WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Berjuang dan Masuk Penjara

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Berjuang dan Masuk Penjara
Urip Santoso | TokohIndonesia.com | ms

BIO 04 | Setelah tamat dan menerima ijazah dari SMT Djakarta, Urip Santoso ikut berjuang dengan masuk Badan Keamanan Rakyat (BKR)[1]. Hal mana ketika itu, Indonesia memasuki babak baru, Zaman Merdeka (Perjuangan Kemerdekaan), mulai Proklamasi 17 Agustus 1945 sampai Pengakuan dan Penyerahan Kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) pada 27 Desember 1949[2], sesuai hasil Ronde Tafel Conferentie (RTC) atau Konferensi Meja Bundar di Den Haag (23 Agustus-2 November 1949).

Pembentuk Kopaska dan Pionir Wisata Bahari
Lihat Curriculum Vitae (CV) Urip Santoso

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Urip Santoso

QR Code Halaman Biografi Urip Santoso
Bio Lain
Click to view full article
Mangapul Sagala
Click to view full article
Ade Suarsa
Click to view full article
Emirsyah Satar
Click to view full article
Ratna Sarumpaet
Click to view full article
Iwan Hasan
Click to view full article
Pong Tiku
Click to view full article
Herris B Simandjuntak

Seingat Urip, waktu itu yang menerimanya ikut berjuang di BKR adalah Mr. Kasman Singodimedjo, seorang tokoh Masyumi. Namun di BKR hanya sekitar 2-3 bulan. Sebab BKR menjelma menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) kemudian menjadi TRI (Tentara Rakyat Indonesia), sebagai cikal-bakal TNI (Tentara Nasional Indonesia)[3]. Maka Urip otomatis jadi TKR. Kali itu, dia tidak bergabung dengan laskar tentara pelajar tapi langsung dibawa ke Yogya oleh pimpinannya dari PETA. Waktu itu dia ditempatkan di MBT (Markas Besar Tentara) di Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
, yang masih bernama TKR, kemudian menjadi TRI, lalu jadi TNI.

Selama perjuangan di TKR (TRI dan TNI), Urip dipercayakan dengan pangkat kapten. Dia pun terima saja pangkat kapten itu, walaupun menyadari bahwa dia belum pernah mendapat pelatihan militer secara khusus. Tapi kala itu, banyak juga orang seperti itu, ada yang berpangkat letnan dan lain-lain. Sebagai seorang tamatan SMT yang waktu itu masih termasuk langka, maka dia sepantasnya diberi pangkat kapten.

Kemudian, dia pun ditugaskan di daerah pendudukan, Jakarta. Ketika itu, ibukota pindah ke Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
. Dia bertugas di SO 1 (staf oemoem 1) yang antara lain bertugas di bidang informasi dan intelejen. Dia pun menjalankan tugasnya dengan baik sampai dia diciduk dari kereta api khusus pada Juli 1947. Kereta api khusus yang juga ditumpangi pejabat berangkat dari Jakarta menuju Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
. Namun, kereta api itu distop tentara Belanda. Urip dipaksa turun tanpa menjelaskan apa sebabnya dan atas perintah siapa. Mungkin Belanda sudah tahu bahwa dia seorang tentara yang bertugas di bidang informasi dan intelejen, mungkin ada yang kasih tahu (membocorkan). Sebab sebelumnya, dia bisa bergerak bebas menghimpun informasi yang dibutuhkan.

Tentara Belanda itu pun memeriksanya. Kemudian Urip langsung dibawa ke Jakarta dan dijebloskan ke Penjara Glodok (sekarang sudah jadi Pertokoan Harco)[4]. Di penjara Glodok ini, Urip dicampur dengan maling dalam sel berisi delapan orang. Saat dijebloskan dalam sel itu, Urip masih berpakaian rapi dan bagus. Sementara, para tahanan di sel itu terlihat kumal dan mukanya sangar-sangar. Mungkin mereka sudah lama dikurung dalam sel itu.

Di sel itu, ada juga orang yang membunuh pilot Dakota (Sekutu) yang ditembak jatuh di Bekasi. Kelihatannya semua penghuninya seram, untuk diajak bicara saja susah. Kondisi sel itu juga seram. Kakusnya ada di dalam. Namun, sumur untuk mandi berada di luar. Di belakang dekat sel itu, tempat menembak (mengeksekusi) orang. Kalau ada orang dihukum mati, dari sel itu kedengeran rentetan letusan senjatanya, mengerikan. Pokoknya amat menyeramkan.

Namun, Urip pasrah dan tenang saja. Tapi, ternyata mereka (para tahanan yang kumal dan sangar itu) baik dan malah hormat sama dia. Namun, Penjara Glodok itu tetap mengerikan, sangat tidak manusiawi, apalagi untuk tahanan perang. Di Penjara Glodok itu, tiap hari makanannya hanya sayur kangkung dan terong yang tidak asin. Lebih sebulan lamanya dia berada di sel Penjara Glodok itu.

Kemudian, dia dipindah ke Penjara Bukit Duri. Penjara yang juga sama seramnya. Tapi di sana dia sudah berstatus sebagai tahanan militer, prisoner war (tahanan perang)[5], lengkap dengan pakaian dan atributnya. Walau terkenal sebagai penjara seram, kondisi di Penjara Bukit Duri jauh lebih baik dibanding Penjara Glodok. Urip dimasukkan dalam sel yang punya tempat tidur dari beton.

Ketika dia baru masuk, memang masih harus membakar pakai lilin kutu busuk yang bercokol di lantai dan dinding sel itu. Pintu selnya doubel, berwarna hitam, dan hanya ada lobang kecil. Setiap malam dicek 2-3 kali oleh sipir. Makannya juga sudah tiga kali sehari dengan menu yang sudah lebih baik dibanding Penjara Glodok. Pengalamannya di Penjara Bukit Duri itu, pihak Belanda masih memegang konvensi Jenewa, walaupun tidak sepenuhnya. Seperti, jam masuk dan keluar sel, masih dari jam enam pagi sampai enam sore.

Di Penjara Bukit Duri itu, Urip ketemu Pujangga Tetralogi Bumi Manusia
Pujangga Tetralogi Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer
[6]. Setelah seminggu Urip ditahan di penjara itu, Pram dijebloskan di tempat seram itu. Sel mereka berdekatan. Orang bilang Pram itu komunis. Namun, bagi Urip, hal itu tidak masuk akal, sebab dia tahu Pram itu bangga sebagai anggota TNI.

Selama di penjara, Urip selalu waspada. Dia tidak pernah mau sembarang bicara. Sebab segala macam orang ada di situ, terutama di Penjara Bukit Duri, banyak mata-mata. Pada suatu hari ada kelompok dari Australia, isinya Menado, Flores, Ambon, pokoknya dari timur, orang KNIL[7]. Belakangan, Urip tahu mereka berontak di Sydney. Akibatnya, mereka ditangkap dan dimasukkan ke Penjara Bukit Duri. Tapi Urip tidak mau gegabah dengan mudah percaya pada orang-orang itu.

Dia tidak mau sembarang bicara dengan para tahanan di penjara itu. Jangan-jangan mereka itu sengaja dimasukkan ke penjara sebagai mata-mata. Bahkan, ketika Pramoedya masuk, Urip sempat curiga. Namun, kemudian kecurigaan itu sirna setelah mengetahui lebih dalam apa yang dilakukan Pram sehingga dijebloskan ke penjara.

Kemudian, Urip sempat dipindah ke Penjara Tangerang, yang sekarang jadi penjara Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
. Di Penjara Tangerang itu sebenarnya merupakan proses rehabilitasi. Di situ, tawanan militer dan sipil dijadikan satu. Tapi di dalamnya dipisah. Setelah berada beberapa saat di Penjara Tangerang itu, barulah Urip menyadari hal itu sebagai bagian proses rehabilitasi. Sebab yang jaga dan Lihat Daftar Direktur
Lihat Daftar Direktur
Direktur
nya juga bukan tentara, tetapi sipil. Namun, rupanya maksud rehabilitasi itu adalah supaya tahanan menyerah jadi orang baik-baik sama Belanda.

Urip sendiri ditawari bea siswa Malino, pengiriman mahasiswa Malino ke Belanda. Tapi, Urip menampik tawaran itu. Seingat dia, selain dirinya, juga tahanan lainnya, baik dari militer maupun sipil, tidak ada yang mau. Semuanya punya prinsip dan menjunjung tinggi semangat nasionalisme.

Lalu, suatu hari, karena penjaganya memang tidak ketat, ada 10 orang tahanan dari bagian militer yang kabur. Waktu itu, Urip juga diajak kabur. Tapi Urip menampik. Bukan karena takut, tapi atas pertimbangan rasional sesuai kondisi yang berkembang di dalam penjara maupun di luar. Kabur malah bisa menimbulkan kerepotan baru.

Setelah kejadian tahanan kabur itu, Urip dikembalikan lagi ke Penjara Bukit Duri. Lalu, tak lama kemudian, dalam rangka Konfrensi Meja Bundar di Den Haag (23 Agustus-2 November 1949) para tahanan dilepaskan. Kecuali, Urip dan tujuh orang lainnya, di antaranya Pramoedya, seorang lagi Komandan Resimen Pattimura, dan Brigade Macan Citarum Harun Umar, masih tetap ditahan. Dalam suasana lengang seperti itu, hanya dihuni delapan orang, terasa penjara itu makin serem.

Kemudian, seminggu sebelum penyerahan kedaulatan di Jakarta (27 Desember 1949), yang diterima oleh Sri Sultan Hamengkubuwono[8], mereka berdelapan dibebaskan. Seingat Urip, pembebasan mereka tak ubahnya kayak melepas kucing atau kambing dari kurungan (kandang). Tanpa proses. Mereka disuruh keluar saja. Tak heran jika mereka rada bingung, selain karena tanpa proses, keadaan di luar juga sudah lain. Maklum, Urip sudah mendekam selama dua tahun sembilan bulan dalam penjara Glodok – Bukit Duri – Tangerang – Bukit Duri. Atas perjuangannya, pemerintah RI pun menganugerahkan penghargaan Bintang Gerilya kepadanya. Bio TokohIndonesia.com | crs - ms

Footnote:
[1] Badan Keamanan Rakyat (BKR) terbentuk berdasarkan keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dalam sidangnya tanggal 22 Agustus 1945, lima hari setelah Proklamasi Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Kemerdekaan RI
17 Agustus 1945, bersamaan dengan pembentukan Komite Nasional. Pembentukan BKR Pusat ini diumumkan oleh Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Presiden Soekarno
pada tanggal 23 Agustus 1945 dengan Ketua Umum Kaprawi, Ketua I dan II Sutalaksana dan Latief Hendraningrat, serta anggota Arifin Abdurahman, Mahmud dan Zlkifli Lubis. BKR ditetapkan sebagai bagian dari Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP) yang merupakan induk organisasi yang ditujukan untuk memelihara keselamatan masyarakat. Pembentukan BKR dan bukan tentara dimaksudkan untuk tidak membangkitkan permusuhan dari kekuatan-kekuatan asing (terutama tentara sekutu dan Jepang) yang pada waktu itu ada di Indonesia. Ke dalam BKR itulah terhimpun bekas anggota Peta, Heiho, Keisatsutai (Kapolri (1968-1971)
Kapolri (1968-1971)
polisi
), Seinendan, Keibodan dan lain-lain. Bersamaan dengan itu dibentuk pula BKR-Laut. (Sumber, antara lain: 30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara, Cetakan Keenan, 1985, hlm.24-25)
[2] Pengakuan Kedaulatan: Upacara penandatangan naskah pengakuan kedaulatan dilakukan pada waktu bersamaan di Indonesia dan di negeri Belanda pada tanggal 27 Desember 1949. Di negeri Belanda, bertempat di ruang tahta Istana Kerajaan Belanda, Ratu Juliana, Perdana Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
Dr. Willem Drees, Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
Seberang Lautan Mr. AMJA Sassen dan Ketua Delegasi RIS Drs. Moh. Hatta, bersama-sama menandatangani naskah pengakuan kedaulatan dari pemerintah Belanda kepada pemerintah RIS. Sementara, di Jakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Wakil Tinggi Mahkota AHJ Lovink menandatangani naskah penyerahan kekuasaan. Lalu, pada tanggal yang sama di Yogyakarta dilanjutkan penyerahan kedaulatan dari Republik Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat. (Pengakuan Kedaulatan, 30 Tahun Indonesia Merdeka, Seri 1945-1949, Sekretariat Negara, Cetakan Keenam, 1985, hlm. 251).
[3] Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dibentuk melalui Dekrit Presiden tanggal 5 Oktober 1945, yang merupakan perubahan dari BKR (Badan Keamanan Rakyat). Pembentukan TKR 5 Oktober 1945 inilah kemudian yang diperingati sebagai hari lahirnya TNI. Sebelum menjadi TNI, pada tanggal 7 Januari 1946, Tentara Keamanan Rakyat berganti nama menjadi Tentara Keselamatan Rakyat dan pada 24 Januari 1946 berubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Namun pada saat itu di Indonesia terdapat juga barisan-barisan bersenjata lainnya di samping TRI, maka pada tanggal 5 Mei 1947, Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Presiden Soekarno
mengeluarkan keputusan untuk mempersatukan TRI dengan barisan-barisan bersenjata tersebut menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Penyatuan itu diresmikan pada tanggal 3 Juni 1947.
[4] Penjara Glodok terkenal merupakan penjara menakutkan. Pada awalnya penjara ini dikhususkan untuk pidana psychopalen. Proklamator, Wakil Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1956)
Proklamator, Wakil Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1956)
Bung Hatta
pernah ditahan di sana dengan tuduhan menghasut rakyat untuk melawan Belanda pada 1930-an saat berpidato di Hotel Des Indes. Dalam penjara Glodok itu Proklamator, Wakil Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1956)
Proklamator, Wakil Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1956)
Bung Hatta
menyelesaikan penulisan buku Krisis Ekonomi dan Kapitalisme. Dari sana Bung Haat kemudian dibuang ke Boven Digul, Papua, tempat pengasingan yang menakutkan pula.
[5] Tahanan perang (prisoner of war) adalah sebutan bagi tentara yang dipenjara oleh musuh pada masa atau sesaat berakhirnya konflik bersenjata (perang). Konvensi Ketiga Jenewa memastikan para tahanan perang diperlakukan dengan manusiawi. Salah satu syarat konvensi tersebut adalah bahwa penyiksaan terhadap para tahanan dianggap ilegal, dan bahwa mereka hanya perlu memberikan nama, tanggal lahir, pangkat, serta nomor jasa mereka. Namun pematuhan terhadap konvensi tersebut berbeda antara negara.
[6] Pujangga Tetralogi Bumi Manusia
Pujangga Tetralogi Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer
, Sang Pujangga yang Dihargai Dunia Dipenjara Negeri Sendiri. Lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 dan meninggal di Jakarta, 30 April 2006. Pada Oktober 1945, bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan ditempatkan di Cikampek pada kesatuan Teruna, yang kemudian menjadi inti divisi Siliwangi, sebagai prajurit II. Dalam waktu singkat, dia menjadi sersan mayor. Beberapa waktu kemudian di Jakarta, Pujangga Tetralogi Bumi Manusia
Pujangga Tetralogi Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer
bekerja pada "The Voice of Free Indonesia", di mana roman Ditepi Kali Bekasi mulai disusun dan diterbitkan (yang diterbitkan saat itu adalah fragmen Krandji-Bekasi Jatoeh). Selain itu, Pram pun mendapat order dari atasannya untuk mencetak serta menyebarkan pamflet dan majalah perlawanan. Itu terjadi pada saat Belanda mulai melakukan agresi militer pertama 21 Juli 1947. Dua hari kemudian dia tertangkap marinir Belanda dengan surat-surat bukti di dalam sakunya. Dia pun disiksa oleh satu peleton marinir totok, indo, dan Ambon. Barang-barang di rumahnya disita. Dimasukkan ke dalam tahanan tangsi di Gunung Sahari dan tangsi Kapolri (1968-1971)
Kapolri (1968-1971)
polisi
di Jagomonyet (seperti diceritakan dalam Pertjikan Revolusi ). Akhirnya ia dipenjarakan di Bukit Duri tanpa proses wajar, dan selanjutnya dipenjarakan lagi di pulau Damar (Edam). (www.tokohindonesia.com/pramudya-ananta-toer/)
[7] KNIL, singkatan dari het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (bahasa Belanda), arti harafiah Tentara Kerajaan Hindia-Belanda. Namun banyak di antara anggotanya yang bumiputra dan orang Indo-Belanda, bukan orang-orang Belanda. Di antara mereka yang pernah menjadi anggota KNIL pada saat menjelang kemerdekaan adalah Oerip Soemohardjo, E. Kawilarang, AH. Nasution, Gatot Soebroto dan TB Simatupang, yang kemudian memegang peranan penting dalam pengembangan dan kepemimpinan di dalam angkatan bersenjata Indonesia. (Pusat Data Tokoh Indonesia)
[8] Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Sang Bangsawan yang Demokratis. Wakil Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia
Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia
Presiden RI
(1973-1978) ini lahir di Yogyakarta, 12 April 1912 dengan nama Dorodjatun. Ketika Dorodjatun berusia 3 tahun diangkat menjadi putera mahkota (calon raja) dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Sudibya Raja Putera Narendra ing Raja Kerajaan Mataram
Raja Kerajaan Mataram
Mataram
. Pemerintahan Kesultanan Yogyakarta mengalami banyak perubahan di bawah pimpinannya. Pendidikan Barat yang dijalaninya sejak usia 4 tahun membuat Sri Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX) menemukan banyak alternatif budaya untuk menyelenggarakan Keraton Yogyakarta. Dia menunjukkan bahwa raja bukan lagi gung binathara, melainkan demokratis. Dia memiliki paham kebangsaan yang tinggi. Meninggal di RS George Washington University Amerika Serikat, 1 Oktober 1988, dan dimakamkan di Astana Saptarengga, Komplek Pemakaman Raja Raja Kerajaan Mataram
Raja Kerajaan Mataram
Mataram
di Imogiri, Yogyakarta, 8 Oktober 1988. (www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/s/sri-sultan-hb-ix/)

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh cross  -  Dibuat 27 Dec 2010  -  Pembaharuan terakhir 24 Feb 2012
Press Officer Kelas Wahid Bahasa Kalbu Sang Dewi

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Belajar matematika bersama para Tales Runner di Tales World akan menjadi petualangan yang sangat seru! Ayo kita ikuti!

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: