Burhanuddin Mohammad Diah atau yang lebih akrab dipanggil BM Diah dikenal sebagai seorang tokoh pers serba bisa, pejuang kemerdekaan, diplomat, pengusaha dan seorang nasionalis yang gigih. Menimbang jasa-jasanya yang cukup besar kepada negara, pendiri Harian Merdeka ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
- biografi tokoh indonesia bm diah
- TOKOH KEMERDEKAAN B.M.DIAH
- biografi lengkap b.m diah
- b.m diah
- bm diah dan herawati
- b.m diah seorang wartawan
- foto julia manaf istri bm diah
- review buku biografi b.m diah
- review buku b.m diah wartawan tiga zaman
- biografi singkat b. m diah
- profil bm diah
- riwayat hidup b.m diah
- b.m. diah
- riwayat hidup bm diah
- tokoh tiga zaman
- peran tokoh bm diah
- biografi b m diah
- tokoh nasional b. m. diah
- b m diah
- biografi b.m diah
- biografi singkat b.m.diah
- B.M Diah
- bm diah
BM Diah merupakan bungsu dari delapan bersaudara, anak dari pasangan Burhanuddin dan Siti Sa'idah. Ayahnya seorang yang terpandang di Aceh pada zamannya karena kekayaannya. Meski demikian, kehidupan mapan keluarga tersebut tidak sempat dinikmati Diah karena saat Diah baru berusia seminggu, ia sudah ditinggal mati ayahnya. Di samping itu, di akhir hidupnya, sang ayah pun hidup boros sehingga tidak meninggalkan harta yang banyak bagi anak-anaknya. Kekayaan yang sempat dinikmati keluarganya pun hanya tinggal cerita bagi Diah.
Ibunya yang tinggal sendirian membesarkan BM Diah dan saudara-saudaranya, memilih berjualan emas, intan, dan pakaian untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Namun kebersamaan Diah dengan ibunya pun hanya sementara, karena delapan tahun sepeninggal ayahnya, ibu Siti Sa'idah juga meninggal. Diah kecil pun kemudian diasuh kakak perempuannya, Siti Hafsyah.
Meski kedua orangtuanya telah tiada, BM Diah tetap serius bersekolah. Diah pertama sekali sekolah di HIS ( Hollandsch-Inlandsche School). Namun karena ia tidak mau belajar di bawah asuhan guru-guru Belanda, ia kemudian melanjut ke Taman Siswa di Medan, Sumatera Utara. Saat Diah sudah berusia 17 tahun, ia meninggalkan Medan menuju Jakarta. Di Jakarta, ia belajar di Ksatrian Institut (sekarang Sekolah Ksatrian) yang dipimpin oleh Dr. EE Douwes Dekker. Di sekolah inilah, ia memilih jurusan jurnalistik dan banyak belajar tentang dunia kewartawanan dari pribadi Douwes Dekker sehingga kelak membentuknya menjadi wartawan handal.
Saat bersekolah di Ksatrian Institut, Diah sesungguhnya tidak mampu membayar biaya sekolah. Namun karena semangat dan tekadnya yang keras untuk belajar, Douwes Dekker mengizinkannya terus belajar. Bahkan, ia pun dipercaya menjadi sekretaris di sekolah tersebut.
Setelah tamat belajar dan memiliki pengetahuan di bidang jurnalistik, Diah kembali ke Medan dan bekerja sebagai redaktur harian Sinar Deli. Namun di sana ia hanya bekerja selama satu setengah tahun. Setelah itu, ia sering berpindah-pindah. Pertama, dari Medan ia kembali ke Jakarta dan bekerja di harian Sin Po sebagai tenaga honorer. Kemudian pindah ke Warta Harian. Karena koran tersebut dibubarkan karena alasan membahayakan keamanan, Diah pun lantas mendirikan usahanya sendiri bernama Pertjatoeran Doenia yang terbit bulanan.
Saat penjajahan Jepang, Diah pernah bekerja di Radio Hosokyoku sebagai penyiar siaran bahasa Inggris. Di saat yang bersamaan, ia juga bekerja di Asia Raja. Namun karena hal itu ketahuan Jepang, ia pun dijebloskan ke dalam penjara selama empat hari. Saat bekerja di Radio Hosokyoku, BM Diah bertemu dengan Herawati, seorang penyiar lulusan jurnalistik dan sosiologi di Amerika Serikat yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Pasangan itu menikah pada 18 Agustus 1942 dan memberikan mereka dua anak perempuan dan satu laki-laki. Pada April 1945, Diah bersama istrinya mendirikan koran berbahasa Inggris Indonesian Observer.
Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, Diah bersama sejumlah rekannya, seperti Joesoef Isak dan Rosihan Anwar juga turut memanggul senjata untuk mempertahankan kemerdekaan. Percetakan Jepang "Djawa Shimbun" yang menerbitkan Harian Asia Raja berhasil mereka kuasai tanpa perlawanan dari tentara Jepang.
Setelah berhasil menguasai percetakan Jepang, pada 1 Oktober 1945, Diah mendirikan Harian Merdeka sekaligus memimpinnya hingga akhir hayatnya. Dalam kepemimpinannya, ia tetap konsisten menjadikan Harian Merdeka sebagai salah satu surat kabar perjuangan yang khusus berbicara mengenai politik. Sehingga pada awal tahun 1950-an, muncul istilah Personal Journalism, sebuah corak jurnalistik yang berkembang setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda.
Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, Diah bersama sejumlah rekannya, seperti Joesoef Isak dan Rosihan Anwar juga turut memanggul senjata untuk mempertahankan kemerdekaan. Percetakan Jepang "Djawa Shimbun" yang menerbitkan Harian Asia Raja berhasil mereka kuasai tanpa perlawanan dari tentara Jepang.
Sebagai seorang nasionalis yang pro-Soekarno dan menentang militerisme, ia pernah bertolak pandangan dengan pihak militer setelah Peristiwa 17 Oktober 1952. Akibatnya ia sering berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran petugas militer. Bahkan ketika pemerintah Orde Baru yang lebih dikuasai militer memutuskan untuk mengubah sebutan Tionghoa menjadi China dan Republik Rakyat Tiongkok menjadi Republik Rakyat China, Koran Harian Merdeka bersama Harian Indonesia Raya tetap berani mempertahankan istilah Tionghoa dan Tiongkok.
Selain menjadi wartawan, BM Diah pernah menjabat sebagai seorang birokrat. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1959, BM Diah diangkat menjadi Duta Besar RI untuk Cekoslowakia, Hongaria, dan untuk Kerajaan Inggris Raya, 1962. Kemudian pada Era Orde Baru, ia diangkat menjadi Menteri Penerangan pada Kabinet Ampera, tahun 1966 oleh Presiden Soeharto. Dalam perjalanan berikutnya, ia juga pernah menjadi anggota DPR dan DPA.
Di luar pemerintahan, ia pernah menjabat sebagai Ketua PWI pada tahun 1971, kemudian menjadi Presiden Direktur PT Masa Merdeka, dan Wakil Pemimpin PT Hotel Prapatan-Jakarta. Di masa tuanya, ia kemudian mendirikan Hottel Hyatt Aryaduta.
Berkat jasa-jasanya yang teguh memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara, BM Diah menerima Bintang Mahaputra Utama dari Presiden Soeharto pada 10 Mei 1978. Selanjutnya, menerima piagam penghargaan dan medali perjuangan angkatan '45 dari Dewan Harian Nasional Angkatan 45 pada 17 Agustus 1995.
Setelah berjuang melawan penyakit stroke sejak lama, BM Diah wafat pada usia 79 tahun, tepatnya 10 Juni 1996 pukul 03.00 dini hari. Almarhum mulai dirawat di RS Siloam Gleneagles Tangerang 25 April 1996, kemudian dipindahkan ke RS Jakarta pada 31 Mei 1996 sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Menimbang jasa-jasanya yang cukup besar kepada negara, ia dimakamkan di Taman Makam pahlawan Kalibata. Ia meninggalkan dua orang istri, Herawati dan Julia binti Abdul Manaf, yang dinikahinya diam-diam ketika ia bertugas di Bangkok, Thailand. Dari Herawati, ia memperoleh dua orang anak perempuan dan seorang anak laki-laki, sementara dari istri keduanya ia memperoleh dua orang anak: laki-laki dan perempuan.
Selama disemayamkan di rumah duka, hampir semua pejabat tinggi negara di masa itu, mulai Presiden Soeharto dan Wapres serta Ny Try Soetrisno hingga sejumlah Menteri Kabinet Pembangunan VI melayat. Demikian juga dengan tokoh-tokoh seperjuangan almarhum membanjiri rumah duka di kawasan elite Jakarta Selatan itu. Di antara teman-teman almarhum yang tampak hadir antara lain Dr Roeslan Abdulgani, Soebadio Sastrosatomo, Mochtar Lubis, Ny Supeni, para mantan pejabat senior Departemen Penerangan, mantan Menko Polkam Soerono, Kharis Suhud, Yakob Oetama, Soebronto Laras, dan tokoh-tokoh nasional lainnya. Tampak pula Menteri Penerangan Harmoko, mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim, Pangdam Jaya Mayjen Sutiyoso, M.H. Isnaini, S.K. Murti, Dahlan Iskan, serta sejumlah wartawan senior dari berbagai media massa.
Menurut istrinya, Herawati, hingga menjelang akhir hayatnya, BM masih tetap bekerja. Padahal suaminya itu telah menderita berbagai macam penyakit, seperti penyakit ginjal, paru-paru, dan diabetes. Meski demikian, jantung almarhum masih cukup kuat. "Itulah sebabnya, meski mengidap berbagai macam penyakit, Bapak masih terus bekerja," katanya. Sebagai seorang istri yang telah lama mendampingi BM Diah, Herawati menilai suaminya itu adalah wartawan dan nasionalis sejati yang memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara. eti | hs-mlp
Update Data & Sponsorship
Dukungan Anda, Semangat Kami
(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.
Update Konten/Saran
Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:
- Menambah (Daftar) Tokoh
- Memperbaharui CV atau Biografi
- Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
- Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
- Menambah Galeri Foto
- Menambah Video
- Menjadi Member
- Memasang Banner/Iklan
- Memberi Dukungan Dana
- Memberi Saran
Contoh Penggunaan
Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:
Rumah Presiden SBY
Rumah Presiden Soekarno
Rumah Megawati Soekarnoputri
Silakan menghubungi kami di:
- Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
- Email:
- Atau gunakan FORM KONTAK ini
Sponsorship
Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.
Sponsor Bronze ![]() | Sponsor Silver ![]() |
Sponsor Gold ![]() | |


Tokoh Indonesia DotCom, sebuah media informasi dan database online terbaik, terlengkap dan terpadu perihal biografi, visi-misi, dan berita para tokoh di Indonesia. Diterbitkan sejak 20 Mei 2002 bertepatan Hari Kebangkitan Nasional. Tokoh Indonesia meliputi pemimpin formal dan informal Indonesia: 



































Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.