WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Rektor Reformasi Damai

  • zoom in
  • zoom out
  • font color
  • bold

Rektor Reformasi Damai
e-ti | ugm

Doktor ilmu politik ini akrab dengan dunia pergerakan sejak mahasiswa (Angkatan '66). Bahkan semasa menjabat Rektor Universitas Gadjah Mada (1998-2002), saat mahasiswa dilarang demonstrasi, dia malah turun demo bersama mahasiswa memperjuangkan reformasi. Oleh para aktivis mahasiswa, dia pun dianugerahi Bintang Jasa Utama Tokoh Reformasi Damai 1999.

Rektor UGM (1998-2002)
Lihat Curriculum Vitae (CV) Ichlasul Amal

Silakan Login untuk melihat CV Lengkap

Tutup Curriculum Vitae (CV) Ichlasul Amal

QR Code Halaman Biografi Ichlasul Amal
Bio Lain
Click to view full article
Suryo Wiyono
Click to view full article
Maria Gisela Borowka
Click to view full article
Nicholas Saputra
Click to view full article
Laksamana Sukardi
Click to view full article
Zaenal Soedjais
Click to view full article
Lidya Kandou
Click to view full article
Betti Alisjahbana

Pria berdarah Madura kelahiran Jember 1 Agustus 1942, ini menjadi rektor pada saat yang tepat. Dia diangkat Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Soeharto
jadi rektor setelah mendapat nilai tertinggi dalam pemilihan rektor oleh Senat Universitas. Saat dilantik jadi rektor, mahasiswa lagi berdemonstrasi menuntut Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Soeharto
turun.

Namun kepercayaan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Soeharto
itu tidak membuat mantan Ketua Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) cabang Jogja 1967-1968, ini memilih berseberangan dengan mahasiswa yang tengah menyuarakan reformasi dan menuntut turun Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Pak Harto
.

Dia malah tak sekadar turut turun meramaikan unjuk rasa mahasiswa, tetapi juga memfasilitasinya dengan menyediakan panggung lengkap dengan pengeras suaranya, serta memberikan jaminan kepada para mahasiswa bahwa selama unjuk rasa berada di dalam kampus, aparat tidak bisa menangkap mereka.

Karena keberpihakannya yang tegas pada gerakan reformasi itu, dia pun dijuluki mahasiswanya sebagai rektor reformis. Amal punya pertimbangan matang atas pilihannya mendukung gerakan mahasiswa yang dituduh pemerintah melakukan politik praktis, itu. Dia menilai unjuk rasa mahasiswa itu murni menyuarakan kepentingan rakyat.

Maka dalam buku 50 Tahun UGM di Seputar Dinamika Politik Bangsa, disebut: "Beruntung UGM memiliki Prof Dr Ichlasul Amal. Lelaki kecil dengan nyali besar. Di pengujung rezim Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
, di tengah pesona psikologis pergantian milenium yang diharapkan membawa perubahan, dia merupakan figur yang tepat pada saat yang tepat. Dia muncul dengan berani untuk menegakkan demokrasi yang sehat di negeri ini."

Walaupun Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Pak Harto
sendiri, di ujung kekuasaannya masih berupaya merangkul Amal dengan menawarkan jabatan Mendikbud Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Kabinet Pembangunan
Reformasi yang diniatkan menggantikan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Kabinet Pembangunan
VII. "Saya diminta langsung oleh Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Pak Harto
. Dua kali malah, langsung ke handphone saya," katanya suatu saat sebagaimana dirilis Jawa Pos. Tapi tawaran itu terpaksa tak dipenuhi, karena prinsip dan merasa tidak enak terhadap mahasiswa dan lingkungan sekitarnya.

Setelah Presiden Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
lengser, digantikan oleh Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
BJ Habibie
, Amal menunjukkan sikap politiknya yang tetap konsisten menyuarakan kepentingan rakyat. Saat itu dia menolak tawaran Habibie untuk menduduki jabatan Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
pendidikan dan kebudayaan.

Kemudian disusul munculnya berbagai partai politik, pakar ilmu politik ini pun mengajak 76 parpol baru berdialog di kampus UGM, dalam acara "Dialog Antarpartai tentang Pemilu". Namun dia sendiri menolak tawaran bergabung dalam partai politik dengan dalih sebagai pegawai negeri. Lalu, dia juga mencetuskan ide pemantau pemilu sebagai ganti kuliah kerja nyata bagi mahasiswanya.

Selama menjabat rektor, dia membangun hubungan yang cair dengan segenap jajaran di kampusnya. Dia juga mengimplementasikan kebebasan berpikir terutama pentingnya berpikir alternatif. Menurutnya, berpikir bahwa berbuat sesuatu yang berbeda bukanlah hal yang salah.

Sampai alumni S1 Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM (1967), ini melepas jabatannya, tidak terpilih lagi sebagai rektor, dia tetap konsisten dalam sikap politiknya. Saat melepas jabatan rektornya, dia didaulat sejumlah karyawan dan mahasiswa mengenakan ikat kepala bertulikan "reformasi" dan mengaraknya dengan andong di seputar kampus.

Masa Kecil
Suami dari Ery Hariati dan ayah dari dua orang anak (Amelin Herani SE dan Akmal Herawan) ini dibesarkan di tengah keluarga pedagang yang berbudaya santri. Kebetulan rumahnya berdekatan dengan pondok pesantren dan pernah dijadikan markas Partai Masyumi.

Pada saat kecil, Amal mengaku tak punya cita-cita. Dia tidak bercita-cita jadi pedagang seperti orang tuanya atau kebanyak anak-anak sebayanya ketika itu. Ada budaya pesantren di kampungnya itu lebih banyak bercita-cita jadi pedagang, ketimbang jadi pegawai negeri. Cita-citanya mengalir saja laksana air.

Amal mengecap pendidikan SD, SMP dan SMA di kota kelahirannya. Dia selalu mendapat ranking pertama. Lulus SMA, dia mendaftar dan diterima di dua universitas, yakni UGM dan Unair Surabaya. Lalu, Amal memilih Jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM. Dia pun tekun mengikuti kuliah, dan diselesaikan lima tahun (1967).

Dia pun langsung diangkat menjadi dosen di almamaaternya, tanpa melamar. Ketika itu, 1967, UGM mengalami kekosongan pengajar karena banyak dosen terlibat G30S dan dikeluarkan. Dua tahun berikutnya (1969), dia menikah dengan Ery Hariati, adik kelasnya waktu kuliah. Mereka dikaruniai tiga anak, namun satu meninggal dunia akibat leukemia.

Lalu, dia pun berkesempatan melanjutkan studi ilmu politik di Northern Illinois University, Illinois, Amerika Serikat, atas beasiswa Fullbright, meraih gelar MA.

Kemudian, sambil merawat anaknya yang sakit di Australia, Amal melanjutkan S3 di Monash University, Melbourne, Australia. Dia pun menggondol gelar doktor (PhD) dengan disertasi mengenai politik dalam negeri dalam kaitan hubungan pusat dengan daerah.

Selain sebagai guru besar politik di UGM, dia pun dikenal sebagai pengamat politik yang jernih tanpa mempunyai interes pribadi. Setelah tidak menjabat rektor, ia pun tetap menjadi pengamat politik. Dia pun senang dalam hobinya berolahraga tenis dan voli serta berkebun dan memelihara ikan dan aneka burung. Dia punya kandang burung setinggi tiga meter dan aquarium besar di rumahnya, Pendeansari Blok I No. 5 Condongcatur, Depok, Sleman, Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta
. e-ti/tsl, dari berbagai sumber

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Ditayangkan oleh redaksi  -  Dibuat 06 May 2005  -  Pembaharuan terakhir 27 Feb 2012
Bank Sampah Gemah Ripah Nyanyi Adalah Jiwaku

Baru Dikunjungi

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Favorit Saya

Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Jual Buku Biografi Hukum Romli Atmasasmita

Buku Pilihan

thumb

Dalam buku ini, Mien R. Uno memaparkan kiat-kiat awet mudanya, yang menurutnya bukanlah hal yang istimewa dan perlu dirahasiakan bahkan banyak dari kiat-kiat tersebut telah kita ketahui, hanya saja kita mengabaikannya seperti selalu bersyukur, berpikir positif, dan menjaga kesehatan.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: