WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan ke sdm at tokohindonesia.com

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com if you CARE

Berita Tokoh Monitor

KPK-Hukum

Bisnis-Entrepreneur

Internet-Social Media

Budaya-Sastra

Mancanegara

Olahraga

Gaya Hidup

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Sang Politisi Pelayan

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Sang Politisi Pelayan
Jakob TobingJakob Tobing | TokohIndonesia.com | clr

Presiden Institut Leimena, Jakob Tobing, bernama lengkap Drs. Jakob Samuel Halomoan Lumban Tobing, MPA. Pria berdarah Batak, kelahiran Reteh-Kotabaru, Riau, 13 Juli 1943, ini seorang politisi pelayan. Dia telah mendedikasikan diri sebagai pelayan dalam dunia politik (DPR/MPR) selama 34 tahun (Golkar dan PDI-P). Mantan Duta Besar RI untuk Korea Selatan (2004-2008), ini berperan penting dalam meletakkan dasar modernisasi politik Indonesia.

Presiden Institut Leimena dan Dubes RI untuk Korsel (2004-2008).
Lihat Curriculum Vitae (CV) Jakob Tobing

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Jakob Tobing

QR Code Halaman Biografi Jakob Tobing
Bio Lain
Click to view full article
Oemar Seno Adji
Click to view full article
Dott Sampurno
Click to view full article
Sundari Soekotjo
Click to view full article
Ida Royani
Click to view full article
Pepeng
Click to view full article
Bejo Rudiantoro
Click to view full article
Widi Agoes Pratikto
Skip TOC

Article Index

  1. Sang Politisi Pelayan current position
  2. 02 | Dari Golkar ke PDI-Perjuangan
  3. 03 | Presiden Institut Leimena

Penerima penghargaan Bintang Mahaputera Utama (1999), ini berperan penting dalam meletakkan dasar reformasi dan modernisasi politik (demokratisasi) Indonesia, terutama melalui kepemimpinannya dalam Panitia Ad Hoc I BP-MPR yang melakukan Amandemen UUD 1945 pada tahun 1999 – 2004 dan Ketua Komisi A Sidang Tahunan MPR-RI tahun 2000, 2001, 2002, dan 2003. Dia patut dihargai sebagai salah seorang putera bangsa peletak dasar modernisasi politik (demokratisasi) Indonesia.

Pengalamannya selama 34 tahun dalam badan legislatif dimulai sejak 1968 ketika diangkat menjadi anggota DPR termuda saat itu. Dialah mahasiswa pertama yang diangkat menjadi anggota parlemen (DPR-GR). Harapan dan idealismenya untuk ikut berperan melakukan modernisasi politik dan demokratisasi, mendorongnya ikut bergabung mendirikan Golongan Karya (Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Golkar
) untuk membawa perubahan dari Orde Lama ke Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
. Tapi harapan dan idealisme melalui Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Golkar
itu semakin lama semakin pupus.

Maka sejak 1994, dia kembali bekerjasama dengan gerakan reformasi saat itu. Lalu tahun 1997 bergabung dengan PDI Presiden Republik Indonesia Kelima (2001-2004)
Presiden Republik Indonesia Kelima (2001-2004)
Megawati Soekarnoputri
dan menjadi Wakil Ketua Balitbang PDI Mega. Kemudian dalam Pemilu 1999, dipercaya sebagai Ketua Panitia Pemilihan Indonesia (PPI). Dia memimpin pelaksanaan Pemilu 1999 yang merupakan pemilu paling demokratis pertama sejak 1955. Lalu, dia terpilih menjadi anggota MPR/DPR Fraksi PDI-P.

Setelah mengabdi selama 34 tahun di MPR/DPR, dia ditugaskan sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan (dari 2004 s/d awal 2008). Atas pengabdiannya, alumnus John F. Kennedy School of Government - Harvard University, ini dianugerahi beberapa bintang penghargaan.

Dalam setiap jabatan politik dan kenegaraan yang diembannya, Jakob Tobing selalu memaknainya sebagai tugas (kewajiban) untuk turut melayani. Sebab, penerima penghargaan Bintang Ganghwa Medal, First Class, Order of Diplomatic Services, Republic of Korea, 2008, ini menyadari bahwa setiap tugas yang pernah dipercayakan kepadanya itu seperti datang sendiri menghampirinya, bukan sesuatu yang dia kejar dengan segala daya upaya dan cara. Maka dia selalu berusaha memahami pasti ada campur tangan Tuhan dalam setiap perjalanan hidupnya.

Lihat Daftar Tokoh Politisi
Lihat Daftar Tokoh Politisi
politisi
yang hoby mendengar musik, menyanyi, dan koor (gerejawi), ini yakin pasti ada kuasa Ilahi yang menggerakkan teman-teman dan banyak orang untuk mendukungnya. Oleh karena itu pula, dia yakin pasti ada maksud Tuhan atas berbagai kepercayaan yang diberikan kepadanya, yakni untuk turut melayani sesama, menggarami dan menerangi. Hal ini pulalah yang mendasari dia memberi judul buku memoar politiknya (semi-otobiografi): Berusaha Turut Melayani (Konstitusi Press 2008).

Dia memang seorang Lihat Daftar Tokoh Politisi
Lihat Daftar Tokoh Politisi
politisi
pelayan. Gaya hidupnya bersahaja, tutur katanya terukur, menjunjung tinggi etika politik, dan selalu berupaya melayani. Dia Lihat Daftar Tokoh Politisi
Lihat Daftar Tokoh Politisi
politisi
yang memiliki integritas dan dedikasi serta teguh pada prinsip (demokrasi) sesuai dengan nilai-nilai dasar (azas) bernegara, Pancasila dan UUD 1945. Dalam takaran ini, tak berlebihan bila disebut dia seorang politisi pelayan yang berjiwa negarawan.

Kualitas pelayanan politiknya sangat teruji, terutama tatkala dia memimpin Badan Pekerja MPR selaku Ketua Panitia Ad-Hoc I Badan Pekerja MPR, Amandemen UUD 45, 1999-2004 dan Ketua Komisi A Sidang Tahunan MPR-RI tahun 2000, 2001, 2002, dan 2003 yang membahas Amendemen UUD 1945.

Khususnya tentang beberapa masalah krusial dan dianggap sensitif, seperti Pasal 29 UUD 1945, yaitu mengenai adanya usulan dimasukkan atau tidak, tujuh kata dari Piagam Jakarta ke pasal 29 tersebut. Pasal ini sudah dianggap krusial dan sensitif sejak awal penetapan UUD 1945, sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan, tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Kala itu, para founding fathers tersebut, akhirnya sepakat, ketujuh kata dari Piagam Jakarta itu tidak dimasukkan.

Lalu ketika Badan Konstituante, sejak 1956 sampai 1958 berusaha menetapkan UUD baru sebagai pengganti UUDS 1950, juga menghadapi beberapa masalah krusial dan sensitif itu, antara lain menyangkut isi Pasal 29 tersebut. Badan Konstituante akhirnya gagal melaksanakan tugas konstitusionalnya. Sehingga Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Presiden Soekarno
mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 [1] yang antara lain menetapkan berlakunya kembali UUD 1945 (yang ditetapkan pada 18 Agustus 1945).

Setelah reformasi bergulir 1998, mengalir deras keinginan dari berbagai pihak untuk mengamandemen UUD 1945, termasuk kembali adanya keinginan sebagian pihak untuk memasukkan tujuh kata Piagam Jakarta itu ke dalam Pasal 29. Dalam situasi inilah Jakob Tobing, anggota DPR/MPR dari Fraksi PDI-Perjuangan, terpilih menjadi Ketua Panitia Ad-Hoc I Badan Pekerja MPR, Amandemen UUD 45, 1999 – 2004 dan Ketua Komisi A Sidang Tahunan MPR-RI tahun 2000, 2001, 2002, dan 2003 yang membahas Amendemen UUD 1945.

Jacob Tobing merasakan betul bagaimana tajamnya perdebatan sesama anggota MPR ketika gagasan amandemen UUD 1945 dibahas. Pada rapat-rapat Panitia Ad Hoc Badan Pekerja MPR acapkali perdebatan meruncing, sejak amandemen pertama tahun 1999 hingga amandemen keempat pada 2002, khususnya bila menyangkut pasal-pasal krusial dan sensitif yang selama ini juga menyulut perdebatan.

Namun, pada kesempatan inilah Jakob Tobing menunjukkan kualitas pelayanan politiknya: Bersahaja, beretika, memiliki integritas, dedikasi dan teguh pada prinsip keberagaman dan kebersamaan serta prinsip kenegaraan. Kendati mendapat banyak tantangan, akhirnya para anggota MPR dengan terbuka dan dalam rasa persaudaraan yang tinggi menyepakati masalah yang sempat dianggap krusial itu sudah dianggap selesai sejak tanggal 18 Agustus 1945, sehingga Pasal 29 UUD 1945 tidak mengalami perubahan.

Perubahan (amandemen) UUD 1945 banyak mengalami perubahan dan telah menjadi dasar modernisasi politik (demokratisasi) Indonesia. Terutama telah mengenai mengurangi kekuasaan Presiden yang tadinya begitu luas sehingga berpotensi otoriter sekaligus memperkuat kewenangan DPR sehingga tercipta checks and balances. Sehingga tidak executive heavy dan juga tidak parliamentry heavy. Sebab kekuasaan tak terbatas MPR (lembaga tertinggi negara) pun diubah statusnya menjadi cukup lembaga tinggi negara. Kewenangan MPR sebagai pengadilan politik diserahkan melalui proses ke MK.

Proses Pengasuhan
Gaya hidup pelayan, bersahaja, beretika, memiliki integritas, dedikasi dan teguh pada prinsip itu diwarisi dari kedua orang tuanya, Heinrich Lumbantobing dan Riasaur boru Hutagalung. Orang tuanya mengasuhkan bahwa seseorang itu harus berani mengatakan ya atau tidak, yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Dan, apabila menerima suatu tugas haruslah melaksanakannya dengan penuh bertanggung jawab sebaik mungkin. Nasihat inilah yang selalu menuntunnya setiap kali mengemban tugas, baik dalam karir politik kenegaraan maupun pergerakan organisasi dan pelayanan sosial.

Jakob sejak kecil diasuh dalam keluarga yang taat beragama dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan berbagai kearifan lokal. Pria berdarah Batak, kelahiran Reteh-Kotabaru, Riau, 13 Juli 1943, ini semasa kecil mengecap pendidikan Sekolah Rakyat dan SMP di Bukittinggi (SRL IX /SGB, Bukittinggi, 1955 dan SMP Negeri II, Bukittinggi, 1958).

Sejak kecil Jakob memang sudah gemar membaca. Saat kecil di Bukittinggi dia sudah terdaftar sebagai anggota perpustakaan rakyat, yang kebetulan berada dekat rumah. Kala itu, berbagai macam buku telah dibacanya, mulai dari buku-buku karya pengarang luar negeri Karl May, seperti Winnetou Gugur, cerita tentang Old Shattehand, Suku Mohawk Tumpas, juga buku bendera Hitam dari Quarazan. Tentu juga buku-buku karya pengarang Indonesia. Seperti, Anak Perawan di Sarang Penyamun, Salah Asuhan, Di bawah Lindungan Ka'bah, dan sebagainya. Dia juga gemar membaca Komikus
Komikus
komik
-Komikus
Komikus
komik
karya RA Kosasih seperti Sri Asih, serial Ramayana, atau Flash Gordon karya Dan Barry dan masih banyak lagi.

Lalu, selepas pemberontakan PRRI-Pemesta, keluarganya pindah dari Bukittinggi ke Tanjung Pinang. Beberapa bulan kemudian, pada Febuari 1960 pindah lagi ke Bandung. Di kota kembang inilah dia melanjut ke SMA 2B, Jl. Belitung, Bandung. Sebuah sekolah (SMA) favorit (unggulan) kala itu. Maka, dia sangat merasa bersyukur bisa diterima di SMA 2B Jalan Belitung itu. Dia masih ingat, pada Februari 1960, bersama ayahnya menghadap Kepala Sekolah, Mohamad Entum, memohon agar Jakob diterima menjadi murid di sekolah itu. Beruntung, rupanya ada satu kursi kosong, maka dia langsung diterima hari itu juga. Padahal biasanya sangat sulit untuk diterima di SMA tersebut.

Namun, setelah masuk, Jakob sempat merasa kesulitan mengikuti pelajaran. Karena masa perang PRRI, mata pelajaran yang dia pelajari di sekolah sebelumnya, jauh tertinggal dibandingkan mata pelajaran di SMA Belitung. Sementara tidak cukup waktu baginya untuk mengejar ketertinggalan menjelang ujian kenaikan kelas pada pertengahan Februari itu juga. Sehingga, Jakob tinggal kelas. Rapornya banyak angka merah. Namun untuk mata pelajaran eksakta, dia tetap memperoleh angka sembilan.

Selepas tamat SMA (1962), Jakob melanjut kuliah di Jurusan Arsitektur ITB Bandung, 1962 – 1968, hingga meraih Sarjana Muda. Gelar sarjana (S-1) diraih dari STIA – LAN, Jakarta, 1976 dan Fakultas Ekonomi (extension) Universitas Indonesia, 1976 – 1977 serta School of Economics, Colorado University, USA, 1979. Kemudian memperoleh gelar MPA (S-2) dari Harvard University, John F Kennedy School of Government, Cambridge, Massachusetts, USA, 1980. Sempat menempuh Program Doktor (S-3) Universitas Indonesia, 1982, namun tidak selesai. Kemudian, dia menempuh Program on Investment Appraisal and Project Management, Harvard University, 1985 dan Visiting scholar Harvard University, 1993.

Hidupnya Adalah Politik (Pelayanan)
Jakob Tobing sudah aktif sebagai Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
mahasiswa sejak kuliah di ITB. Dia telah aktif di Dewan Mahasiswa ITB (1963-1964). Menjabat Sekretaris Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Bandung (1964-1965). Kemudian sebagai Ketua DPD Mahasiswa Pancasila Jawa Barat (1965-1966) dan Ketua DPP Mahasiswa Pancasila (1966-1968).

Lalu ikut aktif sebagai Pendiri Kesatuan Aksi Mahasiswa Konsulat ITB (1966) dan Pendiri Kesatuan Aksi Mahasiswa Cabang Bandung (1966) bersama Sarwono Kusumaatmadja, Sutan Siregar, Djoko Sudiyatmiko, Rachmat Witoelat dan lain-lain. Serta di Jakarta bersama Cosmas Batubara, Nono Anwar Makarim, David Napitupulu dan lain-lain. Bahkan Jakob aktif sebagai Ketua (pengganti) KAMI Pusat, Jakarta (1967-1968). Peran aktif dalam pergerakan menumbangkan Orde Lama inilah yang mengantarkannya menjadi anggota parlemen.

Suami Dra. Adriana Sitohang, Apt dan ayah dari 4 orang anak, ini telah menjadi anggota parlemen sejak 1968. Dialah mahasiswa pertama yang masuk parlemen sebagai anggota DPR/GR termuda 1968-1971, pada usia 24 tahun. Alumni Sarjana Muda Aristektur Institut Teknologi Bandung (ITB, 1962-1968), ini aktif selama 34 tahun sebagai anggota parlemen. Yakni 29 tahun sebagai Anggota DPR-GR/MPR-S, Fraksi Karya Pembangunan C (1968-1971) dan Anggota DPR-RI/MPR-RI, Fraksi Karya Pembangunan (1971-1997), serta lima tahun sebagai Anggota DPR-RI/MPR-RI Fraksi PDI-Perjuangan (1999-2004).

Sebagai seorang politisi, Jakob juga aktif di kepengurusan organisasi politik (partai politik). Dia aktif di kepengurusan DPP-Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Golkar
, 1973– 1978; Ketua Departemen Pemuda, Mahasiswa dan Cendekiawan DPP GOLKAR, 1978 – 1983; Ketua Departemen Organisasi, Keanggotan dan Kaderisasi (OKK) DPP GOLKAR, 1983 – 1988; dan Ketua DPP GOLKAR bidang OKK dan Pemenangan Pemilu, 1988 – 1993. Kemudian, Jakob melepas baju kuning Golkar dan menggantikannya dengan baju merah PDI-Perjuangan. Dia pun menjabat Wakil Ketua Litbang DPP-PDI Perjuangan, 1997 – 1999 mendampingi Menko Ekonomi RI, 1999-2000
Menko Ekonomi RI, 1999-2000
Kwik Kian Gie
.

Selama di parlemen (Senayan), pria yang gemar berolahraga golf, fitness, dan berenang, ini telah mendedikasikan diri sebagai politisi pelayan dalam berbagai jabatan dan kegiatan. Antara lain sebagai Ketua Komisi VI DPR-RI, Pertambangan-Perindustrian dan Penanaman Modal, 1971 – 1979; Pengusul usul inisiatif "Jakob Tobing dan kawan-kawan", DPR-GR, 1972; Ketua Panitia Khusus (Pansus) DPR-RI untuk penyusunan Repelita II, 1972; Anggota delegasi Parlemen se-dunia (IPO), Geneva, 1972; Anggota delegasi OPEC Conference, Bali, 1976; Anggota delegasi OPEC Conference, Caracas, Venezuela, 1977; Anggota delegasi Republik Indonesia Sidang Umum PBB, New York, 1977; Anggota delegasi Parlemen ASEAN (AIPO), Kuantan, Malaysia, 1988; dan Wakil Ketua FKP-DPR-RI bidang Ekonomi dan Keuangan 1980 – 1983.

Penerima Satya Lencana 25 tahun DPR-RI (1997) ini juga aktif melayani sebagai Anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Pusat, 1987 dan Wakil Ketua Panitia Pengawas Pemilu Pusat 1992. Pada era reformasi dia terpilih menjadi Anggota DPR-RI/MPR-RI Fraksi PDI-Perjuangan, 1999 – 2004. Dia pun berkiprah sebagai Anggota KPU Pusat, 1999 – 2002; Ketua Panitia Pemilihan Indonesia (PPI), 1999 dan Anggota delegasi Parlemen Asia-Pacific, Canberra, Australia, 2001.

Pelayanannya yang amat strategis adalah ketika dia menjabat Ketua Panitia Ad-Hoc I Badan Pekerja MPR, Amandemen UUD 45, 1999 – 2004 dan Ketua Komisi A Sidang Tahunan MPR-RI tahun 2000, 2001, 2002, dan 2003. Dalam jabatan ini, tampaknya dia menemukan kembali harapan dan idealismenya untuk mewujudkan demokratisasi di Indonesia.

Kemudian pada tahun 2004, dia dipercayakan menjabat Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Korea, Seoul, 2004 – 2008. Jabatan diplomatic yang diembannya dengan baik hingga awal tahun 2008. Pada saat menjabat Dubes itu, dia pun berperan sebagai Anggota delegasi RI pada Asia Pacific Economic Conference (APEC), Pusan, South Korea, 2005.

Selepas menjabat Dubes, penerima penghargaan Ganghwa Medal, First Class, Order of Diplomatic Services, Republic of Korea (2008), ini pun didaulat menjabat Presiden Institut Leimena,[2] Jakarta, dan Penasehat Forum Konstitusi,[3] sejak 2008 sampai sekarang (saat bio singkat ini ditulis November 2010).

Selain itu, Jakob juga pernah aktif sebagai dosen luar-biasa FISIPOL – Universitas Indonesia, 1982 – 1991. Pendiri dan Wakil Ketua Yayasan Kerukunan dan Persaudaraan Kebangsaan (YKPK), 1994 – 1998. Juga sebagai Ketua Majelis Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah, 1997 – 1999; Anggota Yayasan Universitas Kristen Indonesia, 1995 – 2001; dan Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia, 2001 – 2004.

Atas berbagai pengabdian dan palayanannya, Jakob Tobing telah dianugerahi beberapa tanda penghargaan. Di antaranya, Satya Lencana Penegak, 1966; Satya Lencana Wirakarya, 1997; Satya Lencana 25 tahun DPR-RI, 1997; Bintang Mahaputera Utama, 1999; dan Ganghwa Medal, First Class, Order of Diplomatic Services, Republic of Korea, 2008.

Berbagai pengalaman (kisah hidup) dan pandangannya telah dia tulis dalam buku berjudul: Berusaha Turut Melayani, Memoar Politik (semi otobiografi) Jakob Tobing dan Membangun Jalan Demokrasi, Kumpulan Pikiran Jakob Tobing tentang Perubahan UUD 1945. Kedua buku itu diterbitkan Konstitusi Press, Mahkamah Konstitusi (2008) dan diluncurkan di aula Mahkamah Konstitusi, Kamis malam (17/7/2008), sekaligus merayakan hari ulang tahun Jakob yang ke-65.

Perjalanan karirnya, tentu tidak terlepas dari dukungan keluarga. Terutama isterinya yang sejak awal rela mengambil keputusan untuk berhenti kerja dari perusahaan farmasi dan beralih profesi menjadi ibu rumah tangga. Dengan demikian, Jakob bisa lebih fokus dalam pelayanan politiknya, karena dorongan isteri sebagai ibu rumah tangga, terutama dalam mengasuh keempat anaknya.

Di tengah kesibukannya sebagai seorang politisi, isterinya sangat mengerti. Karena sebelum menikah pun, Jakob sudah berkecimpung dalam dunia politik. Dia juga bersyukur, anak-anaknya pun mengerti. Apalagi anak-anaknya tidak ada yang terkena dampak negatif perubahan zaman.

Jakob memang selalu berupaya mengembangkan sikap bersahabat pada anak-anaknya. Di tengah kesibukannya, dia selalu memberi kesempatan berharga sekecil apa pun untuk keluarga. Misalnya, sekadar makan baso atau tamasya ke Ancol. Sehingga interaksi dengan anak-anaknya cukup terjaga.(Pemimpin Redaksi Tokoh Indonesia
Pemimpin Redaksi Tokoh Indonesia
Ch. Robin Simanullang
, TokohIndonesia.com)

Footnote:
{[1] 30 Tahun Indonesia Merdeka, Seri 1950-1964, Sekretariat Negara, Cetakan Keenam, 1985, hlm.142-143
[2] Institut Leimena adalah sebuah lembaga non-profit yang didirikan tahun 2005 yang anatara lain bertujuan mengkaji berbagai kebijakan dan permasalahan publik yang berkembang untuk ikut mendorong kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik, serta memfasilitasi implementasi program-program strategis yang relevan di tengah masyarakat. Dinamai Institut Leimena untuk mengenang Dr. Johannes Leimena (1905-1977), seorang negarawan dan gerejawan Indonesia, serta berupaya meneladani kepemimpinannya yang mengedepankan kasih dan melayani semua kalangan.
[3] Forum Konstitusi adalah sebuah lembaga yang didirikan pada 15 Maret 2005 oleh para Anggota MPR yang terlibat dalam pembahasan Perubahan UUD NRI Tahun 1945 dan Peninjauan Materi dan Status Hukum Ketetapan MPRS dan Ketetapan MPR (1999-2004). Bertujuan untuk mengikuti perkembangan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 agar dapat terlaksana secara konsekuen dalam menghadapi tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara, serta untuk menyumbangkan pemahaman dan pemikiran serta menyebarluaskan pemahaman mengenai Undang-uandang Dasar 1945. Ketuanya yang pertama adalah Harun Kamil. (Pusat Data Tokoh Indonesia)

***TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

Halaman 1 dari 3 All Pages

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 04 Nov 2010  -  Pembaharuan terakhir 25 Feb 2012

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
Beri Komentar

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Sponsorship

Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.

Sponsor Bronze
Sponsor Bronze: US$50
Sponsor Silver
Sponsor Silver: US$250
Sponsor Gold
Sponsor Gold: US$500


Nama para Sponsor akan kami tempatkan di halaman khusus 'Sponsor'. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi kami via Telp/SMS ke 0852-15333-143 atau e-mail ke sponsor@tokohindonesia.com.
 

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: