SELAMAT DATANG ENSIKLOPEDI TOKOH TERKEMUKA INDONESIA
Search     A   B     D     F       I       L     N   O   P   Q   R   S     U     W     Y   Z
PERNIKAHAN
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
INDEX BERITA   

garis

:::::: Berita garis

:::::: Wawancara garis
:::::: Opini
garis
:::::: Editorial
garis
:::::: Resensi
garis
:::::: Leadership
garis
:::::: Selamat HUT
garis
:::::: Pernikahan
garis
:::::: In Memoriam
garis
:::::: Sebelumnya
garis
:::::: Redaksi
garis

 
garis
garis

 

Pernikahan Agung Pengantin Keraton Yogya

Sri Sultan Hamengku Buwono X menikahkan putri sulungnya, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun, dengan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Wironegoro di Kagungan Dalem Masjid Panepen, Keraton Yogyakarta, 29/5/02.

Presiden Megawati Soekarnoputri dan pemimpin lembaga tinggi dan tertinggi negara serta sejumlah menteri hadir dalam acara tersebut. Upacara pernikahan itu diawali dengan kehadiran Sri Sultan yang pada pukul 07.00 WIB langsung memasuki masjid dan duduk di depan mihrab (pengimaman) menghadap ke timur.
Setelah duduk sejenak, Sri Sultan kemudian meminta kehadiran abdi dalem pengulu dan petugas KUA Kecamatan Kraton. Disusul dengan dawuh dalem (titah Sri Sultan) untuk menghadirkan calon pengantin pria, KPH Wironegoro, disertai ayahandanya, H Sudjatmoko. Para abdi dalem pengulu menempatkan diri di sisi selatan menghadap ke utara, sedangkan KPH Wironegoro dan H Sudjatmoko duduk di depan Sri Sultan menghadap ke arah barat.
Sehari sebelumnya, ratusan ribu warga Yogyakarta menyaksikan kirab pengantin dalam rangkaian Perkawinan Agung Keraton Yogyakarta, Selasa (28/5) mulai pukul 16.00. Sepanjang perjalanan kirab yang mengelilingi tembok Benteng Keraton Yogyakarta sejauh empat kilometer itu, pasangan pengantin Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun dan suaminya Kanjeng Pengeran Harya (KPH) Wironegoro, membalas senyum dan lambaian tangan kepada masyarakat yang mengelu-elukan dengan teriakan ataupun lambaian tangan.
Sebelumnya, sejak pagi hingga sekitar pukul 11.00 kemarin, suasana Keraton Yogyakarta juga sangat meriah, karena pelaksanaan rangkaian upacara pengantin agung berupa ijab kabul, panggih, pondongan, ucapan selamat, tanpa kaya, dan dahar klimah.
Sultan HB X sendiri yang menikahkan GKR Pembayun di Masjid Panepen di dalam Keraton Yogyakarta.
Selain Presiden Megawati Soekarnoputri (tanpa diiringi suaminya), hadir pada upacara pernikahan di Bangsal Kencono ini sejumlah tamu, antara lain Ketua MPR Amien Rais, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan, Ketua BPK SB Judono, Ketua Dewan Pertimbangan Agung Achmad Tirtosudiro, Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara AM Hendropriyono, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Laksamana Widodo AS, mantan Panglima ABRI Wiranto, Menko Kesra Jusuf Kalla, Mendagri Hari Sabarno, Menlu Hassan Wirajuda, serta Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea.
Dipadati masyarakat
Jalan yang dilalui pengantin yang mengendarai kereta terbuka Kiai Jongwiyat, ditarik enam kuda putih, sangat padat. Kemacetan lalu lintas tak terhindarkan. Puluhan warga menyaksikan prosesi itu dengan memanjat pohon di pinggir jalan, memanjat pagar atau dinding, dan sebagian lainnya berjajar menyaksikan dari atas tembok benteng yang mengelilingi keraton.
"Enggak saya bayangkan sambutan masyarakat akan seperti ini. Mereka itu sampai membawa bekal nasi dan dimakan sambil menunggu pasangan pengantin keraton lewat," ujar Sumartono, warga Semarang yang khusus datang untuk menyaksikan peristiwa tersebut.
Ada empat kereta yang mengikuti kirab yang diawali dengan pasukan berkuda itu. Selain Kiai Jongwiyat, ada tiga kereta lagi yang ditumpangi oleh adik Sultan HB X, Kanjeng Gusti Pengeran Harya (KGPH) Hadiwinoto, sedangkan kirab itu sendiri dipimpin oleh manggalayuda Gusti Bandoro Pengeran Harya (GBPH) Yudaningrat.
Banyak warga yang tidak sekadar mengelu-elukan dengan lambaian tangan, tetapi banyak juga warga masyarakat yang menyambutnya dengan emosi hati yang lebih simpati. Bahkan, banyak warga yang berdatangan sejak pukul 14.00 berebut rangkaian bunga-bunga yang menghiasi kereta berkuda. Kirab yang dimulai pukul 16.00 itu baru selesai pukul 18.00 karena jalannya kirab yang begitu lamban, akibat terjebak oleh lautan massa yang menutup jalan.
Ijab kabul
Tidak seperti pengantin biasa, ijab kabul yang dilakukan di Keraton Yogyakarta tidak dihadiri pengantin wanita, hanya dihadiri oleh pengantin laki-laki Kanjeng Pengeran Harya (KPH) Wironegoro. Ijab kabul perkawinan itu dilakukan di Masjid Panepen.
Sekitar pukul 07.00, KGPH Hadiwinoto mengiring pengantin laki-laki dari Kasatriyan menuju Masjid Panepen. Di dalam masjid sudah menanti Sultan HB X bersama dengan penghulu keraton Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Drs Ahmad Kamaludiningrat dan petugas dari Kecamatan Keraton. Acara dimulai dengan khotbah nikah dari penghulu, pelaksanaan ijab kabul KPH Wironegoro, penyelesaian administrasi, dan terakhir pengantin pria melakukan sembah sungkem kepada Sultan HB X. Sekitar pukul 07.35 ijab kabul selesai.
Sedangkan KPH Wironegoro menyatakan mahar (emas kawin) pernikahan berupa kitab suci Alquran, seperangkat alat salat wanita, dan cincin berlian yang dibayarkan secara tunai.
Bertindak sebagai saksi dalam pernikahan itu adalah Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Achmad Kamaludiningrat dan Raden Riyo M Abdul Dalman, keduanya abdi dalem Ketib Pangulon Keraton Yogyakarta.
Dalam upacara itu, Sri Sultan mengenakan ageman takwa (surjan) warna biru muda dengan motif bunga, sementara KPH Wironegoro mengenakan setelan putih, kain, dan belangkon, keris, dan cenela (selop bersulam).
Saksi perkawinan yang hadir dalam ijab kabul semuanya berasal dari abdi dalem Ketib Pengulon (abdi dalem berseragam putih-putih dan bersorban yang tugasnya berdoa), yaitu penghulu Keraton Ahmad Kamaludiningrat dan Abdul Dalmono. Mas kawin dari pengantin pria berupa Kitab Suci Al Quran, seperangkat alat shalat, dan cincin berlian, tunai.
Usai ijab kabul, kedua pengantin mempersiapkan diri untuk mengikuti upacara panggih, yakni mempertemukan pengantin pria dan pengantin wanita karena dalam ijab kabul hanya dihadiri pengantin pria. Upacara panggih berlangsung pukul 10.00 di emper Kagungan Dalem Bangsal Kencana, setelah kedua mempelai berganti pakaian dengan pakaian kebesaran Paes Ageng, setelan basahan (tanpa baju), dan desain pakaian yang dikenakan merupakan desain pakaian asli peninggalan Sultan HB VII, termasuk seperangkat perhiasan asli dari emas dan berlian.
Di hadapan Sultan HB X dan GKR Hemas, kedua pengantin melaksanakan upacara injak telur, cuci kaki, saling melempar sirih, dilanjutkan dengan upacara pondongan (membopong) mempelai wanita ke pelaminan yang dilakukan oleh KPH Wironegoro bersama Gusti Bandoro Pengeran Harya (GBPH) Yudhaningrat (salah seorang adik Sultan HB X).
Sementara upacara resepsi juga berlangsung di tempat yang sama, yaitu di halaman dan Bangsal Kencono. Hari Rabu, dilaksanakan upacara penutup, yaitu kedua pengantin berpamitan pada Sultan HB X dan GKR Hemas. (Tokoh Indonesia)

  Lead
Ratusan ribu warga Yogyakarta menyaksikan kirab pengantin dalam rangkaian Perkawinan Agung Keraton Yogyakarta, Selasa (28/5) mulai pukul 16.00. Sepanjang perjalanan kirab yang mengelilingi tembok Benteng Keraton Yogyakarta sejauh empat kilometer itu, pasangan pengantin Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun dan suaminya Kanjeng Pengeran Harya (KPH) Wironegoro, membalas senyum dan lambaian tangan kepada masyarakat yang mengelu-elukan dengan teriakan ataupun lambaian tangan.

 

 Pernikahan

Iis Dahlia

 

  Editorial

 

 

Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero