WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Pentingnya Character Building

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Pentingnya Character Building
Urip Santoso | TokohIndonesia.com | ms

BIO 06 | Kalau dibandingkan dengan pendidikan dewasa ini, pendidikan secara umum, bukan cuma pendidikan militer, sudah kurang menekankan character building. Contohnya, perpeloncoan mahasiswa baru di perguruan tinggi, apalagi di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), mahasiswa baru ditendang sampai ada yang mati.

Pembentuk Kopaska dan Pionir Wisata Bahari
Lihat Curriculum Vitae (CV) Urip Santoso

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Urip Santoso

QR Code Halaman Biografi Urip Santoso
Bio Lain
Click to view full article
Paul Tahalele
Click to view full article
Liem Tiang Gwan
Click to view full article
Agus Suhartono
Click to view full article
Indra Setiawan
Click to view full article
Franz Magnis-Suseno
Click to view full article
Imam Bonjol
Click to view full article
AM Fatwa

Dibandingkan dengan 'perpeloncoan' di Belanda (KIM), lamanya sebulan tapi tidak ada kekerasan. Karena prinsipnya yang mau ditanamkan adalah respek terhadap aturan, seperti tidak boleh bohong, mencuri dan harus respek terhadap senior. Para senior juga tidak ada melontarkan kata-kata kotor atau keras, apalagi melakukan kekerasan fisik. Urip mengenang pengalamannya di Akademi AL Belanda (KIM), selama sebulan mereka tidak boleh jalan biasa, dari kelas ke kamar tidur harus lari. Senior yang memelonco juga hanya kelas tertinggi. Yang kelas dua, hanya nonton, bicara saja sama siswa yang sedang dipelonco tidak boleh. Selesai perpeloncoan mereka akrab lagi dan respek terhadap senior.

Urip memberi contoh betapa junior selalu menghormati senior. Ketika proses penyusunan buku, mereka bekerja sama dengan alumni KIM di Belanda. Salah seorang mantan KASAL Belanda, walaupun begitu dia tetap respek sama senior. Pengalaman berbeda bisa dialami di Indonesia. Tidak jarang seorang yang junior karena berpangkat tinggi, terlihat angkuh seakan-akan tidak kenal sama seniornya. Urip sendiri sering melihat dan merasakan di berbagai pertemuan. Menurut Urip, itu karena character building-nya kurang.

Salah satu contoh yang dia alami sendiri. Suatu ketika, dia diundang mengikuti acara yang diselenggarakan Laksamana Sudomo[1] dalam rangka Phinisi Nusantara. Sudomo menyambut kedatangan mereka. Pada saat yang sama, Yoga Sugama juga ada di situ. Kemudian, Sudomo memanggil Urip dengan akrab, lalu memperkenalkan, ini Jenderal Yoga Sugama, dan juga menyebut ini Laksamana Urip. Saat bersalaman, Urip memandang sorot mata Yoga Sugama, yang lagaknya seolah-olah tak mengenal Urip. Lalu, masih sambil bersalaman, Urip mengatakan: "Kamu kan dulu satu kamar sama saya bersama almarhum Zulkifli Lubis? Kala itu, Urip dan Yoga sama-sama berpangkat kapten. Yoga hanya ketawa malu. Domo sendiri terlihat agak kaget.

Sangat berbeda dengan mantan KASAL Belanda yang lebih junior dari Urip, tetapi selalu respek kepada seniornya. "Padahal kita bukan Belanda, itu hasil didikan KIM," kata Urip.
Setelah setahun bertugas, dia pun menghadap bagian personalia, menyatakan bahwa dia tidak betah dalam tugas itu. Dia meminta spesialisasi. Tapi selama tiga tahun dia harus bertugas sebagai perwira administrasi, pindah-pindah. Tapi karena pimpinan sudah tahu bahwa dia tidak senang, maka dia tak pernah ditugaskan di kapal, hanya di darat terus.

Setelah tiga tahun, dia pun diijinkan mengikuti spesialisasi. Dia diberangkatkan mengikuti pendidikan di USNAV Deep Sea Diving & Salvage Officer Course, Washington DC – USA, 1958. Suatu pendidikan yang sebetulnya itu spesialisasi pelaut dan marinir. Dia yang sejak dulu senang di laut, melakoni pendidikan spesialisasi penyelaman dalam laut, deep sea diving dan pengangkatan kapal, itu dengan baik.

Kemudian juga mengikuti latihan renang bawah air untuk persiapan UDT (underwater demolition team) di USNAVSCOL u/w Swimmer School, Key West, Fa, USA, 1959 dan Under Water Demolition Team - UDT (SEAL), Virginia, Little Creek, USA, 1959. Kemudian pada zamannya Kennedy, UDT diganti menjadi Navy Seal, korps elit AL terkenal di Amerika Serikat. Pendidikan (kursus) spesialisasi inilah yang menentukan karir dan kehidupannya selanjutnya.

Maka, ketika dia kembali ke tanah air, Kepala Staf Angkatan Laut agak bingung mencari penempatannya yang pas. Akhirnya Urip ditempatkan pada korps khusus. Dinas khusus, yang orang lain tidak ada, hanya Urip sendiri.

Kemudian, sejak 1961, Urip bertugas dalam proyek pembersihan pelabuhan dan alur pelayaran kapal-kapal tenggelam di perairan nusantara. Dia melakukan tugas itu bersama dengan perusahaan asing. Mereka membersihkan pelabuhan dan perairan laut dari Sabang sampai Makassar. Dan rencananya akan terus dilanjutkan sampai Merauke. Tetapi, pekerjaan belum selesai, dia ditugaskan mendirikan (melatih) Pasukan Katak TNI Angkatan Laut (1961) dalam rangka perjuangan Trikora (Tri Komando Rakyat) untuk membebaskan Irian Barat dari tangan kolonial Belanda. Bio TokohIndonesia.com | crs-ms

Footnote:
[1] Sudomo, Laksamana TNI (Purn), mantan Pangkopkamtib, Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
Tenaga Kerja (19 Maret 1983 - 22 Maret 1988) dan Ketua DPA. Lahir di Malang, 20 Sep 1926. Dia mengaku di usia tuanya merasa terlahir kembali atau justru menemukan hidupnya kembali. Dia merasa lebih tenang dan khusyuk. ''Kalau orang lain berkata hidup dimulai umur 40 tahun, saya justru mulai umur 75 tahun,'' kata Sudomo. Dia yang pernah murtad, kembali lagi pada keyakinannya semula, memeluk agama Islam. (www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/s/sudomo/)

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh cross  -  Dibuat 27 Dec 2010  -  Pembaharuan terakhir 24 Feb 2012
Pelopor Wisata Kuliner Demi Korban Bencana

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

This book gives you a huge knowledge of what you need for understanding the market for watches. The book is full of beautiful photos of some of the Worlds most awesome timepieces and what's under the hood.

Note: A must have buat pencinta/kolektor jam tangan. Harga cover US$35.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: