WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Pejuang Tanpa Pengkotakan Politik

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Pejuang Tanpa Pengkotakan Politik
Saparinah Sadli | TICOM | kompas

Prof Dr Saparinah Sadli yang akrab disapa Bu Sap, masih terlihat segar bugar. Dalam keseharian ia memang masih sangat sibuk bekerja, menggerakkan kaum muda, melobi pemerintah dan jajaran legislatif, demi melapangkan jalan bagi perjuangan keadilan dan perdamaian. Ketua Komisi Nasonal Anti Kekerasan terhadap Perempuan , ini dalam perjuangannya tidak mengotakkan diri pada isu-isu perempuan saja. Ia berjuang melalui segala lini agar perempuan duduk dalam posisi pengambil keputusan.

Ketua Komnas Perempuan, 1998
Lihat Curriculum Vitae (CV) Saparinah Sadli

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Saparinah Sadli

QR Code Halaman Biografi Saparinah Sadli
Bio Lain
Click to view full article
Sampurno
Click to view full article
Rahayu Surtiati Hidayat
Click to view full article
Gesang
Click to view full article
Lidya Kandou
Click to view full article
Erwin Pardede
Click to view full article
Anis Khoirunnisa
Click to view full article
Chaerul Saleh
Skip TOC

Article Index

  1. Pejuang Tanpa Pengkotakan Politik current position
  2. 02 | Pejuang Keadilan untuk Perempuan
  3. 03 | Yang Terpenting Tetap Sehat

Hal inilah mungkin yang mendorong teman-temannya menyelenggarakan dua acara untuk memperingati ulang tahunnya yang ke-80. Tepat pada hari ulang tahun Bu Sap, 24 Agustus 2007. Acara pertama penyerahan Penghargaan Saparinah Sadli kepada Aleta Ba'un dari Timor Barat dan Mutmainah Korona dari Palu.

Penghargaan diberikan kepada pemimpin dari generasi baru yang memiliki ciri seperti Bu Sap, antara lain terbuka dan memimpin dengan tidak memaksa tetapi dapat menggerakkan semua pihak untuk bersatu.

Acara kedua diadakan di Arsip Nasional, Jakarta, Selasa (28/8/2007), oleh Program Studi Kajian Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
, Program Pascasarjana Universitas Indonesia, yang didirikan Bu Sap dan di mana Bu Sap masih mengajar mahasiswa program S-2. Pada acara itu diluncurkan dua buku, Menjadi Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
Sehat dan Produktif di Usia Lanjut, ditulis Bu Sap sendiri, dan Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
Pejuang Menitipkan Pesan, Bagaimana Mengisi Kemerdekaan. Buku yang terakhir disusun Tita Marlita dan Shelly Adelina dengan inspirasi dari Bu Sap.

Empat Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
mewakili perempuan pejuang dari bidangnya masing-masing, yaitu ahli hukum Mendirikan sekolah wanita di Jepara dan Rembang
Mendirikan sekolah wanita di Jepara dan Rembang
Kartini
Muljadi, Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha
Chairman, Chief Executive Officer, dan Pendiri Martha Tilaar Group
Chairman, Chief Executive Officer, dan Pendiri Martha Tilaar Group
Martha Tilaar
, mantan anggota Komite Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memantau pelaksanaan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) Sjamsiah Achmad, dan Menneg Pemberdayaan Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
tahun 1988-1993 Sulasikin Murpratomo, membagi pengalaman dan visi mereka dalam acara itu. Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro-Jakti menjadi moderator.

Pada Hari Ulang Tahunnya yang ke-75 pada 24 Agustus 2002, teman-temannya juga menyelenggarakan Seminar Setengah Hari di Eramus Huis, Kedubes Belanda, Jakarta. Seminar ini membahas topik: "Tanpa Pengkotakan Politik: Menempatkan Perempuan di Pusat Pengambilan Keputusan." Pembicara utamanya, Dr Madhu Kishwar, seorang Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
dan pemikir dari New Delhi, India.

Seminar ini mencoba memberikan wawasan bahwa Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
perempuan sebaiknya tidak terkotak dan mengotakkan diri hanya pada isu perempuan, tetapi memasuki isu yang lebih luas yaitu masuk pada jajaran pengambil keputusan. Pengamatan umum memperlihatkan bahwa partai-partai politik sering memberikan janji-janji manis, tetapi ternyata memanfaatkan perempuan sekadar untuk memperoleh suara. Setelah pemungutan suara berlalu, partai memberikan peran kecil saja, atau menempatkan partisipasi perempuan dalam kotak tertentu, kotak yang dianggap pantas buat perempuan.

Bahkan pemikir politik yang aktif pun akan cenderung berpikir bahwa Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
perempuan sebaiknya berkonsentrasi pada agenda yang terbatas berkait dengan isu-isu ha-hak perempuan. Seperti, masalah kontrasepsi dan aborsi, perceraian, hak milik, hukum-hukum pro perempuan dan strategi untuk melawan kekerasan. Sementara isu-isu lain dianggap menjadi lahannya lelaki.

Disayangkan bahwa banyak organisasi perempuan yang juga menerima pengkotakan ini. Sehingga hanya memusatkan perhatian pada agenda yang sempit. Memang isu-isu perempuan harus menjadi pusat perhatian. Tetapi hanya bersibuk diri dengan itu akan merugikan tujuan jangka panjang. Keterlibatan perempuan pada isu yang lebih luas menyebabkan kegagalan mencapai agenda terbatas yang telah ditetapkan.

Jadi, bila perempuan bersedia maju ke depan untuk berperang melawan tirani dan ketidakadilan, sekaligus bekerjasama dengan laki-laki mengembangkan politik damai dan aturan-aturan yang adil, perempuan akan menjadi pengambil keputusan kunci. Ia akan memobilisasi banyak perempuan lain untuk mengambil peran aktif dalam gerakan demokrasi.

Seperti yang telah diperankan oleh Saparinah Sadli selama ini. Ia telah maju ke depan memperjuangkan isu perempuan dalam kedudukannya sebagai anggota dan Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Kendati ia akhirnya memutuskan tidak melanjutkan keanggotaan karena masalah prinsip.

Kemudian ia menjadi tokoh kunci yang menggerakkan masyarakat menuntut negara menuntaskan penyelidikan mengenai kekerasan seksual yang terjadi dalam tragedi kerusuhan Mei 1998. Tuntutan ini berhasil mendorong presiden saat itu untuk mengeluarkan Keputusan Presiden mendirikan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan pada Oktober 1998. Saparinah dipercayakan memimpin komisi ini sebagai ketua yang pertama.

Saparinah lahir di Tegalsari, 24 Agustus 1927. Ia seorang keturunan ningrat Jawa. Ayahnya seorang bupati. Salah satu hal yang diingat tentang masa kecilnya adalah bahwa sebagai perempuan ia dilarang untuk mengerjakan banyak hal. Sementara saudara-saudara laki-lakinya mendapat kebebasan melakukan apapun. Ia tidak dapat menerima perlakuan tersebut begitu saja. Dan, pengalaman masa kecil itu tidak menyurutkan tampilan pribadinya. Melainkan justeru menguatkan keterbukaan, keberanian, keinginan untuk selalu menjadi corong suara perempuan pada khususnya dan kelompok yang kurang diuntungkan pada umumnya.

Ia seorang akademisi, motivator buat kaum muda, mediator di antara kelompok berbeda, sekligus pejuang HAM, bagi perempuan khususnya dan bagi seluruh umat manusia pada umumnya. Meski pernah mempelajari farmasi sebagai asisten apoteker, bidang ilmu yang kemudian didalaminya adalah psikologi. Ia meraih doktor dan profesor psikologi dari Universitas Indonesia.

Sebagai guru besar ilmu psikologi, ia mulai mendalami psikologi perempuan sejak tahun 1974 ketika keluar buku-buku psikologi perempuan. Saat itu ia menawarkan mata ajaran pilihan psikologi perempuan dan diizinkan oleh dekan waktu itu, Ibu Suwondo. Saparinah berkiprah sampai jabatan tertinggi di fakultas, yang menjadi almamaternya itu. Setelah itu, pada tahun 1990, ia bersama Prof Dr Tapi Omas Ihromi Simatupang mendirikan Program Studi Kajian Perempuan Universitas Indonesia. Lembaga pertama yang menyediakan pendidikan magister Kajian Perempuan (Women's Studies) di Indonesia. Ia mengetuai lembaga ini selama 10 tahun. Selain itu, ia juga mengajar psikologi kriminal di Perguruan Tinggi Ilmu KeKapolri (1968-1971)
Kapolri (1968-1971)
polisi
an.

Isteri Prof Dr Mohamad Sadli ini pada usia 75 tahun masih energik. Ia tiap hari ke kantor Komnas Perempuan. Di kantor itu, ia menaiki tangga tiga lantai. Ia juga masih aktif mengajar. Belum lagi mengikuti rapat dan seminar dibanyak tempat. Dandanannya selalu rapi dan serasi, bahkan dia membiarkan kukunya dihiasi cat yang dilukis bunga oleh ibu penjaja aksesori ketika mengikuti sebuah seminar di Bali. Belakangan, untuk menghindari kelelahan duduk berjam-jam di mobil akibat kemacetan lalu-lintas, dia membatasi diri harus sampai di rumah pukul 17.00.

