WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Pejabat Presiden RI (RIS)

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Pejabat Presiden RI (RIS)
Assaat | Ensikonesia.com | pnri

Mr. Assaat. lahir di Dusun Pincuran Landai, Kanagarian Kubang Putih, Banuhampu, Agam, Sumatera Barat, 18 September 1904 dan meninggal di  Jakarta, 16 Juni 1976. Dia adalah tokoh pejuang Indonesia, yang pernah menjabat Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dengan Badan Pekerja (1946-1949), Pejabat Presiden Republik Indonesia yang merupakan bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS) di Yogyakarta (Desember 1949 - Agustus 1950), Anggota Parlemen (Dewan Perwakilan Rakyat) dan Menteri Dalam Negeri Kabinet Natsir (September 1950 - Maret 1951).[1]

Ketua KNIP dan Mendagri
Lihat Curriculum Vitae (CV) Mr. Assaat

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Mr. Assaat

QR Code Halaman Biografi Mr. Assaat
Bio Lain
Click to view full article
Lalu Mariyun
Click to view full article
Valerine J.L. Kriekhoff
Click to view full article
Jeffrie Geovanie
Click to view full article
Theresia Widia
Click to view full article
Tri Rismaharini
Click to view full article
Anita Puspa Moran
Click to view full article
Moeslim Abdurrahman

Assaat mangawali pendidikan di sekolah agama Adabiah di Padang. Kemudian melanjut ke MULO Padang. Lalu hijarah ke Jalarta untuk melanjut ke School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Namun, karena erasa tidak cocok menjadi seorang dokter, dia keluar dari STOVIA dan melanjutkan ke AMS (SMA). Setelah dari AMS, Assaat meneruskan studinya ke Rechts Hoge School (Sekolah Hakim Tinggi, yang kemudian menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia) di Jakarta. Setelah itu melanjutkan study ke Belanda hingga memperoleh gelar Meester in de Rechten (Mr) atau Sarjana Hukum.

Saat mahasiswa di Rechts Hoge School, Assaat sudah aktif dalam gerakan kebangsaan yakni dalam gerakan pemuda, Jong Sumatranen Bond. Dia pun aktif sebagai anggota Pengurus Besar Perhimpunan Pemuda Indonesia. Lalu, ketika Perhimpunan Pemuda Indonesia bersatu dalam Indonesia Muda, dia dipercaya menjadi Bendahara Komisaris Besar Indonesia Muda.

Lalu bergabung dalam gerakan politik Partai Indonesia (Partindo), bersama Adenan Kapau Gani, Wakil Presiden Republik Indonesia (1978-1983)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1978-1983)
Adam Malik
, Amir Sjarifoeddin dan lain-lain. Akibat kegiatan politik pergerakan kebangsaan tersebut diketahui oleh pengajar dan pihak kolonial Belanda, sehingga dia tidak diluluskan. Padahal dia sudah belajar sungguh-sungguh dan telah pula beberapa kali mengikuti ujian akhir.

Merasa tersinggung atas perlakuan itu, dia memutuskan meninggalkan Rechts Hoge School Jakarta dan melanjutkan pendidikan ke Belanda hingga memperoleh gelar "Meester in de Rechten" (Mr) atau Sarjana Hukum. Sekembali dari Belanda (1939), Mr. Assaat juga sempath aktif sebagai advokat (pengacara) hingga masuknya Jepang ke Indonesia (1942). Kemudian, pada zaman pendudukan Jepang, dia diangkat menjadi Camat Gambir, kemudian Wedana Mangga Besar di Jakarta.

Aktivitas perjuangannya berpuncak pada tahun 1946-1949 saat dia menjabat Ketua Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) yang merupakan cikal-bakal parlemen (DPR-MPR) Indonesia. Lalu, dia Terpilih menjadi Ketua KNIP kedua dan terakhir (1946-1949). Pada masa revolusi, KNIP dan Badan Pekerja KNIP dua kali hijrah karena situasi agar Revolusi Indonesia tetap berjalan. Awalnya berkedudukan di Jakarta, dengan tempat bersidang di bekas Gedung Komedi (kini Gedung Kesenian Jakarta) di Pasar Baru dan di gedung Palang Merah Indonesia di Jl. Kramat Raya. Sekitar tahun 1945 KNIP hijrah ke Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
, lalu sempat pindah lagi ke Purworejo, Jawa Tengah. Lalu, kembali lagi ke Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
karena situasi di Purworejo sudah kurang aman. Pada saat itu Mr. Assaat duduk sebagai anggota sekretariatnya. Tidak lama kemudian dia ditunjuk menjadi ketua BP-KNIPdan Ketua KNIP.

Saat Wakil Panglima Besar (1962-1965) Ketua MPRS (1966-1972)
Wakil Panglima Besar (1962-1965) Ketua MPRS (1966-1972)
perang gerilya
PRRI di hutan-hutan Sumatera Barat dan Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Sumatera Utara
tersebut, Mr. Assaat sudah sering sakit. Dia pun tertangkap, dalam keadaan fisik lemah. Kemudian dia dipenjara di Jakarta selama empat tahun 1962-1966. Mr.Assat baru keluar dari penjara, setelah Orde Lama ditumbangkan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
.

Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II. Mr. Assaat ditangkap Belanda bersama Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Bung Karno
, Proklamator, Wakil Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1956)
Proklamator, Wakil Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1956)
Bung Hatta
serta pemimpin Republik Indonesia lainnya, kemudian diasingkan ke Manumbing, Pulau Bangka.

Kemudian, di masa perjuangan itu, Mr. Assaat gelar Datuk Mudo menikah dengan Roesiah, dari Sungai Pua di Rumah Gadang Kapalo Koto, 12 Juni 1949, Pasangan ini dikaruniai dua orang putera dan seorang puteri.

Saat berlakunya Konstitusi RIS dan terbentuknya RIS (Republik Indonesia Serikat), Mr. Assaat sempat aktif sebagai Pejabat (Acting) Presiden Republik Indonesia yang merupakan bagian dari RIS, berkedudukan di Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
(Desember 1949 hingga Agustus 1950). Saat menjadi Pejabat (Acting) Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia
Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia
Presiden RI
, Assaat sempat menandatangani statuta pendirian Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.

Posisinya sebagai Penjabat Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia
Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia
Presiden RI
berakhir pada Agustus 1950, demikian juga jabatannya selaku Ketua KNIP dan Badan Pekerja KNIP, berakhir. Sebab pada bulan Agustus 1950 tersebut, negara-negara bagian RIS melebur diri (bersatu kembali) dalam Negara Kesatuan RI. Kemudian, Setelah ibukota RI (Undang-Undang Dasar Sementara) kembali ke Jakarta, Mr. Assaat sempat menjadi anggota parlemen (DPR) dan menjabat sebagai Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
Dalam Negeri pada Kabinet Natsir September 1950 - Maret 1951. Setelah Kabinet Natsir bubar, dia pun kembali menjadi anggota Parlemen.

Lalu, pada tahun 1955, dia menjabat sebagai formatur Kabinet bersama Soekiman Wirjosandjojo dan Wilopo untuk mencalonkan Proklamator, Wakil Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1956)
Proklamator, Wakil Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1956)
Bung Hatta
sebagai Perdana Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
. Karena waktu itu terjadi ketidak puasan daerah terhadap beleid (kebijakan) pemerintahan Pusat. Daerah-daerah mendukung Proklamator, Wakil Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1956)
Proklamator, Wakil Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1956)
Bung Hatta
, tetapi upaya tiga formatur tersebut menemui kegagalan, karena secara formal, ditolak oleh Parlemen.[2]

Kemudian, saat Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Presiden Soekarno
mulai menjalankan Demokrasi Terpimpin, Assaat tidak dapat menerimanya, dia menentangnya. Dia pun menentang politik Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Bung Karno
yang dia rasa lebih condong ke sayap kiri Partai Komunis Indonesia. Sikap tegasnya tersebut, membuatnya merasa dikekang, ditekan dan diawasi. Sehingga dia berusaha kembali ke Sumatera Barat. Dia dan keluarga melarikan diri dengan berpura-pura "akan berbelanja". Mereka, secara berturut-turut naik becak dari Jl. Teuku Umar ke Jl. Sabang, dari sana dilanjutkan menuju Stasion Tanah Abang.[3]

Kemudian menyeberang ke Sumatera. Dia pun sempat tinggal beberapa hari di Palembang, Sumatera Selatan. Ketika itu, di beberapa wilayah Sumatera telah berkembang ketidakpuasan atas pemerintahan pusat (Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Presiden Soekarno
) yang dinilai sangat kurang memperhatikan pembangunan daerah di luar Jawa. Maka ketika itu di Sumatra Selatan sudah terbentuk "Dewan Gajah" yang dipimpin oleh Letkol Barlian; Di Sumatra Barat sudah ada "Dewan Banteng" yang dipimpin Letkol Ahmad Husein: Di Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Sumatera Utara
telah terbentuk "Dewan Gajah" dipimpin Kol. Simbolon: Sementara di Sulawesi sudah ada "Dewan Manguni" (Burung hantu) yang dipimpin Kol. Sumual.

Kemudian, dewan-dewan tersebut bersatu membentuk PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) menentang pemerintahan pusat Soekarno yang sangat dipengaruhi oleh PKI. Lalu, Assaat yang ketika itu baru tiba di Sumatera Barat bergabung dengan PRRI dan ikut aktif melancarkan Wakil Panglima Besar (1962-1965) Ketua MPRS (1966-1972)
Wakil Panglima Besar (1962-1965) Ketua MPRS (1966-1972)
perang gerilya
melawan pasukan pemerintah pusat.

Saat Wakil Panglima Besar (1962-1965) Ketua MPRS (1966-1972)
Wakil Panglima Besar (1962-1965) Ketua MPRS (1966-1972)
perang gerilya
PRRI di hutan-hutan Sumatera Barat dan Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Sumatera Utara
tersebut, Mr. Assaat sudah sering sakit. Dia pun tertangkap, dalam keadaan fisik lemah. Kemudian dia dipenjara di Jakarta selama empat tahun 1962-1966. Mr.Assat baru keluar dari penjara, setelah Orde Lama ditumbangkan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
.

Sepuluh tahun setelah keluar penjara, Mr. Assaat meninggal di rumahnya yang sederhana di Warung Jati Jakarta Selatan, pada tanggal 16 Juni 1976. Dia dimakamkan di Taman Makam Lihat Daftar Pahlawan Nasional
Lihat Daftar Pahlawan Nasional
pahlawan
Kalibata, Jakarta, dengan upacara kebesaran militer. Penulis: Pemimpin Redaksi Tokoh Indonesia
Pemimpin Redaksi Tokoh Indonesia
Ch. Robin Simanullang
| Bio TokohIndonesia.com

Footnote:
[1] Pejanat Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
: Mr. Assaat: http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/cabinet_personnel/popup_profil_pejabat.php?id=113&presiden_id=1&presiden=sukarno
[2] Assaat, http://id.wikipedia.org/wiki/Assaat
[3] Mr. Assaat. Sumber: Buletin Sungai Puar 15 Juni 1986, Disadur Oleh: Erwin Moechtar; http://www.cimbuak.net/content/view/204/106/

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh cross  -  Dibuat 14 Apr 2012  -  Pembaharuan terakhir 19 Apr 2012
Inovator Migas Wamen Esdm Pelestari Kain Tenun Ikat

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Langkah-langkah praktis dalam buku ini dapat Anda terapkan dengan mudah, dan dapat menjadi pelengkap untuk kegiatan belajar formal anak di sekolah.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: