WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Kisah dengan Pak Nana

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Kisah dengan Pak Nana
Dorodjatun Kuntjoro-Jakti | TokohIndonesia.com | DokPri

Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Guru Besar Emeritus UI dan mantan Menko Perekonomian kaninet Gotong-royong menulis kisah jejak karirnya dengan belajar banyak dari Nana Sutresna Sastradidjaja, mantan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh/Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB di New York.(Redaksi)

Menteri Koordinator Perekonomian (2001-2004)
Lihat Curriculum Vitae (CV) Dorodjatun Kuntjoro-Jakti

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Dorodjatun Kuntjoro-Jakti

QR Code Halaman Biografi Dorodjatun Kuntjoro-Jakti
Bio Lain
Click to view full article
Waldjinah
Click to view full article
Maulana Ibrahim
Click to view full article
I Gusti Ketut Jelantik
Click to view full article
Han Awal
Click to view full article
Soeparno Prawiroadiredjo
Click to view full article
Muhammad Yamin
Click to view full article
Yogie SM
BERITA TERBARU

Sampai saat ini masih menjadi misteri yang teramat gelap dalam kehidupan saya, bagaimana seorang "tokoh Malari 1974" berturut-turut dengan Keppres, saya diangkat oleh Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Soeharto
. Awalnya sebagai Senior Expert di BPK GNB untuk bidang ekososbud di bawah kepemimpinan Dubes Nana Sutresna (almarhum), lalu sebagai dubes di AS.

Saya mengenal Pak Nana—Dubes RI Nana Sutresna Sastradidjaja (alm)—secara intensif pada akhir 1993 hingga akhir 2004. Sebagian besar berkait dengan tugas saya di Badan Pelaksana Ketua Gerakan Nonblok (BPK GNB) di Deplu sampai medio 1996 dan tugas-tugas saya sebagai Dubes Luar Biasa Berkuasa Penuh untuk Washington DC pada periode Maret 1998-Juli 2001.

Sebagaimana orang Jawa bersikap, saya pun tak bertanya kepada Pak Nana mengapa saya dimasukkan ke BPK GNB dan atas usul siapa. Tidak juga ke Pak Menteri Luar Negeri RI (1987-1999)
Menteri Luar Negeri RI (1987-1999)
Ali Alatas
, menlu waktu itu. Demikianlah, saya berkantor di belakang Gedung Pancasila yang katanya angker selama tiga tahun. (Kabarnya, di sayap lantai dasar itu sesekali tampak bayangan Nyai Dasimah, istri cantik tak resmi dari Tuan Besar empunya gedung megah itu, yang bunuh diri di Kali Ciliwung dekat Gedung BP7 karena patah hati dipecundangi Bang Mi'un).

Hari pertama rapat kerja di ruangan Pak Nana yang selantai dengan kantor Pak Alatas, saya mohon arahan prosedur kerja, selain tugas pokok dan fungsi, supaya jangan terjadi hal-hal yang tak enak dengan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Soeharto
sebagai Ketua GNB waktu itu. Kata Pak Nana, "Oke, nanti saya tanya ke Presiden."

Begitulah, seminggu kemudian Pak Nana menjelaskan tiga tugas utama BPK GNB menurut Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Soeharto
. Satu, jangan lagi ada konfrontasi terhadap Utara. Jangan seperti posisi Kuba dan Aljazair waktu menjadi Ketua GNB. Dua, strategi GNB di bawah kepemimpinan Indonesia adalah membangun kemitraan global untuk pembangunan antara Selatan dan Utara. Tiga, sampaikan pesan setiap hari dengan segala cara. Tugas pertama dipercayakan kepada Dubes Samsi, tugas ketiga kepada Dubes Tranggono, dan tugas kedua kepada saya.

Khusus mengenai saya, Pak Nana menambahkan, jangan menyimpang dari garis-garis strategis Kelompok 77 di PBB, ASEAN, juga OKI. "Jangan mau diseret ke posisi 'Agenda for Peace' dari pihak Utara. Namun, perjuangkan posisi 'Agenda for Development' dari G-77 dan GNB dengan segala cara supaya masuk di dalam kegiatan-kegiatan diplomasi GNB di lingkungan PBB dan lembaga-lembaga multilateral," kata Pak Nana.

Khusus mengenai saya, Pak Nana menambahkan, jangan menyimpang dari garis-garis strategis Kelompok 77 di PBB, ASEAN, juga OKI. "Jangan mau diseret ke posisi 'Agenda for Peace' dari pihak Utara. Namun, perjuangkan posisi 'Agenda for Development' dari G-77 dan GNB dengan segala cara supaya masuk di dalam kegiatan-kegiatan diplomasi GNB di lingkungan PBB dan lembaga-lembaga multilateral," kata Pak Nana.

Selanjutnya, saya diminta memfokuskan perhatian pada nasib anggota-anggota GNB termiskin yang masuk kelompok food-deficit low-income countries (FDLIC) dan kelompok severely-indebted low-income countries (SILIC). Begitulah, sambil bertugas sebagai Dekan FEUI untuk periode 1993-1997, saya ditugasi menyusun macam-macam memo dan makalah teknis.

Kelompok GNB Termiskin

Suatu hari kami dipanggil Pak Nana untuk mempersiapkan bahan yang akan dibawa Presiden Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
ke Pertemuan Tingkat Tinggi G-7 di Tokyo pada medio 1994. Saya ditugasi menyusun memo singkat tentang cara mengurangi beban utang yang teramat berat pada kelompok negara GNB termiskin dengan meminta keringanan yang besar baik dari G-7, IMF, Bank Dunia, bank-bank pembangunan regional seperti ADB, maupun bank-bank komersial.

Pak Nana mengingatkan agar perumusan tidak bertabrakan dengan IMF, Bank Dunia, dan bank-bank pembangunan regional, sesuai dengan tugas kedua BPK GNB tadi. Waktu itu saya baru tahu bahwa rencana kepergian Presiden Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
ke G-7 Summit di Tokyo bukan atas undangan G-77, melainkan atas prakarsa beliau sendiri. Saya membayangkan risiko berat yang ditanggung beliau dalam prakarsa ini, yaitu kalau usulan GNB ini ditolak G-7.

Pusing juga saya memikirkan risiko memo tersebut terhadap posisi saya sebagai Dekan FEUI. Pendek cerita, posisi GNB yang dibawakan Presiden Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
ke G-7 Tokyo kemudian disetujui G-7 tahun 1995 sebagai posisi resmi yang disebut sebagai "Naples Term".

Bertahun-tahun kemudian, saat saya menjadi Menko Perekonomian dan memimpin perundingan Paris Club III di Paris pada tahun 2002, delegasi RI memakai versi lunak dari Naples Term untuk menjadwal ulang pembayaran bunga dan angsuran utang G-to-G dari Pemerintah Indonesia yang jatuh tempo tahun 2002.

Saya sedih betul waktu itu menyadari bahwa posisi Indonesia pada krisis multidimensi 1997-2001 sudah menyeret kita sejauh posisi SILIC. Peringkat kredit Indonesia waktu itu, menurut Standard & Poor, memang cuma CCC dengan predikat Selective Default (SD) dan dipenalti dengan spread yang dahsyat, sekitar 2.000 basis poin.

Lama juga saya ditugasi mencari modus baru kerja sama Selatan-Utara bagi pembiayaan proyek-proyek pembangunan yang diperlukan Selatan. Modus dibuat dalam skim Kerja Sama Selatan-Selatan yang melibatkan salah satu negara Utara sebagai penyandang dana terbesar.

Waktu itu saya belajar betapa sulit membangun kerja sama Selatan-Selatan di tengah kenyataan perdagangan dan investasi global yang sebagian besar adalah tipe Utara-Utara atau Utara-Selatan, tetapi hanya melibatkan Selatan yang sudah mapan.

Namun, setiap saya putus asa, Pak Nana dengan senyumnya yang khas mendorong saya untuk terus mencari gagasan-gagasan baru di dalam dan di luar GNB. Padahal, saya melihat jelas bahwa Utara praktis tak sungguh-sungguh menangani masalah ketidak- adilan global itu, apalagi dalam bentuk transfer sumber daya.

Begitulah, selama periode 1993-1996 itu saya masuk semacam "sekolah disiplin diplomasi global", yakni BPK GNB, dengan Pak Nana sebagai seorang kakak dan "Guru Besar GNB". Pak Nana tetap yakin bahwa lebih baik diplomasi daripada konfrontasi. Juga lebih unggul mengandalkan the moral and ethics of world order daripada memakai kekuatan pemaksaan sebagai bagian dari balance of power global untuk membangun dunia yang lebih adil dan menghargai kesetaraan umat manusia.

Pak Nana tak ada bedanya dengan Pak Wakil Presiden Republik Indonesia (1978-1983)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1978-1983)
Adam Malik
dan Mas Koko (Dr Sudjatmoko) dalam keyakinan ini, yang saya alami sejak ikut Komisi Brandit dari Indonesia serta Dialog Utara-Selatan pada era 1970-an. Mereka semua memang generasi humanis yang idealis dari Angkatan '45 dan mendambakan dibangunnya perdamaian dunia untuk menciptakan keadilan global.

Selamat jalan Pak Nana, banyak terima kasih atas persahabatan yang tulus dan pelajaran tentang kegigihan mempertahankan keyakinan tanpa menggunakan konfrontasi. Semoga Tuhan Yang Maha Esa menempatkan Pak Nana di sisi-Nya sebagai insan pencinta perdamaian yang selalu mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya. Bio TokohIndonesia.com

 

Dorodjatun Kuntjoro-Jakti lahir di Rangkasbitung, Banten, 25 November 1939. Guru Besar Emeritus UI, mantan Menko Perekonomian kaninet Gotong-royong. Pernah juga diterbitkan di Harian Kompas, Sabtu, 12 Februari 2011 dengan judul: Belajar dari Pak Nana.

Nana Sutresna Sastradidjaja lahir di Ciamis, Jawa Barat, 21 Oktober 1933. Lulusan Jurusan Master of Arts International Relation University of Wales, Inggris (1964), dan Aberystwyth, United Kingdom University College of Wales, Inggris, ini mengawali kariernya sebagai anggota redaksi luar negeri LKBN Antara Kepresidenan Indonesia (1955-1957). Nana pernah bertugas di Washington, DC, Mexico City, dan Geneva sebagai pejabat dinas luar negeri. Nana kemudian ditunjuk sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh/Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB di New York, lalu Duta Besar RI di Bahama, Jamaika, Nikaragua, dan terakhir Dubes RI di Inggris pada masa pemerintahan Presiden Megawati. Meninggal, Kamis, 27 Januari 2011 pukul 09.00 WIB dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 08 Jul 2011  -  Pembaharuan terakhir 23 Feb 2012
Dipecat Saat Berjuang Mandor Pasar Modal Dan Politik

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Dinosaurus!: Utahraptor dan Dinosaurus Serta Reptil lainnya Dari Cretaceous Awal

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: