yang terjadi akhir-akhir ini, bukannya tanpa alasan.

    QR Code Halaman Biografi Indria Samego
    • biografi tokoh indonesia indria samego
    • biografi indria samego

    Pertama, rakyat memang sudah mendapatkan hak politiknya yang paling mendasar, yakni menentukan siapa yang paling tepat untuk menjadi pemimpin mereka. Dimulai dari pemilihan presiden dan wakil presiden yang berlangsung tahun lalu, dan akan segera menyusul pemilihan kepala daerah. Ini membuktikan bahwa komitmen untuk mengembalikan kedaulatan kepada rakyat sudah bukan mimpi lagi. Akan tetapi, apa makna dari suara rakyat bagi efektivitas sebuah pemerintahan, nampaknya masih perlu dibuktikan lebih lanjut. Pada tingkat nasional, barangkali kita secara relatif sudah menyaksikan manfaat dari pemilihan presiden langsung tersebut.

    Dengan semakin lemahnya gugatan publik terhadap kepemimpinan Presiden Republik Indonesia Keenam (2004-2014)
    Presiden Republik Indonesia Keenam (2004-2014)
    Presiden SBY
    dan Wapres Wakil Presiden Republik Indonesia (2004-2009), Ketua Umum PMI
    Wakil Presiden Republik Indonesia (2004-2009), Ketua Umum PMI
    Jusuf Kalla
    , dapat ditafsirkan bahwa keduanya telah berupaya mentransformasikan mandat rakyat ke dalam kebijakan pemerintah sehari-hari. Walau pun masih pada tataran simbolisme politik, sejauh ini, pemimpin baru Indonesia tersebut, sudah berupaya untuk mendekatkan diri dengan rakyat yang dipimpinnya.

    Masalahnya akan lain buat kepala daerah mendatang. Muncul kekhawatiran di sana-sini bahwa yang terpilih kemudian adalah mereka yang sekedar popular dan punya uang. Karena mahalnya pemilihan kepala daerah, maka hanya mereka yang kayalah yang akan terpilih. Konsekuensi selanjutnya, akan lebih banyak berpikir bagaimana mengembalikan modal ketimbang menjalankan fungsi pemerintahan ketika kemenangan itu sudah diraihnya.

    Kedua, partai politikpun telah mendapatkan kebebasannya untuk lahir, berkembang serta mencari pendukung. Kehadiran sejumlah partai politik yang mewamai lembaga perwakilan rakyat telah menjadikan sistem multi partai sebagai sebuah keniscayaan terjadinya konsolidasi demokrasi. Yang menjadi masalah, apakah sistem kepartaian kita sudah dapat dijadikan modal bagi upaya-upaya konsolidasi demokrasi selanjutnya.

    Mengingat miskin programnya partai, dan kelemahan finansial para fungsionarisnya, dikhawatirkan partai politik dibentuk hanya sekedar untuk batu loncatan para pendirinya (vertical mobility), bukan sebagai alat perjuangan. Kita sering mendengar betapa mahalnya sebuah kongres atau muktamar digelar, tapi hasil konkritnya, selain rekrutmen politik, tidak ada. Ada kecurigaan, kegiatan partai politik hanya terfokus di sana, dan dana dengan sekuat tenaga dicari untuk itu.

    Setelah hajat selesai, masing-masing kembali memikirkan kepentingan pribadi, termasuk mengembalikan dana yang telah disumbangkan untuk kegiatan partai di atas. Ini tentu sebuah agenda yang sangat elitis, dan jauh dari kepentingan masyarakat pendukung partai.

    Ketiga, belakangan muncul berbagai lembaga yang dianggap mewakili kepentingan civil society. Mulai dari Komisi Hukum Nasional, Komisi Ombudsmen, Komisi Hak Azasi Manusia, Komisi Pemilihan Umum sampai ke Komisi Yudisial, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, serta Komisi KeKapolri (1968-1971)
    Kapolri (1968-1971)
    polisi
    an Nasional yang sedang diproses. Yang menjadi pertanyaan adalah, siapa yang akan menghidupi semua komisi tersebut? Jawabannya pasti adalah negara. Nah, ini ironinya, organisasi yang mestinya mengambil jarak dari negara, ternyata mengandalkan sumber dananya dari negara. Dimana kita bisa berharap banyak terhadap independensi mereka?

    Ketiga renungan di atas menggaris-bawahi pikiran kita, bahwa pada akhimya kita kembali mengharapkan dukungan negara dalam merealisasikan keinginan publik, termasuk mewujudkan apa yang disebut sebagai konsolidasi demokrasi. Barangkali karena itulah maka Lihat Daftar Menteri
    Lihat Daftar Menteri
    Menteri
    Dalam Negeri pun menganggap Pilkada bukan sebagai pemilihan umum ansich, melainkan bagian dari proses pembinaan bangsa.

    Dalam konteks ini, negara memang sangat berkepentingan untuk memperjuangkannya. Selain menyediakan dana yang diperlukan, secara politis juga diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi pengembangan kehidupan politik yang kondusif terhadap penyelenggaraan pemerintahan.

    Perdebatan mengenai boleh tidaknya anggota TNI menjadi calon dalam Pilkada, merupakan salah satu contoh konkrit dari kepedulian pemegang kekuasaan sekarang. Karena khawatir akan munculnya pemimpin daerah yang asal menang dalam pemilihan, maka persyaratan untuk mencalonkan diri pun dikendorkan.

    Kecurigaan birkorasi terhadap kekuatan non-birokrasi dalam penyelenggaraan negara kian mencuat, manakala kita mendengar kasus suap Mulyana terhadap personil BPK, dan pembagian dana taktis di kalangan anggota KPU belakangan ini. Semula diharapkan bahwa lembaga yang didukung oleh para tokoh yang non-partisan ini mampu menciptakan citra positif mengenai adanya kekuatan relatif (relative autonomy) di kalangan mereka dalam menghadapi berbagai tekanan dan pengaruh kepentingan.

    Ternyata, pertahanan diri mereka jebol juga menghadapi pengaruh uang. Meski secara hukum mesti dibuktikan terlebih dahulu, tapi opini publik sudah diarahkan pada praktek-praktek primitif dalam distribusi rejeki di sana. Lantas apa bedanya mereka dengan birokrat dan Lihat Daftar Tokoh Politisi
    Lihat Daftar Tokoh Politisi
    politisi
    korup, yang sering dijadikan sasaran kritikan para akademisi.

    Hal yang sama juga muncul di kalangan TNI terhadap kekuatan sipil yang seolah-olah ingin menggantikan posisi tentara dalam politik. Bahwa tentara tidak lagi boleh berpolitik praktis dan memiliki wakilnya di DPR, ini sudah terbukti. Namun seberapa jauh TNI yakin bahwa pihak sipil akan membawa republik ini ke jalan yang benar, dan melindungi semua kepentingan, termasuk TNI di dalamnya, masih menjadi tanda tanya mereka.

    Perdebatan mengenai masa depan Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
    Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
    bisnis
    TNI, misalnya, salah satunya disebabkan oleh kecurigaan tersebut. Selain karena tidak mudah untuk mendefinisikan secara operasional, serta memilah-milah kriterianya, yang terlebih penting adalah seberapa jauh pihak sipil dapat memberi jaminan bahwa pengalihan tersebut akan berdampak positif baik bagi bangsa maupun TNI. Mengingat begitu buruknya wajah sebagian besar BUMN kita, masuk akal pula bila sampai sekarang persoalan ini belum disentuh secara memuaskan.

    Sebenarnya, kunci menuju konsolidasi demokrasi akan lebih mudah dilakukan bila apa yang disebut sebagai civil society sudah benar-benar tumbuh di sini. Mereka sungguh mandiri dan mengambil jarak dari negara di dalam menjalankan perannya. Tidak seperti sekarang, negara dijadikan arena atau bahkan terjad personalisasi negara di dalamnya. Akibatnya, terjadilah bancakan di antara semua aktor politik yang ingin mewamai perubahan negara.

    Semuanya menyatakan diri paling berhak. Semuanya tergantung pada negara. Dengan kata lain, selama pembagian kerja dan diferensiasi struktur masih terbatas dan sangat timpang ke negara, rasanya agak sulit buat kita untuk menghela perahu transisi ini. Jangan-jangan, jika salah kayuh, bukan konsolidasi demokrasi yang muncul melainkan kebalikannya, yakni anarki dari masa ke masa. e-ti

    ***TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

    * Disampaikan pada Diskusi bulanan CIDES (Center for Information and Development Studies), Selasa 20 September 2005 mengambil tema "Ekonomi Tumbuh Tetapi Rentan", menghadirkan tiga orang pembicara yaitu M. Fadhil Hasan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Umar Juoro Ketua Dewan Lihat Daftar Direktur
    Lihat Daftar Direktur
    Direktur
    CIDES, serta Indria Samego Anggota Dewan Lihat Daftar Direktur
    Lihat Daftar Direktur
    Direktur
    CIDES. Berikut ini salinan lengkap makalah yang dibawakan oleh Umar Juoro, yang banyak menyoroti permasalahan ekonomi makro yang sedang aktual berkembang di tanah air.

    © ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
    Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 20 Mei 2005  -  Pembaharuan terakhir 27 Feb 2012

    Update Data & Sponsorship

    Dukungan Anda, Semangat Kami

    (1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

    Update Konten/Saran

    Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

    • Menambah (Daftar) Tokoh
    • Memperbaharui CV atau Biografi
    • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
    • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
    • Menambah Galeri Foto
    • Menambah Video
    • Menjadi Member
    • Memasang Banner/Iklan
    • Memberi Dukungan Dana
    • Memberi Saran

    Contoh Penggunaan

    Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

    Rumah Presiden SBY

    Rumah Presiden Soekarno

    Rumah Megawati Soekarnoputri

    Silakan menghubungi kami di:

    • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
    • Email:
    • Atau gunakan FORM KONTAK ini

    Sponsorship

    Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.

    Sponsor Bronze
    Sponsor Bronze: US$50
    Sponsor Silver
    Sponsor Silver: US$250
    Sponsor Gold
    Sponsor Gold: US$500


    Nama para Sponsor akan kami tempatkan di halaman khusus 'Sponsor'. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi kami via Telp/SMS ke 0852-15333-143 atau e-mail ke sponsor@tokohindonesia.com.
    Beri Komentar

    Facebook

    Share on Myspace

    TIKomen

    Beri Komentar

    Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


    Kode keamanan Refresh

    Intermezzo
    "Dalam dunia bisnis, setiap orang dibayar dengan 2 koin: uang dan pengalaman. Ambil pengalaman untuk yang pertama, maka uang akan datang kemudian." ~ Harold S. Geneen

    Bio Lainnya

    Click to view full article

    Jejak rekam Letjen TNI Moeldoko terbilang cemerlang. Dia pernah ikut satuan teritorial, tempur, operasi di dalam dan luar negeri, berkecimpung di lembaga pendidikan termasuk

    Click to view full article

    Dosen senior FEUI yang dikenal sebagai ekonom, peneliti dan konsultan ini pernah menjadi staf khusus Lihat Daftar Menteri
    Lihat Daftar Menteri
    Menteri
    Keuangan dan berperan di G20, Wakil Ketua Komite Ekonomi Nasional,

    Click to view full article

    Setelah 10 tahun memimpin BTN, Iqbal Latanro didapuk menjadi Lihat Daftar Direktur
    Lihat Daftar Direktur
    Direktur
    Utama PT Tabungan dan Asuransi Pensiun (Taspen) Persero.

    Click to view full article

    Bernyanyi bagi Harvey Malaihollo tak sekadar profesi tapi bagian dari hidup. Ketika hati gembira atau sedih, ia akan tetap bernyanyi.


    Baru Dikunjungi

    Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

    Favorit Saya

    Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
     

    Tokoh Monitor

    Menurut Anda, Siapa Tokoh yang Layak Jadi Capres 2014?

    Komunitas

    • Terbaru
    • Komentar

    Like to Support Us