Wikipedia

Kompas

Tempo

Antara

YouTube

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan ke sdm at tokohindonesia.com

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com if you CARE

    Berita Tokoh Monitor

    KPK-Hukum

    Bisnis-Entrepreneur

    Internet-Social Media

    Budaya-Sastra

    Mancanegara

    Olahraga

    Gaya Hidup

    Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap dua jam.
    Facebook TokohIndonesia.com   Twitter TokohIndonesia.com   Google Plus TokohIndonesia.com
    Berita Video Update Data & Sponsorship Intermezzo Komentar

    NU Bukan Demi Kekuasaan

    • zoom in
    • zoom out
    • font color
    • bold

    CURRICULUM VITAE
    NU Bukan Demi Kekuasaan
    KH Hasyim Muzadi | TokohIndonesia.com - Ist
    Tidak ada data

    Sejak semula, kyai kelahiran Tuban, 8 Agustus 1944, ini berpendirian bahwa NU sebagai ormas Islam terbesar dengan jumlah anggota mencapai 45 juta orang lebih, tidak boleh dipertaruhkan untuk kepentingan sesaat. Kebesaran nama baik NU, bagi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), dua periode (1999-2004 dan 2004-2009), ini tidak boleh dipertaruhkan demi kepentingan kekuasaan.

    QR Code Halaman Biografi Hasyim Muzadi, KH
    • biografi tokoh indonesia hasyim muzadi, kh
    Article Index
    NU Bukan Demi Kekuasaan
    02 | NU Bukan Demi Kekuasaan
    03 | Bertekad Berantas Korupsi
    All Pages

    03 | Bertekad Berantas Korupsi

    Ketua Umum Pengurus Besar Pendiri Nahdlatul Ulama 1926
    Pendiri Nahdlatul Ulama 1926
    Nahdlatul Ulama
    (NU) KH Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (1999-2010)
    Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (1999-2010)
    Hasyim Muzadi
    , resmi menjadi calon wakil presiden mendampingi Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Sukarnoputri pada Pemilu 2004. Kyai kelaharian Tuban, 8 Agustus 1944, ini menyatakan kiranya ia bisa berperan demi kesejahteraan bangsa, antara lain dalam rangka pemberantasan korupsi.

    Pendeklarasian pasangan Capres-Cawapres ini dilakukan di pelataran Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Kamis 6 Mei 2004. Proses penetapan pasangan ini, menurut Hasyim dan Mega, sudah dirintis sejak enam bulan lalu, saat Megawati berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang yang dipimpin Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (1999-2010)
    Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (1999-2010)
    Hasyim Muzadi
    .

    Usai pendeklarasian itu, Mega dan Hasyim langsung berangkat mengunjungi makam Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
    Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
    Bung Karno
    di Blitar, Jawa Timur. Sekitar pukul 15.10, keduanya tiba di kompleks makam tersebut dan selama 20 menit melakukan doa serta menabur bunga di atas makam Soekarno.

    Acara itu dirancang sedemikian rupa, sehingga simbol berpadunya nasionalis dan Islam, sangat terkesan. Menurut Hasyim, duetnya dengan Megawati merupakan awal dari dikikisnya dikotomi Islam abangan dan Islam santri. Mulai hari ini, kata Hasyim, istilah itu perlu ditinggalkan. Alasannya, kita tahu bahwa sebagian besar warga PDI-P adalah orang Islam di desa-desa. Begitu pula orang-orang NU berada di desa-desa.

    ''Dikotomi ini telah berlangsung berabad-abad. Hari ini hentikan dikotomi itu. Mari kita satunya pekik 'Merdeka' dan 'Allahu Akbar,'' tandas Hasyim, disambut tepuk tangan riuh massa Presiden Republik Indonesia Kelima (2001-2004)
    Presiden Republik Indonesia Kelima (2001-2004)
    PDIP
    yang memenuhi tenda di pelataran Tugu Proklamasi.

    "Maka, duet Ibu Megawati dengan saya bukan hanya diharapkan membentuk skala pemerintahan, tetapi juga dimensi kultural untuk menjamin kekokohan persatuan rakyat," kata Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (1999-2010)
    Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (1999-2010)
    Hasyim Muzadi
    .

    Pada kesempatan itu, Hasyim juga menyampaikan terima kasih kepada Ketua Umum Partai Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
    Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
    Golkar
    Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
    Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
    Akbar Tandjung
    dan calon presiden Partai Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
    Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
    Golkar
    , Ketua Umum Partai Hanura
    Ketua Umum Partai Hanura
    Wiranto
    , atas tawaran terhadapnya untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres) Partai Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
    Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
    Golkar
    . Namun, katanya, saya mohon maaf karena terpaksa tidak bisa memenuhinya. "Alasannya, bukan apa-apa, saya tidak bisa menerima tawaran dua sekaligus," ujarnya.

    Hasyim juga menepis anggapan akan terpecahnya warga NU dengan pencalonannya sebagai Cawapres. Menurutnya, tidak ada istilah terpecah di antara warga NU, karena selamanya NU memilih beberapa jurusan. Semua menentukan pilihan masing-masing dan itu boleh-boleh saja.

    Perihal tidak adanya restu Ketua Umum Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) KH Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
    Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
    Abdurrahman Wahid
    (Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
    Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
    Gus Dur
    ), atas pencalonannya, Hasyim mengatakan, dia bukan orang partai sehingga tidak perlu restu pengurus partai.

    Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Yusuf Hasyim menegaskan, cocok tidaknya Megawati–Hasyim tidak tergantung penilaian para nahdliyin, melainkan tergantung pasangan itu sendiri. Yusuf menegaskan bahwa NU ingin menghilangkan kesan feodal, yakni memberi restu, dukungan, dan izin. Itu urusan pribadi. "Kalau bagus, tanpa didukung pun akan berhasil," ujarnya. Yusuf Hasyim berpesan agar umat Islam jangan keliru memilih presiden. Umat jangan memilih presiden hanya berdasarkan figur, tetapi juga melihat aktor intelektual di belakang pencalonan.

    Sementara, pada temu pers saat pendaftaran Capres-Cawapres Mega-Hasyim ke KPU Rabu 12 Mei 2004, Hasyim kembali menegaskan bahwa dirinya tidak akan mundur dari posisi ketua umum PB NU, meskipun berkiprah sebagai cawapres. "Menurut aturan internal NU, saya harus nonaktif hanya selama masa kampanye. Selebihnya bukan peraturan, tapi kemauan. Perkara mendapatkan berapa suara, ya itu bukan untuk dipertanyakan, tapi diperjuangkan," tegasnya.

    Hasyim Muzadi berjanji jika terpilih jadi Wapres akan berupaya meningkatkan martabat kebudayaan Indonesia, mendorong kerja sama lintas parpol, serta menguatkan ekonomi kelas menengah ke bawah. Dia juga bertekad meningkatkan kualitas kehidupan beragama sekaligus memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya. Menurutnya, ada satu ironi, Indonesia dipimpin orang-orang beragama, tapi uangnya juga digerogoti orang-orang beragama.

    Bukan Demi Kekuasaan
    Sebelumnya, diperkirakan KH Hasyim Muzadi akan dicalonkan oleh PKB sebagai capres atau cawapres. Namun terganjal dengan adanya keinginan mencalonkan KH Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
    Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
    Abdurrahman Wahid
    . Ia juga drekomendasikan PB NU kepada PKB agar dicalonkan. Walau tampaknya Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
    Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
    Gus Dur
    kurang menyukai pencalonan Hasyim Muzadi ini. Sehingga tampak kepermukaan kekurangharmonisan hubungan mereka.

    Tetapi Badan Otonom Pendiri Nahdlatul Ulama 1926
    Pendiri Nahdlatul Ulama 1926
    Nahdlatul Ulama
    , yang terdiri dari GP Ansor, Muslimat, Fatayat, Ikatan Pelajar NU (IPNU), dan Ikatan Putra-Putri NU (IPPNU), meminta PKB mencalonkan Ketua Umum PBNU ini sebagai pendamping KH Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
    Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
    Abdurrahman Wahid
    .

    Dalam rapat pleno PBNU, Jumat di Jakarta, Sekjen IPNU Syamsudin Pay membacakan hasil kesepakatan lima badan otonom NU itu. Selain itu Ketua PBNU Andi Jamaro Dulung juga membacakan surat 22 Pengurus Wilayah (PW) NU dengan permintaan serupa.

    Rapat itu dihadiri Rais Aam KH Sahal Mahfudz, Wakil Rais Aam KH Fachrudin Masturo, Katib Aam Masdar Farid Mas'udi, dan beberapa anggota Syuriah PBNU seperti KH Dimyati Rais yang menjadi Ketua Dewan Syura Partai Kejayaan Demokrasi (Pekade) pimpinan Matori Abdul Djalil.

    Organisasi yang berada di bawah naungan NU juga meminta NU berkomunikasi dengan kekuatan strategis bangsa, termasuk TNI dan partai politik, untuk bekerja sama menjaga keutuhan bangsa dan negara.

    Perihal pencalonannya, KH Hasyim Muzadi menegaskan, permintaan dari berbagai pihak sudah berdatangan tetapi belum dijawab. "Ini bukan masalah pribadi saya, tetapi NU. Kalau NU belum memutuskan apa-apa ya saya tidak berbuat apa-apa," katanya.

    Beberapa partai juga sempat melirik Hasyim Muzadi untuk diajak berkoalisi. Di antaranya, Presiden Republik Indonesia Kelima (2001-2004)
    Presiden Republik Indonesia Kelima (2001-2004)
    PDIP
    , Golkar dan PAN. Namun menurut pengakuan kyai pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al Hikam, Malang, ini Ketua Umum PDI-P yang lebih dulu menghubunginya.

    Sementara, ia sendiri sejak semula berpendirian bahwa NU sebagai ormas Islam terbesar dengan jumlah anggota mencapai 45 juta orang, tidak boleh dipertaruhkan untuk kepentingan sesaat. Kebesaran nama baik NU, bagi Muzadi, tidak boleh dipertaruhkan demi kepentingan kekuasaan. Ia juga ingin menjaga agar Umat Islam, terutama kaum nahdliyin, tidak terkotak-kotak dalam politik aliran. Namun, bila ada warga NU yang ingin aktif di politik, sama sekali tidak ada halangan. Tetapi, tidak membawa bendera NU secara kelembagaan dalam kiprah politiknya. Paling tidak, hal itu berlaku untuk masa sekarang.

    Namun menurutnya, sepanjang mereka membawa visi nasional Indonesia secara utuh, akan disambut baik. NU akan merespons siapapun ketika yang dibicarakan itu masalah nasional dan utuh. Ketika mereka melakukan (atau) tampil sebagai partisan politik, itu ya terserah anggota, mau pilih atau tidak. tsl



    © ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
    Ditayangkan oleh cross  -  Dibuat 22 Apr 2010  -  Pembaharuan terakhir 24 Feb 2012

    Update Data & Sponsorship

    Dukungan Anda, Semangat Kami

    (1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

    Update Konten/Saran

    Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

    • Menambah (Daftar) Tokoh
    • Memperbaharui CV atau Biografi
    • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
    • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
    • Menambah Galeri Foto
    • Menambah Video
    • Menjadi Member
    • Memasang Banner/Iklan
    • Memberi Dukungan Dana
    • Memberi Saran

    Contoh Penggunaan

    Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

    Rumah Presiden SBY

    Rumah Presiden Soekarno

    Rumah Megawati Soekarnoputri

    Silakan menghubungi kami di:

    • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
    • Email:
    • Atau gunakan FORM KONTAK ini

    Sponsorship

    Jika Anda merasa terbantu/senang dengan keberadaan situs ini, mohon dukung kami dengan membeli paket sponsorship. Semua dana yang kami terima akan digunakan untuk memperkuat kemampuan TokohIndonesia.com dalam menyajikan konten yang lebih berkualitas dan dukungan server yang lebih kuat. Dukungan Anda juga memungkinkan kami membuka konten seluas-luasnya kepada publik. Silakan beli paket sponsor dengan aman via paypal (kartu kredit). Bila Anda ingin mentransfer via bank, silakan lihat informasi rekening kami di halaman kontak.

    Sponsor Bronze
    Sponsor Bronze: US$50
    Sponsor Silver
    Sponsor Silver: US$250
    Sponsor Gold
    Sponsor Gold: US$500


    Nama para Sponsor akan kami tempatkan di halaman khusus 'Sponsor'. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi kami via Telp/SMS ke 0852-15333-143 atau e-mail ke sponsor@tokohindonesia.com.
    Beri Komentar

    Facebook

    Share on Myspace

    TIKomen

    Beri Komentar

    Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


    Kode keamanan Refresh

    Intermezzo
    Pemerintah RI baru secara resmi menyematkan gelar "proklamator" kepada Soekarno-Hatta pada tahun 1986, atau 16 tahun setelah Soekarno wafat.

    Bio Lainnya

    Click to view full article

    Sarwono Kusumaatmadja potret seorang pribadi Lihat Daftar Tokoh Politisi
    Lihat Daftar Tokoh Politisi
    politisi
    bersahaja, bersih dan cerdas. Lulusan Teknik Sipil ITB kelahiran Jakarta, 24 Juli 1943 ini adalah mantan Ketua Umum Dewan

    Click to view full article

    Hakim Konstitusi Akil Mochtar terpilih sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2013-2015. Pria kelahiran Putussibau, Kalimantan Barat, 18 Oktober 1960, itu menggantikan

    Click to view full article

    Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Pemimpin Perang Diponegoro
    Pemimpin Perang Diponegoro
    Diponegoro
    (Undip), Semarang, Prof. Dr. Arief Hidayat, SH, MS resmi menjabat hakim konstitusi setelah dilantik Presiden di Istana Negara,

    Click to view full article

    Setelah masa tugasnya sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) berakhir 1 April 2013, Ketua Mahkamah Konstitusi RI (2008-2013)
    Ketua Mahkamah Konstitusi RI (2008-2013)
    Mahfud MD
    tanpa sungkan mengaku siap menjadi calon presiden (capres). Menurutnya, karena sudah


    Baru Dikunjungi

    Anda harus login untuk menggunakan fitur ini

    Favorit Saya

    Anda harus login untuk menggunakan fitur ini
     

    Menurut Anda, Siapa Tokoh yang Layak Jadi Capres 2014?

    Komunitas

    • Terbaru
    • Komentar

    Like to Support Us