Jajak Pendapat
Ketidakpuasan Mulai Terekspresikan
Kompas 28/1/05: Niat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengawali
100 hari pemerintahannya dengan memberikan bukti nyata dan kerja keras
ternyata belum banyak dirasakan hasilnya. Meskipun keyakinan masyarakat
terhadap pemerintahan ini masih sangat tinggi, tampak kecenderungan
meningkatnya ketidakpuasan terhadap pemerintah dalam menangani berbagai
bidang kehidupan masyarakat.
Demikian yang dapat disimpulkan dari hasil jajak pendapat Kompas di 32
kota di Indonesia, menanggapi sepak terjang pemerintahan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono selama 100 hari semenjak ia dilantik, 20 Oktober 2004.
Dibandingkan dengan bulan pertama pemerintahannya, terjadi penurunan
kepuasan pada berbagai persoalan, seperti bidang ekonomi, hukum, dan
kesejahteraan sosial. Sementara bidang politik, seperti jaminan
kebebasan berekspresi, kebebasan pers, ataupun upaya mencegah
disintegrasi, secara umum tidak mengalami perubahan yang signifikan
selama 100 hari belakangan ini, tetap diapresiasi secara positif oleh
mayoritas responden.
Dalam jajak pendapat ini, gebrakan 100 hari dalam bidang ekonomi yang
selama ini didengungkan ternyata berdampak kurang menguntungkan pada
pencitraan pemerintahan Yudhoyono.
Terkait dengan persoalan perekonomian, terdapat kecenderungan
pemerintahan yang mulai meninggalkan kebijakan penyubsidian dan
mengarahkan pada ekonomi pasar. Namun, upaya pemerintah dalam
mengendalikan harga barang agar tidak melonjak drastis ternyata menjadi
titik lemah, yang sangat memengaruhi citra yang diberikan masyarakat
kepada pemerintah.
Kenaikan drastis harga bahan bakar pertamax dan gas elpiji di penghujung
tahun 2004, misalnya, tidak saja membuat konsumen kedua jenis barang itu
berteriak, tetapi juga kondisi ekonomi rakyat melemah karena efek domino
yang diakibatkannya. Belum lagi jika rencana pemerintah menaikkan harga
bahan bakar minyak premium diwujudkan dalam beberapa waktu mendatang,
diperkirakan makin memicu ekspresi ketidakpuasan masyarakat.
Saat ini saja sudah terjadi kenaikan rasa ketidakpuasan yang cukup
signifikan dalam memandang penanganan pemerintah terhadap harga barang
dan jasa. Kalau pada bulan pertama pemerintahan Yudhoyono ketidakpuasan
terhadap persoalan ini hanya disuarakan oleh 39 persen responden, kini
meningkat pesat menjadi 66 persen.
Senada dengan persoalan harga barang kebutuhan, upaya pemerintah dalam
mengurangi jumlah pengangguran juga belum dirasakan hasilnya. Memang,
persoalan pengangguran tidak mungkin ditangani tuntas dalam 100 hari.
Namun, besarnya kenaikan rasa ketidakpuasan yang disuarakan responden
jika dibandingkan dengan beberapa bulan sebelumnya menunjukkan indikasi
yang cukup serius bahwa soal ini betul-betul tidak menampakkan
tanda-tanda citra yang membaik. Pada penilaian di bulan pertama, mereka
yang menyuarakan ketidakpuasan berjumlah 54 persen. Kini, ekspresi
ketidakpuasan itu sudah meningkat menjadi 72 persen.
DALAM bidang hukum, juga terjadi perubahan yang cukup signifikan.
Meskipun secara umum kondisi penegakan hukum masih dinilai baik,
dinyatakan oleh 61 persen responden, ada beberapa komponen penilaian
yang mengalami penurunan kepercayaan.
Penanganan korupsi, kolusi dan nepotisme, yang diapresiasi masyarakat
secara positif sejak bulan pertama dan kedua, kini mengalami penurunan
dan cenderung dinilai kurang memuaskan. Pada bulan pertama, misalnya,
janji-janji pemberantasan korupsi oleh pemerintahan Yudhoyono membuat 54
persen publik jajak pendapat menyikapinya dengan melontarkan rasa puas.
Rasa kepuasan itu meningkat menjadi 61 persen pada bulan kedua setelah
beberapa langkah hukum ditegakkan, di antaranya penahanan Gubernur
Nanggroe Aceh Darussalam Abdullah Puteh; penahanan mantan Ketua Umum
Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
2004-2009 dari Partai Golkar, Adiwarsita; ataupun pengungkapan berbagai
kasus korupsi yang melibatkan pejabat daerah di berbagai provinsi di
negeri ini.
Namun, proses hukum yang menampakkan gejala akan berlarut-larut membuat
kesabaran masyarakat terusik. Turunnya rasa kepuasan di masa 100 hari
usia pemerintahannya, menjadi 47 persen, memberikan petunjuk yang nyata
mulai lunturnya kepercayaan terhadap keadilan di bidang hukum.
Bidang hukum lainnya, yang seolah menjadi maskot dalam program 100 hari
pemerintahan Yudhoyono, juga terancam mengalami penurunan kepercayaan
akibat ketidakpuasan yang makin menonjol dalam upaya penegak hukum
menangani kasus-kasus kriminal.
Belakangan ini, kasus Adiguna Sutowo yang menjadi tersangka penembak
mati pelayan bar, Yohanes Brachman Hairudy Natong, di Hotel Hilton,
misalnya, menjadi taruhan yang cukup berat. Nama besar keluarga mantan
Direktur Utama Pertamina, Ibnu Sutowo, menjadi ujian kebenaran bahwa
hukum yang ditegakkan pemerintahan kali ini tidak memandang latar
belakang seseorang.
Namun, saat ini justru sikap skeptis yang mulai menyelimuti publik dalam
penanganan kriminalitas. Setidaknya, hal demikian tergambar dalam
pernyataan 52 persen responden yang tidak puas terhadap upaya pemerintah
dalam menangani kasus kriminal. Padahal, sebelum kasus ini mencuat,
ketidakpuasan hanya dirasakan 42 persen responden.
TIDAK dapat disangkal pula jika selama sebulan terakhir ini konsentrasi
pemerintahan sepertinya tersedot pada penanganan bencana gempa bumi dan
tsunami yang melanda Aceh dan sebagian Sumatera Utara. Akibatnya,
penanganan di beberapa bidang lain terkesan kurang terdengar. Walaupun
ini bisa dimaklumi, ditunjukkan dengan tingkat keyakinan yang tetap
tinggi akan kemampuan pemerintah saat ini, secara realistis masyarakat
mulai disadarkan akan lemahnya koordinasi di dalam Kabinet Indonesia
Bersatu. Penanganan bencana yang menelan korban meninggal lebih dari
125.000 jiwa ini bisa jadi merupakan bukti bagi kekurangsiapan manajemen
pemerintahan. Kekurangsigapan koordinasi menjadi wacana sehari-hari yang
menyurutkan citra kekompakan kabinet.
Penilaian publik jelas tergambar dalam rekam jejak 100 hari ini bahwa
kepuasan terhadap langkah presiden dalam memimpin kabinet menurun, dari
84 persen pada bulan pertama pemerintahannya menjadi 70 persen pada
bulan ini.
Kurangnya koordinasi sekaligus juga membuat kinerja para menteri
dipandang tidak memuaskan, terlihat dari menurunnya kepuasan masyarakat
dari 49 persen pada bulan pertama menjadi 41 persen pada saat ini.
Menurunnya kepuasan responden terhadap kekompakan kabinet ini bisa jadi
disebabkan oleh beberapa langkah kontroversial yang menunjukkan kurang
sinkronnya hubungan di dalam kabinet pemerintahan.
Beberapa peristiwa, seperti penerbitan Surat Keputusan Wakil Presiden/Ketua
Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan
Pengungsi Nomor 1 Tahun 2004 tentang Pembentukan Tim Nasional Penanganan
Bencana Aceh yang dinilai sebagian kalangan tidak memiliki kejelasan
dasar hukum, ataupun surat Sekretaris Wakil Presiden Prijono
Tjiptoherijanto tertanggal 27 Desember 2004, yang berisi arahan Wakil
Presiden Jusuf Kalla kepada para menteri untuk tidak terlalu menganggap
penting rapat kerja dengan DPR karena dianggap membuang- buang waktu dan
tenaga, menunjukkan lemahnya kontrol di dalam kabinet saat ini.
Hingga kini, sekalipun beberapa indikasi penurunan kepuasan dan
meningkatnya ketidakpuasan terjadi, hal itu belum banyak berpengaruh
pada keyakinan mereka akan kemampuan Presiden Yudhoyono memimpin negeri
ini.
Tingkat keyakinan yang tinggi, 77-82 persen, terhadap kemampuan
Yudhoyono memperbaiki bidang ekonomi, politik, hukum, dan kesejahteraan
sosial, yang diekspresikan publik, menunjukkan masih tingginya harapan
pada kepemimpinannya.
Namun, sebagaimana layaknya opini masyarakat yang bersifat dinamis, bila
ekspresi penurunan kepuasan di kemudian hari terus berlanjut, bukan
tidak mungkin keyakinan akan berubah menjadi ketidakyakinan. (Bambang
Setiawan/ Litbang Kompas)
|
|
|
|