-
BIO
-
BIOGRAFI
-
- Doktor (Phd/Silvikultur) Universitas Wageningen, Belanda, 1999
- Magister Sains (MS/Silvikultur) Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, 1987
- Sarjana Kehutanan (Ir/Silvikultur) Fakultas Kehutanan UNLAM, Banjarmasin Afiliasi Fakultas Kehutanan IPB Bogor, 1979
- SMAN III Banjarmasin, 1970-1972
- SMPN III Banjarmasin, 1967-1969
- SRN Beringin Banjarmasin, 1960-1966
- Menteri Riset dan Teknologi, 2011-2014
- Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia, 2009-2011
- Pembantu Rektor Bidang Akademik UNLAM, 2006-Nov. 2009
- Ketua Lembaga Penelitian UNLAM, 2003-2005
- Ketua Pengelola Pascasarjana Program Studi Ilmu Kehutanan, 2001-2003
- Wakil Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup UNLAM, 1993-1995
- Pembantu Dekan I Fakultas Kehutanan UNLAM, 1983-1985
- Ketua Program Studi Silvikultur, 1981-1982
- Evaluasi pertumbuhan semai beberapa provenan sungkai (Peronema canescens) di Kalimantan Selatan (2008)
- Evaluasi Revegetasi pada lahan Reklamasi Pasca Tambang Batu Bara di kabupaten Tapin (2002)
- Sungkai (Peronema canescens) A Promising Pioneer Tree : an experimental provenance studi in Indonesia (1999)
- Pemetaan Habitat pohon Ulin (Euisideroxylon zwageri) melalui program sistem informasi Geografi dan Upaya Pengembangannya di Provinsi Kalimantan Selatan (1998)
- Developing Criteria and Indicators for Community Managed Forest-Indonesia test sites. CIFOR Field Test Report (1998)
- Co-author The Ecology of Kalimantan Periplus Editions (HK) Ltd. (1996)
- Uji Provenan dan berbagai jenis stek sungkai di Panaan, Kalimantan Selatan (1992)
- Pengaruh berbagai perlakuan terhadap pertumbuhan Anakan Meranti (Shorea Spp) (1992)
- Uji Species di areal HPH PT. Yayang Indonesia di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan (1991)
- Aspek-aspek Ekology dari Pengembangan Tanah-tanah Sulfat Masam di Kalimantan Tengah (1991)
- ACID SULPHATE SOIL IN THE HUMID TROPICS : ecological aspects of their development.AARD & LAWOO the Netherland (1991)
- Studi Variasi Longitudinal Ekology Sungai Kalaan di Suaka Margasatwa Pelaihari-Martapura Kalimantan Selatan (1989)
- Penelitian Fauna dan Pengamatan Berbunga dan Berbuahnya Tegakan Hutan di Suaka Margasatwa Pelaihari-Martapura (1989)
- Survei Flora dan Fauna Hutan Cagar Alam Bukit Raya Provinsi Kalimantan Tengah dalam rangka bantuan USAID untuk Pembinaan dan Pengembangannya (1988)
- Survei Flora dan Fauna Hutan Tanaman Nasional Kutai dan Cagar Alam Kayan Mentarang Provinsi Kalimantan Timur dalam rangka bantuan USAID untuk Pembinaan dan Pengembangannya (1988)
- Perubahan Struktur dan Pertumbuhan Permudaan setelah Pemeliharaan pada Hutan Bekas Tebangan System TPTI di Provinsi Jambi (1987)
- Co-author Basic Ecology in Cooperation with the University of Eastern Indonesia (1985)
- Tim Konsultan (ERM, Inggris) dalam Penilaian Dampak Lingkungan dan Sosial dari Kegiatan Proyek Uni-Eropa (SCKPFP) di Kalimantan Selatan dan Tengah (2001)
- Ketua Tim Studi AMDAL Batubara PT. Antang Gunung Meratus, Kalimantan Selatan (2001)
- Ketua Tim AMDAL beberapa HPH di Kalimantan Tengah dan Selatan, AMDAL Tambang, AMDAL Industri dan AMDAL Pelabuhan (1993-2000)
- Tim Konsultan CIFOR (Center of International Forest Research) dalam Pengujian Kriteria dan Indikator yang dikembangkan oleh CIFOR untuk Pengelolaan Hutan yang Lestari (1998)
- Tim Konsultan CIFOR (Center of International Forest Research) dalam Penyusunan dan Pengujian Kriteria dan Indikator untuk Hutan yang di kelola oleh masyarakat, Kalimantan Barat (1997)
- Tim Forester pada Kampsax (Denmark) ā (1985)
Prof. Dr. Ir. H. Gusti Muhammad Hatta, MS dikenal sebagai seorang akademisi tulen yang cinta lingkungan. Baru dua tahun menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup pada Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, peraih Magister Sains Pascasarjana UGM ini kemudian ditunjuk menjadi Menteri Riset dan Teknologi. Sebagai Menristek, ia ingin memperkuat Sistem Inovasi Nasional (SINAS) dan Sistem Inovasi Daerah (SIDA).
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) periode 2011-2014 dinakhodai oleh Prof Dr Gusti Muhammad Hatta. Penunjukan dirinya sebagai orang nomor satu di Kemenristek oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak lepas dari profesinya sebagai akademisi tulen yang gemar melakukan riset. Itu terlihat dari beberapa penelitian dan karya ilmiah yang dilakukan pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 1 September 1952 ini.
Gusti, panggilan akrab mantan Ketua Lembaga Penelitian UNLAM, 2003-2005 ini, diharapkan bisa menjadi motor perubahan sebagaimana misi Kemenristek 2025 untuk mewujudkan Sistem Inovasi Nasional (SINAS) dan Sistem Inovasi Daerah (SIDA) yang tangguh guna meningkatkan daya saing bangsa di era global. Sebab tidak bisa dipungkiri, inovasi hanya timbul lewat gagasan dan ide-ide yang kemudian dituangkan menjadi wujud nyata.
Gusti, anak ke 6 dari 7 bersaudara, tumbuh di tengah keluarga yang sederhana. Di masa kecil, Gusti lebih banyak menghabiskan waktu berpetualang, bermain bersama teman masuk keluar hutan Kalimantan. Berawal dari pengalaman itulah, Gusti mulai mencintai hutan dan lingkungan. Kecintaannya terhadap lingkungan tersebut membuat ayah dua anak ini memilih jurusan paspal (pasti alam) sewaktu SMA.
Selepas SMA, Gusti kemudian melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin dan lulus mengantongi gelar Insinyur Silvikultur tahun 1979. Kemudian dia melanjutkan S2 di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dan tahun 1999 berhasil merampungkan gelar S3 / Doktor di Universitas Wageningen, Belanda.
Sebelum terjun ke birokrasi pemerintahan, Gusti mengawali karir sebagai dosen di Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM). Selama mengabdi di almamaternya, Gusti kerap dipercaya menduduki berbagai jabatan akademis diantaranya, menjadi Ketua Program Studi Silvikultur (1981-1982), Pembantu Dekan I Fakultas Kehutanan (1983-1985), Wakil Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup (1993-1995) dan Ketua Pengelola Pascasarjana Program Studi Ilmu Kehutanan (2001-2003). Ia juga pernah menjadi Ketua Lembaga Penelitian UNLAM (2003-2005), Pembantu Rektor I Bidang Akademik, 2006-2009 dan pernah ikut sebagai salah satu kandidat Rektor Unlam.
Sebagai seorang akademisi tulen yang menjadi pejabat negara, Gusti tetap tidak lupa siapa dirinya. Prinsip hidup sederhana dan petuah bijak dari sang ibu yang berpesan, "jangan menyusahkan orang lain, dimanapun kamu berada agar bisa bermanfaat bagi orang banyak," selalu dipegangnya teguh.
Saat gagal menempati kursi Rektor Unlam, Gusti malah dipercaya menjadi Menteri Lingkungan Hidup periode 2009-2011. Namun, belum habis masa jabatan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memintanya untuk memimpin Kementerian Riset dan Teknologi hingga tahun 2014. Sebagai seorang akademisi tulen yang menjadi pejabat negara, Gusti tetap tidak lupa siapa dirinya. Prinsip hidup sederhana dan petuah bijak dari sang ibu yang berpesan, "jangan menyusahkan orang lain, dimanapun kamu berada agar bisa bermanfaat bagi orang banyak," selalu dipegangnya teguh. "Petuah itu saya pegang terus dalam menjalani hidup ini, dimana pun saya berada," ujarnya.
Sebagai Menristek, Gusti dihadapkan pada persoalan masih rendahnya penguasaan teknologi dan daya saing SDM Indonesia di kawasan ASEAN. Untuk mengejar ketertinggalan itu, inovasi dirasa menjadi sebuah keharusan dan perlu ditingkatkan. Implementasinya adalah dengan mendorong penelitian yang disinergikan dengan industri, atau sebaliknya. Harapannya, penguasaan IPTEK dapat meningkatkan produktivitas dalam negeri. Sehingga potensi pasar yang besar dengan jumlah penduduk 237 juta jiwa dapat diberdayakan untuk kemandirian bangsa. Indonesia tidak hanya sebatas pasar, tapi menjadi tuan di negeri sendiri.
Oleh karena itu, waktu 2 tahun yang tersisa selama menjabat Menristek ini menurut Gusti masih cukup untuk menyusun program kerja bersama timnya. Ia juga tetap meneruskan apa yang sudah dijalankan menteri sebelumnya dan menambah apa yang dirasakan masih kurang dan perlu penyelesaian. "Saya kira sisa waktu 2 tahun menjabat Menristek ini cukup panjang untuk menyusun program," ujarnya saat diwawancarai TokohIndonesia.com, 7 Desember 2011.
Adapun program Menristek sendiri, menurut Gusti adalah memperkuat Sistem Inovasi Nasional (SINAS) dan Sistem Inovasi Daerah (SIDA). Ini menjadi suatu keharusan mengingat perekonomian Indonesia bisa dikatakan hanya berbasis pada keunggulan komparatif dari Sumber Daya Alam (SDA). Sedangkan di negara-negara maju, umumnya keunggulannya itu berbasis kompetitif. Selain itu peran dan sentuhan IPTEK disertai inovasi juga merupakan hal yang terpenting. Karena dengan sentuhan IPTEK dan inovasi, suatu produk dapat memiliki value (nilai) lebih tinggi yang akhirnya bisa meningkatkan pendapatan. "Makanya kalau kita tidak beralih ke situ, kita akan ketinggalan," tegasnya.
Kemudian, suatu produksi juga bisa dilakukan lebih cepat, pendek waktunya dengan hasil yang bagus. Itu berkat sentuhan IPTEK dan inovasi. Sebagai contoh, umur tanam padi yang tadinya bisa memakan waktu 4-5 bulan dengan bantuan tenaga nuklir bisa dipersingkat menjadi 3 bulan saja. Hal ini tentu membawa peningkatan produksi dan pendapatan tanpa mengurangi kualitas.
Gusti menekankan, program SINAS adalah satu sistem atau pilar, dimana sistem ini terdiri dari elemen-elemen yang tidak bisa berdiri sendiri. Ada 3 elemen pilar besar dalam SINAS yaitu, ada kelembagaannya, sumber daya Ipteknya sendiri (manusia dan teknologinya) dan ada jaringannya. Diharapkan semuanya dapat tersinergi dengan baik.
Oleh karena itu, untuk memenangkan persaingan global, penguasaan IPTEK menurut Gusti menjadi sebuah keharusan. Di berbagai negara, penguasaan IPTEK menjadi salah satu prioritas karena iptek dianggap bisa mengatasi berbagai permasalahan yang sedang dihadapi sebuah negara. Selain itu, bangsa-bangsa di dunia menjadikan penguasaan IPTEK sebagai identitas dirinya di panggung internasional. guh, basan

Tokoh Indonesia DotCom, sebuah media informasi dan database online terbaik, terlengkap dan terpadu perihal biografi, visi-misi, dan berita para tokoh di Indonesia. Diterbitkan sejak 20 Mei 2002 bertepatan Hari Kebangkitan Nasional. Tokoh Indonesia meliputi pemimpin formal dan informal Indonesia:

















Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.