WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia
Gambar QR sudah tersimpan sebelumnya.

Politisi Negarawan dari Kalsel

Politisi Negarawan dari Kalsel
Syamsul Mu'arif | TokohIndonesia.com - Wilson Edward

Hidup bersahaja dan mengalir laksana air. Baginya pedoman hidup adalah nurani dan amal. Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Kabinet Gotong-Royong, Sekjen DPP Nasional Demokrat (2010-2012) dan Ketua Umum Depinas Soksi (2005-2010), ini politisi yang tidak mau mengkhianati hati nurani hanya untuk mendapatkan sesuatu. Dia tidak ambisius! Kader Golkar ini berobsesi jadi seorang politisi negarawan. Putra bangsa asal Kalimantan Selatan ini selalu mengutamakan panggilan tugas dan tanggung jawab sesuai posisinya.

Menteri Kominfo RI (2001-2004)
Lihat Curriculum Vitae (CV) Syamsul Muarif

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Syamsul Muarif

Lelaki bernama Syamsul Mu'arif, kelahiran Kandangan, 135 km dari Ibukota Kalimantan Selatan, Banjarmasin, 8 Desember 1948, ini berprinsip tidak mengejar jabatan. Dia sendiri tidak tahu persis mengapa dibentuk seperti itu. Berkeinginan (ambisius) itu tidak boleh. Itu prinsip hidupnya. Tetapi kalau diberi tugas, dia selalu melaksanakan dengan baik, bahkan dengan mengorbankan kepentingan diri dan kelompoknya sendiri.

Dia seorang politisi profesional, negarawan, yang selalu berusaha melepaskan diri dari kepentingan pribadi dan kelompoknya dalam mengemban tugas pemerintahan dan kenegaraan.Tatkala diangkat jadi menteri, dia mengutamakan pelaksanaan tugas kementeriannya daripada kepentingan keluarga, kepentingan daerah asalnya dan kepentingan politik partainya. Dia seorang politisi profesional, negarawan, yang selalu berusaha melepaskan diri dari kepentingan pribadi dan kelompoknya dalam mengemban tugas pemerintahan dan kenegaraan.

Di depan anak dan isteri, dia sedih ketika diangkat menjadi menteri. Menjadi anggota DPR saja sudah jarang makan bersama di rumah, apalagi jadi menteri! Dia meminta pengertian anak-isterinya. "Itu kesedihan saya yang pertama," katanya menggambarkan.

Begitu pula kepada sahabat dan konstituennya di Kalimantan Selatan, sebagai putra daerah dan kader Golkar yang diangkat menjadi menteri, dia mengatakan tidak bisa lagi berpikir memprioritaskan Kalimantan saja, tetapi harus berpikir untuk Indonesia. Hal itu berbeda ketika ia duduk di legislatif, DPR, sebagai wakil rakyat dari Kalimantan Selatan. Dia benar-benar berorientasi dan berkomunikasi pada konstituennya di Kalimantan Selatan. Maka dia menyebut hal ini sebagai kesedihan yang kedua.

Hal ini bukanlah sekadar retorika. Melainkan, itulah kenyataan hidupnya yang sesungguhnya. Bukan dibuat-buat atau dipaksakan, tapi benar-benar gaya hidup dan jalan hidupnya. Jalan hidup yang berpedoman pada nurani dan akal sehat serta mengalir bagaikan air. Dia mengikuti filosofi air mengalir. "Saya ada di dalamnya, yang penting saya tidak tenggelam dalam arus, tapi mengikuti arus. Bersahaja, apa adanya," katanya menjelaskan.

Di situ pula dia menemukan jati diri dan kebahagiaannya. Baginya, kebahagiaan itu bukanlah kepuasan menerima atau karena mendapatkan sesuatu yang dicita-citakan atau diinginkan. Tetapi kebahagiaan itu adalah kemampuan untuk menahan dan menghadapi penderitaan terpahit yang kita alami tanpa menggoncang dan merusak stabilitas diri. Jadi apa pun problem yang dihadapi, yang terpenting adalah tetap teguh berdiri pada prinsip yang dipegang.

Salah satu contoh ujian moral yang dihadapi oleh Syamsul adalah ketika ia menjadi wakil rakyat di DPR dalam kurun waktu 1987-2001. Dalam tahun-tahun ini terjadi peperangan batin yang sangat berat dihadapinya antara memilih mengkhianati hati nurani untuk mendapatkan sesuatu atau mengikuti hati nurani tetapi tidak mendapat apa-apa. Dia pun teguh mengikuti kata hatinya.

Keputusannya untuk mengikuti hati nurani itu jualah yang akhirnya membukakan jalan baginya menjadi seorang menteri. Baginya pedoman hidup itu adalah nurani dan akal sehat. Bila hidup dengan nurani dan akal sehat, ia yakin akan menemukan arti dan jalan hidup yang sebenarnya.

Meskipun ada beberapa yuniornya yang jauh lebih kaya darinya, Syamsul tidak menjadi iri dan tetap bersyukur, "Enak tidur saja sudah berkah yang luar biasa bagi saya," katanya. Untuk menggambarkan perjuangan politiknya, Syamsul memberikan ilustrasi seperti seorang miskin yang tidak mempunyai apa-apa melihat mahasiswa cantik dan ingin mendapatkan wanita itu. Si miskin ini diperhadapkan pada dua pilihan, frustrasi atau semakin termotivasi untuk berusaha lebih baik.

Ia sendiri memilih termotivasi berusaha lebih baik. Tekadnya itulah yang membawanya menjadi Ketua Umum Dewan Mahasiswa (Dema), yaitu memiliki si wanita cantik itu. Bahkan era roformasi akhirnya membuka jalan baginya. Ia diangkat menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi.

Ketika menerima tanggung jawab sebagai Menteri Negara Komunikasi dan Informasi, mengira ruang lingkup tugasnya adalah berhubungan dengan media. Baginya berhubungan dengan media termasuk bidang pekerjaan yang biasa ditanganinya.

Sebab, ia mempunyai pengalaman di dunia jurnalistik dengan menjadi anggota Ikatan Pers Mahasiswa dan mulai aktif menulis ketika di Banjarmasin. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di bagian editorial sebuah surat kabar. Saat itu, ia menjadi redaktur sore part time sembari berguru dari Ketua PWI Kalsel Anang Adenansi, yang pernah memimpin koran itu selama beberapa periode.

Tapi ternyata yang juga menjadi bagian tugasnya adalah telematika: telekomunikasi, media, dan informatika. Ia pun prihatin melihat ketertinggalan Indonesia di bidang telematika. Dengan cepat dan cerdas dia mendalami bidang ini. Sehingga dalam tiga tahun, dia bersama timnya berpacu meletakkan grand strategy telematika di Indonesia. Maka, ia mempersiapkan kementerian ini menjadi departemen pada kebinet 2004. (Bersambung) Ch. Robin Simanullang (Juga diterbitkan di Majalah Tokoh Indonesia Edisi 16)

 

Page 1 of 8 All Pages

  • «
  •  Prev 
  •  Next 
  • »
© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh cross  -  Dibuat 21 Apr 2012  -  Pembaharuan terakhir 22 Apr 2012

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Tito Karnavian

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letjen TNI (Purn) Sutiyoso berhasil membujuk dan menjinakkan Nurdin Ismail alias Din Minimi dan kelompok bersenjatanya turun gunung. Sutiyoso berani mengambil risiko terjun langsung masuk hutan untuk menjemput Din Minimi di belantara markas basis persembunyiannya tanpa pengawalan memadai.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: