Ical, Sugiharto dan Ali
Dapat Nilai Terendah
Indo Pos 3/2/05: Sorotan atas 100 hari pemerintahan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) mulai terarah kepada para menteri bidang ekonomi.
Kinerja tim ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu dievaluasi. Sejumlah
menteri mendapat penilaian (rating) terburuk, yakni F (failure atau
gagal). Mereka adalah Menko Perekonomian Aburizal Bakrie, Men
BUMN Sugiharto, dan Menkop UKM Suryadharma Ali.
Evaluasi itu dilakukan sejumlah ekonom dari berbagai lembaga yang
tergabung dalam tim Indonesia Bangkit. Mereka, antara lain, Hendri
Saparini (direktur Econit), Fadhil Hasan (direktur Indef), Drajad H.
Wibowo (anggota Komisi XI DPR RI), dan Binny Buchori (sekjen Infid).
Penilaian itu disampaikan dalam diskusi bertema Penyimpangan Strategi
dan Arah Kebijakan Ekonomi di Hotel Bumi Karsa, Bidakara, Jakarta,
kemarin. Diskusi itu juga dihadiri ekonom senior Sri-Edhi Swasono,
pengamat ekonomi Ichsanudin Noorsyi, dan ekonom UGM Revrisond Baswir.
Sedangkan Rizal Ramli, koordinator Tim Indonesia Bangkit, berhalangan
hadir.
Hasilnya, tiga menteri ekonomi mendapat rating terendah dan terburuk,
yaitu F (gagal). Mereka adalah Menko Perekonomian Aburizal Bakrie, Men
BUMN Sugiharto, dan Menkop UKM Suryadharma Ali. Dalam mengevaluasi tim
ekonomi ini, Indonesia Bangkit menggunakan rating dengan skala berurutan.
Yakni, A (excellent), B (good), C (average), D (below average/poor), dan
F (failure/flunk).
Menurut Aviliani, juru bicara Indonesia Bangkit, secara umum kelemahan
utama tim ekonomi selama 100 hari pemerintahan terletak pada
ketidakmampuan mereka menerjemahkan visi dan misi SBY-JK ke dalam
program dan kebijakan konkret. "Ada kesenjangan besar antara visi dan
misi presiden dengan program yang dirancang dan dijalankan menteri
ekonomi," ujarnya di sela diskusi.
Dia menyebut bukti kegagalan tim ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu itu
tecermin jelas dari program 100 hari. "Misalnya, perintah presiden agar
para menteri melakukan shock therapy tidak dilaksanakan. Justru rakyat
sendiri yang jadi shock karena dalam 100 hari tim ekonomi tidak
melakukan banyak hal konkret," terangnya.
Ekonom Indef itu menjelaskan, evaluasi dalam bentuk pemeringkatan
(rating) dilakukan agar mendapat respons pemerintah. "Sudah banyak yang
melakukan evaluasi dan sepertinya tak terlalu dihiraukan. Jika langsung
ke person, kan lebih tajam," tuturnya.
Tim Indonesia Bangkit telah melakukan rating terhadap 16 menteri dalam
bidang ekonomi. Menko Perekonomian Aburizal Bakrie dinilai gagal
mengoordinasikan seluruh program maupun kebijakan ekonomi yang menjadi
tanggung jawabnya.
"Dia hanya sibuk melakukan lobi bisnis dalam rangka pembangunan
infrastruktur. Hasilnya ya baru Infrastructure Summit lalu," cetus
Fadhil Hasan. Selain itu, lanjut Fadhil, peran Aburizal dinilai tidak
ada dalam proses negoisasi utang dengan negara kreditor.
Ical, panggilan akrab Aburizal Bakrie, juga dinilai lemah dalam
pemahaman, komunikasi, koordinasi, dan tanggung jawab terhadap seluruh
kebijakan ekonomi, seperti masalah pajak, kenaikan harga BBM, dan
moratorium utang. Yang paling utama, dia mendapat rating F karena
dinilai belum menyelesaikan sama sekali program 100 harinya.
Nilai atau rating F juga diberikan kepada Menkop UKM Suryadharma Ali dan
Men BUMN Sugiharto karena mereka dinilai tidak memiliki upaya untuk
program 100 hari dan tidak memiliki strategi yang jelas.
"Sugiharto telah gagal menyelesaikan kasus-kasus besar BUMN, seperti
Karaha Bodas dan Cemex. Soal strategi kerjanya pun, banyak pengelola
BUMN malah tidak tahu," keluh Drajad Wibowo.
Soal penyelewengan di BUMN pun, Sugiharto dinilai tak memiliki niat
menyelesaikannya. Apalagi, berupaya melakukan shock therapy.
Penyelenggaraan forum BUMN Summit beberapa waktu dianggap terlalu
dibesar-besarkan, padahal hanya pertemuan biasa tanpa makna strategis.
Suryadharma juga disorot. Aktivitas Menkop UKM yang fungsionaris PPP (Partai
Persatuan Pembangunan) itu dinilai hanya mengusulkan penghapusan KUT (kredit
usaha tani) dan mengkaji pendirian bank koperasi. "Tapi, kalau melihat
latar belakangnya, sepertinya sulit berharap banyak kepada menteri yang
satu ini," komentar Ichsanudin Noorsyi.
Peringkat terendah kedua atau di bawah level rata-rata, yakni D (below
average/poor), diberikan kepada Menteri Keuangan Jusuf Anwar, Men PPN/Kepala
Bappenas Sri Mulyani, Menteri Perindustrian Andung Nitimihardja, Menteri
Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
Purnomo Yusgiantoro, serta Menteri Perikanan dan Kelautan Freddy Numberi.
"Enam menteri ini dinilai belum mampu melaksanakan tugas utama mereka.
Apalagi, menetapkan visi dan strategi yang jelas," papar Aviliani.
Dalam penilaian tim Indonesia Bangkit, Menkeu Jusuf Anwar baru
menyelesaikan program 100 harinya sebesar 20 persen. Meski dinilai
memiliki kemampuan bersifat teknis administratif, dia dikritik karena
tidak berinisiatif untuk segera merevisi APBN. Selain itu, dia dianggap
kurang memahami dan tak punya visi tentang kebijakan fiskal yang mampu
mempercepat pemulihan ekonomi.
Keberadaan Menkeu juga dianggap seolah hanya simbol. Tim Indonesia
Bangkit menilai wewenangnya lebih banyak dilaksanakan menteri lain.
Bahkan, dia tidak terlibat langsung dalam negosiasi moratorium utang
yang mestinya jadi wewenangnya.
Untuk Men PPN/Kepala Bappenas Sri Mulyani, tim Indonesia Bangkit
memberikan rating D. Alasannya, dia saat ini dinilai baru menyelesaikan
40 persen dari program 100 hari. Dia juga disorot karena terlambat
mempersiapkan damage assessment Aceh sehingga Indonesia gagal dalam
negosiasi di forum Paris Club. Juga, terlalu membesarkan bahaya
moratorium sehingga Indonesia gagal mendapat moratorium utang secara
signifikan.
Kritik terhadap Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu terutama
disebabkan dia dinilai sangat miskin keputusan dan tak berani mengambil
posisi terhadap masalah. Keputusannya meneruskan tata niaga gula,
misalnya, dinilai tak memberikan nilai tambah. "Rencana kebijakannya
soal ekspor juga tak sinkron dengan kebijakan industri," kritik Aviliani.
Dia pun dinilai baru menuntaskan 30 persen program 100 hari.
Terhadap Menteri Perindustrian Andung Nitimihardja serta Menteri
Perikanan dan Kelautan Freddy Numberi, tim Indonesia Bangkit menyebut
keduanya telah menuntaskan 50 persen dari program 100 hari. Selain
lamban melakukan pemisahan departemen, menteri perindustrian dinilai tak
memiliki inisiatif baru dan inovasi. Kegiatan, selain bersifat teknis,
juga dinilai hanya berdasar isu yang sedang ramai.
Empat menteri lainnya -Menakertrans Fahmi Idris, Menteri Pekerjaan Umum
Joko Kirmanto, Menteri Pertanian Anton Apriantono, dan Menhut M.S. Kaban-
memperoleh nilai rata-rata atau C (average). "Mereka sudah melaksanakan
tugas utama. Hanya, belum memiliki visi dan strategi yang jelas," beber
Aviliani.
Hanya satu menteri yang dapat rating B (good), yaitu Menteri Perhubungan
Hatta Radjasa. Kenapa bisa begitu? Menteri yang juga Sekjen PAN (Partai
Amanat Nasional) itu dinilai memahami persoalan di bidangnya.
"Salah satu poin pentingnya adalah ketika dia sukses mengamankan masalah
transportasi selama masa Lebaran dan Natal. Responsnya juga cepat ketika
terjadi tragedi kecelakaan pesawat Lion Air di Solo beberapa waktu lalu,"
jelas Aviliani.
Drajad menambahkan bahwa tingginya rating yang diberikan kepada Hatta
Radjasa itu sama sekali bukan karena kedekatannya dengan mantan
Menristek di era Presiden Megawati itu. "Meskipun bernaung di bawah satu
partai, semua anggota tim tetap berupaya keras objektif dalam melakukan
penilaian," tegasnya.
Dua menteri tidak dinilai, yaitu Menristek Kusmayanto Kadiman dan Men
Pembangunan Daerah Tertinggal Saifullah Yusuf. Tim Indonesia Bangkit
mengaku tak dapat menilai kinerja dua menteri itu. "Sebab, selama 100
hari kedua menteri itu tidak memiliki program kerja. Kegiatan mereka
juga tak jelas. Jadi, dari mana kami bisa menilai," ujar Aviliani
beralasan.
Meski melakukan evaluasi dan memberikan penilaian, tim Indonesia Bangkit
tidak mengeluarkan rekomendasi, seperti mendesak SBY melakukan reshuffle
(pergantian kabinet). Menurut Aviliani, rekomendasi seperti itu justru
dihindari. "Kami menjaga agar tidak ada kesan rating tim ini dibuat
karena ada kepentingan," jelasnya.
Selain itu, lanjut dia, melalui informasi secara spesifik tersebut, SBY
justru diharapkan akan merespons langsung dalam bentuk tindakan konkret.
"Jika memang merasa perlu reshuffle, ya sebaiknya segera dilakukan,"
tandasnya. (kim/sor)
|
|
|
|
BERITA LAINNYA |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
 |
= Kementerian Negara Kominfo Jadi Departemen
= Ical, Sugiharto, dan Suryadharma Dapat Nilai Terendah
= M Samsul Arif, Kinerja Belum Sentuh Substansi
= Presiden Tak Pernah Janji Soal 100 Hari
= Dikritik, SBY Ngaku Lapang Hati
= Paul Sutaryono: 100 Hari Pemerintah dan Industri Perbankan
= FKB Kecewa, SBY-JK Tekesan Masih Kampanye
= Masalah 100 Hari, Presiden Terjebak Jargon Sendiri
= Seratus Hari Tanpa Perubahan Signifikan
= Gebrakan 100 Hari Tanpa Gebrakan
= Megawati: Janji SBY di Awang-awang
= Kinerja Kementerian BUMN Buruk
= Janji-Janji Presiden Sulit Sitepati
= Ketidakpuasan Publik Mulai Terekspresikan
= Presiden Belum Puas, 100 Hari Dapat Ponten 4
= 100 Hari SBY-Kalla, Tidak Puas Kinerja Aparat Hukum
= Penanganan Korupsi, SBY Sendiri Belum Puas
= Tajuk Kompas: Kinerja 100 Hari Pemerintah SBY-Kalla
= 100 Hari Pemerintahan SBY Penegakan Hukum Masih Buruk
= Presiden Tidak Puas Kinerja Polisi dan Jaksa
= Sukardi Rinakit: SBY dan Politik "Gusti Ora Sare"
= Presiden SBY, Jangan Cepat Vonis Pemerintah Gagal
= Frans Seda, Budaya 100 Hari
= Noktah Merah Rapor SBY
= Dr J Kristiadi, Hanya Retorika Politik
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
|