Sejak semula, kyai kelahiran Tuban, 8 Agustus 1944, ini berpendirian bahwa NU sebagai ormas Islam terbesar dengan jumlah anggota mencapai 45 juta orang lebih, tidak boleh dipertaruhkan untuk kepentingan sesaat. Kebesaran nama baik NU, bagi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), dua periode (1999-2004 dan 2004-2009), ini tidak boleh dipertaruhkan demi kepentingan kekuasaan.
- biografi tokoh indonesia hasyim muzadi, kh
| Article Index |
|---|
| NU Bukan Demi Kekuasaan |
| 02 | NU Bukan Demi Kekuasaan |
| 03 | Bertekad Berantas Korupsi |
| All Pages |
03 | Bertekad Berantas Korupsi
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Muzadi, resmi menjadi calon wakil presiden mendampingi Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Sukarnoputri pada Pemilu 2004. Kyai kelaharian Tuban, 8 Agustus 1944, ini menyatakan kiranya ia bisa berperan demi kesejahteraan bangsa, antara lain dalam rangka pemberantasan korupsi.
Pendeklarasian pasangan Capres-Cawapres ini dilakukan di pelataran Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Kamis 6 Mei 2004. Proses penetapan pasangan ini, menurut Hasyim dan Mega, sudah dirintis sejak enam bulan lalu, saat Megawati berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang yang dipimpin Hasyim Muzadi.
Usai pendeklarasian itu, Mega dan Hasyim langsung berangkat mengunjungi makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur. Sekitar pukul 15.10, keduanya tiba di kompleks makam tersebut dan selama 20 menit melakukan doa serta menabur bunga di atas makam Soekarno.
Acara itu dirancang sedemikian rupa, sehingga simbol berpadunya nasionalis dan Islam, sangat terkesan. Menurut Hasyim, duetnya dengan Megawati merupakan awal dari dikikisnya dikotomi Islam abangan dan Islam santri. Mulai hari ini, kata Hasyim, istilah itu perlu ditinggalkan. Alasannya, kita tahu bahwa sebagian besar warga PDI-P adalah orang Islam di desa-desa. Begitu pula orang-orang NU berada di desa-desa.
''Dikotomi ini telah berlangsung berabad-abad. Hari ini hentikan dikotomi itu. Mari kita satunya pekik 'Merdeka' dan 'Allahu Akbar,'' tandas Hasyim, disambut tepuk tangan riuh massa PDIP yang memenuhi tenda di pelataran Tugu Proklamasi.
"Maka, duet Ibu Megawati dengan saya bukan hanya diharapkan membentuk skala pemerintahan, tetapi juga dimensi kultural untuk menjamin kekokohan persatuan rakyat," kata Hasyim Muzadi.
Pada kesempatan itu, Hasyim juga menyampaikan terima kasih kepada Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung dan calon presiden Partai Golkar, Wiranto, atas tawaran terhadapnya untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres) Partai Golkar. Namun, katanya, saya mohon maaf karena terpaksa tidak bisa memenuhinya. "Alasannya, bukan apa-apa, saya tidak bisa menerima tawaran dua sekaligus," ujarnya.
Hasyim juga menepis anggapan akan terpecahnya warga NU dengan pencalonannya sebagai Cawapres. Menurutnya, tidak ada istilah terpecah di antara warga NU, karena selamanya NU memilih beberapa jurusan. Semua menentukan pilihan masing-masing dan itu boleh-boleh saja.
Perihal tidak adanya restu Ketua Umum Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), atas pencalonannya, Hasyim mengatakan, dia bukan orang partai sehingga tidak perlu restu pengurus partai.
Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Yusuf Hasyim menegaskan, cocok tidaknya Megawati–Hasyim tidak tergantung penilaian para nahdliyin, melainkan tergantung pasangan itu sendiri. Yusuf menegaskan bahwa NU ingin menghilangkan kesan feodal, yakni memberi restu, dukungan, dan izin. Itu urusan pribadi. "Kalau bagus, tanpa didukung pun akan berhasil," ujarnya. Yusuf Hasyim berpesan agar umat Islam jangan keliru memilih presiden. Umat jangan memilih presiden hanya berdasarkan figur, tetapi juga melihat aktor intelektual di belakang pencalonan.
Sementara, pada temu pers saat pendaftaran Capres-Cawapres Mega-Hasyim ke KPU Rabu 12 Mei 2004, Hasyim kembali menegaskan bahwa dirinya tidak akan mundur dari posisi ketua umum PB NU, meskipun berkiprah sebagai cawapres. "Menurut aturan internal NU, saya harus nonaktif hanya selama masa kampanye. Selebihnya bukan peraturan, tapi kemauan. Perkara mendapatkan berapa suara, ya itu bukan untuk dipertanyakan, tapi diperjuangkan," tegasnya.
Hasyim Muzadi berjanji jika terpilih jadi Wapres akan berupaya meningkatkan martabat kebudayaan Indonesia, mendorong kerja sama lintas parpol, serta menguatkan ekonomi kelas menengah ke bawah. Dia juga bertekad meningkatkan kualitas kehidupan beragama sekaligus memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya. Menurutnya, ada satu ironi, Indonesia dipimpin orang-orang beragama, tapi uangnya juga digerogoti orang-orang beragama.
Bukan Demi Kekuasaan
Sebelumnya, diperkirakan KH Hasyim Muzadi akan dicalonkan oleh PKB sebagai capres atau cawapres. Namun terganjal dengan adanya keinginan mencalonkan KH Abdurrahman Wahid. Ia juga drekomendasikan PB NU kepada PKB agar dicalonkan. Walau tampaknya Gus Dur kurang menyukai pencalonan Hasyim Muzadi ini. Sehingga tampak kepermukaan kekurangharmonisan hubungan mereka.
Tetapi Badan Otonom Nahdlatul Ulama, yang terdiri dari GP Ansor, Muslimat, Fatayat, Ikatan Pelajar NU (IPNU), dan Ikatan Putra-Putri NU (IPPNU), meminta PKB mencalonkan Ketua Umum PBNU ini sebagai pendamping KH Abdurrahman Wahid.
Dalam rapat pleno PBNU, Jumat di Jakarta, Sekjen IPNU Syamsudin Pay membacakan hasil kesepakatan lima badan otonom NU itu. Selain itu Ketua PBNU Andi Jamaro Dulung juga membacakan surat 22 Pengurus Wilayah (PW) NU dengan permintaan serupa.
Rapat itu dihadiri Rais Aam KH Sahal Mahfudz, Wakil Rais Aam KH Fachrudin Masturo, Katib Aam Masdar Farid Mas'udi, dan beberapa anggota Syuriah PBNU seperti KH Dimyati Rais yang menjadi Ketua Dewan Syura Partai Kejayaan Demokrasi (Pekade) pimpinan Matori Abdul Djalil.
Organisasi yang berada di bawah naungan NU juga meminta NU berkomunikasi dengan kekuatan strategis bangsa, termasuk TNI dan partai politik, untuk bekerja sama menjaga keutuhan bangsa dan negara.
Perihal pencalonannya, KH Hasyim Muzadi menegaskan, permintaan dari berbagai pihak sudah berdatangan tetapi belum dijawab. "Ini bukan masalah pribadi saya, tetapi NU. Kalau NU belum memutuskan apa-apa ya saya tidak berbuat apa-apa," katanya.
Beberapa partai juga sempat melirik Hasyim Muzadi untuk diajak berkoalisi. Di antaranya, PDIP, Golkar dan PAN. Namun menurut pengakuan kyai pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al Hikam, Malang, ini Ketua Umum PDI-P yang lebih dulu menghubunginya.
Sementara, ia sendiri sejak semula berpendirian bahwa NU sebagai ormas Islam terbesar dengan jumlah anggota mencapai 45 juta orang, tidak boleh dipertaruhkan untuk kepentingan sesaat. Kebesaran nama baik NU, bagi Muzadi, tidak boleh dipertaruhkan demi kepentingan kekuasaan. Ia juga ingin menjaga agar Umat Islam, terutama kaum nahdliyin, tidak terkotak-kotak dalam politik aliran. Namun, bila ada warga NU yang ingin aktif di politik, sama sekali tidak ada halangan. Tetapi, tidak membawa bendera NU secara kelembagaan dalam kiprah politiknya. Paling tidak, hal itu berlaku untuk masa sekarang.
Namun menurutnya, sepanjang mereka membawa visi nasional Indonesia secara utuh, akan disambut baik. NU akan merespons siapapun ketika yang dibicarakan itu masalah nasional dan utuh. Ketika mereka melakukan (atau) tampil sebagai partisan politik, itu ya terserah anggota, mau pilih atau tidak. tsl
Update Data & Sponsorship
Dukungan Anda, Semangat Kami
(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.
Update Konten/Saran
Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:
- Menambah (Daftar) Tokoh
- Memperbaharui CV atau Biografi
- Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
- Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
- Menambah Galeri Foto
- Menambah Video
- Menjadi Member
- Memasang Banner/Iklan
- Memberi Dukungan Dana
- Memberi Saran
Contoh Penggunaan
Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:
Rumah Presiden SBY
Rumah Presiden Soekarno
Rumah Megawati Soekarnoputri
Silakan menghubungi kami di:
- Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
- Email:
- Atau gunakan FORM KONTAK ini
Sponsorship
Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.
Sponsor Bronze ![]() | Sponsor Silver ![]() |
Sponsor Gold ![]() | |


Tokoh Indonesia DotCom, sebuah media informasi dan database online terbaik, terlengkap dan terpadu perihal biografi, visi-misi, dan berita para tokoh di Indonesia. Diterbitkan sejak 20 Mei 2002 bertepatan Hari Kebangkitan Nasional. Tokoh Indonesia meliputi pemimpin formal dan informal Indonesia: 

























Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.