Zulkieflimansyah
Kinerja Kementerian BUMN Buruk
Sinar Harapan 27/1/05:
Anggota Komisi VI DPR RI, Zulkieflimansyah berpendapat kinerja
kementerian BUMN hingga saat ini sangat mengecewakan. Penanganan BUMN
boleh dikatakan merupakan salah satu kelemahan mendasar dari Kabinet
Indonesia Bersatu.
”Padahal, BUMN merupakan ujung tombak dari pemulihan ekonomi nasional,”
kata Zulkiflimansyah kepada SH menanggapi kinerja Kementerian BUMN di
Jakarta, Kamis (27/1/05).
Menurut Zulkieflimansyah hingga kini kementrian BUMN tidak memiliki
program yang jelas mengenai prioritas yang harus ditangani. Sebaliknya,
kementrian BUMN baru membuat konsep penanganan yang juga belum jelas.
”Saya melihat pejabat kementerian BUMN tidak memiliki road map yang
jelas mengenai arah BUMN dan juga indikator keberhasilan sebuah
BUMN,”katanya.
Menurut Zulkieflimansyah, pergantian direksi dan komisaris beberapa BUMN
yang sudah terkatung-katung harus segera dilaksanakan dalam 100 hari
pemerintahan. Pengesahan presiden sebenarnya tidak bisa dijadikan alasan
untuk terus menunda.
Namun demikian toh ia bisa memahami hambatan psikologis yang dialami
Menneg BUMN jika struktur baru kementrian BUMN harus belum disahkan
presiden. Untuk itu, Presiden harus secepatnya mengesahkan. ”Masak,
dalam 100 hari tidak ada tindakan konkrit yang diambil pemerintah untuk
membenahi BUMN,” katanya.
Sementara, pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Revrisond
Baswir ketika dimintai pendapatnya oleh SH kamis (27/1) mengatakan
Presiden harus bertindak cepat dan tegas untuk membersihkan kementrian
BUMN dari semua kepentingan-kepentingan politik.
Setelah itu dilakukan, barulah berbicara mengenai pembenahan payung
hukum dan juga bisnis BUMN.
”Pemerintah harus melakukan pembenahan secara sistematis yang dimulai
dari pembersihan kementrian BUMN,” katanya.
Revrisond melihat selama ini birokrasi di kementrian BUMN tidak bisa
lepas dari tarik menarik berbagai kepentingan politik yang hendak
menguasainya dan pada gilirannya akan menguasai BUMN.
Dalam BUMN Summit yang berlangsung di Jakarta 26-27 Januari, Menneg BUMN
Sugiharto mengatakan, pemerintah akan menggabung sejumlah BUMN Pupuk dan
BUMN Perkebunan masing-masing dalam bentuk induk perusahaan (holding)
guna meningkatkan produktivitas, dan pendapatan.
”Kami mentargetkan penggabungan itu akan selesai tahun ini juga. Setelah
pengkajian selesai akan dibawa ke Rapat Kerja Nasional dengan BUMN
terkait,” katanya Sugiharto.
Dia mengatakan, penggabungan masing-masing BUMN tersebut merupakan suatu
kebutuhan guna menciptakan sinergi baru, dalam rangka program
revitalisasi BUMN yang diterapkan pemerintah pada masa 2005-2009.
Disebutkan, 14 perusahaan di sektor BUMN Perkebunan sedang dibahas
kemungkinannya untuk digabung menjadi satu, tiga atau menjadi lima BUMN
saja. ”Tergantung hasil analisis, apakah berdasarkan produk, sektor,
wilayah atau seluruh BUMN Perkebunan menjadi satu,” katanya.
Menurut dia, desakan penggabungan BUMN Perkebunan itu sebenarnya juga
sudah dirasakan para direksi sejak beberapa tahun lalu melalui
pembentukan Badan Musyawarah Direksi, namun hasil musyawarahnya tidak
bisa mengikat.
Karena itu, pemerintah berupaya menggabung beberapa BUMN Perkebunan agar
terjadi sinergi yang mengikat di antara masing-masing perusahaan.
Misalnya untuk pengadaan barang, dengan sinergi itu mereka bisa bertukar
informasi mengenai rekanan yang cacat.
Dari sisi pemasasaran, sinergi BUMN Perkebunan bisa menjadikan BUMN itu
sebagai penentu harga (market pricing) komoditas, karena pada dasarnya
BUMN Perkebunan di Indonesia merupakan produsen yang cukup besar, antara
lain pada komoditas sawit, teh, karet. ”Saat ini dari 14 BUMN Pupuk
hanya tiga yang untung,” kata Sugiharto.
Sedangkan untuk BUMN Pupuk, Sugiharto menilai, perlu ada pembaruan/reformasi
dan restrukturisasi manajemen, karena pada dasarnya BUMN di sektor ini
sudah bergabung (induk perusahan PT Pusri) namun saat ini BUMN itu
seolah berdiri sendiri, mulai dari kebijakan, distribusi, pemasaran dan
investasi.
Menurutnya, BUMN Pupuk karena tidak bersinergi sehingga terlihat ada
persaingan, di sisi lain selain adanya kelebihan investasi. Dalam rangka
rencana induk revitalisasi BUMN 2005-2009 yang diluncurkan Kementerian
BUMN, Sugiharto menegaskan, pemerintah akan memangkas jumlah badan usaha
milik negara. Sebanyak 54 BUMN akan digabung menjadi 21 perusahaan, dan
sisanya akan dipertahankan menjadi perusahaan sendiri dan akan disatukan
dalam sepuluh perusahaan induk.
Mengenai rencana pergantian direksi dan komisaris Garuda, Sugiharto
mengatakan, pergantian direksi baru akan dilakukan setelah struktur baru
Kementrian BUMN disahkan Presiden Yudhoyono. Ia tidak menjelaskan kapan
persisnya penyegaran tersebut akan dilakukan. ”Kita akan melakukan
penyegaran (manajemen Garuda) dalam waktu yang tidak terlalu lama,”
ujarnya.
Pemerintah juga memandang pentingnya restrukturisasi BUMN penerbangan
tersebut mengingat cash flow atau aliran dananya negatif dan yang tidak
kalah penting merubah paradigma penyelenggara penerbangan udara. ”Kami
sudah tahu dan telah menginventarisir masalahnya. Namun pergantian
manajemen restrukturisasi perusahaan maupun perubahan paradigma itu baru
akan dilakukan setelah presiden mengesahkan struktur kementrian BUMN
yang baru,” tegas Sugiharto.
Ia menilai hal itu penting agar pihaknya mendapat landasan hukum yang
kuat dalam melakukan perbaikan BUMN yang salah satunya adalah pergantian
direksi. Saat ini, katanya, sekitar 50 persen pembantunya yang terdiri
dari para deputi dan staf ahli sudah tidak aktif dan perlu diganti. (dan)
|