Tentang pengalaman menjadi Ketua Komnas Perempuan, Saparinah menyebut keterlibatannya terjadi secara tidak sengaja. Menurut Saparinah, tragedi Mei 1998 adalah hal yang menyentuh hati. Ketika itu, banyak orang membuat pernyataan, tetapi tidak ada yang bertindak. Lalu, Saparinah sebagai bagian dari Masyarakat Antikekerasan terhadap Perempuan bersama teman-teman menuntut pemerintah meminta maaf terbuka atas tragedi Mei itu.

"Kami ketika itu sedang di Program Studi Kajian Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
Universitas Indonesia, menyusun surat yang awalnya ingin kami tujukan kepada Panglima ABRI Jenderal Ketua Umum Partai Hanura
Ketua Umum Partai Hanura
Wiranto
(ketika itu). Tetapi, di televisi kami melihat Ketua Umum Partai Hanura
Ketua Umum Partai Hanura
Wiranto
mengeluarkan pernyataan yang membantah telah terjadi pemerkosaan massal. Saya lalu bilang pada Smita (Notosusanto, aktivis perempuan) supaya surat tuntutan permintaan maaf itu ditarik dan ganti dikirimkan kepada Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
Presiden Habibie
," tutur Saparinah.

Awalnya, Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
Presiden Habibie
menolak apa yang disampaikan Masyarakat Anti-Kekerasan terhadap Perempuan bahwa telah terjadi pemerkosaan massal. Akhirnya dalam perdebatan yang berlangsung dua setengah jam itu, Habibie setuju membuat pernyataan bahwa telah terjadi kekerasan terhadap perempuan setelah dia teringat salah satu kerabat perempuannya juga bertutur hal yang sama. Dua minggu kemudian Komnas Perempuan dibentuk, dan Saparinah didaulat oleh berbagai pihak untuk memimpin lembaga tersebut.

"Pembentukan Komnas Perempuan adalah momen yang sangat bersejarah karena untuk pertama kalinya negara mengakui bahwa terjadi kekerasan terhadap perempuan dan kekerasan tersebut merupakan pelanggaran terhadap HAM," kata Ibu Sap, panggilan akrab Saparinah Sadli.

Ke depan, Saparinah melihat bahwa tantangan Komnas Perempuan semakin berat karena masalah yang makin beragam. Apalagi tentara bersikap bahwa tugas tentara adalah berperang. "Itu, kan, artinya tidak ada dialog. Dalam situasi seperti itu, perempuan selalu berada dalam posisi terjepit: Kehilangan suami, anak, rumah, harta benda, jadi korban kekerasan karena dia perempuan," kata Saparinah.

Tantangan terberat adalah memberi pengertian kepada berbagai pihak dan masyarakat bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah kriminal dan pelanggaran terhadap HAM.

Hal lain, Komnas Perempuan harus tampil sebagai komisi nasional, bukan lembaga swadaya masyarakat. Dalam praktiknya, Komnas Perempuan memang banyak bekerja bersama pemerintah meskipun bukan dalam arti membela tindakan pemerintah. Misalnya, mendorong supaya Ruang Pelayanan Khusus (RPK) di kantor-kantor Kapolri (1968-1971)
Kapolri (1968-1971)
polisi
yang menangani kasus perempuan korban kekerasan menjadi bagian dari struktur KeKapolri (1968-1971)
Kapolri (1968-1971)
polisi
an RI. Di RPK ini korban dilayani polisi wanita yang telah dilatih peka terhadap suasana psikologis perempuan korban kekerasan.

Meskipun Saparinah sangat menikmati pekerjaannya, tetapi ia tengah menyiapkan pengganti di Komnas Perempuan. Saparinah optimistis akan ada pengganti yang mengerti tentang misi dan tujuan Komnas karena banyak perempuan bahkan di tingkat komunitas di daerah yang berani memperjuangkan hak-hak dan martabat perempuan agar sederajat dengan mitranya, kaum laki-laki. Menurutnya, Komnas perlu darah segar menghadapi tantangan yang makin beragam. Sementara, ia akan tetap membantu, tetapi tidak dalam jabatan struktural. ti/tsl, dari berbagai sumber

***TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

Page 1 of 3 All Pages

  • «
  •  Prev 
  •  Next 
  • »
© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 02 Sep 2007  -  Pembaharuan terakhir 24 Feb 2012
Anak Petani Yang Bersinar Filsuf Bisnis Keuangan

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Dalam buku ini akan dibahas beberapa bahan pangan penting yang memiliki khasiat ampuh untuk keawetmudaan dan panjang umur.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: