Bappenas Tak Mampu
Janji-Janji Presiden Sulit Ditepati
Jakarta, Kompas 28/1/05: Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas)
tidak dapat menerjemahkan janji-janji politik yang disampaikan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono saat kampanye pemilihan Presiden. Ini tampak
dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang telah
disusun oleh Bappenas.
Target yang "dijual" kepada publik di masa kampanye tidak menjadi target
RPJMN. Bahkan, RPJMN sama sekali tidak menetapkan target untuk indeks
pembangunan manusia. Padahal Yudhoyono pada Mei 2004 jelas menyebutkan
target indeks pembangunan manusia pada tahun 2009 akan mencapai
peringkat kurang dari 91 dari peringkat 112 tahun 2003.
Menurut ekonom dari Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati, janji
politik Yudhoyono di bidang ekonomi menjadi tanda tanya besar ketika
disandingkan dengan dokumen perencanaan yang dibuat oleh para menteri
ekonomi. "SBY telah menjanjikan banyak hal bagi masyarakat, namun para
menterinya menyadari yang dijanjikan itu sulit ditepati. Harus bekerja
keras jika ingin mencapainya, atau pilihan lainnya tidak menepati janji
itu," tuturnya dalam diskusi "RPJMN - Pembangunan untuk Siapa?", yang
diadakan oleh Gerakan Kebangkitan Indonesia Raya di Jakarta, Kamis
(27/1).
Namun, lanjut Ninasapti, para menteri memilih cara lebih "elegan", yaitu
dengan membuat target yang lebih rendah dari yang ingin dicapai
Yudhoyono dan Jusuf Kalla dalam janji politiknya. "Jelas terjadi tawar
menawar antara prioritas pembangunan yang dijanjikan Presiden dengan
angka target yang dicantumkan dalam RPJMN," kata Ninasapti.
Itu antara lain terlihat dari penetapan target yang lebih rendah, atau
bahkan tidak dicantumkan target kuantitatifnya, tetapi hanya
kualitatifnya. "Angka pengangguran dari Menko Perekonomian lebih rendah
dari target Presiden, pendapatan per kapita RPJMN lebih rendah dari
target, dan indeks pembangunan manusia tidak disebutkan dalam RPJMN,"
tutur Ketua Jurusan Studi Ekonomi Pembangunan UI itu.
Pendapat senada disampaikan pengamat ekonomi pertanian Bustanul Arifin.
Revitalisasi pertanian dan pembangunan pedesaan yang selalu disebut
Presiden sebagai satu dari triple track kebijakan membangun ekonomi
Indonesia, tidak dijabarkan secara jelas langkah yang dilakukan untuk
revitalisasi pertanian.
"Banyak program yang tumpang tindih, kabur, dan terkesan tanpa
koordinasi. Tampak dominasi birokrasi sangat kuat dalam penyusunan RPJMN,"
tutur Bustanul.
Program 100 hari
Belum jelasnya arah kebijakan untuk memenuhi janji politik Presiden
antara lain dapat dilihat dari delapan program aksi 100 hari yang
ditetapkan oleh Departemen Pertanian. Yaitu, mencegah korupsi, kolusi,
dan nepotisme, mengamankan ketersediaan bahan pangan menghadapi hari
besar, memfasilitasi persiapan dan pelaksanaan musim tanam 2004/2005,
mengurangi pengangguran dan kemiskinan, merumuskan kebijakan kelembagaan
keuangan untuk pertanian dan pedesaan, merumuskan kebijakan
infrastruktur pertanian, menangani impor ilegal dan pemalsuan sarana
produksi pertanian, dan merumuskan kebijakan perdagangan internasional.
"Hanya dua dari program itu yang telah dilaksanakan cukup baik, yaitu
mengamankan ketersediaan bahan pangan, dan memfasilitasi persiapan
pelaksanaan musim tanam 2004/2005. Enam program lainnya sulit dievaluasi
karena selain bernuansa strategis jangka menengah panjang, juga sampai
saat ini tidak ada tanda-tanda kemajuan kinerja yang diumumkan dan dapat
diakses masyarakat luas," ujar Bustanul. (ELY)
|
|
|
|