WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Si Matahari Studi Kependudukan

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Si Matahari Studi Kependudukan
Masri Singarimbun | TI

Prof Dr Masri Singarimbun, akrab dipanggil Pak Masri dan punya nama kecil Matahari, seorang pakar antropologi sosial dan ahli studi kependudukan. Dia pendiri sekaligus direktur pertama Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM (1973-1983). Pria 'Si Matahari Peneliti Kependudukan' kelahiran Karo, Sumatera Utara, 18 Juni 1931, ini sudah gemar meneliti sejak lulus dari SMA, 1954. Dia meninggal 25 September 1997.

Dosen, Peneliti
Lihat Curriculum Vitae (CV) Masri Singarimbun

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Masri Singarimbun

QR Code Halaman Biografi Masri Singarimbun
Bio Lain
Click to view full article
Vincentius Kirdjito
Click to view full article
Irwan Hidayat
Click to view full article
Binny Buchori
Click to view full article
Felix Tan
Click to view full article
Muhammad Noeh
Click to view full article
Bernard Kent Sondakh
Click to view full article
Urip Santoso

Pak Masri, bersama David H Penny ekonom dari Australia, adalah ilmuwan pertama yang mengangkat kemiskinan sebagai masalah sosial khususnya di pedesaan Jawa dalam buku Penduduk dan Kemiskinan: Kasus Sriharjo (1977). Dia memiliki empati (bela rasa) sangat kuat terhadap kolega yang sedang tertimpa kesulitan maupun masyarakat miskin yang dikajinya.

Pusaat Studi Kependudukan dan Kebijakan, Universitas Gadjah Mada memberi penghormatan kepada dengan menyelenggarakan program Masri Singarimbun Reearch Award. Program "Masri Singarimbun Research Award" memberikan dana penelitian secara kompetitif kepada para peneliti muda Indonesia yang berminat secara lintas disiplin dalam bidang keehatan reproduksi menggunakan perspektif gender.

Pusat Data dan Analisa Tempo menulis Masri mengaku gemar meneliti sejak lulus dari SMA Negeri I Medan, 1954. Ketika itu, Matahari -- nama kecilnya -- menjelajahi banyak desa Karo, mengumpulkan berbagai peribahasa. Hasil penelitian ini menjadi buku berjudul 1.000 Perumpamaan Karo, terbit di Medan, 1962.

Masuk Fakultas Paedagogi UGM tahun 1959, ia kemudian mendapat beasiswa untuk belajar pada Australian National University (ANU), Canberra. Gelar doktor Guru Besar Antropologi pada Universitas Indonesia (1962-1999)
Guru Besar Antropologi pada Universitas Indonesia (1962-1999)
antropologi
diraihnya dari universitas ini dengan disertasi, Kinship, Descent and Alliance among the Karo Batak, 1966.

Sebelas tahun ia menetap di Australia, sempat menjadi pembantu khusus Atase Militer KBRI di Canberra, dan research fellow di ANU. Tetapi, akhirnya ia pulang kandang juga, ''Kami ingin membesarkan dan mendidik anak-anak di Indonesia,'' ujar Masri, yang menikah dengan Irawati, 1959, gadis Semarang teman kuliahnya di Paedagogi UGM.

Masri kemudian dikenal karena berbagai penelitiannya dalam masalah KB. Untuk meneliti hasrat penggunaan kondom, ia mulai dari lingkungan dekatnya. Ditaruhnya sepiring kondom di meja kerjanya, di Fakultas Ekonomi UGM waktu itu, lalu ditulisnya: ''Silakan Ambil'', dan ditinggalkannya pergi. Menjelang tutup kantor, ia kembali, dan kondom itu ternyata tidak digubris orang. Tidak putus asa. Keesokannya ia sengaja tidak masuk kantor. Hari berikutnya, ketika ia masuk kantor, ''kondom itu habis'', ujarnya. Dari perilaku itu, ayah tiga anak ini berkesimpulan bahwa masyarakat sebenarnya punya hasrat besar dalam KB.

Ia pun memberanikan diri memberikan pelayanan permintaan kondom melalui pos. Pasang iklan di harian Kedaulatan Rakyat, Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
, delapan kali antara September dan Oktober 1973. ''Dengan mengirim prangko Rp 30,00 ke Dwijaya, Kotak Pos 85 Yogya, akan dikirim 6w9 buah kondom''. Berhasil, 346 surat datang ke Dwijaya. Tetapi, ada yang kena getah. Tiga orang pelajar putri mencak-mencak karena mendapat kiriman kondom dari Dwijaya. ''Itu ulah tangan usil,'' kata Masri. Dan kegiatan pelayanan kondom lewat pos dihentikan ''karena BKKBN sudah giat,'' katanya.

Penelitiannya mengenai KB membawanya ke bidang demografi. Kala itu, di samping mengajar Guru Besar Antropologi pada Universitas Indonesia (1962-1999)
Guru Besar Antropologi pada Universitas Indonesia (1962-1999)
antropologi
terapan di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM, Masri juga Lihat Daftar Direktur
Lihat Daftar Direktur
Direktur
Pusat Penelitian dan Studi Kependudukan (PPSK) UGM. Ia juga dikenal sebagai kolumnis di berbagai media; Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat. Di majalah Tempo, lebih dari 50 buah tulisannya pernah dimuat.

Karya tulisnya tidak terhitung, apalagi makalahnya. Penduduk dan Kemiskinan: Kasus Srihardjo di Pedesaan Jawa, adalah salah satu bukunya yang terkenal, diterbitkan Bhratara Karya Aksara, Jakarta, 1976. Buku ini terjemahan dari bahasa Inggris yang diterbitkan oleh Universitas Cornell, Ithaca, 1973. Disertasinya diterbitkan oleh University of California Press, Berkeley, AS, 1975.

Dalam Resensi Buku Pustakaloka Kompas Sabtu, 20 September 2003 yang ditulis J Sumardianta, Guru Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejahteraan Rakyat (1978-1983)
Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejahteraan Rakyat (1978-1983)
sosiologi
SMU Kolese de Britto, Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
, bertajuk: Gerilya Melawan Pendangkalan Makna Hidup (Judul Buku: Reflections from Yogya: Portraits of Indonesian Social Life; Penulis: Masri Singarimbun; Editor: Irawati Singarimbun; Penerbit: Galang Press-Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
, 2003; Tebal: xxvii + 448 halaman), disebutkan bahwa Prof Dr Masri Singarimbun, akrab dipanggil Pak Masri, semasa hidupnya (1930-1997) dikenal sebagai pakar Guru Besar Antropologi pada Universitas Indonesia (1962-1999)
Guru Besar Antropologi pada Universitas Indonesia (1962-1999)
antropologi
sosial dan ahli studi kependudukan. Pak Masri, bersama David H Penny ekonom dari Australia, adalah ilmuwan pertama yang mengangkat kemiskinan sebagai masalah sosial khususnya di pedesaan Jawa dalam buku Penduduk dan Kemiskinan: Kasus Sriharjo (1977).

PAK Masri pernah dicap sebagai ilmuwan pesimis gara-gara penelitiannya yang tergolong sensitif saat itu. Ia dituduh menutup mata terhadap hasil-hasil pembangunan. Begitu ada pemberitaan bencana kelaparan di Indramayu, masyarakat di lumbung padi pantura sampai merebus eceng gondok, pelan-pelan orang mulai percaya dengan temuannya. Pendiri sekaligus Lihat Daftar Direktur
Lihat Daftar Direktur
Direktur
pertama Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM (1973-1983) ini memiliki empati (bela rasa) sangat kuat terhadap kolega yang sedang tertimpa kesulitan maupun masyarakat miskin yang dikajinya.

Publikasi yang ditulis dan dieditnya sepanjang tahun 1959 hingga 1997 berjumlah 101. Pak Masri juga menulis sekitar 120-an artikel di berbagai media massa, termasuk di majalah Prisma. Tahun 1992 Balai Pustaka menerbitkan Renungan dari Yogyakarta. Buku ini merupakan antologi tulisan Pak Masri yang pernah dimuat di Tempo, Editor, Kompas, dan Jawa Pos sepanjang 1977 hingga 1992. Reflections from Yogya: Portraits of Indonesian Social Life adalah edisi Inggris Renungan dari Yogyakarta yang dipublikasikan Galang Press. Sejarawan Onghokham berhasil menampilkan kearifan maupun kebejatan masa lalu bangsa Indonesia di media massa. Pak Masri sukses mengurai benang kusut masalah-masalah sosial di surat kabar untuk konsumsi pembaca awam.

Pak Masri mengajak khalayak pembaca merenungkan masalah-masalah seperti birokrasi yang tidak kunjung efisien dan mau melayani, ledakan populasi penduduk, kemiskinan, HIV/AIDS, terorisme seksual, agresi tak terkendali, korupsi, buruknya perpustakaan perguruan tinggi, rendahnya motivasi berprestasi, dan runtuhnya pilar-pilar moralitas. Patologi sosial yang hingga sekarang masih menelikung kehidupan masyarakat Indonesia.

KOLOM merupakan tulisan yang sangat menonjolkan strong personal views. Ciri utama kolom Pak Masri, sebagaimana dituturkan Prof Terence H Huul dari Australian National University, bahasanya populer, langsung menukik ke pokok soal, berlumuran humor di sekujur karangan, reflektif, dan tak lekang zaman. Almarhum Satyagraha Hurip, sastrawan, pernah menganjurkan Pak Masri menulis cerpen mengingat gagrak (genre) story telling tulisannya.

Pak Masri, seperti halnya Pater MAW Brouwer, memang seorang penutur cerita kelas wahid. "Kami, anak-anak, waktu itu melihat tikus sebagai kawan dan makhluk yang menggairahkan. Tikus besar mendatangkan selera makan, lebih enak dari yang berukuran sedang. Tikus ladang lebih lezat dibandingkan tikus yang berkeliaran di rumah. Seperti halnya kodok, tikus juga dibakar. Tikus panggang yang gurih ini boleh dimakan dengan sambal, dan boleh juga digulai. Tidak mustahil salah satu pemecahan hama tikus justru dengan jalan damai. Mencintai dagingnya lalu memopulerkan lauk tikus: tikus bakar, sate tikus, soto tikus, dan sop tikus. Soalnya, daging tikus lebih enak dari daging ayam atau kelinci. Kadar proteinnya pun lebih tinggi." Ini contoh gaya bertutur menggelitik penuh guyonan yang ditulis Pak Masri dalam kolom berjudul Mice and Men. Sebagai bahan perbandingan keripik dan sate bekicot (kodenya 02) sudah menjadi menu makanan favorit masyarakat Kediri dan Blitar, Jawa Timur, yang dihidangkan di warung maupun restoran.

Pertanyaan reflektif senantiasa menyertai tulisan Pak Masri. Jika anjing dan serigala mau mengekang diri, berhenti mencabik-cabik musuhnya yang sudah menyerah tak berdaya, mengapa manusia tega membunuh orang yang sudah tidak berkutik? "Where is the Limit to Aggression?" adalah tulisan pertama Pak Masri di Tempo tahun 1977 yang tetap relevan buat merefleksikan perilaku sebagian masyarakat kita yang ringan senjata di Pejuang dari Aceh
Pejuang dari Aceh
Aceh
, Mantan Sersan Militer Inggris
Mantan Sersan Militer Inggris
Maluku
, Poso, dan Sampit.

Zaman edan, tulis Pak Masri mengutip Ranggawarsita, nek ora edan ora komanan (kalau tidak larut dalam kegilaan tidak kebagian), dalam tulisan berjudul Living Together (Kumpul Kebo). Generasi muda jika terpaksa harus berkawan dengan "setan" lebih baik memilih "setan mini" (alat kontrasepsi) ketimbang "setan maksi" (hamil di luar nikah, aborsi, dan anak haram jadah)? Ini solusi yang ditawarkan Pak Masri dua dekade lalu untuk mengurai benang kusut kehidupan generasi muda yang makin lama perilakunya serba bebas dan serba boleh (permisif). Istilah Pak Masri tiada hari tanpa rangsangan seksual alias tak putus dirundung renjana berahi. Gayung bersambut. Kini anjuran Pak Masri seperti menemukan kebenarannya. Global TV, stasiun TV swasta relay MTV Asia, dengan segmen khalayak pemirsa kaum muda gencar menayangkan iklan kondom dengan aroma buah-buahan Fiesta.

Kebijakan konyol normalisasi kehidupan kampus di zaman Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
diparodikan Pak Masri menjadi tulisan Normalizing the Campus Library (Normalisasi Perpustakaan Kampus) saat mengkritik buruknya pelayanan dan minimnya koleksi perpustakaan yang merajalela di perguruan tinggi Indonesia dan Normalizing the Neck (Normalisasi Leher) untuk mengingatkan bahwa wabah kekurangan yodium juga melanda keluarga para dosen yang tinggal di lingkungan kampus.

"Beginilah riwayat manusia. Dalam situasi terbelakang masyarakat dibebani ketergantungan anak berjumlah besar. Dalam keadaan maju digayuti orang-orang lanjut usia. Namun, masalah keterbelakangan niscaya lebih runyam ketimbang masalah akibat kemajuan. Dengan kata lain, masalah ekonomi akibat struktur umur tua tidak seberapa dibandingkan masalah kemiskinan pada masyarakat terbelakang dengan tingkat kelahiran tinggi," ini renungan filosofis Pak Masri perihal kisah sukses bangsa Jepang menekan laju pertumbuhan penduduk dalam Via the Old Route (Lewat Jalan Kuno).

Ingin tahu sebabnya? Jepang yang begitu jauh di depan memimpin modernisasi, kemajuan teknologi, dan kemakmuran, primitif dalam pemilihan kontrasepsi. Tingkat kelahiran yang rendah dicapai melalui cara kampungan: kondom, sanggama terputus, dan pantang berkala. Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
Jepang gemetar melihat pil anti-hamil dan IUD. Bandingkan dengan Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
di pelosok-pelosok desa Jawa yang buta huruf, fatalistik, berorientasi jangka pendek, pemakan gaplek, kurang need for achievement ternyata konsumen pil KB dan pemakai spiral. Rupanya, semakin tinggi pendidikan kaum urban semakin udik metode KB mereka.

DALAM pandangan Prof Dr Benjamin Nicholas Forbes White, pakar studi pedesaan dari Universitas Amsterdam, Belanda, walaupun buku ini berjudul Reflections from Yogya, it is not a book about Yogyakarta. Hanya sedikit, dari keseluruhan 81 artikel, yang menyinggung hal-hal yang terjadi di sekitar Yogya, bahkan banyak yang tidak menyinggung Indonesia secara langsung, tetapi menceritakan pengalaman Pak Masri di Bangkok, Canberra, Manila, New York, Mesir, Roma, dan India.

Buku klasik ini tetap relevan karena berhasil membuktikan manusia Indonesia, terutama elite politiknya, merupakan manusia hipokrit miskin refleksi. Mentalitas munafik enggan berefleksi inilah penyebab bangsa Indonesia cenderung dan gemar menakik peradaban usang yang menjerumuskan pada pendangkalan makna di pelbagai lini strategis kehidupan. Reflections from Yogya, ditujukan untuk pembaca asing pemula yang hendak mengenal dari dekat kehidupan masyarakat Indonesia dalam bahasa populer dan ringan, enak dicerna mengingat gaya bertuturnya yang khas, menggerakkan pikiran, memiliki daya sentuh, dan gaya gugah. Pendeknya buku yang memiliki gizi rohani tinggi. Nah, yang paling esensial, buku optimis ini mengajak khalayak pembacanya masuk ke relung hatinya yang terdalam supaya tabah menghadapi pergulatan, tegar mengatasi kesulitan dan tantangan, serta berani memeluk risiko.

Kendati demikian, seumumnya bunga rampai buku ini mengidap penyakit bawaan. Berbagai tulisan yang pernah dimuat di media massa, satu hingga tiga dekade lalu, datanya banyak yang sudah usang. Gagasan Pak Masri, kalau di cermati dengan teliti, ternyata juga mengandung inkonsistensi. Pak Masri, sebagai generasi pertama antropolog Indonesia, adalah ilmuwan yang sangat humanis tatkala membicarakan masalah kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan, disparitas jender yang menimpa pemulung, pengamen jalanan, TKW, dan buruh bangunan Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
. Tetapi sebagai pakar studi demografi ia tampil sebagai "pembunuh berdarah dingin" pro-prostitusi dan pengguguran kandungan. Inilah dilema (ketegangan) seorang tokoh etis yang bertekun di wilayah pragmatis. (Sumber: pdat.co.id dan Kompas Sabtu, 20 September 2003) e-ti/tsl

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 18 Jun 2007  -  Pembaharuan terakhir 31 Aug 2012
Dibesarkan Dalam Keluarga Dukun Menteri Pekerjaan Umum

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Ahok-Djarot

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Inilah buku yang siap memandu Anda menjadi dokter anak di rumah Anda sendiri. Di dalamnya, dipaparkan segudang informasi tentang bagaimana menangani penyakit yang kerap menyerang anak, seperti flu, demam, batuk, DBD, diare, cacar air, campak, dan lain-lain.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: