Wikipedia

Kompas

Tempo

Antara

YouTube

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan ke sdm at tokohindonesia.com

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com if you CARE

Berita Tokoh Monitor

KPK-Hukum

Bisnis-Entrepreneur

Internet-Social Media

Budaya-Sastra

Mancanegara

Olahraga

Gaya Hidup

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Sejarawan dan Peneliti

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Sejarawan dan Peneliti
Taufik Abdullah | TokohIndonesia.com | tempo

Mantan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) iniĀ  seorang sejarawan dan peneliti yang teguh berpegang pada etika ilmiah. Pria kelahiran Bukittinggi, 3 Januari 1936, lulusan Jurusan Sejarah Fakultas Sastra & Kebudayaan UGM Yogyakarta (1961) dan doktor (S3) Universitas Cornell, Ithaca, AS (1970), ini senang menjadi peneliti, karena merasa tidak terpasung pada birokrasi.

Ketua LIPI (2000-2002)
Lihat Curriculum Vitae (CV) Taufik Abdullah

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Taufik Abdullah

QR Code Halaman Biografi Taufik Abdullah
Bio Lain
Click to view full article
William Wongso
Click to view full article
Syaukani HR
Click to view full article
Rizal Nurdin
Click to view full article
Syafii Maarif
Click to view full article
Kestity Pringgoharjono
Click to view full article
Ratu Atut Chosiyah
Click to view full article
Sindudarsono Sudjojono
BERITA TERBARU
Skip TOC

Article Index

  1. Sejarawan dan Peneliti current position
  2. Anugerah Doktor HC dari UI

Menurutnya seorang peneliti dituntut untuk berpegang teguh pada etika ilmiah. Karena itu, diperlukan kejujuran, sehingga tercapai integritas intelektual. Sikap wajar diperlukan, di samping rasional dan jernih dalam berpikir -- sikap yang bukannya tidak mengundang risiko.

Prof Dr Taufik Abdullah menganggap sejarawan Indonesia masih terbelenggu pada asumsi-asumsi teoretis maupun primordial. Posisi sejarawan hendaknya netral, dan menjaga jarak dari sasaran penelitian, sehingga dapat memberi makna obyektif terhadap realitas.

Dipandang dari segi peranan kaum intelektual, masa Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
, di mata Taufik, terbagi dalam tiga periode. Masa 1966-1974 merupakan periode kreatif-produktif bagi kaum intelektual. Dalam periode itu berbagai masalah strategi pembangunan dibicarakan. Masa 1974-1978 merupakan periode transisi. Di sini, dilihatnya, ada kecenderungan kaum teknokrasi makin dihargai. Yang dihargai, menurut dia, bukan gagasan mereka, tetapi pelaksanaannya. Periode 1978 hingga sekarang, peranan intelektual semakin diambil oleh penguasa. ''Akibatnya, kesegaran berpikir berkurang, dan eksesnya merangsang untuk bertindak radikal,'' kata Taufik.

Taufik menolak pendapat ahli sejarah modern Indonesia dari Prancis, Dr Jacques Leclerc, bahwa sejarawan Indonesia sering melakukan pembunuhan dua kali terhadap tokoh sejarah bangsanya -- dengan mengucilkannya, karena tidak disenangi oleh kelompok tertentu, dan kemudian bersikap diam terhadap keadaan itu. Kata Taufik, sejarawan memiliki perhatian berbeda terhadap suatu bidang kajian -- yang menyukai dinamika sosial misalnya, tidak bisa dipaksa memperhatikan tokoh-tokoh sejarah.

Menganggap sastra sangat dekat dengan sejarah, ia berpendapat bahwa, ''Perang terlalu besar untuk diberikan pada jenderal saja, dan sastra terlalu penting dibiarkan untuk sastrawan saja!'' Mengingatkan bahwa sejarawan terkemuka pastilah seorang literer, baginya sendiri novel memperkaya pengertian tentang dinamika dan sejarah.

Sebagai peneliti, suami dari Rasida dan ayah tiga anak, ini bekerja tanpa terikat waktu. Pulang dari kantornya di Jalan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat
Wakil Kepala Staf Angkatan Darat
Gatot Subroto
, Jakarta, ia meneruskan kesibukan di rumah. ''Kadang-kadang, malam Minggu, saya sendirian ke Cipanas, biar konsentrasi,'' katanya. Termasuk untuk merampungkan buku barunya, Pengantar ke Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejahteraan Rakyat (1978-1983)
Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejahteraan Rakyat (1978-1983)
sosiologi
Moralitas. Sekitar 30 karya tulis yang sudah lahir duluan, termasuk Islam di Asia Tenggara (LRKN-LIPI, 1976). Disertasi gelar doktornya, Scholl and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra, diterbitkan oleh Universitas Cornell, 1971.

Sejak SD ia rajin dan tekun belajar. ''Bukan yang terpandai,'' kata Taufik Abdullah sebagaimana dirilis PDAT. ''Tapi pokoknya termasuk dalam kelompok papan atas.'' Posisi ''papan atas'' tetap didudukinya sampai ia merampungkan studinya pada jurusan sejarah Fakultas Sastra & Kebudayaan Universitas Gadjah Mada.

Cinta kepada ilmu mungkin diwarisi Taufik dari Abdullah Nur, ayahnya. Abdullah, ayah tujuh anak itu, memang seorang pedagang, tetapi gemar membaca. Taufik sendiri akrab dengan dunia bacaan, sejak di SMP. Suatu kali, ia mendapat pinjaman majalah luar negeri, yang penuh gambar. Kagum pada keindahan kota-kota besar seperti New York, Berlin, dan London, anak sulung itu berpikir, ''Siapa tahu nanti bisa terkenal, dan pergi ke luar negeri.''

Belasan tahun kemudian angan-angannya menjadi kenyataan. Dua kali ia mendapat kesempatan memperdalam ilmu di Universitas Cornell, Ithaca, AS. Pertama, 1967, untuk meraih gelar M.A., dan kemudian, 1980, saat menggondol gelar doktor (PhD). Pulang ke tanah air, Taufik memantapkan dirinya sebagai peneliti. Bekas Lihat Daftar Direktur
Lihat Daftar Direktur
Direktur
Leknas-LIPI ini rajin menghadiri berbagai seminar dan pertemuan sejarawan di luar negeri. Ia pernah menjadi wakil presiden Southeast Asian Social Science Association, dan ketua komite eksekutif Program Studi Asia Tenggara. Kini, Taufik tenaga peneliti di LIPI.

Mantan Asisten pengajar Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra UGM (1959-1961), ini mengawali karir di LIPI sebagai Kepala Bagian Umum Majalah Ilmu Pengetahuan Indonesia (Biro MIPI), Jakarta (1962-1963) dan Asisten Peneliti Leknas LIPI (1963-1967). Kemudian menjadi Peneliti Leknas (1967-1974), Lihat Daftar Direktur
Lihat Daftar Direktur
Direktur
Leknas LIPI (1974-1978) dan Peneliti, LeknaswLIPI (1978) sampai menjabat Ketua LIPI.

Sebuah Pilihan
Sebagai intelektual, ia menghasilkan lebih dari 150 artikel di luar tulisannya di berbagai media massa. Lebih dari 50 kata pengantar ditulisnya, khususnya untuk buku berbau sejarah.

Taufik identik dengan sejarah. Pun sebaliknya. Meski tak ada penelitian khusus tentang persepsi masyarakat, zaman telanjur mengidentikkannya dengan sejarah.

Mengenai hal itu, Ketua Masyarakat Guru Besar UGM
Guru Besar UGM
sejarah Indonesia
(MSI) tersebut mengaku tidak tahu. Pencapaiannya saat ini berawal dari sikap yang disebutnya rentetan atas "keharusan logis sebuah pilihan".

Persinggungan dengan ilmu sejarah bermula pada tahun 1954. Bersama kawan-kawannya setamat SMA di Bukittinggi, Sumatera Barat, ia berlayar ke Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
untuk kuliah. Tak jelas jurusan apa yang akan ditekuni.

Pilihan ke Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
terkait dengan sikap politik ayahnya, republiken tulen. Tak ada celah mendebat keputusan ayah yang menginginkannya belajar di pusat pemerintahan nasional kala itu.

Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) akhirnya dipilih setelah diskusi dengan teman-teman seperjalanan dan membaca buku. "Kami membagi jurusan, seolah kami yang akan memerintah negara ini. Waktu itu jumlah lulusan SMA di Sumatera amat sedikit," ujar dia mengenang.

Pilihannya sempat menyulitkan. Kurikulum kuliah sejarah waktu itu tidak fokus. Tak ayal, ilmu psikologi, Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejahteraan Rakyat (1978-1983)
Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejahteraan Rakyat (1978-1983)
sosiologi
, tata bahasa, sejarah, hingga filsafat harus dikuasainya. Belakangan, ia mensyukuri kekacauan sistem pengajaran karena memperkaya wawasan.

Di sana ia menjadi asisten pengajar sejarah Eropa yang kemudian menghasilkan skripsi berbahasa Inggris. Satu-satunya skripsi berbahasa Inggris dalam jurusan sejarah hingga kini. Ia lulus tahun 1962.

"Bukan karena bahasa Inggris saya bagus, tapi pembimbingnya orang Inggris dan India," tutur suami Rasida ini. Tahun 1962-1963 ia menjadi Kepala Bagian Urusan Ilmiah Biro Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) Jakarta.

Gelar master (MA) dan doktor (PhD) diraih di Universitas Cornell, New York, Amerika Serikat, 1970. Disertasinya berjudul "School and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatera (1927-1933)" diterbitkan Cornell Press.

Buku itu menjadi bacaan khusus di beberapa kampus di AS. Hasil pendalamannya, ia menulis modernisasi di Minangkabau dan masuk buku bunga rampai "Culture Politics in Indonesia" karya Claire Holt. Taufik merasa "kecipratan beken" karena karyanya bersanding dengan karya sejarawan Sartono Kartodirjo, Daniel S Lev, dan Benedict Anderson. Kata pengantar ditulis Clifford Gertz.

Penelitiannya di negara lain makin intens pertengahan tahun 1970-an setelah jabatan fungsional sebagai peneliti dicabut dan karier ahli penelitinya dibekukan pemerintah. Itu terjadi pascaprotes atas pemenjaraan tokoh, pendudukan kampus, dan pemberangusan kantor media massa.

Di masa sulit itu ia tercatat mengajar dan meneliti di Departemen Ilmu Politik Universitas Chicago, Universitas Wisconsin, dan Netherlands Institute for Advanced Studies in the Humanities and Social Science (NIAS) Wassenaar. Lalu menduduki posisi penting di institusi lintas bangsa, seperti Ketua Komite Eksekutif Program Kajian Asia Tenggara (ISEAS) Singapura, Wakil Presiden Asosiasi Ilmu Sosial Asia Tenggara Kuala Lumpur, Wakil Presiden Asosiasi Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejahteraan Rakyat (1978-1983)
Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejahteraan Rakyat (1978-1983)
sosiologi
Internasional Dewan Riset Sosiologi Agama. Dan, masih banyak lagi.

Pertengahan tahun 1980-an sanksinya dicabut dan direhabilitasi setelah sempat menyakiti hatinya. "Sudahlah," kenang dia.

Ayah tiga anak yang pernah menjadi Ketua LIPI periode 2000-2002 ini masih terlibat dalam berbagai proyek besar sampai sekarang, seperti naskah buku Guru Besar UGM
Guru Besar UGM
sejarah Indonesia
delapan jilid yang ditargetkan selesai pertengahan tahun. Dia juga mengerjakan tulisan perdebatan peristiwa tahun 1965-1967.

Pertengahan tahun ini ia akan meluncurkan buku yang didanai ISEAS berjudul Indonesia: Towards Democracy di Singapura.

Di usianya sekarang ia mengaku gelisah karena beberapa proyek tidak sempurna dikerjakan dan ia bukan pengajar resmi. Harapannya, muncul sejarawan muda yang berpikiran canggih. Berwawasan luas sebagai dampak "keharusan logis sebuah pilihan". (Kompas, 3 Januari 2006)

Spiral Kebodohan Masih Terjadi
Ketua LIPI Taufik Abdullah saat memberikan sambutan pada presentasi Pemilihan Peneliti Muda Indonesia ke-9 di Cibinong, Jawa Barat, Rabu (29/8/2001) sebagaimana disiarkan KB Antara, mengatakan spiral kebodohan masih terus terjadi di Indonesia sehingga terus menggerogoti kehidupan dan budaya yang semula diagungkan sebagai adiluhung.

Menurutnya, spiral kebodohan terus membesar ketika tindakan kebodohan dibalas dengan kebodohan juga. Dia mengatakan, upaya mencerdaskan kehidupan bangsa seperti semakin menjauh akibat banyak tindakan bodoh yang dilakukan dalam semua lapisan masyarakat, sehingga terus melingkar bagai spiral yang makin membesar setiap hari.

"Bagaimana bisa dibilang cerdas kalau seorang pencuri yang tertangkap malah langsung dibakar?" katanya. Taufik mengatakan, kebodohan dalam kehidupan bangsa ini juga terlihat saat terus-menerus dikumandangkannya slogan `persatuan dan kesatuan'.

"Kalau persatuan itu memang bagus, karena bangsa ini memang terdiri atas berbagai keragaman. Tapi bagaimana mungkin perbedaan itu mau menjadi kesatuan? Kalau kesatuan dalam cita-cita bolehlah," katanya.

Pembicaraan soal negeri ini sebagai warisan nenek moyang, kata Taufik, juga adalah suatu tindakan yang membodohkan, karena negara ini adalah hasil perjuangan, bukan warisan.

Menurut Taufik, saat ini negeri ini juga terus berproses untuk menjadi lebih baik, jadi perlu banyak pemikiran dan ide dari berbagai sumber. "Proses making negara ini tidak bisa diandalkan pada elite-elite politik yang terus-menerus saling cakar," katanya.

Pemilihan Peneliti Muda Indonesia ke-9 dibagi dalam lima bidang, yaitu pengetahuan sosial dan budaya, ekonomi dan manajemen, pengetahuan alam dan lingkungan, teknik dan rekayasa, serta kedokteran dan kesehatan.e-ti, dari berbagai sumber di antaranya PDAT, Kompas dan Antara

 

Halaman 1 dari 2 All Pages

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 03 Jan 2006  -  Pembaharuan terakhir 25 Feb 2012

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
Beri Komentar

Facebook

TIKomen

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Sponsorship

Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.

Sponsor Bronze
Sponsor Bronze: US$50
Sponsor Silver
Sponsor Silver: US$250
Sponsor Gold
Sponsor Gold: US$500


Nama para Sponsor akan kami tempatkan di halaman khusus 'Sponsor'. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi kami via Telp/SMS ke 0852-15333-143 atau e-mail ke sponsor@tokohindonesia.com.
 

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: