WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Kualifikasi Seorang Kiai

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Kualifikasi Seorang Kiai
Komaruddin Hidayat | TokohIndonesia.com | rpr-kp

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat , nama yang tidak asing lagi di dunia dakwah Islam, khususnya dakwah dengan pendekatan sufistik. Sejak menyelesaikan S3nya dalam bidang filsafat di Universitas Ankara, Turki pada 1990, pria yang biasa dipanggil Mas Komar ini bergabung dengan Yayasan Wakaf Paramadina di Jakarta. Dari Paramadina inilah ia mulai mengguratkan namanya sebagai cendekiawan Muslim yang cukup diperhitungkan.

Rektor UIN Jakarta, 2006-2010
Lihat Curriculum Vitae (CV) Komaruddin Hidayat

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Komaruddin Hidayat

QR Code Halaman Biografi Komaruddin Hidayat
Bio Lain
Click to view full article
Ivan Goenawan
Click to view full article
Tan Shot Yen
Click to view full article
Badrodin Haiti
Click to view full article
Titi Said
Click to view full article
Ani Yudhoyono
Click to view full article
Syamsul Arifin
Click to view full article
Novriantoni

Memulai karirnya sebagai dosen dan kemudian Lihat Daftar Direktur
Lihat Daftar Direktur
Direktur
Eksekutif Paramadina, ia lalu dipercaya menjadi Ketua Yayasan yang didirikan cendekiawan Rektor Universitas Paramadina Mulya, Jakarta 1998-2005
Rektor Universitas Paramadina Mulya, Jakarta 1998-2005
Nurcholish Madjid
tersebut. Penguasaan ilmu-ilmu agamanya yang sangat mumpuni, ditambah reputasi publik yang disandangnya sebagai intelektual kelas wahid di negeri ini, membuatnya begitu sibuk memenuhi undangan diskusi, ceramah dan acara unjuk wicara (talkshow) baik di televisi maupun radio. Sejak Januari 2005, Mas Komar resmi diangkat sebagai Lihat Daftar Direktur
Lihat Daftar Direktur
Direktur
Program Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pandangan-pandangan kesufian Mas Komar sudah banyak dikenal, lantaran ia termasuk rajin berceramah tasawuf di berbagai forum. Kekuatan ceramah tasawuf pria penggemar olah raga tenis ini terletak pada metafor-metafor yang dinukil dari kisah-kisah sufi klasik kemudian direfleksikan ke dalam kehidupan aktual saat ini. Inilah yang menyebabkan ceramahnya begitu hidup dan memikat siapa saja yang mendengarkannya. Bukan hanya ceramahnya, tulisan-tulisannya pun mengalir dan enak dibaca. Mungkin karena tulisan-tulisannya itu lebih merupakan refleksi ketimbang analisis ilmiah yang kaku.

Tentang kepiawaannya dalam menulis, Mas Komar mengaku karena memang sejak remaja (di pesantren) sudah membiasakan diri berlatih menulis. Bekal keterampilan menulis itu ia asah terus hingga kuliah. Ketika menjadi mahasiswa sampai lulus S1, ia pernah menjadi Lihat Daftar Wartawan
Lihat Daftar Wartawan
wartawan
majalah Panji Masyarakat selama 4 tahun (1978-1982). Mas Komar adalah orang yang percaya bahwa masa kecil seseorang menentukan akan menjadi apa orang tersebut kelak. Dan ia merasa beruntung karena sejak kecil orangtuanya telah mengarahkannya ke jalan yang kini ia yakini sebagai "benar".

Kualifikasi Seorang Kiai
Komar lahir di Magelang Jawa Tengah pada 18 Oktober 1953 di lingkungan keluarga yang taat beragama. Dari namanya saja tampak bahwa keluarganya adalah keluarga santri. Begitu juga riwayat pendidikannya. Ia lulus pesantren Pabelan, Magelang pada 1969; kemudian melanjutkan ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan lulus sarjana S1 pada 1981. Cendekiawan Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo pernah menilai Komaruddin Hidayat sebagai cendekiawan yang unik, lantaran penguasaannya pada bidang kajian Bahasa Agamasuatu bidang yang jarang digeluti orang lain. Keahliannya di bidang bahasa agama ini dituangkannya dalam sebuah buku berjudul Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik, yang diterbitkan Paramadina pada 1996.

Bagi Dawam Rahardjo, Komaruddin Hidayat merupakan fenomena dari sebuah proses mobilisasi keluarga santri pedesaan yang kemudian mampu menembus batas-batas lokal dan kemudian mengikatkan diri ke dalam jaringan intelektual secara global. Namun sebagai intelektual berlatar belakang pendidikan agama, Komar tetaplah seorang guru ngaji yang setia pada tradisi Islamnya. "Komaruddin Hidayat itu sebenarnya memiliki kualifikasi seorang kiai, sebagaimana Cak Nur, seorang cendekiawan yang memiliki kualifikasi seorang ulama," demikian tulis M. Dawam Rahardjo dalam kata pengantar untuk buku Komaruddin Hidayat berjudul Tragedi Raja Midas: Moralitas Agama dan Krisis Modernisme (Paramadina, 1998).

Minat Mas Komar terhadap tasawuf bukanlah sebuah kebetulan. Sebab, sebagai pengkaji filsafat dan guru besar filsafat Islam ia pasti sangat dekat dengan kajian-kajian mistisisme Islam. Sudah menjadi tradisi di lingkungan akademik IAIN untuk mengkaji bidang-bidang ilmu tradisional Islam secara komprehensif. Filsafat dan mistisisme adalah dua di antara disiplin tersebut. Bekal disiplin ilmu itulah kelak yang mengantarkan Mas Komar menjadi analis yang tajam dalam bidang sosial keagamaan, juga penutur tasawuf yang cukup memukau. Corak tasawuf Mas Komar, sebagaimana dituturkan oleh Dawam, adalah tasawuf yang digandengkan dengan gagasan transformasi sosial sebagaimana juga menjadi concern dari cendekiawan seperti Moeslim Abdurrahman dan Kuntowijoyo.

Menjadi Guru Besar Filsafat Agama
Suami dari Ait Choeriyah dan bapak dari dua anak ini dikukuhkan sebagai guru besar filsafat agama oleh almamaternya Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah Jakarta pada Desember 2001. Obsesinya untuk membumikan ajaran-ajaran Islam ia tuangkan dalam pidato pengukuhannya yang ia beri judul "Ketika Agama Menyejarah". Di situ ia mengemukakan bahwa Islam pada awal pertumbuhannya menunjukkan visi, potensi, dan prestasi yang sangat menakjubkan dalam membangun peradaban unggul dengan cara damai, intelektual, dan beradab. Namun, masa-masa produktif Islam menjadi terganggu ketika umat Islam terjebak dalam sengketa politik, baik sesama Muslim maupun dengan pihak Yahudi dan Nasrani.

Umat Islam, kata Komar, juga tidak mampu membangun institusi riset yang independen, yang mengabdi pada pengembangan ilmu terapan. Kuatnya peradaban teks dan kekuasaan ulama-umara, yang lebih mementingkan ritual dan kekuasaan politik ketimbang membangun peradaban, telah menyia-nyiakan aset intelektual yang dimiliki dunia Islam. "Toby E Huff secara karikatural menunjukkan ketidakmampuan dunia Islam memanfaatkan aset intelektualnya, di mana kompas hanya dipergunakan untuk menunjukkan kiblat, sementara oleh orang Eropa dipakai untuk bisa berkeliling dunia. Ilmu astronomi hanya dipakai untuk menentukan kapan datangnya bulan Ramadhan, sementara di Eropa dijadikan modal petualangan angkasa. Lalu dinamit oleh dunia Islam digunakan untuk berperang menghancurkan musuh, di Eropa dijadikan tenaga untuk menggerakkan industri berat dan kapal besar," tandas mantan dosen Filsafat Islam di Sekolah Tinggi Filsafat Direktur Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
Lihat Daftar Direktur
Lihat Daftar Direktur
Direktur
Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat DriyarkaraDriyarkara Jakarta itu.

Kitab suci al-Quran, menurut Mas Komar, seharusnya menjadi sumber pencerahan yang tak pernah kering bagi umat Islam. Namun, itu harus disertai iklim kebebasan berekspresi dan bereksperimentasi dengan dukungan institusi yang profesional dan dana yang cukup. Di tengah krisis multidimensi, bangsa Indonesia mempunyai kesempatan untuk melakukan rekonstruksi ulang guna menemukan format Indonesia baru. Bagi umat Islam, kesempatan ini merupakan panggilan sejarah untuk memberikan kontribusi bagi bangsa dan peradaban dunia untuk membangun sebuah model negara demokrasi yang dimotivasi oleh komitmen keislaman. Umat Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini, tambah Mas Komar, harus paling merasa terpanggil memperjuangkan kesejahteraan, keadilan, dan demokrasi. Bukannya malah kembali ke alam pikiran mitologis dan komunalistik.

Pandangan Kesufian
Mas Komar membedakan dengan tegas antara mitologi dengan mistik. Mitologi merupakan kepercayaan yang tanpa dasar, sementara ajaran mistik bersandar pada petunjuk Tuhan mengenai iman kepada yang gaib sebagaimana diisyaratkan dalam ayat-ayat pertama surat al-Baqarah. Dimensi mistik dari Islam inilah menurut Mas Komar yang harus ditampilkan pada masa sekarang yang penuh dengan krisis. Sebagaimana terbaca dalam tulisannya, "Agama dan Kegalauan Masyarakat Modern" (2000), agama baginya adalah sumber spiritualitas. Oleh karena itu, kekayaan spiritualitas agama ini harus ditampilkan sebagai sumbangan untuk menyelesaikan krisis spiritualitas manusia dan masyarakat modern.

Malapetaka akibat kekosongan spiritualitas, kata Mas Komar yang juga pernah mengajar di Pasca Sarjana Filsafat UI ini, akan mudah menimpa manakala manusia menjauh dari Tuhannya. Sebab, manusia terikat perjanjian dengan Tuhan sebelum manusia lahir ke dunia ini. Allah berfirman: "(Ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Rabb-mu?") Mereka menjawab: Benar (Engkau Rabb kami), kami bersaksi." (Kami lakukan yang demikian ini) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Nya). (Q al-A`raf, 7:172).

Dalam pandangan Mas Komar, bila ridha Tuhan tidak lagi menjadi pusat orientasi manusia, kualitas kehidupan menjadi rendah. Dengan menjadikan Tuhan sebagai tujuan akhirnya, manusia akan terbebaskan dari derita kehampaan spiritual, karena Tuhan adalah Pesona yang Maha Hadir (Omnipresent) dan Maha Mutlak. Eksistensi yang relatif akan lenyap ke dalam eksistensi yang absolut. Keyakinan dan perasaan akan kemahahadiran Tuhan inilah yang akan memberikan kekuatan, pengendalian dan sekaligus kedamaian hati seseorang, sehingga yang bersangkutan senantiasa berada di dalam orbit Tuhan, bukannya putaran dunia yang tak jelas lagi ujung pangkalnya.

Dimensi spiritualitas dari faham dan penghayatan keberagamaan, menurut Mas Komar, pada dasarnya merupakan sebuah perjalanan ke dalam diri manusia sendiri. Bisa jadi masyarakat modern yang memiliki fasilitas transportasi canggih merasa telah melanglang buana, bahkan telah melakukan perjalanan ke planet lain, namun amat mungkin masih miskin dalam pengembaraannya dalam upaya mengenal dimensi batinnya, bahwa ia adalah makhluk spiritual. Pencapaian sains dan teknologi memang membuat manusia lupa bahwa dirinya adalah makhluk spiritual, sehingga ia menjadi terasing dari dirinya sendiri dan dari Tuhannya. Inilah yang disebut situasi kehampaan spiritual. Dan itu terjadi akibat gaya hidup serba kebendaan di zaman modern yang menyebabkan manusia sulit menemukan dirinya dan makna hidupnya yang terdalam.

Dalam tulisannya yang berjudul "Hegemoni Budaya Benda" (2000), Mas Komar secara jelas menunjukkan pandangan kesufiannya. Menurut mantan ketua Panwaslu Pusat yang sangat dekat dengan anak-anaknya ini, ada banyak cara untuk meningkatkan kesucian jiwa manusia sehingga dengan begitu manusia kembali ke natur bawaan atau kecenderungan primordialnya yaitu selalu rindu untuk dekat kepada Tuhan. Salah satunya ialah dengan berupaya membangun pola hidup yang mengorientasikan diri pasa aspek ruhani atau spiritual, dan melepaskan pandangan keduniaan yang serba benda ini. Dalam tradisi sufisme atau mistisisme pola hidup yang demikian dinamakan pola hidup zuhud. "Dan Islam secara teoritis amat kaya dengan dimensi sufisme atau mistik ini, dan barangkali merupakan paket yang bisa disumbangkan kepada masyarakat modern yang terkepung oleh hegemoni benda-benda," tegas Komar.

Pola hidup zuhud itulah yang sering disampaikan Mas Komar dalam forum-forum pengajian dimana ia berkesempatan menjadi narasumbernya. Dalam pengamatan Mas Komar, antusiasme masyarakat perkotaan terhadap tasawuf begitu tinggi. "Tidak sedikit dari kalangan elit kota yang kemudian, setelah memahami dan mendalami tasawuf, mengalami perubahan sikap hidup menjadi lebih bersahaja, kalau tidak bisa dikatakan zuhud. Sikap hidup zuhud ternyata lebih memberikan ketenangan, jauh dari stres, dibandingkan dengan sikap hidup ngoyo dan ngotot mengejar kekayaan materi yang tak pernah terpuaskan."

Pandangan kesufian Mas Komar memiliki spektrum dan cakupan yang amat luas. Ia bahkan juga bicara soal-soal yang berkaitan dengan gejala alam raya dari perspektif sufistik. Ketika bencana alam berupa gempa dan gelombang tsunami menerjang bumi Nanggroe Pejuang dari Aceh
Pejuang dari Aceh
Aceh
Darussalam dan Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Sumatera Utara
, Mas Komar menulis artikel di harian Kompas edisi 11 Januari 2005 untuk melihat pesan mistis dari bencana yang amat dahsyat tersebut. Dalam artikelnya yang berjudul "Kosmosentrisme Religius", Mas Komar menekankan perlunya kearifan dalam memperlakukan alam raya sebagai himpunan Asma Tuhan. Manusia adalah bagian integral dari alam, bukan penguasa alam. Kearifan kuno mengajarkan keserasian antara habit, habitus, dan habitat. Ketika manusia sebagai habitus mengambil sikap eksploitasi dan konfrontasi terhadap habitat alamnya, maka manusia pasti kalah. Bukti kekalahan manusia ketika konfrontasi terhadap alam semakin banyak. "Kini saatnya kita merenung dan menyadari betapa rapuhnya sesungguhnya posisi kita di hadapan semesta," tegasnya.

Menurut mantan Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam (Diperta) Depag ini, alam disebut kosmos karena indah dan teratur. Begitulah Tuhan menciptakan. Hanyalah manusia yang memiliki potensi untuk merusak keteraturan alam, bukan makhluk lain. Namun, sehebat apa pun kekuatan manusia untuk melawan alam, tidak mungkin manusia akan bisa memenangkannya. Apa yang bisa diraih dan ditaklukkan manusia, terlalu kecil di hadapan semesta yang tak terbatas. Lalu, di mana kebesaran manusia? Kata kitab suci di samping karena akalnya, dalam diri manusia terdapat ruh ilahi. Jika ruh ilahi ini yang mengendalikan kehidupan, seseorang akan bisa merasakan nikmatnya bernyanyi dan bertawaf bersama tarian dan gerakan tawaf jagat raya.

Bahkan bumi, laut, dan planet di sekitar kita, semuanya senantiasa melayani manusia. Matahari diperintah Tuhan untuk menciptakan penguapan air laut. Giliran angin membawa ke daratan agar menjadi mendung dan hujan. Lalu Bumi dengan gembira menampungnya dan menyuruh benih tanaman tumbuh untuk melayani kebutuhan manusia. Demikianlah, ketika seharian manusia telah lelah bekerja, malam dipanggil untuk menyelimuti agar tidurnya lelap. Begitu pemurahnya Bumi sehingga ia disebut Ibu Pertiwi, sosok yang senantiasa mencintai, memberi, danmelayani, tetapi tak pernah mengharap balas budi.

Bencana tsunami di Pejuang dari Aceh
Pejuang dari Aceh
Aceh
dan Nias, bagi Mas Komar, merupakan peringatan dan panggilan terhadap kesadaran kosmosentrisme religius, sebuah kritik terhadap
paradigma antroposentrisme sekuler yang menjadikan intelektualitas manusia sebagai puncak ukuran kebenaran sehingga secara sistemik masyarakat modern telah menghancurkan habitatnya sendiri. Kita, katanya, dituntut untuk berkawan, santun, dan mencintai alam tanpa terjatuh untuk menyembahnya sebagai Tuhan karena alam adalah jejak-jejak kebesaran dan kasihNya. Jika kita berkawan dengan alam, katanya, maka kita bernyanyi dan menari bersama tarian alam semesta. Ia pun mengutip kata-kata indah dari Gary Zukav, penulis The Dancing Wu Li Masters: "Mata hatinya tidak lagi mampu melihat dan menikmati tarian alam yang begitu indah yang merupakan rumah kita."

Pengamat Urban Sufism
Dalam diskursus kesufian, khususnya yang berkembang di perkotaan, tak jarang Mas Komar menempatkan dirinya sebagai pengamat, kalau bukan kritikus. Ia, misalnya, pernah menyindir gejala pengajian di kota-kota besar yang diklaim sebagai gejala tasawuf padahal sebenarnya menurut dia hanya pengajian biasa saja. Di pengajian semacam itu yang diajarkan adalah tauhid Islam, praktek ibadah seperti shalat, puasa, haji, zakat, dan persoalan-persoalan elementer yang memang dibutuhkan oleh orang-orang kaya di kota besar yang sangat buta terhadap agama Islam. Lalu para pengamat menyebut fenomena semacam itu sebagai urban sufism. Padahal, "Tasawuf terlalu tinggi untuk mereka yang masih belum tahu bagaimana berwudhu dengan benar," sindir Mas Komar dalam Kata Pengantar untuk buku karya Panglima Besar TKR/TNI
Panglima Besar TKR/TNI
Sudirman
Tebba yang berjudul Hidup Bahagia Cara Sufi terbitan kerjasama Paramadina dan Gugus Lintas Wacana (Januari, 2005).

Dalam Kata Pengantar itu pria yang pernah menjadi Fellow Researcher di McGill University, Montreal, Canada pada 1995 ini memang menempatkan dirinya sebagai pengamat urban sufism. Lahirnya kelompok-kelompok tarekat di kota besar seperti Jakarta saat ini, lalu munculnya fenomena zikir akbar ala Muhammad Arifin Ilham atau Ustadz Haryono, serta laris manisnya buku-buku bertema tasawuf dalam beberapa tahun terakhir, bagi Mas Komar belumlah cukup dikategorikan sebagai urban sufism. Itu menurutnya adalah semangat jatuh cinta pada agama. Bahkan tidak jarang masih berada pada tahap "cinta monyet". Merekakalangan elit kota, Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha
, selebritis, profesional, para CEO, dan lain-lainantusias mendatangi pengajian, bukan bertasawuf dalam pengertian klasik. "Adakah ini gejala kebangkitan tasawuf yang sejati, fenomena sesaat, atau bahkan komersialisasi spiritualitas? Lagi-lagi, semuanya masih harus diteliti lebih jauh," ungkap Mas Komar.

Ini bukan berarti Mas Komar pesimis dengan perkembangan tasawuf kota atau urban sufism. Ia hanya ingin mengajak kita melihat fenomena kebangkitan spiritualitas di kota-kota besar itu dalam kaitannya dengan dimensi ruang dan waktu yang saling terkait. Jadi, bukan fenomena tunggal yang berdiri sendiri. Bagi Mas Komar, yang juga pernah menjadi Fellow Researcher di Harfort Seminary, Connecticut, USA pada 1997, semaraknya forum-forum pengajian di kota besar seperti Jakarta akhir-akhir ini berkorelasi kuat dengan krisis ekonomi di tanah air. Ini, katanya, pertanda bahwa orang-orang kaya mulai melihat "dunia lain" di luar kelimpahan materi yang selama ini mengelilingi mereka. Dunia lain itu adalah dunia batin, dunia rohani, yang selama ini mereka abaikan. Dan kelimpahan materi ternyata tidak bisa membawa mereka memasuki dunia rohani yang sesungguhnya bersemayam di dalam diri mereka sendiri. Mereka membutuhkan penuntun untuk mengenal diri sendiri. Dan yang mereka datangi bukan konsultan atau psikolog. Mereka mendatangi forum-forum pengajian, bertanya kepada para ustadz, mubaligh, atau mursyid (guru tasawuf).

Dengan kata lain, Mas Komar melihat gejala urban sufism sebagai bagian dari proses masyarakat yang sedang berada di dalam situasi krisis. Apakah dengan begitu berarti gejala urban sufism itu buruk belaka, karena lebih merupakan sebuah eskapisme? Tidak juga. Bagi Mas Komar, gerakan yang mengajak orang untuk kembali ke agama bukan hanya oleh tasawuf, tapi juga oleh gerakan semacam fundamentalisme, gerakan kultus, gerakan tabligh, gerakan salafi, dan lain-lain. Justru dia memuji gerakan tasawuf yang menurutnya lebih bersahabat ketimbang gerakan fundamentalisme Islam.

Gerakan tasawuf, kata Mas Komar, memiliki daya pikat karena ia mewakili satu dimensi keagamaan, yakni dimensi esoteris (dimensi dalam) agama. Tasawuf menjanjikan pengalaman keruhanian manusia yang rindu untuk selalu dekat pada dan bersama dengan Tuhan. Pengalaman mukasyafah, yakni tersingkapnya jarak antara manusia dengan Tuhan, tidak akan terjadi selama manusia masih dibungkus oleh pakaian materi. Tuhan bersifat rohani maka untuk bertemu dengan-Nya manusia haruslah berpakaian rohani.

Di masa lalu, tambahnya, salah satu bentuk pakaian rohani ini adalah kehidupan zuhud, yakni melepaskan cinta pada kehidupan duniawi dan lebih mendekatkan diri pada Allah. Abu Dzar al-Ghifari (w. 652 M), salah seorang Sahabat Nabi Muhammad, adalah contoh yang sering disebut sebagai seorang zahid (pelaku kehidupan zuhud). Pola hidup seperti ini pula yang kelak dijalani oleh Rabiah al-Adawiyah (713-801 M). Bagi Rabiah, kehidupan duniawi merupakan rintangan menuju Allah. Itulah sebabnya, sufi Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita
berparas cantik ini meninggalkan istana majikannya yang mewah untuk menjalani kehidupan zuhud. "Apakah semangat seperti yang dimiliki Abu Dzar al-Ghifari dan Rabiah al-Adawiyah ini pula yang saat ini menginspirasikan orang-orang, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, untuk mendalami tasawuf?", tanya Mas Komar.

Tentu saja spektrum pemikiran dan pandangan tasawuf Mas Komar jauh lebih luas dan kaya dibanding yang bisa dijelaskan di sini. Namun satu hal yang pasti, bagi ayah dua anak yang keduanya Lihat Daftar Tokoh Perempuan
Lihat Daftar Tokoh Perempuan
perempuan
ini, tasawuf adalah kehidupan yang riil itu sendiri. Dalam bukunya yang bertajuk Tuhan Begitu Dekat: Menangkap Makna-Makna Tersembunyi di Balik Perintah Beribadah, yang diterbitkan Paramadina pada 2000, Mas Komar menegaskan bahwa jalan sufi bukanlah jalan berbalik untuk membangun mahligai di langit, melainkan jalan turun dari kesadaran langit untuk memenangkan perjuangan di bumi. Oleh sebab itu, katanya, tokoh sufi yang paling ideal tidak lain dan tidak bukan adalah Nabi Muhammad saw. Muhammad adalah seorang spiritualis tapi sekaligus juga seorang pekerja keras di muka bumi.

Bagi Mas Komar, tasawuf mengajarkan kita untuk tidak perlu ngoyo dalam mengejar hidup yang serba sementara ini. Bersyukur dan merasa qana'ah dengan apa yang diberikan oleh Allah, katanya, menjadikan hidup ini lebih rileks dan nyaman. Jauh dari stress, cemas, dan penyakit-penyakit hati lainnya. Dan bersyukur, katanya lagi, bukan hanya kepada Tuhan tetapi juga kepada sesama manusia, lebih-lebih kepada mereka yang pernah berjasa kepada kita. Itulah sebabnya, penulis buku Wahyu Di Langit Wahyu di Bumi (Paramadina, 2003) ini punya kebiasaan setiap kali menerima gaji atau upah dari hasil kerjanya, ia selalu memejamkan mata sambil berdoa dan mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua dan para guru yang telah berjasa menjadikannya seperti sekarang ini. (Source: Centre For Spirituality and Leadership, http://www.csl.or.id/) e-ti

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 29 Oct 2006  -  Pembaharuan terakhir 25 Feb 2012
Api Yang Tak Kunjung Padam Memuji Tuhan Lewat Keroncong

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Cameragenic atau Auragenic? Temukan jawabannya dalam Camera Branding!

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: