Sukardi Rinakit
SBY dan Politik "Gusti Ora Sare"
Tiba-tiba Pak Harto bertanya, "Kalau kamu disuruh memberi nilai selama
saya menjadi presiden, berapa nilai yang kamu berikan?" Mendapatkan
pertanyaan tak terduga di pagi itu, 19 Juni 1999, dengan spontan saya
menjawab bahwa nilainya adalah enam.
Mendengar jawaban itu, Pak Harto hanya tersenyum dan berkata dengan
sabar bahwa nilai yang saya berikan hanya temaram. Tidak gelap, tidak
terang. "Tapi tidak apa-apa, toh Gusti ora sare, Tuhan tidak tidur."
Adagium "Gusti ora sare" (Tuhan tidak tidur) seperti yang diucapkan Pak
Harto itu hadir kembali dalam memori pendek saya beberapa hari terakhir
ini. Hal itu berkaitan dengan meroyaknya pertanyaan seputar berapa nilai
yang pantas diberikan untuk Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK)
setelah 100 hari menjalankan roda pemerintahan. Selain itu, setelah
mencermati gaya kepemimpinan SBY, saya menarik kesimpulan sementara
bahwa karakter kepemimpinan SBY ternyata juga bersandar pada prinsip "Tuhan
tidak tidur". Politik "Gusti ora sare".
Kalau menyimak proses sosialisasi keluarga Jawa pada umumnya, prinsip
Tuhan tidak tidur itu biasanya diajarkan oleh ibu kepada anaknya.
Tujuannya adalah agar anak belajar menerima keadaan dengan sabar dan
meyakini bahwa time will tell the truth. Pada kasus Pak Harto, diberi
nilai enam tentu menyesakkan. Padahal, selama ia memerintah, masyarakat
bergerak dari tidak bisa makan ayam dan telur menjadi masyarakat yang
bosan makan ayam dan telur. Dari baju yang lusuh berubah menjadi setelan
jas, dasi, dan sepatu yang enak dipakai. Bahkan telepon seluler,
multimedia, dan mobil bertebaran di mana-mana. Pendeknya, tinggal putar
mesin saja, semua barang akan tersedia.
Karena itu, ketika capaian yang luar biasa tersebut hanya diberi nilai
enam, semua persoalan akhirnya dikembalikan pada kearifan adagium "Gusti
ora sare". Semua diserahkan pada kekuatan waktu. Pak Harto memang
terpaksa harus mendapatkan nilai temaram. Karena bersamaan dengan
kemajuan pembangunan tersebut, demokrasi menjadi rapuh (jika tidak boleh
disebut mati), pelanggaran hak asasi manusia meluas, beban utang
pemerintah menggunung, serta korupsi, kolusi dan nepotisme tumbuh subur.
JIKA pemerintahan Orde Baru dengan segala sudutnya itu mendapatkan nilai
enam, lalu berapa nilai yang pantas untuk pemerintahan SBY-JK? Untuk 100
hari pertama, karena belum ada gebrakan yang menonjol yang bisa
dijadikan barometer penilaian, nilai enam adalah cukup. Kejujuran SBY
untuk mengakui bahwa koordinasi penanganan bencana di Aceh dan Sumatera
Utara adalah lemah merupakan poin tertinggi yang memperkuat performa
indikator-indikator lain, seperti pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi,
stabilitas nilai tukar rupiah, kenaikan indeks harga saham gabungan, dan
realisasi kredit.
Kejujuran semacam itu, harus diakui, sulit ditemukan ketika Orde Baru
berkuasa. Tanpa sikap jujur yang demikian, bisa dipastikan nilai
pemerintahan SBY-JK hanya akan berkisar di angka lima. Tetapi, terlepas
dari performa ekonomi makro yang membaik dalam 100 hari terakhir,
realitas kehidupan sehari- hari belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Nilai pemerintahan SBY-JK memang temaram. Akibatnya, perasaan gundah
membuncah di hati rakyat. Kalau ditelusuri, perasaan gundah itu
tampaknya bersumber pada karakter kepemimpinan SBY itu sendiri. Suatu
gerak kepemimpinan yang bersandar pada prinsip "Gusti ora sare".
Tanpa determinasi yang kuat, gaya kepemimpinan yang bersandar pada
prinsip "Tuhan tidak tidur" itu lebih banyak mengakibatkan "kekacauan"
daripada keteraturan. Hal itu disebabkan hati pemimpin tersebut dipenuhi
dengan perasaan sabar dan sikap mengalah. Menyerahkan segala sesuatunya
kepada kebijakan alam. Tetapi, tanpa disadari, kesabaran yang demikian
itu justru menjadi akar "kekacauan" sehingga membuat hati rakyat menjadi
gundah.
Persemaian awal dari perasaan gundah tersebut adalah ketika SBY terlalu
kompromistis dalam penyusunan kabinet. Nama-nama yang muncul menjadi
menteri tidak menimbulkan antusiasme publik karena sedikit melenceng
dari idealisasi zaken kabinet. Tetapi, rakyat tetap menunggu realisasi
program aksi 100 hari dari pemerintah seperti yang dijanjikan SBY-JK
ketika berkampanye. Biarlah pemerintah bekerja tanpa diganggu. Sekali
lagi, yang terjadi adalah kekecewaan.
Wakil Presiden Jusuf Kalla bukannya mati-matian konsentrasi untuk
mengurusi kebijakan publik, tetapi malah menambah beban pribadi dengan
mengusung Partai Golkar. Setelah itu, menyusul kejadian-kejadian
kontroversial yang mengherankan masyarakat seperti surat keputusan wakil
presiden soal penanganan bencana di Aceh dan Sumatera Utara, surat
edaran sekretaris wakil presiden, serta memo wakil presiden soal
pembelian gula oleh Bulog.
FENOMENA di atas bisa saja dilegitimasi karena perbedaan karakter
kepemimpinan antara SBY yang hati-hati dan JK yang ingin serba cepat
dalam pengambilan keputusan. Tetapi, "kekacauan" demikian bisa
diminimalisasi jika SBY melakukan pembalikan cara pikir tentang kearifan
prinsip "Tuhan tidak tidur". Prinsip itu harus dibalik untuk menjadi
tindakan politik yang tegas. Artinya, segala gerak wakil presiden, para
menteri, dan para birokrat pendukungnya harus terkontrol. Selain itu,
segala keputusan politik juga harus diambil dengan mengabaikan
tekanan-tekanan kelompok tertentu.
Tanpa langkah demikian, perasaan gundah akan semakin membuncah di hati
rakyat. Terlebih lagi kalau beberapa persoalan lain, seperti penghapusan
subsidi bahan bakar minyak, kecilnya lowongan pekerjaan, dan masih
mahalnya biaya pendidikan serta kesehatan, ikut diperhitungkan.
Pendeknya, kearifan prinsip "Gusti ora sare" harus diterjemahkan dalam
tindakan politik yang bisa disejajarkan dengan ilustrasi: Kalau saya
seorang jenderal, bergelar doktor, umur 50 tahun lebih, anak-anak sudah
mandiri, dan sekarang menjadi presiden, tidak ada lagi yang saya takuti
kecuali rakyat dan Tuhan. ►Sukardi Rinakit Direktur Eksekutif Soegeng
Sarjadi Syndicate, Kompas 28/1/05
|
|
|
|