WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan ke sdm at tokohindonesia.com

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com if you CARE

Berita Tokoh Monitor

KPK-Hukum

Bisnis-Entrepreneur

Internet-Social Media

Budaya-Sastra

Mancanegara

Olahraga

Gaya Hidup

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Bapak Perfilman Indonesia

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Bapak Perfilman Indonesia
Usmar Ismail | TokohIndonesia.com | repro

Penyair, dramawan, wartawan, dan sutradara ini sangat berjasa meletakkan pondasi awal sekaligus turut memajukan industri film di Indonesia. Film pertamanya berjudul Darah dan Doa menjadi film pertama karya anak negeri dan menjadi dasar ditetapkannya 30 Maret sebagai Hari Film Nasional.

Sutradara
Lihat Curriculum Vitae (CV) Usmar Ismail

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Usmar Ismail

QR Code Halaman Biografi Usmar Ismail
Bio Lain
Click to view full article
Robert Wolter Monginsidi
Click to view full article
Mohammad Natsir
Click to view full article
Ade Rostina Sitompul
Click to view full article
Sutiyoso
Click to view full article
Jacobus P Solossa
Click to view full article
Hari Sabarno
Click to view full article
Jusuf Anwar
BERITA TERBARU

Usmar Ismail lahir di Bukittinggi pada 20 Maret 1921 dari pasangan Datuk Tumenggung Ismail, guru Sekolah Kedokteran di Padang, dan Siti Fatimah. Karena dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat beribadah, Usmar sudah pandai mengaji pada usia tujuh tahun. Setamat HIS dan Tawalib di Batusangkar, Usmar melanjutkan sekolah ke MULO di Padang Panjang.

Setelah tamat dari MULO, pemilik nama lengkap Sutradara
Sutradara
Usmar Ismail
Sutan Mangkuto Ameh ini merantau ke Pulau Jawa bersama sahabatnya Wartawan Budayawan
Wartawan Budayawan
Rosihan Anwar
. Di Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
, Usmar melanjutkan ke AMS-A (Algemene Middlebare School) II jurusan Klasik Timur. Masa sekolah Sutradara
Sutradara
Usmar Ismail
di Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
kemudian terganggu oleh masuknya balatentara Dai Nippon ke Indonesia. Dengan mengantongi ijazah darurat, Usmar pergi ke Jakarta dan tinggal dengan kakaknya, Dr. Abu Hanifah.

Usmar kemudian meniti karir sebagai pemain sandiwara radio dengan honor Rp 5. Bakatnya mulai berkembang setelah bekerja di Keimin Bunka Sidosho (Kantor Besar Pusat Kebudayaan Jepang) bersama Sastrawan
Sastrawan
Armijn Pane
dan para budayawan lainnya. Mereka kemudian bekerja sama untuk mementaskan beberapa drama.

Selain aktif di panggung sandiwara, anak kedua dari enam bersaudara ini juga piawai menulis lirik untuk beberapa lagu yang kemudian digubah oleh Cornel Simandjuntak. Salah satu karya Usmar yang digubah musisi terkenal itu adalah himne FFI. Bakat seni Sutradara
Sutradara
Usmar Ismail
memang telah terlihat sejak usianya masih belia. Awalnya ia gemar menulis sajak dan cerpen. Kemudian berlanjut dengan menulis naskah drama dan skenario film.

Sebagai sutradara, Usmar juga terkenal tajam dalam memilih bakat para pemainnya. Kebanyakan bintang yang diorbitkannya langsung melejit setelah tampil dalam film besutannya

Pada tahun 1943, Usmar bersama abangnya, Abu Hanifah (El Hakim), Wartawan Budayawan
Wartawan Budayawan
Rosihan Anwar
, Cornel Simanjuntak, dan Sastrawan, Pendiri PDS H.B. Jassin
Sastrawan, Pendiri PDS H.B. Jassin
HB Jassin
, mendirikan kelompok sandiwara Maya. Mereka mementaskan sandiwara berdasarkan naskah sastra drama dan teknik Lihat Daftar Tokoh Teater
Lihat Daftar Tokoh Teater
teater
Barat. Hal ini dipandang sebagai tonggak baru bagi munculnya Lihat Daftar Tokoh Teater
Lihat Daftar Tokoh Teater
teater
modern di Indonesia. Drama terkenal yang pernah dipentaskan kelompok sandiwara yang dianggap sebagai pelopor lahirnya Lihat Daftar Tokoh Teater
Lihat Daftar Tokoh Teater
teater
Koma ini adalah Taufan di Atas Asia karya El-Hakim. Sedangkan drama terkenal yang ditulis Usmar Ismail adalah Mutiara dari Nusa Laut (1943), Mekar Melati (1945), dan Liburan Seniman (1945). Pada tahun 1950, kumpulan naskah-naskah tersebut kemudian diterbitkan dengan judul Sedih dan Gembira.

Kemampuan Usmar Ismail rupanya tak hanya sebatas di bidang seni. Sesudah proklamasi kemerdekaan, ia memasuki dinas militer sekaligus aktif di dunia jurnalistik di Jakarta. Usmar juga sempat mendirikan surat kabar Rakyat bersama dua rekannya yakni Syamsuddin Sutan Makmur dan Rinto Alwi.

Saat pemerintahan dipusatkan di Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
, Usmar ikut hijrah bersama pemerintah Republik Indonesia yang waktu itu berusia masih muda. Di Kota Gudeg itu, ia melanjutkan karirnya sebagai anggota TNI berpangkat mayor hingga tahun 1949. Usmar juga kembali melanjutkan kiprahnya sebagai Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
dengan mendirikan sekaligus memimpin harian Patriot dan bulanan Arena di Yogyakarta.

Di sela-sela menjalankan tugas kemiliteran dan profesinya sebagai jurnalis, Usmar masih sempat berkecimpung dalam berbagai organisasi diantaranya Badan Permusyawaratan Kebudayaan Indonesia dan Serikat Artis Sandiwara. Ia juga kerap dipercaya untuk menempati posisi penting dalam struktur organisasi yang digelutinya. Misalnya, ia ditunjuk sebagai Ketua Persatuan Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
Indonesia pada tahun 1947.

Saat menjalankan tugas sebagai Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
, Usmar pernah dijebloskan ke dalam penjara oleh Belanda dengan tuduhan melakukan subversi. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1948 saat ia bekerja sebagai wartawan politik di kantor berita Antara. Ketika itu, ia datang ke Jakarta untuk meliput perundingan Belanda-RI.

Setahun kemudian setelah keluar dari penjara Cipinang, barulah Usmar mulai merintis karirnya di dunia perfilman. Anjar Asmara menjadi orang pertama yang menawarinya menjadi asisten sutradara dalam pembuatan film Gadis Desa. Karena debutnya dirasa cukup memuaskan, Usmar kembali mendapat kepercayaan untuk ikut ambil bagian dalam penggarapan sederet judul lain seperti Harta Karun, yang kemudian disusul Citra, sebuah film yang diangkat dari naskah drama yang ditulisnya di zaman Jepang. Skenario film tersebut kemudian diterbitkan dalam bentuk buku disertai kata pengantar ke dunia pembuatan film tahun 1950.

Berbekal pengalaman menangani film-film itu, Usmar mulai tergerak untuk memberikan sesuatu pada bangsanya, terutama di bidang kesenian. Didorong semangat kebangsaan, Usmar menggandeng teman-teman sesama seniman untuk mendirikan NV Perfini (Persatuan Film Nasional Indonesia) tahun 1950. Pendirian perusahaan tersebut bertujuan membuat Sutradara
Sutradara
film Indonesia
yang bermutu. Meskipun di masa itu, fasilitas dan sarana untuk membuat film masih sangat terbatas, namun tidak menghalangi niat untuk menghasilkan film yang tak kalah berkualitas dengan buatan bangsa asing.

Pada 30 Maret 1950, Usmar dkk memproduksi film pertamanya yang berjudul Darah dan Doa. Dalam sejarah Sutradara
Sutradara
film Indonesia
, film tersebut tercatat sebagai Sutradara
Sutradara
film Indonesia
pertama yang keseluruhan penggarapan dan modalnya murni dari orang-orang pribumi. Sebelumnya di tahun 1926, memang ada sebuah film berjudul Lutung Kasarung yang dianggap sebagai film pertama di Indonesia, akan tetapi digarap oleh orang Belanda.

Film yang skenarionya ditulis Usmar berdasarkan cerita pendek Sitor Situmorang itu, berlatar long march Siliwangi dari Yogyakarta ke Jawa Barat pada 1948, bercerita tentang kisah sedih Sudarto, seorang guru yang ikut revolusi fisik dengan menjadi kapten Angkatan Darat.

Dibumbui dengan kisah romantis, Sudarto merasakan perjuangan batin di dalam peristiwa Madiun karena harus menumpas teman-temannya yang terlibat pemberontakan PKI. Setelah sempat ditangkap dan dianiaya Belanda, ketika akan menyambut kedatangan Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Bung Karno
di Jakarta, Sudarto mati ditembak oleh temannya yang membalas dendam atas peristiwa Madiun. "Saya tertarik kepada kisah Sudarto karena menceritakan secara jujur kisah manusia dengan tidak jatuh menjadi film propaganda yang murah," ujar Usmar Ismail.

Semula Darah dan Doa akan menggunakan judul Long March, dan direncanakan akan dikirim ke Festival Film Internasional di Cannes, Prancis. Sayang hanya sebatas rencana, sebab penggarapannya hampir terhambat akibat menyusutnya nilai uang setelah pemerintah waktu itu melakukan pemotongan nilai uang. Modal Rp 30.000 untuk shooting film tersebut tidak mencukupi karena nilainya turun drastis jadi separuhnya. Agar tidak rugi total, Perfini mengadakan kerja sama dengan Spektra Exchange, sehingga film Darah dan Doa bisa diselesaikan seluruhnya. Sang sutradara, Usmar Ismail, juga sempat menghadapi kenyataan pahit ketika film Darah dan Doa dilarang beredar di beberapa daerah, termasuk di Jakarta.

Terlepas dari beragam masalah itu, lewat film Darah dan Doa, Usmar telah menunjukkan bahwa orang-orang pribumi pun mampu berprestasi, menjadi Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha
film, mengurus manajemen produksi, menjadi penata kamera, menjadi editor, atau dengan kata lain, seluruh film tersebut dikerjakan oleh pribumi. Demi semakin menunjukkan eksistensinya, ayah lima anak ini menelurkan dua film sekaligus, yakni Enam Djam di Yogya, dan Dosa Tak Berampuni di tahun 1951.

Pada tahun 1952, Usmar mendapat beasiswa dari Rockfeller Foundation untuk mendalami sinematografi di Universitas California Los Angeles, Amerika Serikat. Setahun kemudian, Usmar pulang ke Tanah Air setelah berhasil menyabet gelar Bachelor of Arts. Setibanya di Tanah Air, Usmar kembali harus menghadapi keadaan yang kurang menguntungkan. Ketika itu, tekanan ekonomi pada film nasional dirasa sangat berat, sementara pemerintah belum memberikan uluran tangan yang berarti. Usmar pun mencari cara agar ia bisa terus berkarya, salah satunya adalah dengan mengadakan kompromi dengan selera masyarakat. Meski demikian, ia masih mampu menghasilkan film-film yang bermutu.

Di antaranya film berjudul Krisis yang sampai empat pekan bertengger di bioskop kelas atas, serta Harimau Campa dan Lewat Tengah Malam yang mendapat Piala Citra. Film Tamu Agung yang diproduksi tahun 1956, mendapat penghargaan Sutradara
Sutradara
film komedi
Terbaik Festival Film Asia (FFA) di Hongkong. Ditambah pula beberapa film komersial seperti Tiga Dara (1956), Delapan Penjuru Angin (1957), dan Asmara Dara (1958).

Karya-karya filmnya merupakan gebrakan revolusioner dibanding film Indonesia sebelumnya yang kebanyakan hanya menonjolkan sisi komersial semata. Sebagai sutradara, Usmar juga terkenal tajam dalam memilih bakat para pemainnya. Kebanyakan bintang yang diorbitkannya langsung melejit setelah tampil dalam film besutannya. Mereka yang beruntung merasakan tangan dingin Usmar di antaranya Raden Ismail, Rendra Karno, Fifi Young, Bambang Hermanto, AN Alcaff, Mieke Wijaya, Chitra Dewi, Indriati Iskak, Suzanna, Widyawati, dan yang terakhir Lenny Marlina melalui film Ananda. Sedangkan nama-nama seperti Misbach Yusa Biran, D.Djajakusuma, Sumardjono, dan Wahyu Sihombing merupakan sineas didikan Usmar Ismail.

Usmar menyadari, sehebat apapun dirinya, regenerasi mutlak diperlukan demi kelangsungan industri perfilman nasional. Untuk itu, ia melakukan pembinaan tenaga muda di bidang teater dan film bersama Seniman Pelopor Angkatan 45
Seniman Pelopor Angkatan 45
Asrul Sani
dan beberapa orang lainnya dengan mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955. ATNI berhasil menghasilkan aktor, sutradara, dan sineas ternama seperti Sineas Perfilman
Sineas Perfilman
Teguh Karya
, Tatiek Malijati, W.Sihombing, Pietradjaja Burnama, dan Galeb Husin.

Upaya lain yang ia lakukan demi kemajuan film Indonesia adalah mendirikan Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI) bersama Produser film
Produser film
Djamaluddin Malik
, ayah dari pedangdut Diva Dangdut
Diva Dangdut
Camelia Malik
. Latar belakang didirikannya organisasi ini berawal dari kesadarannya akan kesulitan yang dialami para produser film dalam menghadapi persaingan film impor. Atas dedikasinya, Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Presiden Soekarno
menganugerahkan Piagam Wijayakusuma pada tahun 1962. Tujuh tahun kemudian, ia menerima Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia.

Meski nama besarnya telah berkibar di jagad perfilman nasional, hal itu tak menghalanginya untuk berkiprah di luar dunia film. Apalagi ia ikut terdorong oleh situasi saat itu di mana tidak berpolitik dianggap suatu dosa sejarah. Untuk menghindari "dosa" itu, Usmar bergabung dengan Partai Pendiri Nahdlatul Ulama 1926
Pendiri Nahdlatul Ulama 1926
Nahdlatul Ulama
, dan ditunjuk menjadi ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi), organisasi kebudayaan NU, serta menjadi anggota DPR-GR periode 1966-1969.

Pada 31 Desember 1970, Usmar Ismail pulang dari Italia untuk mengurus kopi film Adventure in Bali yang merupakan kerja sama Perfini dan Italia. Belakangan, peredaran di Indonesia tidak dikirim. Padahal ia sedang berjuang untuk mempertahankan Perfini, meskipun untuk menggaji karyawan harus dengan melego peralatan studio.

Di tengah rasa kecewanya pada rekanan Italianya, setiba di Indonesia, ia harus mem-PHK 160 karyawannya di PT Ria Sari Show & Restaurant Management di Miraca Sky Club karena Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
yang ia bangun sejak 1967 itu dilikuidasi oleh Sarinah. "Baru pertama kali ini dalam sejarah hidup saya harus berpisah dengan karyawan. Ini sangat berat bagi saya," kata Usmar, dengan nada terbata-bata seperti dikutip dari situs lsf.go.id.

Malam harinya, ia masih sempat menyelesaikan dubbing film Ananda di studio Perfini. Setelah itu, menjelang pergantian tahun, seperti biasa Usmar mengajak keluarga dan sahabat-sahabatnya ke Miraca Sky Club. Sebetulnya semua orang film diundang bermalam tahun baru di rumah aktor Turino Junaedy, tetapi karena kali itu Usmar sekaligus mengadakan perpisahan dengan karyawan, ia mengatakan akan menyusul.

Tidak biasanya, malam itu ia mengajak semua bawahannya untuk berfoto bersama. Kemudian tepat pukul 00.00, ia memeluk satu per satu istri kolega dan bawahannya untuk mengucapkan selamat tahun baru sekaligus kata-kata perpisahan. Ia juga menghendaki sahabat-sahabatnya untuk tetap duduk di dekatnya. Yang dianggap paling aneh, Usmar yang ketika muda pernah belajar dansa, malam itu bersiul sendiri.

Pada 1 Januari 1971 pukul 17.00 WIB, terdengar kabar, Usmar tak sadarkan diri akibat terserang stroke, lalu wafat pada 2 Januari pukul 5.20 WIB. Atas permintaan keluarga, H. Usmar Ismail dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Karangan-karangan bunga menutupi makamnya, termasuk dari Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Soeharto
, yang menyebut Usmar sebagai "Sutradara Indonesia yang sesungguhnya".

Industri perfilman Tanah Air bisa seperti sekarang tak terlepas dari jasa-jasanya. Perjuangannya menancapkan fondasi dunia perfilman nasional seakan tak mengenal lelah. Karena kontribusinya yang begitu besar, Usmar Ismail dianggap sebagai Bapak Perfilman Nasional dan untuk mengenang sosoknya, nama suami dari Sonia Hermine Sanawiuga ini juga diabadikan sebagai nama pusat perfilman nasional di Jakarta.

Usmar juga merupakan sosok penting di balik ditetapkannya 30 Maret sebagai Hari Film Nasional. Tanggal tersebut merujuk hari pertama syuting film Darah dan Doa (Long March), film pertama yang digarapnya sekaligus film pertama karya anak negeri.

Sebelumnya telah terjadi perbedaan pendapat sebab peristiwa bersejarah 30 Maret hanya diakui oleh kalangan orang film swasta, sedangkan kalangan pemerintah masih memilih 6 Oktober sebagaimana usulan tokoh perfilman lainnya yakni R.M. Soetarto. Alasannya, pada 6 Oktober 1945 ada peristiwa yang dianggap lebih penting, yakni bertepatan dengan Jepang yang menyerahkan studio Nippon Eiga Sha kepada Pemerintah RI yang diwakili oleh R.M. Soetarto. Studio itu kemudian berganti nama menjadi PPFN (Pusat Produksi Film Negara).

Upaya untuk mengajukan 30 Maret sebagai Hari Film Nasional terus dilakukan dan baru membuahkan hasil pada masa pemerintahan Presiden BJ. Habibie. Melalui Keputusan Presiden No. 25, tanggal 29 Maret 1999, tanggal 30 Maret ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. muli, red

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 27 Okt 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
Beri Komentar

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Sponsorship

Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.

Sponsor Bronze
Sponsor Bronze: US$50
Sponsor Silver
Sponsor Silver: US$250
Sponsor Gold
Sponsor Gold: US$500


Nama para Sponsor akan kami tempatkan di halaman khusus 'Sponsor'. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi kami via Telp/SMS ke 0852-15333-143 atau e-mail ke sponsor@tokohindonesia.com.
lazada.com
 

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: