FKB Kecewa
SBY-JK Tekesan Masih Kampanye
Suarapembaruan 31/1/05: Pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono-Jusuf Kalla dengan Kabinet Indonesia Bersatu -nya, sangat
mengecewakan, karena belum melakukan hal-hal yang menyentuh aspek
substansial tuntutan rakyat. Dalam program 100 hari pertama, Pemerintahan
Yudhoyono-Kalla belum melakukan hal konkrit, malah terkesan
Yudhoyono-Kalla masih dalam suasana kampanye.
Demikian pernyataan Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR yang dikemukakan
Sekretarisnya, A Helmy Faishal Zaini kepada Pembaruan sebelum disampaikan
secara resmi dalam jumpa pers "Evaluasi 100 Hari Pemerintahan SBY" di
Gedung DPR Senayan Jakarta, Senin (31/1) pagi. "FKB sangat kecewa dengan
pemerintahan Yudhoyono-Kalla yang dari awal berani menyampaikan posisi
politik dengan program 100 hari, tetapi sampai hari ini tidak ada hal-hal
positif mengejutkan yang dilakukannya," tegasnya.
Dikatakan, janji-janji perubahan seperti yang ditawarkan saat kampanye,
sampai hari ini tetap janji. Lebih mengecewakan lagi, Presiden Yudhoyono
ini masih terus saja berwacana seolah-olah masih dalam suasana kampanye,
padahal seharusnya yang harus dilakukan adalah menunjukkan bukti
perubahan yang dijanjikan itu melalui kerja dan kinerja.
"Saya tidak tahu, apakah SBY menganggap 100 hari pertama ini masih bulan
kampanye. Buktinya, Pemerintahan sekarang masih lebih suka melakukan
hal-hal yang sifatnya karikatif," kata Helmy Faishal.
FKB kata Helmy, sangat berharap 100 hari kedua Pemerintahan
Yudhoyono-Kalla, jangan lagi dilewatkan begitu saja dengan hal-hal
karikatif, tetapi harus dengan program matang maupun dengan terapi
kejutan. Ada banyak kasus-kasus korupsi besar di tingkat atas yang
mestinya dibongkar tanpa pandang bulu sehingga kelihatan ada perubahan
dari pemerintahan sebelumnya.
Dari Atas
Dalam hal penegakan hukum dan pemberantasan Korupsi Kolusi dan Nepotisme
(KKN), FKB DPR mendesak agar dilakukan dari atas. Memprihatinkan kata
Helmy Faishal karena beberapa anggota DPRD di daerah justru diuber-uber
seolah-olah menjadi tumbal 100 hari, sementara kasus besar di tingkat
atas masih didiamkan.
Dikatakan, kondisi ini memprihatinkan, karena seolah-olah penegakan hukum
itu mengambil contoh dari bawah ke atas. Sementara kasus di atas- entah
sengaja didiamkan atau tidak berani, masih terabaikan.
Soal politik, FKB DPR juga mencermati, sampai hari ini pemerintah belum
memberikan pembangunan politik yang sehat. Janji Yudhoyono bahwa kabinet
ini berpihak kepada rakyat, bukan pada parpol, ternyata diingkari.
Buktinya, Presiden Yudhoyono memberi kesempatan kepada Wakil Presiden
Jusuf Kalla mengambil alih kepempimpinan Partai Golkar sebagai Ketua Umum
partai itu. Pemerintahan SBY-Kalla mendapat mandat penuh dari rakyat
dalam Pemilu September 2004 lalu, tetapi dengan posisi Kalla sebagai
pemimpin partai, sulit diharapkan pemerintahan tersebut akan mengemban
amanat rakyat.
Dikatakan, sistem check and balances yang diharapkan terjadi, sekarang
menjadi rancu karena posisi Wapres sebagai Ketua Umum Golkar. "Kita tidak
tahu, apakah Jusuf Kalla yang tidak taat ataukah Presiden Yudhoyono yang
tidak mampu mengontrol wakilnya itu," kata Helmy Faishal.
Kalau pola-pola keterlibatan dalam parpol tersebut diteruskan kata Helmy
Faishal, akan kacau balau kehidupan negara khususnya pembangunan partai
poltik ini. Dia berharap, kasus Jusuf Kalla menjadi yang terakhir dan
tidak lagi terjadi atas partai lain yang baru akan menggelar kongres atau
pun muktamar seperti, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Masih soal politik, FKB DPR juga menyoroti manajemen pengelolaan negara
yang kacau balau. Jusuf Kalla sebagai Wapres misalnya dinilai tidak
memberikan ruang di mana dia sebagai pengusaha dan sebagai Wapres. "Pola-pola
dia sebagai direktur perusahan membuat banyak hal tata negara kacau balau.
Itulah yang mendorong teman-teman di DPR mengajukan hak bertanya atas SK
Wapres dan hak interpelasi atas surat Sekretaris Wapres (Seswapres),"
tegas salah seorang motor usul interpelasi atas surat Seswapres ini.
Di bidang ekonomi lanjut Helmy Faishal, pemerintahan Yudhoyono-Kalla
mengingkari janji perubahan dalam banyak hal. Sebab, masyarakat berharap
dengan terpilihnya Yudhoyono-Kalla ada perubahan. Harga BBM misalnya,
kalau dinaikkan harganya, harga-harga kebutuhan pokok lainnya akan
terdongkrak, lalu apa bedanya dengan pemerintahan sebelumnya. (M-15) |
|
|
|