Masalah 100 Hari
Presiden Terjebak Jargon Sendiri
= Presiden: Rakyat tak Masalahkan 100 Hari
Republika 29/1/05: Dalam 100 hari Presiden lebih sering terjebak jargon
sendiri. Lain dulu lain sekarang. Begitulah penyikapan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono terhadap program 100 hari pemerintahannya. Dulu,
Yudhoyono banyak sekali membuat target dalam 100 hari pemerintahannya.
Kini dia mengatakan bahwa program 100 hari itu bukan sesuatu yang penting.
''Program 100 hari lebih banyak menjadi wacana politik,'' kata Yudhoyono
di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatra Selatan, Jumat (28/1).
Pernyataan itu dikemukakan saat dia menjawab pertanyaan soal hasil yang
dicapai pemerintahnya dalam 100 hari. Lebih lanjut, dia juga
mengungkapkan bahwa rakyat tidak mempersoalkan program 100 hari. Kata dia,
rakyat lebih memperhatikan pembangunan lima tahun mendatang yang lebih
gigih dan lebih bersemangat.
Selanjutnya, dia berjanji akan menggalakkan investasi, membangun
infrastruktur, sehingga bisa tercipta lapangan kerja dalam jumlah yang
banyak. Yudhoyono menyebutkan bahwa masalah besar yang kini dihadapi
pemerintah adalah kemiskinan dan pengangguran. Sikap Yudhoyono terhadap
program 100 hari pemerintahannya itu pun membuat peneliti politik dari
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ikrar Nusa Bhakti,
mengkritiknya. Ia mengingatkan bahwa yang pertama menggaungkan program
100 hari adalah Presiden sendiri. ''Sekarang kok yang terjadi salah
kaprah. Masyarakat malah disalahkan karena menuntut program 100 hari,''
ujarnya.
Ikrar menilai Yudhoyono terlihat ingin meniru Presiden Amerika Serikat,
Franklin D Roosevelt (FDR), pada 1932. FDR inilah yang pertama kali
memopulerkan istilah program 100 hari. ''Roosevelt ternyata mendapatkan
dukungan penuh dari rakyatnya meski ia mengatakan apalah arti 100 hari
dibanding dengan 1.460 hari (empat tahun) masa jabatannya,'' jelasnya.
Bedanya, FRD dulu mampu membuat perencanaan jangka pendek, menengah, dan
panjang yang tepat sehingga AS mampu bangkit dari resesi ekonomi untuk
menjadi raksasa dunia. ''Presiden sebenarnya mempunyai legalitas untuk
seperti itu, tapi sayang kok pengalamannya menjadi jenderal, doktor, dan
pernah duduk di pemerintah, sekarang tidak terlihat sama sekali,'' jelas
Ikrar. Malah, kata dia, Presiden lebih banyak terjebak jargon-jargonnya
sendiri.
Saat berunjuk rasa di beberapa tempat, para mahasiswa pun menganggap
janji 100 hari tidak bisa dipenuhi pemerintah. Hal yang sama juga
dikemukakan Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI),
Muslimin Nasution. Kata dia, dalam 100 hari perjalanannya, pemerintah
tidak membuat perubahan berarti. Kasus korupsi yang digarap, katanya,
cuma kasus-kasus kecil. Kasus korupsi yang besar, sama sekali tak
tersentuh.
Pengamat politik Universitas Indonesia (UI), Arbi Sanit, menganggap
pemerintah tidak memberi arah yang prospektif bagi rakyat dalam 100 hari.
Yang diberikan hanya kekaburan akibat terjadinya dualisme kepemimpinan
Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Selain dualisme, Arbi juga
menilai kabinet yang disusun Yudhoyono tidak efektif sehingga perlu
disederhanakan.
Sementara Kalla sendiri menganggap masalah yang terjadi antara dia dan
Presiden bukanlah dualisme kepemimpinan. Ia menegaskan tidak terjadi
perbedaan antara dirinya dan Presiden. ''Bahwa gaya saya berbeda, itu
persoalan gaya saja,'' tandasnya. Kalla meyakinkan bahwa semua yang
dilakukannya itu telah mendapat persetujuan dalam rapat. ( djo/ant )
|
|
|
|