- Siti Hardijanti Hastuti (Tutut)
- Sigit Harjojudanto (Sigit)
- Bambang Trihatmodjo (Bambang)
- Siti Hediati Harjadi (Titik)
- Hutomo Mandala Putra (Tommy)
- Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek)
- Sekolah Ongko Loro di Kemusu (1929-1931)
- Sekolah Rakyat di Wuryantoro, Wonogiri (1931-1935)
- SMP di Yogyakarta (1935-1939)
- SMA (C) di Semarang (1956)
- Pendidikan Dasar Militer KNIL (1940)
- Sekolah Kader Kopral (1940)
- Sekolah Kader Sersan (1941)
- Sekolah Perwira untuk Tjudancho (1944)
- Kursus C-II (1956)
- SSKAD, Bandung (1959-1960)
- Tentara PETA (Pembela Tanah Air).
- Dan Yon Brigade ''O'' (1945-1950)
- Komandan Brigade Pragola Sub Teritorium IV Jawa Tengah (1953)
- Komandan Resimen Infanteri 15 (1953)
- Kepala Staf Teritorium IV Divisi Diponegoro (1956)
- Deputi I Kasad (1960)
- Ketua Komite Ad Hoc Retooling TNI-AD (1960)
- Atase Militer RI di Beograd, Paris, dan Bonn (1961)
- Panglima Mandala Pembebasan Irian Barat (1962) ;
- Panglima Kostrad (1963-1965)
- Pimpinan Sementara TNI-AD (1965)
- Panglima TNI-AD (1966)
- Menteri Pertahanan Republik Indonesia (28 Maret 1966 – 17 Oktober 1967
- Panglima ABRI/Menteri Pertahanan (17 Oktober 1967 – 28 Maret 1973)
- Penjabat Presiden RI (1967)
- Presiden RI (1967-1998)
- Pembantu klerk bank desa di Wuryantoro tahun 1940.
- Anggota Kepolisian di Yogyakarta tahun 1942
- Shodancho PETA tahun 1943
- Tjudanco PETA tahun 1944
- Komandan Kompi, Komandan Batalyon, Komandan Brigade, Komandan WK (Wehr Kreise) tahun 1945-1950 di Yogyakarta
- Komandan Brigade Mataram tahun 1950.
- Komandan Brigade Pragola tahun 1951-1953 di Solo.
- Komandan Resimen 15 tahun 1953-1956.
- Perwira Menengah yang diberbantukan Kastaf untuk mengikuti Planning SUAD tahun 1956
- Kepala Staf Teritorial IV tahun 1956 di Semarang.
- Pejabat Panglima Teritorial IV/Pang Terr. IV tahun 1956-1959 di Semarang sekaligus merangkap sebagai Dewan Kurator AMN tahun 1957-1959.
- Deputy I Kasad tahun 1960-1961.
- Deputy I Kasad merangkap Ketua Adhoc Retolong Depad, merangkap Panglima Korps Tentara I Tjaduad, merangkap Panglima Konud AD tahun 1961
- Panglima Mandala tahun 1962-1963, merangkap DEJANID tahun 1962.
- Panglima KOSTRAD tahun 1963-1965.
- Menteri Pangad/Kastaf KOTI tahun 1966.
- Menteri/Panglima AD, merangkap Wakil Perdana Menteri ad interim Hankam, tanggal 27 Maret 1966.
- Ketua Presidium Kabinet Ampera
- Menteri Utama Hankam, merangkap Kastaf KOTI dan Menteri Panglima AD pada tanggal 1 Juli 1966.
- Penjabat Presiden RI tanggal 22 Juli 1966-28 Maret 1968
- Presiden RI periode 1968-1973.
- Presiden RI periode 1973-1983.
- Presiden RI periode 1983-1988.
- Presiden RI periode 1988-1993.
- Presiden RI periode 1993-1998.
- Pendiri Asean
- Ketua Gerakan Non-Blok tahun 1992.
- Tuan rumah penyelenggaraan pertemuan para Kepala-kepala Negara anggota APEC tahun 1994
- Pendiri Yayasan-Yayasan:
- HARAPAN KITA (Ketua)
- DHARMAIS (Ketua)
- TRIKORA (Ketua)
- SUPERSEMAR (Ketua)
- DANA GOTONG ROYONG KEMANUSIAAN (Ketua)
- AMAL BHAKTI MUSLIM PANCASILA (Ketua)
- DAKAB (Ketua)
- DANA SEJAHTERA MANDIRI (Ketua)
- PURNA BHAKTI PERTIWI (Pelindung)
Jakarta Pusat
Jenderal Besar TNI Haji Muhammad Soeharto, dipanggil akrab Pak Harto, adalah seorang tokoh terbesar Indonesia. Beliau memimpin Republik Indonesia, selama 32 tahun. Suatu kemampuan kepemimpinan luar biasa yang harus diakui oleh teman dan lawan politiknya (senang atau tidak). Anak petani kelahiran Desa Kemusuk, Argomulyo, Godean, 8 Juni 1921 dan meninggal di Jakarta, 27 Januari 2008, itu oleh MPR dianugerahi penghargaan Bapak Pembangunan Nasional.
Jenderal Besar TNI Haji Muhammad Soeharto, dipanggil akrab Pak Harto, adalah seorang tokoh terbesar Indonesia. Beliau memimpin Republik Indonesia, selama 32 tahun. Suatu kemampuan kepemimpinan luar biasa yang harus diakui oleh teman dan lawan politiknya (senang atau tidak). Anak petani kelahiran Desa Kemusuk, Argomulyo, Godean, 8 Juni 1921 dan meninggal di Jakarta, 27 Januari 2008, itu oleh MPR dianugerahi penghargaan Bapak Pembangunan Nasional.
Ia menggerakkan pembangunan Indonesia dengan strategi Trilogi Pembangunan (stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan). Bahkan sempat mendapat penghargaan dari FAO atas keberhasilan menggapai swasembada pangan (1985). Maka, pantas saja rakyat Indonesia melalui Ketetapan MPR menganugerahinya penghargaan sebagai Bapak Pembangunan Nasional.
Dalam 60 tahun usia republik ini, Pak Harto mengukir karya besar pembangunan, dibanding para pemimpin lainnya, mulai dari Presiden Soekarno, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono saat ini.
Pak Harto berhasil menurunkan secara tajam jumlah penduduk miskin. Dari 70 juta jiwa atau 60 persen dari jumlah penduduk di era 1970-an menjadi 26 juta atau hanya 14 persen, pada tahun 1990-an.
Pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,8 persen setahun, bahkan 8,1 persen tahun 1995. Sektor industri tumbuh rata-rata 12 persen setahun, peranan industri dalam produksi nasional naik tajam dari 9,2 persen tahun 1969 menjadi 21,3 persen tahun 1991. Dan pendapatan per kapita meningkat tajam dari hanya 70 menjadi 800 dolar AS per tahun.
Program Kependudukan dan KB, berhasil gemilang sehingga Pak Harto memperoleh Penghargaan Tertinggi PBB di Bidang Kependudukan atau UN Population Award. Penghargaan ini disampaikan langsung oleh Sekjen PBB Javier de Cuellar di markas besar PBB di New York, 1989.
Terlalu banyak jika disebut satu-persatu. Selama kepemimpinannya tiada hari tanpa pembangunan. Sementara belakangan ini, jangankan membangun menyebut kata pembangunan saja sangat jarang. Presiden sesudah Pak Harto beserta para elit politiknya terjebak dalam euforia reformasi.
Para elit sibuk memperjuangkan kepentingan sendiri dan kelompoknya. Stabilitas nasional sangat rendah, tindakan anarkis dan main hakim sendiri merajalela. Sampai tujuh tahun, krisis ekonomi merambah jadi krisis multidimensional, belum teratasi. Bahkan belakangan, angka kemiskinan makin tinggi.
Tak heran, bila keadaan ini membawa ingatan masyarakat, terutama masyarakat bawah di kota dan pedesaan, kepada sosok Pak Harto. Bagi mereka, Pak Harto adalah Bapak Pembangunan Indonesia, pemimpin terbesar Indonesia yang masih hidup saat ini.
Sebagai manusia, apalagi sebagai pemimpin yang banyak berbuat, pastilah beliau tidak sempurna dan punya kekurangan dan kelemahan. Tetapi sebagai bangsa besar, sepatutnya bangsa ini menghormati para pejuang dan pemimpin yang mengabdikan diri kepada bangsa dan negaranya.
Kini, meski usianya semakin tua dan sakit, beliau masih belum berubah dengan senyum khasnya yang teduh dan kebapakan. Setelah lengser keprabon, Mei 1998, mantan presiden RI kedua itu menghabiskan waktunya di rumah bersama anak-anak dan cucu-cucunya. Ia pernah berkata akan meneruskan hidupnya sebagai pandito.
Pak Harto, memang meneruskan hidupnya demikian. Menjadi pandito, artinya menjadi orang yang tawakal dan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. "Kalau kita mendekati Tuhan, berarti tetap mendekatkan diri pada sifat-sifat Tuhan, yakni sifat yang baik termasuk sifat yang sabar. Melatih diri untuk berpikir positif. Juga, melakukan sholat." Demikian ucapannya suatu ketika.
Kesabaran. Itulah kunci yang dipegangnya ketika banyak hujatan dan cacian dialamatkan kepadanya. Berbagai macam tudingan, bahkan dakwaan hukum tidak membuat sang Jenderal Besar itu marah. Ia tetap tenang, tabah dan tawakal.
Maka dalam rangka 60 tahun Indonesia merdeka, dan Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2005, kami meneguhkan hati memaparkan peran beliau sebagai Bapak Pembangunan Indonesia. Bahan utama adalah wawancara dengan di kediaman beliau, jalan Cendana No.8, menteng, Jakarta Pusat, pada Rabu 8 Juli 1998, selama dua setang jam. Kami pun melakukan serangkaian wawancara dengan H Probosutedjo, adik kandung satu ibu Pak Harto pada Kamis 1 September 2005. Selain itu kami juga melengkapinya dari beberapa referensi, di antaranya buku Otobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya. Ch. Robin Simanullang,Majalah Tokoh Indonesia No.24

Tokoh Indonesia DotCom, sebuah media informasi dan database online terbaik, terlengkap dan terpadu perihal biografi, visi-misi, dan berita para tokoh di Indonesia. Diterbitkan sejak 20 Mei 2002 bertepatan Hari Kebangkitan Nasional. Tokoh Indonesia meliputi pemimpin formal dan informal Indonesia:











Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.