WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Inspirasi Pemimpin Bijak

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Inspirasi Pemimpin Bijak
Jokowi | TokohIndonesia.com | Hotsan

Di tengah kegalauan hati rakyat melihat kondisi kepemimpinan di negeri ini sehingga digambarkan bagai negeri auto pilot, negeri persepsi dan tebar pesona, publik mencari-cari figur yang pantas didaulat sebagai pemimpin (walikota/bupati, gubernur dan presiden). Salah satu figur yang mendapat sorotan mata publik adalah Joko Widodo (Jokowi) Walikota Solo (2005-2015) yang kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta (2012-2017).

Presiden Republik Indonesia
Lihat Curriculum Vitae (CV) Joko Widodo

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Joko Widodo

QR Code Halaman Biografi Joko Widodo
Bio Lain
Click to view full article
Moeldoko
Click to view full article
Markus Daniel Wakkary
Click to view full article
Bu Kasur
Click to view full article
Bobby Tutupoly
Click to view full article
Didik J Rachbini
Click to view full article
Ellyas Pical
Click to view full article
Agustadi Sasongko Purnomo
BERITA TERBARU

Kepemimpinan Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Jokowi
telah menjadi oase di tengah kegersangan dan kegalauan hati publik atas kondisi negeri yang punya presiden tapi rasanya tanpa pemimpin. Presiden yang mengaplikasikan politik sebagai persepsi, bukan sebagai wahana idealisme pengabdian kepada negeri. Setidaknya, Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Jokowi
telah menginspirasi publik tentang seorang pemimpin yang bijak dan tulus mengayomi rakyat, melayani dan memimpin dengan hati.

Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Jokowi
, memang bukan pemimpin yang pandai memaparkan visi-misi dengan bahasa saintifik, abstrak dan puitis penuh retorika. Sebagai Gubernur DKI Jakarta dan Walikota Solo, dia hanya berpegang pada tujuan berbangsa dan bernegara sebagaimana diamanatkan Pembukaan UUD 1945:

“… membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Amanat Pembukaan UUD 1945 itulah visi dan misinya, baik dalam kapasitas sebagai Gubernur DKI atau Walikota Solo, maupun dalam strata kepemimpinan publik manapun, mulai dari lurah, camat, walikota/bupati, gubernur hingga presiden.

Bagi Jokowi, sumpah seorang pemimpin adalah mencakup kesanggupannya untuk “memegang teguh UUD dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada nusa dan bangsa.” Dia memilih taat kepada konstitusi, bukan kepada konstituen.

Kata (amanat) melindungi dalam kalimat Pembukaan UUD 1945 itu sangat kuat melekat dalam hati dan pikirannya. Maka tatkala belum lama menjabat sebagai Walikota Solo (2005), Jokowi amat gundah dan tersentak saat Kepala Satpol PP mengajukan permintaan dana untuk membeli 600 pentungan dan 600 tameng sebagai kelengkapan pelaksanaan tugas Satuan Kapolri (1968-1971)
Kapolri (1968-1971)
polisi
Pamong Praja (Satpol PP).

Sejenak dia menatap sang Kepala Satpol PP yang bertubuh besar dan sangar itu. Kepala Satpol PP itu pun menjelaskan perlunya pentungan dan tameng itu untuk menertibkan warga kota Solo, di antaranya pedagang kali lima yang merupakan salah satu sumber kesemrawutan di kota Solo.

Saat itu, Jokowi memang sudah membentuk tim kecil untuk menyurvei keinginan warga kota Solo sebagai panduan kebijakannya. Salah satu hasil survei itu, mayoritas warga menginginkan agar pedagang kaki lima yang memenuhi jalan dan taman di pusat kota ditertibkan dan dipindahkan.

Jokowi menarik nafas dalam-dalam. Kendati tatapan matanya mengarah tajam kepada Kepala Satpol PP itu, tetapi dalam hati dan pikirannya, dia menatap rakyatnya, terutama para pedagang kaki lima yang berjuang mempertahankan hidup tetapi sekaligus menimbulkan kesemrawutan. “Dagang di kaki lima itu hidup mereka, keluarga dan anak-anaknya,” ujar Jokowi mengulang suara hatinya dalam percakapan dengan TokohIndonesia.com.

“Untuk apa ratusan pentungan dan tameng itu. Kita (pemerintah) ini mau menggebuki atau mengayomi rakyat?” Jokowi bertanya, sekaligus menjelaskan dan meyakinkan Kepala Satpol PP itu bahwa pentungan dan tameng tersebut tidak perlu. Dia menegaskan bahwa pemerintah tidak pantas melakukan kekerasan apalagi kepada rakyatnya sendiri. Jokowi pun memerintahkan supaya seluruh tameng dan pentungan dikumpulkan dan dikunci dalam gudang. Selanjutnya, Jokowi juga mengganti Kepala Satpol PP dengan seorang Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
, bukan lagi pria berbadan besar dan berwajah sangar.

Sungguh fenomenal, Jokowi mengubah performa Satpol PP Solo menjadi bekerja dengan hati nurani tanpa kekerasan. Komunikasi adalah kunci terbaik, daripada dengan kekerasan. Jokowi berketetapan memimpin dengan hati dalam proses penataan Kota Solo yang diaplikasikan pula oleh Satpol PP Solo bekerja dengan hati nurani tanpa kekerasan. Dengan demikian, Peraturan Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
Dalam Negeri No 26 Tahun 2010 tentang penggunaan senjata api bagi satuan Kapolri (1968-1971)
Kapolri (1968-1971)
polisi
pamong praja, tidak berlaku di Solo. Pemerintah Kota Solo cukup memberikan peluit kepada Satpol PP untuk melaksanakan tugasnya.

Pada awalnya banyak pihak yang menanggapi sinis kebijakan Jokowi itu. Di benak mereka yang sinis itu: “Bagaimana bisa menertibkan para pedagang kaki lima tanpa kekerasan?” Tapi Jokowi yakin penataan Kota Solo dapat dilakukan tanpa kekerasan, asalkan dilandasi ketulusan hati dan kebijakan yang berorientasi melindungi dan mencerdaskan rakyat. Memang, bagi umumnya pejabat, menertibkan kesemrawutan kota tanpa kekerasan suatu hal yang tidak mungkin. Tapi bagi Jokowi, justru itulah cara terbaik dan paling mungkin karena paling manusiawi. Memang, cara itu tidak mungkin dilakukan secara instan, tetapi harus dengan tulus, sabar dan ulet.

Sebelumnya, tiga wali kota Solo yang telah berusaha memindahkan para PKL itu sudah angkat tangan. Sebab para PKL mengancam akan membakar kantor wali kota kalau digusur. Ancaman membakar kantor walikota itu tidak bisa dianggap sebagai gertakan saja, sebab kantor walikota Solo sudah dua kali dibakar massa, yakni 1998 dan 1999.

Jokowi tentu tak ingin hal itu terulang kembali. Maka dia pun terjun secara langsung. Dia berketetapan mengawali pemindahan pedagang kaki lima dari kawasan Banjarsari, sebuah kawasan paling elite di Solo. Di tempat itu ada 989 PKL yang bergabung dalam 11 paguyuban. Lalu, dia mulai dengan membangun komunikasi langsung dengan para pedagang kaki lima itu. Jokowi sudah punya ide untuk meluluhkan hati para pedagang kaki lima itu. Sebagai eksportir mebel, Jokowi telah merasakan keampuhan lobi makan siang. Maka Jokowi pun memantapkan rencana pemindahan PKL dengan diawali lobi makan siang bersama di Loji Gandrung, rumah dinas walikota Solo.

Pertama kali para koordinator paguyuban tersebut dijamu makan siang di Loji Gandrung. Tampaknya, para PKL itu sudah menduga hendak dipindahkan, maka mereka datang memenuhi undangan makan siang dengan membawa Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
lembaga swadaya masyarakat. Jokowi juga menyadari hal itu. Dia pun bicara hal-hal yang bersifat umum tentang pembangunan kota Solo, tanpa menyinggung sedikit pun pemindahan PKL. Setelah itu, mereka dipersilahkan pulang. “Tidak ada acara lain, Pak?” tanya para PKL itu sebelum pulang. “Enggak. Cuma makan siang,” jawab Jokowi.

Beberapa hari kemudian, para PKL itu kembali diundang. Lagi-lagi cuma makan siang. Begitu berlangsung sebanyak 53 kali selama tujuh bulan, dia sabar dan ulet, belum mengungkapkan rencana pemindahan PKL itu. Lalu pada jamuan ke-54, semua pedagang kaki lima di Banjarsari diundang. Jokowi pun mengutarakan rencananya untuk memindahkan mereka ke Pasar Klitikan. Terjadi dialog yang akrab, tanpa ada bantahan berarti.

Para pedagang mengutarakan kekuatiran, di tempat yang baru, mereka akan kehilangan pembeli. Jokowi berjanji akan mengiklankan Pasar Klitikan selama empat bulan di televisi dan media cetak lokal. Dia juga memperlebar jalan dan membuat satu trayek angkutan kota ke Pasar Klitikan. Semua janji itu dia penuhi.

Selain itu, para pedagang minta kios diberikan gratis. Permintaan ini tidak bisa dijawab langsung oleh Jokowi. Dia harus minta persetujuan DPRD dulu. Setelah sempat ada tarik-ulur, akhirnya dia berhasil meyakinkan Dewan sehingga setuju. Para pedagang tak harus mengeluarkan uang untuk menempati kios barunya. Mereka hanya diwajibkan membayar retribusi Rp 2.600 per hari. Dengan cara ini, selain para PKL sudah dapat langsung menempati kios baru tanpa membayar lebih dulu, juga Jokowi yakin dalam delapan setengah tahun modal pemerintah Rp 9,8 miliar membangun Pasar Klitikan itu sudah bisa kembali. Para PKL itu pun sepaham.

Relokasi pedagang kaki lima dari Banjarsari ke Pasar Klitikan pun dilakukan dengan mengadakan pawai yang meriah. Dengan dikawal prajurit keraton berpakaian lengkap, para pedagang berpawai mengenakan pakaian adat Solo dan menyunggi tumpeng sebagai simbol kemakmuran. Mereka pindah dengan senyum dan rasa bangga, tidak dikejar-kejar Satpol PP sebagaimana lazimnya di kota lain. Pawai meriah itu sekaligus sebagai promosi sehingga lokasi baru tersebut diserbu masyarakat pembeli.

Jokowi tidak sepaham dengan anggapan bahwa para PKL itu menuruti keinginannya karena sudah termakan budi diajak makan. Itu pandangan yang sempit dan salah. Menurut Jokowi, yang benar adalah karena mereka diwongke, dihargai dan dimanusiakan. Makan siang bersama itu hanya bagian dari rangkaian proses komunikasi manusiawi, dimana mereka dihargai. Dari pengalaman itu, Jokowi berpandangan membela wong cilik sebenarnya bukan perkara sulit. Kuncinya, pimpin dengan hati. Layani mereka sebagai sesama, bukan orang asing apalagi sampah.

Setelah berhasil memindahkan PKL dari Banjarsari, dilanjutkan dengan memindahkan PKL dari wilayah lainnya, ada 23 lokasi. Termasuk yang berada di jalan depan Stadion Manahan, mereka disediakan shelter dan gerobak. Begitu pula para penjual makanan di beberapa wilayah dikumpulkan di Gladag Langen Bogan Solo, Gandekan. Tempat ini menjadi lokasi kuliner paling ramai yang buka pada malam hari dengan menutup separuh Jalan Mayor Sunaryo.

Jokowi juga membenahi pasar-pasar tradisional, dalam lima tahun mencakup 15 pasar. Juga menata bantaran kali, relokasi 1.581 kepala keluarga. Dalam hal tata ruang, dia ingin menjadikan Solo sebagai ecocultural city. Dia canangkan, dari 2010 sampai 2015 akan ada kota dalam kebun. Kemudian, sampai 2025 akan ada kota dalam hutan. Program ini secara riil telah diawali dengan mengganti pagar-pagar dengan tanaman. Kini warga Solo telah menikmati jalan yang bersih, indah, dan teratur. Monumen Juang 1945 di Banjarsari telah kembali menjadi ruang terbuka hijau yang nyaman.

Demikian sekelumit kepemimpinan Jokowi. Walikota yang memimpin dengan hati, arif dan bijaksana. Kepemimpinan peraih Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama dari Presiden Republik Indonesia, 12 Agustus 2011, itu telah menjadi sumber inspirasi bagi para pemimpin bijak, untuk membawa negeri ini mencapai cita-cita masyarakat sejahtera, adil dan makmur. Penulis: Pemimpin Redaksi Tokoh Indonesia
Pemimpin Redaksi Tokoh Indonesia
Ch. Robin Simanullang
| Dari Majalah Digital Tokoh Indonesia
Majalah Digital Tokoh Indonesia
Majalah Tokoh Indonesia
| Maret 2012

Baca juga dalam versi Majalah Digital Tokoh Indonesia
Majalah Digital Tokoh Indonesia
Majalah Tokoh Indonesia
Edisi Khusus 06: Jokowi, Inspirasi Pemimpin Bijak, http://www.tokohindonesia.com/pustaka/mtik-06-jokowi-basuki/index.html#/34/

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh cross  -  Dibuat 09 Dec 2013  -  Pembaharuan terakhir 13 Nov 2015
Novelis Kursi Roda Dari Malang Menyimpan Sejumlah Impian

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Ahok-Djarot

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Buku ini memecahkan rekor MURI sebagai Buku Sulap dengan Jenis Permainan Terbanyak. Buku ini akan menjadi koleksi berharga di perpustakaan pribadi Anda.

Note: Buku langka, kondisi masih baru namun ada bagian yang sedikit terlipat.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: