WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia
Gambar QR sudah tersimpan sebelumnya.

Hidup adalah Anugerah Allah

Hidup adalah Anugerah Allah
Usman Ismail | TokohIndonesia.com - Ist

Hidup adalah milik Allah SWT. Hidup di dunia sifatnya hanya sementara. Maka kita harus menerima apa adanya dan jangan 'ngoyo'. Manfaatkan hidup ini sebaik-baiknya dengan seimbang dunia dan akhirat. Sebab, hidup adalah anugerah Allah.

Sesepuh dan Pendiri KADIN Indonesia
Lihat Curriculum Vitae (CV) Usman Ismail

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Usman Ismail

Religius dan bersahaja! Itulah sosok Brigjend (Purn) TNI-AD H.R. Usman Ismail, sesepuh dan pendiri Kamar Dagang dan Industri Indonesia. Hal itu tercermin dari sikap dan penampilan serta pandangan hidupnya tentang kehidupan itu sendiri. Baginya, hidup adalah anugerah Allah dan harus disyukuri dengan menerima apa adanya. Maka, Usman Ismail sangat bersyukur telah dapat melaksanakan ibadah haji pada tahun 2000 karena justru di masa tua baru mampu melaksanakannya.

Ini suatu refleksi kehidupan pribadi seorang tokoh yang kini menikmati hari tuanya dengan makin mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Sementara, dalam hal kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, Usman Ismail pada usia senjanya masih memancarkan semangat prajurit pejuang. Ia, dalam suasana memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-57, melontarkan pertanyaan, mengapa sampai sekarang rakyat Indonesia masih terus memimpikan ratu adil?

Tokoh pendiri Kadin Jakarta dan Kadin Indonesia, kelahiran Labuan Banten 26 Juni 1919, ini sudah mengecap aneka asam garam kehidupan. Ia seorang tokoh yang pantas diukir prestasi dan keteladanannya. Ia sudah melakukan yang terbaik pada usia produktifnya, dengan visi dan misi yang dirangkumnya dalam kata: 'Menyejahterakan rakyat kecil supaya hidup normal'. Bahkan pada saat ini, ketika ia menikmati masa pensiunnya dengan tenang dan apa adanya, ia makin memperdalam keagamaan dan sesekali masih mengikuti kegiatan di Yayasan Buku Utama, yang secara rutin memberikan penghargaan kepada penulis dan penerbit buku terbaik di Indonesia. Jabatan yang masih disandangnya adalah jabatan Anggota Kehormatan Kadin Indonesia dan Ketua Kehormatan Kadin Jakarta.

Pada usia senjanya, Usman Ismail yang kini hidup tenang dan bersahaja di rumah kediamannya di Jalan Besuki 3, Jakarta, bersama istrinya Ny. Hj. Laksmi Nurani Usman Ismail SH, MBA, pensiunan Kepala Dinas Hukum Pertamina dan putrinya Hj. R. Dewi Amaranthi Ismail, mahasiswi Fakultas Teknik Industri dan Fakultas Hukum Universitas Trisakti, masih saja ingin memberi warna kehidupan yang tidak hanya berguna bagi diri sendiri.

Kendati ia memang tidak kuat lagi melakukan sesuatu untuk mengejawantahkan visi dan misinya: Menyejahterakan rakyat kecil supaya hidup normal. Namun ia berharap upaya menyejahterakan rakyat kecil itu tetap bergema sepanjang masa di sanubari generasi penerus. Baginya yang kini sudah berusia 83 tahun, visi dan misi ini sudah merupakan masa lalu, ketika ia masih memiliki kemampuan cukup besar dan tenaga yang masih prima. Dengan merendah Usman mengakui, agak sulit untuk mewujudkan visi dan misi itu di usia senjanya ini karena sekarang hanya seorang pumawirawan dan mantan pejabat yang tidak punya wewenang lagi.

Mengenai hidup normal, Usman membandingkannya dengan zaman kolonial. Pada masa itu memang terjadi kesulitan sosial dan ekonomi. Tetapi, petani yang memiliki lahannya dapat menggantungkan hidup dari hasil keringatnya sendiri. Sawah yang dimilikinya cukup untuk membiayai diri dan keluarganya. Sementara sekarang, banyak petani yang tidak mampu mengihidupi dirinya dari hasil pertanian yang digarapnya. Ini disebutnya tidak normal.

Perjalanan hidup Usman Ismail tampak penuh tantangan yang diwarnai banyak kejadian tidak terduga sebelumnya. Namun baginya tantangan bukanlah sebuah hambatan. Semula ia bercita-cita menjadi dokter, untuk itu ia memilih meneruskan studi di Fakultas Kedokteran (waktu itu G.H.S) di Jakarta. Namun cita-cita menjadi dokter kandas di tengah jalan karena datangnya tentara pendudukan Jepang. Hubungan dengan orang tua yang membiayai sekolahnya terputus. Usman di Jakarta, orangtuanya di Watampone, Sulawesi Selatan. Tak ada komunikasi, surat-menyurat, apalagi wesel. Tapi tantangan ini justeru membuatnya mampu hidup mandiri.

Untuk menunjang hidupnya, ia bekerja di Biro Pusat Statistik di Jakarta sebagai pegawai menengah yang ditugaskan untuk menghimpun data mengenai kesejahteraan rakyat. Dari data itu, ia mengetahui bahwa banyak rakyat Indonesia, terutama petani, yang hidup miskin. Panen hasil jerih payah mereka tidak mencukupi untuk kehidupan sehari-hari. Sejak itu, dalam benak H.R.Usman Ismail terpatri keinginan untuk menjadi seorang yang berguna dan mampu ikut merubah keadaan rakyat kecil. Pengalaman di Biro Pusat Statistik pada zaman Jepang itu memberinya pemahaman bahwa statistik merupakan bidang yang sangat vital yang harus dikelola sebaik-baiknya agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya.

Salah satu upaya untuk mengubah keadaan rakyat kecil adalah dengan berjuang mempertahankan kemerdekaan RI. Kebetulan ketika itu, Daan Mogot membentuk Akademi Militer di Tanggerang, maka R.Usman Ismail ikut bergabung. Ketika Jepang meninggalkan Indonesia dan Sekutu serta Belanda masuk wilayah RI, Usman Ismail pun ikut bergerilya bersama para pejuang Indonesia. Tahun 1948 turut hidjrah ke Jawa Tengah (Delangu) selaku Komandan Kompi dari Yon Kalahitam dengan pangkat Letnan Satu. Kemudian menjelang penyerahan kedaulatan (1948-1949) ikut "long march" ke Jawa Barat dan bergerilya di Sukabumi-Cianjur Selatan yang terjadi setelah aksi Agresi Militer Belanda II.

Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, menurutnya, tentara Indonesia belum banyak memiliki senjata. Kebanyakan adalah senjata laras panjang "dorji". Sekali tembak kemudian isi sebutir peluru lagi. Logistik semasa perjuangan juga belum berfungsi sebagaimana mestinya. Kiat yang dipakai pada waktu itu antara lain merebut senjata dan seragam dari penjara Belanda. Sementara pasokan makanan dan minuman sering diperoleh dari bantuan rakyat.

Ketika menumpas gerombolan PKI Muso tahun 1948, Usman dan pasukannya banyak mendapat senjata hasil rampasan dari pasukan PKI berupa senjata buatan Inggris. Senjata PKI itu jauh lebih canggih daripada yang dimiliki pasukannya. Tetapi pasukannya memiliki semangat tempur yang lebih tinggi.

Terhadap kondisi TNI saat ini, HR Usman Ismail menegaskan bahwa TNI adalah alat negara untuk melaksanakan fungsi pertahanan dan keamanan negara secara baik. Sebagai alat negara maka TNI harus di atas semua golongan, tidak ikut berpolitik. Seorang prajurit TNI di samping bertugas untuk bertempur juga harus peduli terhadap lingkungannya dan harus mampu menguasai bentuk pembinaan wilayahnya. Pandangan ini mengacu kepada pandangan saeorang Inggris (ia sudah lupa namanya) yang mengatakan, "Yours is also to reason why, yours is not only to fight and to die." Untuk memperdalam keyakinan terhadap tujuan, makna, tugas, misi dan perjuangannya seorang TNI boleh bertanya, "Mengapa dan untuk apa semuanya ini, engkau tidak hanya bertugas untuk bertempur dan tewas."

Hingga tahun 1950-an, Usman Ismail telah turut melakukan berbagai operasi militer dalam rangka mengamankan Republik dari gangguan keamanan. Di antaranya adalah melakukan perang gerilya di daerah Sukabumi Selatan dan Jampang Kulon, Operasi terhadap aksi PKI Muso di Solo, Blora, Cepu dan Purwodadi, serta Operasi Penumpasan DI/TII di Sukabumi, Cianjur, Majalengka, dan Indramayu.

Lepas dari masa pergolakan, ia non-aktif di dinas kemiliteran. Ketika Jenderal AH Nasuiton membentuk Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Usman pun ikut berperan sebagai anggota. Bahkan, Usman menjadi anggota Konstituante mewakili IPKI. Sayangnya, kerja keras Konstituante yang belum rampung dalam menyusun Undang-Undang Dasar baru, dipotong oleh keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Salah satu isi dekrit itu adalah penggunaan kembali UUD 1945 dan pembubaran Konstituante.

Meskipun ia tidak lagi tertarik terhadap bidang politik, tetapi HR Usman Ismail berharap agar partai, wakil rakyat, lembaga politik seperti DPR/MPR semestinya bertugas untuk menyuarakan aspirasi berbagai kepentingan di masyarakat yang diwakilinya. Mereka harus mementingkan kepentingan umum dan bukan kepentingan pribadi atau golongannya. Institusi dan lembaga politik itulah yang seharusnya menyelesaikan konflik yang terjadi dalam masyarakat dengan cara damai terhormat dan demokratis. Ia juga bertanya, Republik Indonesia sudah berumur lima puluh tujuh tahun, tetapi mengapa kok sampai sekarang rakyat Indonesia masih terus memimpikan ratu adil?

Tahun 1959, ia ditugaskan di bidang ekonomi/usaha dan ditunjuk sebagai Pejabat Kepala Bagian Umum PPN Jawa Barat. Tahun 1960 menjadi Pimpinan BUD Jawa Barat dan diangkat menjadi anggota MPRS mewakili Golongan ABRI.

Tahun 1961 kembali ditugaskan di bidang bisnis sebagai Direktur Utama PN Fajar Bhakti. Tahun 1965 diangkat sebagai Direktur Utama Badan Pimpinan Umum PNN. Semasa melaksanakan tugas di perusahaan negara, ia menghadapi tantangan yaitu mulai tumbuhnya persaingan karena munculnya pengusaha swasta. Mengatasi tantangan itu, serta agar pengusaha swasta tidak mati, maka kegiatan ekspor barang produksi nasional terus ditingkatkan. Sedangkan ketika menjabat sebagai Badan Pimpinan Umum (BPU) PNN, menghadapi tantangan melemahnya kontrol dan manajemen sebagian perusahaan niaga negara yang di bawah pembinaannya. Kiatnya menggabungkan yang lemah dengan yang kuat.

Usman berpandangan bahwa Indonesia termasuk negara yang tidak bisa menghapus usaha yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara. Hendaknya BUMN dapat bersaing secara sehat dan tidak melakukan monopoli. Ia juga merasa prihatin dengan usaha kaki lima. Usaha kaki lima rnerupakan usaha kecil perseorangan yang tidak boleh dianggap remeh. Usaha ini memberikan nafkah kepada banyak rakyat kecil dan memberikan lapangan kerja bagi rakyat kecil. Yang mungkin perlu diperhatikan adalah bagaimana mengatumya agar tidak mengganggu lalu lintas, tidak menutupi tempat orang lalu lalang di atas trotoar tidak mengotori jalan dan tempat umum, tidak menduduki tempat yang bukan miliknya, agar tertib dan higienis.

Usman bersama para pengusaha Indonesia lainnya, baik perusahaan negara, swasta, maupun koperasi pada tahun 1968 membentuk Kamar Dagang dan Industri Jakarta. Ia pun kemudian menduduki jabatan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Jakarta menggantikan Syamsuddin Mangan yang meninggal dunia. Pada waktu pembentukan Kadin Jakarta, sebenarnya telah ada organisasi pengusaha yakni Badan Musyawarah Nasional (Bamunas). Dengan mendiamkan saja keberadaan Bamunas seraya memperkokoh organisasi Kadin, maka Kadin berhasil menjadi organisasi pengusaha yang disegani dan semakin berkembang. Ia berharap Kadin dapat menjadi wadah kerja sama para pengusaha dan membantu perusahaan yang lemah.

Masih pada tahun 1968, ia bersama Kamar Dagang dan Industri Daerah dan pengusaha Indonesia lainnya membentuk Kamar Dagang dan Industri Indonesia. Ia pun dipercaya menjadi Ketua Umum.

Pada tahun yang sama, atas prakarsa Gubernur DKI Jakarta waktu itu, H Ali Sadikin, menyelenggarakan 'Jakarta Fair'. Usman dipercaya sebagai Ketua Badan Penyelenggara Jakarta Fair 1968. Pada tahun 1969 diputuskan oleh Gubemur DKI Jakarta bahwa Jakarta Fair diselenggarakan oleh Yayasan Penyelenggara Pameran dan Pekan Raya Jakarta, pada waktu itu diketuai oleh Ir. Omar Tusin.

Pada tahun 1971 H.R. Usman Ismail kembali ditunjuk sebagai Ketua Yayasan Penyelenggara Pameran dan Pekan Raya Jakarta dengan mewarisi hutang dari pengurus lama sebesar Rp 49.000.000 (empat puluh sembilan juta rupiah). Gubenur DKI Jakarta, Ali Sadikin menyuntikkan modal awal sebesar Rp 5.000.000 (lima juta rupiah). Usman mengaku kebingungan dengan kondisi tersebut. Namun dengan berbagai upaya, hutang dapat dilunasi diakhir penyelenggaraan Jakarta Fair 1971. Upaya yang dilakukan antara lain dengan memperketat pengawasan keuangan, memberikan kredit pembayaran telepon kepada peserta dan menggalakkan pemasaran kepesertaan dari luar negeri.

Untuk mengatasi masalah pendanaan pembangunan tiga buah hall (bangsal) pameran yang akan digunakan oleh Pameran Perancis diputuskan untuk membiayai pembangunan dari pendapatan yang akan diperoleh dari penyewaan bangsal dimaksud yakni dengan cara meminta pembayaran sewa dimuka, jauh sebelum bangsal itu sendiri dibangun. Bangsal itu kemudian menjadi modal penyelenggaraan Jakarta Fair dan Pameran selanjutnya sebelum dipindahkan ke Kemayoran. Di akhir masa bhakti di Jakarta Fair pada tahun 1980, Yayasan mampu mewariskan kepada pengurus berikutnya kekayaan berupa uang sebesar Rp 60.000.000 (enam puluh juta rupiah) dan tiga buah bangsal pameran.

Di samping Jakarta Fair, diselenggarakan juga pameran khusus seperti Pameran Jerman dan Prancis oleh Yayasan.

Jakarta Fair, menurutnya, sebagai wadah yang bermanfaat untuk para pengusaha memamerkan dan memperkenalkan produknya harus diselenggarakan secara menarik, tidak hanya menarik pengunjung sebanyak-banyaknya melainkan juga menarik terjadinya transaksi. Jakarta Fair sejak semula diselenggarakan dalam rangka merayakan ulang tahun kota Jakarta dan dikaitkan dengan penyelenggaraan semacarn pasar malam yang lazim disebut Pasar Gambir. Penyelenggaraan kedua keramaian ini semestinya tidak bersamaan, atau setidak-tidaknya di lokasi terpisah meskipun masih dalam satu wilayah atau berdekatan. Hal itu perlu dilakukan untuk memberikan kesempatan terjadinya transaksi usaha. Dapat juga dilaksanakan dengan membuka fair dalam dua tahap, yaitu tahap khusus untuk pengusaha yang berkepentingan satu sama lain dan tahap untuk umum.

Pada periode tahun 1971-1980, selain menjadi Ketua Yayasan Penyelenggara Pameran dan Pekan Raya Jakarta, usman juga menjabat Ketua Bidang Organisasi Kadin Indonesia, Sekretaris Jenderal ASEAN Chamber of Commerce and Industry, dan Kepala Divisi Niaga Tri Usaha Bakti.

Sedangkan di bidang sosial tercatat pada tahun 1972-1989 sebagai anggota Perhimpunan Indonesia untuk pengetahuan Ekonomi dan Sosial, Ketua Proyek Pencari Dana Tahun Buku Internasional di Jakarta, dan anggota Yayasan Buku Utama.

Ketika ditugaskan menjadi Ketua Pencari Dana Tahun Buku Intemasional di tahun 1972/1973, bersama Akhir Nasution, Usman Ismail menyelenggarakan acara "Seratus Dollar untuk bersantap dengan Presiden R.I. di Istana Bogor". Pada saat itu pemerintah tidak memiliki anggaran menyelenggarakan acara tersebut. Ternyata upaya ini berhasil dengan baik dengan banyaknya perseorangan dan pengusaha Indonesia maupun asing yang berkenan mengikuti acara ini. Dana yang terkumpul dipergunakan untuk membentuk Yayasan Buku Utama dan penyelenggalaan pemilihan Buku Utama setiap tahun dengan tujuan mengembangkan minat baca dan menulis masyarakat Indonesia.

Ia berharap, kegiatan sosial seperti Perhimpunan Indonesia untuk Pengetahuan Ekonomi dan Sosial dan Yayasan Buku Utama ditingkatkan untuk membantu mengembangkan ilmu pengetahuan dan minat baca serta menggiatkan minat menulis masyarakat.

H.R. Usman Ismail adalah putra sulung dari tiga bersaudara Keluarga R. Ismail dan R. Saltinah Nataatmadja. Ayahnya seorang nasionalis dan sikapnya tegas menolak feodalisme. Setelab lulus dari sekolah khusus untuk calon pegawai Pamong Praja OSVIA (Opleiding School Voor Indlanse Ambtenaren), ayahnya kemudian bertugas sebagai pegawai Pamong Praja pemerintah kolonial Hindia BeIanda. Hanya bertahan beberapa hari, kemudian keluar karena pekerjaan itu tidak sesuai dengan azas keadilan. Suasana kerja sangat feodal karena harus menyembah dan merangkak di lantai bila hendak menghadap bupati. Oleh karena itu, ayahnya rela sekolah kembali di Sekolah Dokter Hewan di Bogor dan kemudian setelah lulus bertugas di Sumenep. Sementara, ibunya, Ny. Saltinah Nataatmadja, meninggal dunia ketika Usman Ismail masih berusia sembilan tahun.

Sebagai seorang anak turunan bangsawan, H.R. Usman Ismail memperoleh kesempatan untuk mengikuti pendidikan Belanda. Menyelesaikan sekolah dasar di ELS (Europese Lagere School) Serang, lalu pindah ke Surabaya, Bandung, dan menyelesaikannya di Tasikmalaya. Selanjutnya melanjut ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Tasikmalaya dan AMS-B (Algemene Middelbare School) Yogjakarta. Sempat kuliah kedokteran di Geneeskunde Hoge School (G.H.S) di Jakarta selama tiga tahun. Karena hubungan dengan orang tua terputus pada waktu pendudukan Jepang maka kuliah kedokteran terpaksa tidak diselesaikan.

Pendidikan militernya diawali dari Akademi Militer Tanggerang (1945/1946). Akademi ini hanya berumur satu setengah tahun. Karena dianggap sebagai salah satu tempat perlawanan, akademi ini diserbu Belanda. Seluruh peserta akademi berikut pelatih (instrukturnya) pindah ke Sukabumi dan menjadi satu kesatuan militer.

Setelah kemerdekaan, ia pun mengikuti Kursus Nederlandse Militaire Missi (1950), memperdalam strategi militer, dan logistik dalam pertempuran. Kemudian mengikuti latihan Candradimuka di Bandung yang diselenggarakan oleh TNI-AD (1951) untuk memperdalam penyerangan dan pertahanan militer.

Tahun 1969/1970 Usman menjadi peserta Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Sesko AD) angkatan IV di Bandung dan Jakarta bersama antara lain Jend. M. Jusuf (waktu itu Let. Jend), Mayjen. Masbudi; Mayjen Sjarif Thajeb, Jend. Sudharmono (waktu itu Brigjen), Letjen. Ibnu Sutowo dan Sujono Humardani.

Dalam kehidupan rumah tangga, ia menghadapi banyak duka dan cita. Namun ia tetap kuat dan tabah. Karena memang baginya, hidup adalah milik Allah. Ia menikah tiga kali. Istri pertama Ny. Siti Fatimah yang dinikahi semasa pendudukan Jepang meninggal dunia ketika melahirkan bersama putranya. Istri kedua Ny. Emas Hanariah yang dinikahi tahun 1950 meninggal pada tahun 1974. Ia sempat memiliki seorang putri dari pernikahan kedua bernama R. Ratna Himawati yang juga telah meninggal pada tanggal l7 April 1961.

Istri ketiga adalah yang mendampinginya saat ini Ny. Rr. Laksmi Nurani Wiyono SH, MBA, dinikahi pada tanggal 27 Juli 1975. Dari pemikahan ini dikaruniai seorang putra bernama R. Iman Krishnawan Ismail lahir 6 Maret 1977 serta seorang putri R. Dewi Amaranthi Ismail lahir 6 September 1978. Namun, sang putra R Irman Krishnawan Ismail telah meninggal dunia lima tahun lalu pada tanggal 26 Oktober 1997 ketika masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Sungguh, hidup adalah milik Allah. e-ti | tl

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh sira  -  Dibuat 16 Aug 2002  -  Pembaharuan terakhir 28 Feb 2012

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Tito Karnavian

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Bagi Sutiyoso, hidup adalah pertempuran. Pertempuran dengan segala tantangan yang harus dihadapi secara total apa pun risikonya.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: