gototopgototop

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan paling lambat 16 Mei 2012.

LENGKAPI DATA: Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan kirimkan biografi dan CV Anda ke

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

  • 0
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
prev
next

Pelopor Industri Film Nasional

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Pelopor Industri Film Nasional
Djamaluddin Malik | Tokohindonesia.com | nu.or.id
Pekerjaan Utama:
Produser film
Lihat CV
Nama:
H. Djamaluddin Malik
Lahir:
Padang, Sumatera Barat, 13 Februari 1917
Meninggal:
Munich, Jerman, 8 Juni 1970
Pekerjaan:
Produser film
Agama:
Islam
Istri:
Farida Al-Hasni
Anak:
  • Zainal Malik
  • Camelia Malik
  • Yudha Asmara Malik
  • Lailasari Malik
Pendidikan:
  • AMS, Jakarta
  • MULO
Filmografi (sebagai produser):
  • Lewat Djam Malam, 1955
  • Tarmina, 1955
  • Leilani, 1953
  • Tabu, 1953
  • Rodrigo de Villa, 1952
  • Ratu Asia
  • Tauhid
Karir:
  • Presiden Direktur PT. Cimalaka
  • Presiden Direktur Biro Teknik Prapatak
  • Presiden Direktur PT. Persari (Perseroan Artis Indonesia)
  • Memprakarsai pendirian Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI)
  • Pendiri NVPersari, 1951
  • Mendirikan kelompok sandiwara Pantja Warna
  • Pegawai sebuah perusahaan dagang di masa penjajahan Belanda
  • Pegawai maskapai pelayaran Belanda, KPM
Organisasi:
  • Ketua III Pengurus Besar Partai Nahdlatul Ulama
  • Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) yang bernaung di bawah bendera NU
  • Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Pertimbangan Agung
  • Ketua Dewan Film Nasional
Penghargaan:
  • Pahlawan Nasional, 1973
  • Film Terbaik Festival Film Indonesia I, 1955
  • Bintang Mahaputra kelas II/A Adipradana dari Pemerintah RI, 1973
Pusat Data Tokoh Indonesia
Tutup CV

Berkembangnya perfilman di Tanah Air tak bisa dilepaskan dari peran Djamaluddin Malik. Produser film, pengusaha, dan politisi ini merintis pondasi industri film nasional dengan mendirikan perusahaan film pertama di Indonesia, mendorong film lokal untuk tampil dalam ajang internasional, hingga menghelat acara penghargaan bagi para sineas. Berkat perjuangannya membela Tanah Air lewat jalur kesenian, Pemerintah RI mengukuhkannya sebagai Pahlawan Nasional.

 

I N D E K S
Hapus highlights

Tag: mulo, film, produser, Persari

Sebelum terjun ke dunia perfilman, produser kelahiran Padang, 13 Februari 1917 ini awalnya bekerja sebagai pegawai maskapai pelayaran Belanda (KPM), serta bekerja di sebuah perusahaan dagang di zaman kolonial Belanda. Dari pengalamannya bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda tersebut, ia mendapatkan pengetahuan yang mendalam mengenai kiat berdagang dan manajemen perdagangan modern. Meski bekerja pada penjajah, Malik tetap mempertahankan sikap nasionalismenya dengan ikut melakukan perlawanan demi memperjuangkan kemerdekaan.

Pada tahun 1942, ketika terjadi perebutan kekuasaan dari tangan Belanda ke tangan Jepang di mana semua aset dan kekuasaan Belanda diambil-alih oleh Jepang, ia mulai turut memperjuangkan kemerdekaan dengan mendirikan kelompok sandiwara Pantja Warna yang didirikannya bersama sang istri, Farida Al-Hasni. Kelompok itu menggelar pementasan dengan cara berkeliling di berbagai kota, antara lain Jakarta, Priangan, Surabaya, hingga kota-kota di Pulau Kalimantan. Ketika tampil di Jakarta tepatnya di Garden Hall, mereka mementaskan sandiwara berjudul Ratu Asia. Melalui Pantja Warna, Malik dkk tak hanya menyuguhkan hiburan bernilai seni namun juga menyisipkan pesan kecintaan pada Tanah Air serta membangkitkan semangat juang rakyat Indonesia di berbagai pelosok.

Selain terjun di dunia seni, Malik juga piawai mengelola bisnis. Ia pernah menjabat sebagai Presiden Direktur Biro Teknik Prapatak yang bergerak dalam bidang instalasi listrik, radio, menjual kulkas, mesin-mesin ketik dan hitung, serta Presiden Direktur PT. Cimalaka, sebuah pabrik tenun di Sumedang, Jawa Barat. Bakat wirausahanya berkembang dengan modal finansial yang memadai, sehingga dalam waktu yang relatif singkat, ia termasuk pengusaha sukses di zamannya.

Pada tahun 1951, Malik mendirikan PT. Persari (Perseroan Artis Indonesia) yang merupakan perusahaan film pertama di Indonesia. Di perusahaan yang awalnya hanya berupa sebuah studio film kecil dan sangat sederhana itu, Malik menjabat sebagai Presiden Direktur. Lama kelamaan studio film yang berlokasi di bilangan Polonia, Jatinegara itu berkembang pesat dengan menempati areal tanah yang sangat luas dan memiliki sarana yang lengkap, baik untuk latihan, shooting, dan pertunjukan film dan drama.

Studio itu juga dilengkapi dengan perumahan para artis. Sejak awal ia memang ingin mengangkat kehidupan para artis, yang kebanyakan baru meniti karir dalam asuhannya sendiri. Perusahaan Malik juga sering dijadikan tempat pertemuan para seniman, budayawan, hingga alim ulama.

PT Persari sangat produktif menghasilkan film, dengan produksi rata-rata delapan film setahun, sehingga ia tampil sebagai produser film pribumi terbesar saat itu. Film pertama yang dibuatnya di tahun 1950-an belum sepenuhnya berwarna dan proses pencuciannya pun masih harus dilakukan di luar negeri. Walau film Indonesia yang sepenuhnya berwarna secara resmi baru berhasil dibuat tahun 1968, namun sebenarnya Persari telah menghasilkan tiga buah film berwarna yaitu Rodrigo de Villa (1952) dengan bintang Raden Mochtar, Leilani (1953), dan Tabu (1953) yang seluruhnya dilaksanakan di Filipina.

Pada tahun 1951, Malik mendirikan PT. Persari (Perseroan Artis Indonesia) yang merupakan perusahaan film pertama di Indonesia. Di perusahaan yang awalnya hanya berupa sebuah studio film kecil dan sangat sederhana itu, Malik menjabat sebagai Presiden Direktur. Lama kelamaan studio film yang berlokasi di bilangan Polonia, Jatinegara itu berkembang pesat dengan menempati areal tanah yang sangat luas dan memiliki sarana yang lengkap, baik untuk latihan, shooting, dan pertunjukan film dan drama.

Pada 1962, Persari bekerjasama dengan Sampguita (Filipina) untuk memproduksi lagi film berwarna yang karyawan maupun artisnya berasal dari Indonesia dan Filipina. Film tersebut kemudian diedarkan dengan menggunakan tiga bahasa, yakni Indonesia, Tagalog dan Inggris. Selama memimpin Persari, sedikitnya 59 judul film telah dihasilkan Malik. Film terakhir yang diproduksinya adalah Menyusuri Djejak Berdarah yang dirilis tahun 1967.

Selain meramaikan dunia perfilman Tanah Air dengan karya-karyanya, Malik juga kerap menyumbangkan gagasannya demi kemajuan film Indonesia. Ayah dari pedangdut Camelia Malik Diva Dangdut Camelia Malik ini merupakan tokoh perfilman Indonesia pertama yang menganjurkan agar film Indonesia diikutsertakan dalam festival internasional. Walaupun film-film lokal kala itu dinilai belum memiliki potensi sedikit pun, ia tetap mendesak agar film Indonesia diikutsertakan dalam festival internasional. Keinginan Malik akhirnya terlaksana dengan tampilnya film produksi anak negeri ini untuk pertama kalinya dalam sebuah festival film internasional yang digelar di Tokyo, Jepang.

Di mata para sahabat, sosok Djamaluddin Malik Produser film Djamaluddin Malik dikenal sebagai figur yang dermawan. Ia tak sungkan menolong siapa pun yang membutuhkan uluran tangannya. Malik bahkan membuka rumahnya selama 24 jam bagi siapa saja yang sedang kesulitan. Para seniman yang kerap berkumpul di Pasar Senen membicarakan berbagai problema bangsa sering merasakan kemurahan hati Malik, baik sekadar untuk minum kopi, membeli buku, menonton sandiwara, hingga memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Malik memberi tidak hanya kepada orang yang dianggap miskin. Pertunjukan kesenian juga banyak yang dibiayai Djamaluddin Malik Produser film Djamaluddin Malik secara pribadi. Hal itu dimaksudkan untuk memacu perkembangan seni budaya nasional yang waktu itu sedang pada tahap rintisan. Pada tahun 1955, ia memprakarsai penghargaan bagi insan perfilman yakni Festival Film Indonesia. Demi mewujudkan keinginan tersebut, ia tak segan-segan merogoh koceknya sendiri untuk menggelar ajang bergengsi yang hingga kini masih bertahan itu.

Ia juga mendirikan organisasi yang menaungi para produsen film Indonesia dengan nama Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI). Sebagai penghargaan atas dedikasi dan kontribusinya pada dunia film, nama Djamaluddin Malik Produser film Djamaluddin Malik bahkan pernah diabadikan menjadi nama penghargaan bagi para sineas berbakat di masa itu.

Kesibukan yang luar biasa baik di dunia film dan bisnis belakangan membuat Malik merasa jauh dari agama. Hingga ia sampai pada suatu titik dimana ia seakan mengalami kekeringan dan kemiskinan rohani di tengah kekayaan materi yang melimpah. Menyadari hal itu akan membahayakan bagi keseimbangan hidupnya, Malik memutuskan untuk melakukan perjalanan rohani ke Tanah Suci untuk mengisi kehausan rohaninya dengan menunaikan ibadah haji. Hal itu kemudian turut mengilhami lahirnya film Tauhid yang diproduksinya.

Ketika berada di Tanah Suci itulah, timbul kesadarannya bahwa dirinya harus juga mengabdikan diri kepada kepentingan masyarakat dan agama. Maka ketika kembali ke Tanah Air tahun 1952, ia memilih Nahdlatul Ulama (NU) untuk berkiprah. Walaupun aktif di NU, aktivitasnya di dunia film tidaklah berhenti. Justru melalui NU itulah, dia ingin dunia film bisa lebih berkembang. Beberapa pengurus NU di daerah bisa menutupi biaya aktivitas politik dan kebudayaan organisasi dengan menjadi distributor film yang dibuatnya.

Kiprahnya di salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia itu juga merupakan bagian dari misinya berjuang lewat kesenian. Dalam sebuah kesempatan seperti dikutip dari situs Taman Ismail Marzuki, Malik pernah berujar, "Kesenian sangat penting sebagai sarana perjuangan melawan kezaliman dan kemungkaran yang banyak dilakukan oleh PKI dengan lembaga kebudayaannya".

Atas dasar itu, berdirilah Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) yang merupakan tandingan dari Lembaga Kesenian Rakyat bentukan Partai Komunis Indonesia. Pada kongres pertama di Bandung tahun 1962, Djamaluddin Malik Produser film Djamaluddin Malik dikukuhkan sebagai Ketua Umum Lesbumi dengan dibantu Usmar Ismail Sutradara Usmar Ismail sebagai ketua I dan Asrul Sani Seniman Pelopor Angkatan 45 Asrul Sani ketua II. Namun posisinya di lembaga itu digantikan Usmar Ismail Sutradara Usmar Ismail setelah ia terpilih sebagai Ketua II PB Partai NU.

Tak hanya terlibat di organisasi keagamaan dan kesenian, Malik juga pernah berkiprah sebagai pejabat pemerintahan ketika menjabat sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Pertimbangan Agung. Tahun 1958, akibat aktivitasnya di bidang politik, Malik sempat mendekam di penjara karena dituduh bersimpati pada pemberontakan PRRI di Sumatera. Namun ia tak lama mendekam di hotel prodeo, karena secara logika, tak mungkin orang NU terlibat, sebab NU secara resmi mengutuk pemberontakan tersebut.

Pelopor industri film nasional ini berpulang ke rahmatullah pada 8 Juni 1970 di Munich, Jerman, saat tengah berobat. Jenazahnya disemayamkan di pekuburan Karet, Jakarta. Tiga tahun setelah kepergiannya, Pemerintah RI berdasarkan Keputusan Presiden mengukuhkan Malik yang pernah melakukan perjuangan membela Tanah Air lewat jalur kesenian sebagai Pahlawan Nasional dan menganugerahkannya Bintang Mahaputra Kelas II/Adipradhana. eti | muli, red

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 26 Jul 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Intermezzo
Pasar Tanah Abang merupakan pusat penjualan tekstil dan pakaian terbesar di Asia Tenggara.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp: (021) 8293113, Telp/SMS: (021) 32195352, 32195353, Fax: (021) 83787235
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. Salah satu cara dengan menggunakan fitur SINDIKASI ini. (2) Ucapan terima kasih di kolom komentar. (3) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Beri Komentar

Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


Kode keamanan Refresh

Bio Lainnya

Click to view full article

Selama hidupnya, doktor kesehatan masyarakat lulusan Harvard University ini fokus di dunia penelitian dan pelayanan kesehatan masyarakat. Karirnya kemudian mencapai puncak

Click to view full article

Ketua Komisi Nasional PA periode 2010-2014 ini sebelumnya dikenal luas sebagai aktivis buruh. Namun perjumpaannya dengan anak-anak yang kurang mendapat perhatian membuat ia

Click to view full article

Menurut Mangapul Sagala, keinginan untuk mendapatkan sesuatu secara instan merupakan penyebab maraknya praktik korupsi dan penyelewengan di negeri ini. Ironisnya, hal-hal yang

Click to view full article

Sebagai pendeta yang juga manusia biasa, Mangapul Sagala Staf Perkantas Jakarta, Dosen Perjanjian Baru STT IMAN dan STTRII Mangapul Sagala mau tidak mau harus berhadapan dengan tantangan hidup yang sering menguji keteguhan imannya. Lewat ujian-ujian itu


Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
 

Like and Support Us

Komunitas

  • Terbaru
  • Komentar
  • Irwan Hidayat

    m.nailul anwar noer
    Alhamdulillah, kami selaku warga negara Indonesia, sangat bangga atas tercapainya cita2 Sidomuncul, dan ...
     
  • Galaila Karen Agustiawan

    soedono adi triwanto
    Saya mengagumi anda sebagai salah satu dari sedikit tokoh yg berkarakter dan sebagai bangsa Indonesia ...

Aktivitas Terbaru di Facebook

Poling Tokoh