Megawati Soekarnoputri
Janji SBY Jangan di Awang-awang
Kompas dan Waspada 29/1/05:
Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri menilai pemerintah SBY-Kalla
belum dapat merealisasikan janji-janji kampanye pada Pemilu 2004 lalu. "Saya
ingatkan janji-janji kampanye jangan berada di awang-awang," kata
Megawati Soekarnoputri usai menerima kunjungan Presiden Timor Leste
Xanana Gusmao di kediamannya Jalan Teuku Umar Jakarta Pusat, Jumat
(28/1).
Menurut Mega, rakyat dapat menilai berapa banyak janji-janji yang
disampaikan dalam kampanye telah terealisasi dalam bentuk program kerja.
Karena janji-janji itu, kata dia, 100 hari bagi sebagian besar rakyat
Indonesia menjadi tolok ukur kinerja pemerintahan baru ini. "Tentu
rakyat juga akan melihat berapa banyak janji-janji itu dibuktikan," ujar
dia.
Sementara itu, Kompas memberitakan bahwa Mantan presiden Megawati Soekarnoputri, yang sebelumnya menyatakan,
beroposisi terhadap pemerintah, melontarkan kritik terhadap kinerja 100
hari pemerintahan Presiden Yudhoyono. Menurut Megawati, janji kampanye
dilontarkan SBY-Kalla jangan berada di awang-awang.
"Saya tidak memberikan penilaian. Tetapi yang saya ingin ingatkan adalah,
100 hari itu bagian dari janji kampanye Presiden SBY," ujarnya menjawab
wartawan, usai menerima Presiden Timor Timur Xanana Gusmao di Jalan
Teuku Umar 27, Jakarta, Jumat.
Dalam pertemuan Megawati didampingi mantan Menteri Koordinator
Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, mantan Menko Politik dan
Keamanan Hari Sabarno, dan mantan Kepala Badan Intelijen Negara AM
Hendropriyono.
Menurut Megawati, akan melihat sampai seberapa jauh janji-janji kampanye
bisa dibuktikan dan terealisasikan. "Tentu saja kita berupaya,
berkompetisi, dan melakukan kampanye dengan membuat program dan
pendidikan politik rakyat. Itu harus dilakukan, sehingga janji-janji
kampanya itu jangan di awang-awang," katanya.
Amien Rais
Mantan Ketua MPR Amien Rais juga menilai program 100 hari pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla tidak membawa perbaikan di
bidang ekonomi, politik, dan hukum. Agenda pemerintah untuk memberantas
korupsi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat juga belum terbukti.
Pendapatan senada dilontarkan pengamat ekonomi Ichsanudin Noorsy pada
diskusi publik Refleksi Seratus Hari Pemerintahan SBY-Kalla di Benteng
Vredeburg, Yogyakarta, Kamis malam.
Amien Rais menilai Yudhoyono memiliki visi politik, sosial, ekonomi, dan
kebijakan luar negeri cukup bagus, namun tidak disertai tindakan konkret.
Yudhoyono-Kalla tidak memiliki keberanian moral untuk mengambil risiko.
Karakter kepemimpinan mereka adalah pemimpin yang cari aman dan hanya
bertahan pada status quo.
Selain itu, Amien juga melihat pemerintahan Yudhoyono-Kalla lebih suka
berwacana dalam menghadapi masalah. Sedangkan soal tindakan menjadi
urusan belakangan. Amien mencontohkan dalam kasus Aceh, Yudhoyono
menetapkan langkah-langkah evakuasi jenazah, perbaikan saluran listrik
dan saluran telepon, menjaga ketertiban, dan seterusnya. Kebijakan itu
dinilai Amien tidak tidak jelas, dan bersifat normatif sehingga tidak
bisa menjadi langkah konkret.
Ichsanudin menilai Yudhoyono-Kalla gagal melakukan konsolidasi,
konsiliasi, dan aksi pemerintahan. Selain percepatan penyelesaian
masalah Aceh yang belum jelas nasibnya, penanganan korupsi dan
peningkatan kesejahteraan rakyat juga tidak terbukti. “Saya sudah
menyampaikan temuan korupsi kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),
tetapi belum ada respon," katanya
Secara terpisah Ketua Umum DPP PDS Ruyandi Hutasoit dan Sekjennya ML
Denny Tewu menilai janji-janji Presiden Yudhoyono dalam 100 hari
pemerintahan nyaris tidak terpenuhi. "Bahwa 100 hari bukan cermin
keseluruhan kinerja pemerintahan SBY-Kalla itu benar, tetapi harusnya
fondasi pembangunan lima tahun bisa diproyeksikan, dan ini justru tidak
menunjukkan data dan fakta positif," ujar Hutasoit.
Namun, PDS menilai keliru jika pemerintahan Yudhoyono mengelak dinilai
kinerja 100 harinya. Jika pemerintahan Presiden Yudhoyono menolak dari
evaluasi 100 hari, sama saja dengan mengingkari janji kampanye dan
melukai hati rakyat.
Hubungan koordinatif antara Presiden dan Wakil Presiden dinilai tidak
menunjukkan tingkat koordinasi menggembirakan. Bahkan, ada tumpang
tindih kewenangan antara Presiden dan Wakil Presiden."Komitmen Presiden
memimpin langsung penanganan korupsi belum menunjukkan upaya
konstruktif,"ujar Denny Tewu.
Perlu penyegaran kabinet
Karena itu, menurut DPP PDS, selain perlu ada penyegaran di jajaran
kabinet, kordinasi antara Presiden dan Wapres perlu diutamakan, saat ini
juga dibutuhkan gebrakan cepat dalam memenuhi harapan rakyat.
Gagasan agar Presiden Yudhoyono mengevalusi kembali dan merombak
kabinetnya, juga dilontarkan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD)
Laode Ida, Jumat, usai diskusi Koalisi untuk Kebebasan Informasi di
Jakarta. "Ganti Jaksa Agung, Kepala Polri serta Menteri Hukum dan HAM
yang tidak berhasil memberantas korupsi, sebagaimana yang dijanjikan
Presiden," ujarnya.
Sedangkan, mahasiswa dan LSM di DI Yogyakarta yang tergabung dalam
Aliansi Masyarakat Korban Kebohongan Yudhoyono-Kalla berunjuk rasa
mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat. Aksi
dilakukan di depan Gedung DPRD DIY, Kantor Gubernur DIY, dan perempatan
Kantor Pos Besar.
Presiden Yudhoyono:
Rakyat Tidak Melihat Program 100 Hari
Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, rakyat
Indonesia dipelosok-pelosok pedesaan tidak ada yang berbicara soal
program 100 hari kinerja pemerintahan yang dipimpinnya. Bagi rakyat yang
ada di pelosok adalah bagaimana mereka dapat terus bergerak menyongsong
masa depannya dengan penuh semangat dan kegigihan untuk mencapai
kesejahteraan.
Ini dikatakan Presiden Yudhoyono usai panen raya di Desa Sumber Mulya
Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Palembang, Sumatera Selatan,
menanggapi pertanyaan soal kinerja pemerintahannya selama 100 hari
pertama yang jatuh Jumat (29/1) kemarin.
Sebaliknya, berbagai kritik dilontarkan terhadap kinerja pasangan
Yudhoyono-Kalla yang dinilai tidak banyak membawa perbaikan. Ini
dikatakan oleh mantan Ketua MPR Amien Rais, mantan Presiden Megawati
Soekarnoputri dan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Laode Ida.
Sementara itu, sejumlah mahasiswa di Yogyakarta memperingati 100 hari
pemerintahan Yudhoyono-Kalla dengan unjuk rasa.
Menurut Presiden Yudhoyono, apa yang disebut program 100 hari, "memang
telah menjadi wacana politik. Sebagaimana kami jelaskan berkali-kali,
kami sudah meletakkan landasan dan arah jelas untuk lima tahun mendatang.
Menyusun rencana dan mengeluarkan instruksi, menghidupkan lembaga-lembaga,
melakukan shock therapy dan segala kebijakan lain, yang Insya Allah, akan
kami lanjutkan terus," ujarnya.
Tantangan 100 hari itu akan berlanjut lima tahun mendatang. "Memang ada
sebagian orang yang mengukur 100 hari, namun kalau saya datang ke
pelosok-pelosok desa, bertemu rakyat di pedesaan, terutama di
sektor-sektor pertanian, mereka tidak ada yang berbicara mengenai 100
hari," kata Presiden.
Menurut Yudhoyono, tantangan ke depan bukan 100 hari, tetapi lima tahun
mendatang. Tantangan itu adalah bagaimana pengelolaan politik, hukum dan
keamanan itu berjalan secara lebih baik lagi. "Kemudian bagaimana
pembangunan ekonomi dapat dan kesejahteraan rakyat terus berlanjut.
Menurut saya, solusinya hanya satu, yaitu rencana yang baik, manajemen
baik dan kerja keras," tambah Presiden.
Setelah lewat 100 hari pertamanya itu, Presiden Yudhoyono menyatakan rasa
optimisme akan kemajuan yang akan dicapainya, khususnya dalam memajukan
perekonomian dan kesejahteraan rakyat.
Lebih lanjut Presiden Yudhoyono juga menyatakan, meskipun dalam 100 hari
pemerintahannya ini, prioritas dan konsentrasinya diarahkan untuk
mengatasi akibat bencana di Alor, Nabire dan menyusul di Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara, namun tidak berarti kegiatan
pemerintahan lain juga berhenti.
"Ingat yang akan kita lakukan adalah lima tahun ke depan. Ini adalah
pekerjaan besar, yang telah ditetapkan dalam satu agenda dan prioritas
pemerintah selama lima tahun mendatang. Tantangan terbesar kita adalah
memecahkan masalah pengangguran dan mengurangi kemiskinan," lanjut
Presiden.
Hanya Dalam Gaya
Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan, tidak ada perbedaan
pendapat antara dirinya dengan Presiden Yudhoyono. Segala keputusan telah
dibicarakan dan disepakati bersama. "Semua yang saya lakukan, Presiden
selalu setujui dalam rapat. Bahwa gaya saya berbeda, itu soal gaya saja.
Bukan soal apa-apa," katanya usai sholat Jumat di Istana Wakil Presiden,
Jumat.
Menurut Kalla, segala langkahnya telah dibicarakan dengan Presiden. "Disetujui
dulu baru bertindak, tetapi Anda kan tidak perlu diberitahu apa
persetujuannya. Masak setiap hal yang saya bicarakan saya harus kasih
tahu Anda," ujar Wapres.
Sementara mengenai 100 hari pemerintahan Presiden Yudhoyono, Kalla
mengatakan, banyak yang dihasilkan. "Kalau tidak ada yang berhasil
barangkali Anda takut keluar rumah. Tetapi ini aman-aman saja, situasi
baik, ekonomi lancar, harga tidak banyak naik, ukurannya kan itu,"
ujarnya.
Menanggapi kekecewaan atas lambannya pemberantasan korupsi, Kalla
mengatakan, " Apa koruptor tiba-tiba naik, kan tidak. Justru turun. Semua
harus dilihat satu persatu. Kalau negara ini tambah susah, baru ada yang
tidak berhasil."
Kalla mengakui kasus-kasus korupsi belum selesai seluruhnya. "Tetapi yang
penting trendnya. Coba tanya, gubernur, bupati mereka takut sekarang,
begitu dia ada masalah panggil polisi, tangkap saja. Kan disitu
pemberantasan korupsi, bukan banyaknya orang yang ditangkap. Tetapi,
trend orang takut pada korupsi, itu yang paling pokok," kata Wapres.
(J06/SON/BUR/ELY/har)
|
|
|
|