WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Pluralisme, Bukan Sekadar Toleran

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Pluralisme, Bukan Sekadar Toleran
e-ti | pmo

Wacana pluralisme kini kembali memperoleh relevansinya dengan terjadinya berbagai peristiwa yang mengganggu hubungan antarpenganut agama-agama di Indonesia. Namun, pluralisme sering dipahami secara salah dengan menganggap menyamakan semua pandangan agama-agama yang berbeda.

Direktur International Centre for Islam and Pluralism (ICIP)
Lihat Curriculum Vitae (CV) Syafii Anwar

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Syafii Anwar

QR Code Halaman Biografi Syafii Anwar
Bio Lain
Click to view full article
Mangantar Marpaung
Click to view full article
Deding Ishak
Click to view full article
Kristina
Click to view full article
Alim Markus
Click to view full article
Anny Ratnawati
Click to view full article
Jusuf Ronodipuro
Click to view full article
Abdul Mukthie Fadjar

Itu salah besar. Rektor Universitas Paramadina Mulya, Jakarta 1998-2005
Rektor Universitas Paramadina Mulya, Jakarta 1998-2005
pluralisme
itu mengakui keberagamaan orang lain, tanpa harus setuju. Selain itu, yang terpenting, bukan sekadar menjadi toleran, melainkan menghormati ajaran agama orang lain. Dan sadar betul bahwa keberagamaan orang lain itu bagian yang sangat fundamental dan inheren dengan hak asasi manusia, kata M Syafi'i Anwar (52), seorang intelektual Muslim yang sejak lama bergelut dengan Rektor Universitas Paramadina Mulya, Jakarta 1998-2005
Rektor Universitas Paramadina Mulya, Jakarta 1998-2005
pluralisme
.

Syafi'i Anwar mengkhawatirkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan Rektor Universitas Paramadina Mulya, Jakarta 1998-2005
Rektor Universitas Paramadina Mulya, Jakarta 1998-2005
pluralisme
bisa ditafsirkan lain di masyarakat bawah. Hal ini pada gilirannya akan mengganggu hubungan antarpenganut agama-agama.

Konsep pluralisme yang tidak sekadar toleransi, tetapi lebih menuju kepada penghormatan (respect) kepada yang lain (the others), diakui Syafi'i misalnya dikemukakan Klaus-Jurgen Hedrich, salah seorang tokoh Partai CDU (Christian Democratic Union) Jerman Barat yang juga mantan Wakil Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan.

Pendapat Klaus ini saya setujui sepenuhnya. Namun, Islam sendiri sebetulnya juga mengajarkan pluralisme, ujar pria kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 27 Desember 1953, itu.

Akan tetapi, kegiatan untuk memperjuangkan pluralisme tersebut bukannya tanpa hambatan. Ketika memimpin jurnal Ulumul Quran darah saya pernah dihalalkan oleh sekelompok radikal yang meminta mencabut tulisan Cak Nur (Rektor Universitas Paramadina Mulya, Jakarta 1998-2005
Rektor Universitas Paramadina Mulya, Jakarta 1998-2005
Nurcholish Madjid
), tuturnya kepada Kompas pekan ini.

Warga Pendiri Muhammadiyah 1912
Pendiri Muhammadiyah 1912
Muhammadiyah
ini sekarang menjadi Lihat Daftar Direktur
Lihat Daftar Direktur
Direktur
Eksekutif International Centre for Islam and Pluralism (ICIP), lembaga yang mendorong dan mempromosikan pluralisme, toleransi, hak asasi manusia, dan demokrasi.

Di tengah kesibukannya memimpin ICIP, sejak tahun 1999, Syafi'i An`war menyelesaikan studi S-3 di Universitas Melbourne, Australia, dan lulus tahun 2005. Ia menulis disertasi berjudul Negara dan Islam Politik di Indonesia: Sebuah Studi Politik Negara dan Perilaku Politik Pemimpin Muslim Modernis di Bawah Rezim Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
1966-1998.

Disertasi itu berfokus pada berbagai perilaku politik para pemimpin Muslim modernis dalam merespons kebijakan negara di bawah rezim Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
.

Ada dua kelompok Islam yang bisa bertolak belakang satu sama lainnya, yakni progresif-liberal, dan puritanisme-konservatif. Bagaimana pendapat Anda?

Munculnya kelompok liberal ini sebagai reaksi dari keberadaan kelompok Islam garis keras. Kelompok garis keras ini dicirikan dengan sikap yang menafsirkan segalanya dengan literal tekstual.

Ciri yang paling menyedihkan adalah dipakainya cara kekerasan, baik secara simbolik maupun fisik. Sikap seperti ini tidak hanya bertentangan dengan hukum nasional, tetapi juga bertentangan dengan hak asasi manusia. Padahal, dalam agama Islam sendiri dilarang.

Akar masalahnya apa?

Pertama, muncul dari paradigma berpikir yang dibentuk oleh tafsir yang literal. Contohnya, dalam kelompok garis keras itu masih percaya orang Yahudi atau Nasrani itu tidak akan berhenti sebelum kamu masuk agamanya mereka. Nah, kalau tafsirnya literal tekstual, jelas akan membentuk sikap garis keras apalagi jika ini kemudian menjadi pola pikir (mindset).

Faktor kedua yang juga mendorong munculnya kelompok ini adalah masyarakat yang tanpa hukum, krisis ekonomi yang berkepanjangan, dan ketidakpastian politik sehingga kelompok garis keras melihat hukum yang tak berjalan ini perlu diganti dengan syariah sebagai alternatif. Ini dilihat mereka sebagai obat mujarab yang bisa dipakai untuk menyelesaikan semua masalah.

Apakah juga karena faktor paradoks globalisasi?

Ya, secara struktural adanya ketakadilan politik global, terutama di Timur Tengah, khususnya krisis Israel dan Palestina, serta sikap standar ganda AS.

Globalisasi, dalam satu segi positif. Namun, pada saat yang sama juga menyebabkan hal yang negatif. Di antaranya, terjadinya alienasi terhadap masyarakat, yang kemudian menimbulkan resistensi yang tinggi. Terutama karena kita melihat adanya ketidakadilan global, pendapatan, kontribusi dalam diskursus.

Pada saat yang sama agama tidak muncul sebagai solusi, tetapi menjadi sarana pelarian dari persoalan. Kelompok garis keras ini ingin segera keluar dari masalah dan mencari jawaban di agama dan membentuk resistensi diri yang memperkuat identitas diri yang hanya memperkuat keakuannya dan menghilangkan keberagaman.

Bagaimana cara menjembatani dua kelompok itu?

Munculnya kelompok-kelompok progresif-liberal, seperti Jaringan Intelektual Muda Pendiri Muhammadiyah 1912
Pendiri Muhammadiyah 1912
Muhammadiyah
, Jaringan Islam Liberal (JIL), karena melihat cara-cara garis keras tidak benar.

Persoalannya, apa yang dilakukan teman-teman di JIL ini memang mendekonstruksikan semua hal dalam Islam.
Dekonstruksi terhadap syariat, dekonstruksi terhadap teks, pada beberapa aspek memang menghasilkan hal yang positif karena mengembangkan diskursus, tetapi pada level di masyarakat bawah menjadi shock.

Kritik saya, sebagai sesama pendukung Islam progresif-liberal, adalah dalam melakukan dekonstruksi kurang diimbangi oleh metodologi yang kuat. Yang dilakukan hanyalah dekonstruksi, tetapi tidak diiringi dengan rekonstruksi.
Makanya, saya lebih senang menggunakan istilah pluralisme. Dalam Islam sendiri, pluralisme diberikan tempat. Ada Syiah, Sunni, dan sebagainya.

***

Pendidikan pluralisme
Syafi'i Anwar percaya, untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang keragaman keberagamaan, solusinya adalah pendidikan pluralisme dan multikulturalisme di sekolah-sekolah.

Usulan pendidikan pluralisme itu berasal dari sambutannya di Regional Conference yang diselenggarakan ICIP bekerja sama dengan Uni Eropa pada 25-28 November 2004.

Terlebih lagi ide tersebut sejalan dengan Deklarasi Bali tentang Membangun Kerukunan Antar-agama dalam Komunitas Internasional dari 174 tokoh Asia-Eropa yang mengikuti dialog antar-agama 21 Juli 2005. Dalam deklarasi itu diusulkan antara lain membuat kurikulum di sekolah lanjutan mengenai studi antar-agama, yang dimaksudkan untuk menumbuhkan pemahaman dan saling menghormati antarpemeluk agama yang berbeda-beda.

Bagaimana menyatukan di dalam semangat pluralisme jika di masing-masing kelompok itu saling melecehkan?
Menurut saya, solusi yang paling jitu adalah melalui pendidikan pluralisme dan multikulturalisme. Hanya melalui pendidikanlah orang bisa mengubah mindset-nya. Saya percaya betul dengan pendidikan pluralisme. Namun, karena psikologi masyarakat Indonesia, untuk membicarakan level teologi akan lebih baik jika sudah masuk SMA atau perguruan tinggi. Yang terutama diajarkan adalah sejarah agama- agama. Saya kira orang yang tahu sejarah agama-agama tidak akan pernah menjadi radikal.

Itulah yang sedang dikerjakan oleh ICIP, seperti membuat program di televisi tentang dialog antar-agama. Juga pendidikan jurnalistik pluralisme.

Masa depan pluralisme dan multikulturalisme di Indonesia seperti apa?

Tidak selayaknya orang Islam mengklaim mayoritas karena sejak awalnya, masuknya Islam ke Indonesia melalui dakwah kultural, tak melakukan pendekatan yang mengutamakan syariah. Bahkan, unsur sufisme, tasawuf, sangat besar dalam mengembangkan Islam di Indonesia karena Islam harus beradaptasi dengan kultur lokal. Harus beradaptasi dengan kepercayaan- kepercayaan dan kebijaksanaan lokal (local wisdom) lainnya.

Karena itulah, kalau kemudian Islam menjadi mayoritas, tidak selayaknya mereka menilai rendah kepada minoritas. Nah, itu yang harus disadari. Karena itulah, di Indonesia yang menjadi negara dengan mayoritas Muslim tidak selayaknya menekan minoritas.

Sayangnya, dakwah Wali Songo yang terbukti dalam sejarah berhasil menyebarkan Islam melalui kultural harusnya menjadi contoh. Bagaimana Sunan Kalijaga memasukkan unsur Islam dalam cerita pewayangan. Tentu itu harus bisa dijadikan pengalaman berharga dalam melakukan dakwah.

Bagaimana prospek politik Islam Indonesia ke depan?

Dari Pemilu 1999, ternyata mereka yang menggaungkan partai Islam terpuruk, di Pemilu 2004 juga menurun. Kecuali Partai Keadilan Sejahtera (Ketua MPR-RI 2004-2009
Ketua MPR-RI 2004-2009
PKS
) yang naik, tetapi tidak membawa isu Islam secara spesifik.

Ketua MPR-RI 2004-2009
Ketua MPR-RI 2004-2009
PKS
menggunakan semboyan kampanye bersih dan peduli. Ketua MPR-RI 2004-2009
Ketua MPR-RI 2004-2009
PKS
bagus organisasinya, selain pengurusnya banyak menjunjung moral. Tidak menerima sogokan, mereka menonjol di tengah partai sekuler yang banyak korup.

Namun, harus dicatat, mampukah PKS tidak memperjuangkan syariah? Kalau itu diperjuangkan, mereka akan kehilangan dukungan lagi. Saya khawatir PKS akan seperti PAS (Partai Islam Semalaysia) di Malaysia.

Saya mengharapkan partai Islam itu inklusif, pluralis, terbuka. PKS itu punya potensi untuk inklusif, mereka berpendidikan, bisa diajak dialog, serta punya modal dan keinginan untuk maju.

Fundamentalisme itu dalam istilah adalah ideologi luar pagar. Ketika masuk pemerintahan, mereka akan akomodatif. Masyarakat Indonesia itu sangat plural. Kalau memaksakan kehendak, akan menghancurkan dan menimbulkan konflik yang luar biasa. (Oleh: SUBUR TJAHJONO dan IMAM PRIHADIYOKO) e-ti/tsl

***TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

Page 1 of 4 All Pages

  • «
  •  Prev 
  •  Next 
  • »
© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 26 Jun 2006  -  Pembaharuan terakhir 25 Feb 2012
Kisah Si Kabayan Simbol Keteladanan Polri

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Rendi Suhandinata, kepala biro di sebuah instansi pemerintah, mati terbunuh secara misterius. Satu-satunya petunjuk yang ditemukan hanyalah jejak berdarah sepatu wanita yang menjurus ke sebuah lemari.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: