Presiden
Tak Pernah Janji Soal 100 Hari
Kompas 1/2/05: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan dia tidak
pernah menjanjikan bahwa dalam 100 hari program pemerintahannya dapat
membereskan semua masalah kenegaraan. Pers diminta mengecek kembali
rekaman pernyataan Presiden dalam berbagai acara jika pernyataan
tersebut memang ada.
Demikian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta,
Senin (31/1). Penegasan itu disampaikan dalam pidato tanpa teksnya
setelah menyampaikan pidato tertulisnya, dalam penyerahan penghargaan
lomba kelompok sektor kelautan dan perikanan nasional 2005. Hadir dalam
acara itu Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, Sekretaris
Kabinet Sudi Silalahi dan pejabat Departemen Kelautan dan Perikanan.
"Jadi, tidak ada di dunia ini, satu pun negara yang pemerintahannya bisa
menyelesaikan semua masalahnya pada 100 hari. Waktu 100 hari langkah
awal dari pekerjaan-pekerjaan yang tetap berat pada masa lima tahun
mendatang. Begitu amanat yang diberikan kepada saya," kata Presiden.
Menurut Presiden Yudhoyono, dalam 100 hari pemerintahannya, banyak pihak
yang melontarkan kritik dan kecaman. "Banyak kritik yang meskipun keras,
kata-katanya menyakitkan, tetapi sesungguhnya konstuktif, membangun.
Tujuannya, agar pemerintah bekerja lebih giat, lebih keras dan
menghasilkan sesuatu yang diharapkan rakyat," katanya.
Oleh sebab itu, Presiden menyatakan dirinya dan para menteri, gubernur
dan pimpinan daerah, agar dapat menyambut kritik pers dengan jiwa besar
dan terbuka. "Anggaplah itu pemicu dan pemacu agar kita bekerja lebih
giat lagi membangun bangsa," jawabnya
Adapun terhadap kritik dan kecaman yang dinilai kurang dan tidak
objektif, kriterinya tidak tepat dan penuh dengan sesuatu yang
bertentangan dengan logika, Presiden Yudhoyono juga meminta para menteri
dan pejabat menjawab dengan baik pula. "Tidak perlu kita reaktif
berlebihan. Lantas, dengan penuh kegusaran, mau marah begitu. Jelaskan
secara baik, gamblang, agar rakyat mengerti duduk persoalannya dengan
benar.," lanjutnya.
Presiden Yudhoyono memberi contoh kritik yang termasuk tidak tepat
adalah menyatakan pemerintah gagal dalam 100 hari ini karena tidak
berhasil menciptakan lapangan kerja. "Tentu menciptakan lapangan kerja
yang banyak untuk mengatasi pengangguran yang kompleks, angkanya 10
persen dari total angkatan kerja itu tentunya tidak mungkin bsia
diselesaikan dalam tiga bulan. Teori ekonomi mana pun tidak ada yang
mampu menciptakan lapangan kerja yang banyak selama 100 hari ini," tanya
Presiden.
Dikatakan Presiden Yudhoyono, dari kunjungannya ke berbagai pelosok,
termasuk ke Sumatera Selatan baru-baru ini dikunjunginya, pihaknya
mendapat kesan bahwa rakyat lebih peduli, lebih berharap dan lebih
berkepentingan dengan apa yang konkrit daripada mempersoalkan 100 hari
pemerintahannya. "Saya menangkap bahwa mereka mempunyai harapan. Mengapa?
Karena program yang kita lakukan adalah program konkrit. Ada ruang dan
potensi, misalnya bagi Sumsel dan juga semua provinsi untuk dapat
membangkitkan berbagai sektor perekonomiannya. Anggaplah kritikan dan
kecaman dari rakyat itu sebagai harapan dari rakyat untuk yang lebih
besar lagi," kata Presiden
Baru 84 Persen
Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Ad Interim yang juga
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas
Sri Mulyani Indrawati dalam jumpa pers usai memimpin Rapat Koordinasi
Menteri-menteri dibidang Ekonomi mengatakan, dari 68 program dalam
agenda 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu di bawah Menteri Koordinator
Perekonomian, 57 program atau 84 persen diantaranya dinyatakan selesai.
Sekitar 40 program diantaranya merupakan program perbaikan iklim
investasi.
Sri menyebutkan, lima dari 68 program yang terkait dengan agenda pertama,
yakni program penciptaan Indonesia aman dan damai terkait dengan
penyelesaian konflik. 60 program lainnya terkait dalam bidang
peningkatan kesejahteraan rakyat. "Tiga program lain termasuk dalam
agenda khusus, seperti penanganan hari raya Lebaran dan Natal.
Ketiganyaselesai secara lengkap," kata Sri.
Sementara dari 50 program perbaikan iklim investasi, ada 40 program yang
selesai dan berlanjut, sedangkan sepuluh lainnya dalam proses
penyelesaian. Program yang dalam proses penyelesaian ini sebagian besar
disebabkan ada faktor-faktor di luar pemerintah yang harus ditunggu. "Contohnya,
persetujuan program pengalihan utang dari pemerintah Inggris yang akan
dialokasikan pada peremajaan bis Damri, masih butuh persetujuan DPR,"
katanya. (OIN/BOY)
|
|
|
|