WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan ke sdm at tokohindonesia.com

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com if you CARE

Berita Tokoh Monitor

KPK-Hukum

Bisnis-Entrepreneur

Internet-Social Media

Budaya-Sastra

Mancanegara

Olahraga

Gaya Hidup

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Pembuat Patung Garuda Wisnu Kencana

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Pembuat Patung Garuda Wisnu Kencana
I Nyoman Nuarta | TokohIndonesia.com | repro

Beberapa karya patung monumental telah terlahir dari tangan kreatif pematung lulusan ITB ini. Diantaranya, Patung Garuda Wisnu Kencana (Bali), Monumen Jalesveva Jayamahe (Surabaya), dan Monumen Proklamasi Indonesia (Jakarta). Dalam berkarya, peraih penghargaan Jasa Adiutama dari ITB tahun 2009 ini lebih memilih menggunakan bahan kuningan dan tembaga.

Pematung
Lihat Curriculum Vitae (CV) I Nyoman Nuarta

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) I Nyoman Nuarta

QR Code Halaman Biografi I Nyoman Nuarta
Bio Lain
Click to view full article
Koesmawan
Click to view full article
Nardayana
Click to view full article
Made Sudiana
Click to view full article
Liem Tiang Gwan
Click to view full article
Soekarno M Noer
Click to view full article
Basuki Tjahaja Purnama
Click to view full article
Motinggo Busye

I Nyoman Nuarta dibesarkan di lingkungan keluarga Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha
yang berhasil dan cukup terkenal di kotanya. Meski demikian, putra pasangan Wirjamidjana dan Semuda ini tumbuh dalam didikan pamannya, seorang kelihan adat dengan disiplin yang cukup ketat. Perkenalannya dengan guru menggambar, Ketut Dharma Susila, menjadi titik awal perjalanan karirnya di dunia seni.

Untuk mengasah bakatnya, pria kelahiran Tabanan, 14 November 1951 ini melanjutkan kuliahnya di Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1972. Saat itulah karirnya di dunia seni berawal. Bersama beberapa sahabat dekatnya seperti pelukis Hardi, Dede Eri Supria, Harsono, serta kritikus seni Jim Supangkat, Nyoman bergabung dalam Gerakan Seni Rupa Baru di Indonesia pada tahun 1977. Gerakan itu kemudian menjadi salah satu tonggak penting perkembangan seni rupa di Indonesia bahkan telah menerima penghargaan dari Presiden HM Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
di tahun 1979.

Nyoman awalnya lebih tertarik dalam bidang seni lukis dengan mengambil kuliah di jurusan Seni Rupa. Namun pada akhirnya, ia memutuskan untuk pindah ke jurusan seni patung setelah ia mengikuti kuliah selama dua tahun. Ia merasa, bakat serta kemampuannya lebih berkembang di seni patung.

Dalam berkarya, peraih penghargaan Jasa Adiutama dari ITB tahun 2009 ini lebih memilih menggunakan bahan kuningan dan tembaga. Kendati kedua material tadi terbilang sulit dibentuk, namun berkat tangan terampil, ketajaman logika dan kepekaan rasa seninya, kuningan dan tembaga berhasil diubah menjadi patung-patung indah.

Pilihan itu tidak keliru. Pada tahun 1979, ia memenangkan Lomba Patung Proklamator Republik Indonesia yang sekaligus mengantarkannya ke jenjang ketenaran. Sejak itu, anak ke-6 dari 9 bersaudara ini banyak menelurkan karya-karya mengagumkan yang tersebar hampir di seluruh Indonesia. Pada 1993, Nyoman membuat Monumen Jalesveva Jayamahe, yang hingga hari ini masih berdiri kokoh di ujung Utara Surabaya. Monumen tersebut menggambarkan sosok Perwira TNI Angkatan Laut dengan memakai pakaian PDU lengkap dengan pedang kehormatan sedang menatap ke arah laut. Patung tersebut berdiri tegak di atas bangunan gedung dengan tinggi keseluruhan mencapai 60,6 m. Monumen Jalesveva Jayamahe menggambarkan generasi penerus bangsa yang dengan penuh keyakinan dan kesungguhan siap menerjang ombak badai menuju arah yang telah ditunjukkan yaitu cita-cita bangsa Indonesia.

Karya lain yang tak kalah fenomenal adalah patung Garuda Wisnu Kencana (GWK). Patung ini sendiri menggambarkan sosok Dewa Wisnu (Dewa penyelamat bagi umat Hindu) yang sedang mengendarai burung Garuda. Pembuatan patung ini terinspirasi dari kisah Adi Parwa yang diambil pada episode Garuda yang memberikan kesetiaan dan pengorbanannya untuk menyelamatkan ibunya dari belenggu perbudakan. Hal yang dilakukannya yaitu dengan mengabdi kepada Dewa Wisnu dan menjadi kendaraan bagi sang Dewa.

Bisa dibilang patung GWK merupakan karya terbesar I Nyoman Nuarta. Pasalnya, pembangunan patung yang terletak di Desa Ungasan, Jimbaran, Bali ini kerap disebut sebagai mega proyek. Taman budaya Garuda Wisnu Kencana sendiri mempunyai luas keseluruhan sekitar 200 hektare. Dengan tinggi sekitar 75 meter, patung tersebut diletakkan di atas fondasi setinggi 70 meter. Dengan demikian, total tingginya mencapai 145 meter. Untuk patung Garudanya saja mempunyai lebar bentangan sayap sekitar 66 meter. Berat keseluruhan patung tersebut mencapai 4000 ton. Patung GWK bahkan disebut-sebut sebagai patung tertinggi di dunia mengalahkan patung Liberty yang menjadi ikon kota New York, Amerika Serikat.

Bagi seniman yang sudah menciptakan ratusan patung bernilai seni dan berdaya jual tinggi itu, proyek GWK ibarat ladang amal. Motifnya menggagas pembangunan proyek tersebut bukan semata untuk keuntungan materi. Oleh sebab itu, ia tidak buru-buru mematok tarif untuk karya besarnya tersebut. Yang terpenting bagi Nyoman ialah, ia bisa memberikan warisan budaya yang berharga bagi anak cucu bangsa. Kedengarannya memang klise, tapi itulah Nyoman, yang sudah hidup makmur dari mematung.

Selain sebagai alternatif objek wisata di Pulau Dewata, tujuan pembangunan patung tersebut menurut Nyoman adalah untuk membantu para seniman tua yang sudah pensiun dan beberapa kelompok kesenian yang bangkrut karena kekurangan dana. Di samping itu, sebagai ahli patung modern, Nyoman Nuarta merasa sangat prihatin melihat perkembangan seni patung di Indonesia, karena patung saat ini belum memiliki tempat yang layak di hati masyarakat. Padahal patung dapat digunakan untuk mempercantik lingkungan.

Selain monumen Jalesveva Jayamahe dan Garuda Wisnu Kencana, masih ada sekitar ratusan patung serta monumen yang terlahir dari buah kreativitas suami dari Cynthia Nuarta ini dan tersebar di seluruh penjuru Tanah Air. Di antaranya, Patung Wayang (Solo), Monumen Arjuna Wijaya (Jakarta), Patung Putri Melenu (Kalimantan Timur), Patung Timika untuk Alun-alun Newtown Freeport (Irian Jaya), dan masih banyak lagi.

Selama berkiprah sebagai pematung, Nyoman Nuarta juga pernah merasakan pengalaman yang kurang menyenangkan. Seperti yang terjadi di tahun 2010 lalu, saat Patung Tiga Mojang buatannya yang telah dua tahun berdiri di sebuah perumahan di Kota Bekasi, Jawa Barat, dirobohkan oleh sebuah ormas karena dituding sebagai perlambangan Trinitas dan dianggap menyinggung perasaan umat Islam serta diduga tidak memiliki ijin. Patung tersebut dirobohkan pada pukul 07.30 WIB dan baru pukul 10.00 WIB berhasil dipindahkan ke Mapolrestro Kota Bekasi untuk selanjutnya diserahkan kembali oleh pengembang.

Nyoman menyesalkan aksi tersebut seraya menjelaskan bahwa tudingan tersebut sama sekali tidak benar. "Patung tersebut adalah gambaran mojang priangan yang menggunakan pakaian kemben bukan gambaran Bunda Maria yang memakai kerudung," kata pematung yang tinggal di Tirtasari, Bandung ini seperti dikutip dari situs antaranews. Nyoman juga menambahkan, peristiwa tersebut merupakan preseden buruk bagi kesenian dan kebudayaan Indonesia.

Selain membuat patung dan monumen, ayah dua putri ini juga membuat trofi untuk beberapa kejuaraan olahraga. Pada tahun 1994, ia mendesain Piala Liga Dunhill. Kemudian di tahun 2011, Nyoman membuat Championship Trophy National Basketball League (NBL) Indonesia musim 2011-2012. Trofi tersebut memiliki dimensi 22 cm x 22 cm, tinggi 48 cm, berat 22 kg, serta berbahan dasar tembaga berlapis emas 22 karat, serta didesain dengan detail yang mengagumkan. Di situ terdapat sosok-sosok manusia yang mengikuti pusaran dan berebut bola, memperlihatkan gerakan-gerakan dinamis yang mengarah pada perjuangan dan keuletan dalam mencapai prestasi. Trofi ini merefleksikan bahwa prestasi merupakan kedigdayaan yang bisa dicapai oleh manusia.

Nyoman mengaku bangga dapat mempersembahkan karya seninya bagi dunia olahraga Tanah Air. Ia juga merasa prihatin dengan kemajuan dunia olahraga di Indonesia, karena itu, ia merasa ikut memiliki tanggung jawab dalam memajukannya. Komisioner PT. Nyoman Nuarta Enterprise ini berharap trofi tersebut dapat menginspirasi perjuangan anak bangsa untuk memajukan olahraga di Indonesia, khususnya basket. Selain trofi, Nyoman Nuarta juga mempersembahkan sebuah puisi khusus yang menceritakan filosofi dari rancangan trofi tersebut.

Kontribusi I Nyoman Nuarta sebagai pematung telah mendapatkan pengakuan, baik dari pemerintah Indonesia maupun dunia internasional. Nyoman juga bergabung dalam organisasi seni patung internasional, di antaranya International Sculpture Center Washington, Amerika Serikat, Royal British Sculpture Society, London, dan Steering Committee for Bali Recovery Program.

Dalam berkarya, peraih penghargaan Jasa Adiutama dari ITB tahun 2009 ini lebih memilih menggunakan bahan kuningan dan tembaga. Kendati kedua material tadi terbilang sulit dibentuk, namun berkat tangan terampil, ketajaman logika dan kepekaan rasa seninya, kuningan dan tembaga berhasil diubah menjadi patung-patung indah. Dengan teknik las, ia mengerjakan seluruh detail yang rumit. Kemudian potongan-potongan logam kuningan dan tembaga yang keras dibentuk dengan jalan pemanasan. Tembaga cair yang telah dipanaskan tadi lalu diteteskan di atas batang kuningan yang telah ia satukan.

Dalam mengerjakan proses tersebut, Nyoman menggunakan tiga alat las yang ukurannya berbeda. Satu untuk membentuk, satu untuk memanaskan, dan satu lagi untuk mempertahankan supaya kuningan tetap cair. Proses pembentukan pun harus dilakukan dengan sangat cepat, karena logam cair akan membeku kembali dalam beberapa menit. Nyoman enggan menggunakan tanah liat sebagai bahan pembuat patung-patungnya karena tanah liat dianggap terlalu lunak untuk menghasilkan ekspresi yang keras.

Sedangkan untuk patung yang halus seperti Lamunan, Nyoman menerapkan teknik mencetak model tanah liat. Namun, untuk karya yang menunjukkan citra bergolak, seperti Prahara, Nyoman menggunakan teknik pahat. Caranya, ia lebih dulu mencetak bongkahan polyester resin. Bongkahan inilah yang kemudian dipahatnya. Sementara batu-batuan atau pualam dinilai Nyoman tidak efisien di zaman teknologi seperti sekarang ini, lantaran sulit didapat, mahal, berat, serta proses pengerjaannya yang memakan waktu lama.

Perhitungan material dalam membuat karya-karya monumental, menurut Nyoman, sama pentingnya dengan nilai seninya sendiri. Jangan sampai nilai seninya begitu diutamakan, tapi pembiayaannya tak terkontrol. Pernyataan ini menunjukkan, Nyoman mematung bukan cuma untuk kebutuhan berekspresi. Namun ia juga mencoba bersikap profesional dalam menerima pesanan.

Dalam perkembangan profesinya lebih lanjut, Nyoman terus berusaha melewati berbagai rintangan dan hambatan. Dipicu semangat profesionalisme dan dukungan beberapa seniman muda, ia mendirikan satu kelompok yang dikelola melalui pendekatan manajemen yang apik. Ternyata dengan pendekatan ini dapat dibuktikan bahwa bidang seni rupa yang selalu dianggap sangat individual ternyata dapat dilaksanakan melalui sistem manajemen yang profesional. Bersama sang istri yang sekaligus bertindak sebagai manajer, Nyoman membangun sebuah studio di Bandung dan mempekerjakan puluhan karyawan. Ia juga mengaku lebih nyaman tinggal di Kota Kembang ketimbang di kota kelahirannya karena udaranya yang sejuk.

Untuk meneruskan sepak terjangnya, Nyoman mewariskan bakat seninya kepada kedua putrinya, si sulung, Tania yang menekuni jurusan seni rupa di sebuah perguruan tinggi di Melbourne, Australia, serta sang adik, Tasya, yang kerap menemani Nuarta di studionya. Sebagai seorang pematung, Nuarta telah membangun Taman Patung yang ia namakan NuArt Gallery di tahun 2000. Di taman yang berlokasi di kawasan Sarijadi, Bandung itu terdapat puluhan patung dalam berbagai bentuk dan ukuran yang bertebaran di areal seluas tiga hektar. Selain taman, juga dibangun gedung empat lantai untuk pameran dan ruang pertemuan dengan gaya artistik.

Kerja keras merupakan prinsipnya dalam menggeluti dunia seni. Dukungan keluarga juga amat diperlukan sehingga anggapan bahwa masa depan seniman itu suram bisa ditanggalkan. Sedangkan dalam berkarya, Nuarta tidak pernah mempersoalkan aliran. Ia mengenal beberapa aliran dan ia percaya perubahan itu adalah kelebihan manusia dari makhluk lain. muli, red

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 17 Apr 2012  -  Pembaharuan terakhir 18 Apr 2012

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
Beri Komentar

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Sponsorship

Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.

Sponsor Bronze
Sponsor Bronze: US$50
Sponsor Silver
Sponsor Silver: US$250
Sponsor Gold
Sponsor Gold: US$500


Nama para Sponsor akan kami tempatkan di halaman khusus 'Sponsor'. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi kami via Telp/SMS ke 0852-15333-143 atau e-mail ke sponsor@tokohindonesia.com.
 

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: