Dikritik,
SBY Ngaku Lapang Hati
Indo Pos 1/2/05: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku lapang
dada terhadap hujan kritik atas kinerja 100 hari pemerintahan Kabinet
Indonesia Bersatu (KIB). Dia menilai kritik maupun hujatan yang datang
dari masyarakat saat ini sebenarnya merupakan dorongan yang baik bagi
pembangunan bangsa.
"Banyak kritik yang baik meskipun keras. Kata-katanya menyakitkan, tapi
sesungguhnya konstruktif agar pemerintah ini bekerja lebih giat sehingga
menghasilkan apa yang diharapkan rakyat banyak," papar SBY saat memberi
sambutan pada acara penyerahan penghargaan pemenang lomba kelompok
sektor kelautan dan perikanan tingkat nasional di Istana Negara kemarin.
Atas banyaknya kritik tersebut, SBY mengaku sudah mengajak menteri dan
para kepala daerah serta seluruh jajaran ke bawah untuk menerimanya
secara terbuka. "Sambutlah kritik itu dengan jiwa besar dengan terbuka
dan untuk menjadi pemicu dan pemacu agar kita bekerja lebih giat untuk
membangun bangsa di waktu yang akan datang," kata mantan Kaster TNI ini.
Terhadap kecaman yang dinilai kurang objektif atau bertentangan dengan
logika, SBY mengharapkan jajarannya menghadapi dengan kepala dingin. "Jawab
dan jelaskan secara baik. Tidak harus kita bereaksi terlalu berlebihan
dengan kegusaran atau marah. Tapi, jelaskan secara baik, secara gamblang,
agar rakyat mengerti duduk persoalan yang benar," ungkap pria asal
Pacitan, Jatim, ini dengan mimik serius.
Walaupun menerima kritik dengan lapang dada, SBY juga menegaskan bahwa
dirinya tidak pernah menjanjikan bisa menyelesaikan semua persoalan
bangsa ini hanya dalam 100 hari pemerintahannya. "Saya belum pernah
berbicara di mana pun. Tolong, dilihat rekaman-rekaman bahwa saya
mengatakan, dalam 100 hari semua persoalan negeri ini dapat diselesaikan,"
jelasnya.
Tidak ada satu negara pun di dunia yang pemerintahannya bisa
menyelesaikan semua persoalan dalam 100 hari.
Menurut presiden, 100 hari merupakan langkah awal dari
pekerjaan-pekerjaan yang berat sampai lima tahun mendatang. "Begitu
mandat dan amanah yang diberikan kepada saya," tambah suami Ibu Negara
Kristiani Herawati ini, meyakinkan.
Apalagi, menurut dia, wacana 100 hari yang gencar disiarkan media massa
sebenarnya tidak terlalu diributkan masyarakat di daerah. Kesan ini
didapat dari dialog dengan masyarakat saat dirinya berkunjung ke
daerah-daerah di wilayah tanah air. Terakhir, SBY mengaku telah
berkunjung ke Kabupaten Ogan Komering Hulu Timur, Sumatera Selatan.
"Kesan saya, rakyat lebih berharap pada apa yang konkret kita lakukan
ketimbang mempersoalkan yang disebut dengan 100 hari pemerintahan ini,"
jelas mantan Mentamben era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid ini.
Dalam kunjungannya itu, dia juga menangkap kesan bahwa masyarakat punya
harapan besar untuk memajukan bangsa lewat bidang pertanian, perkebunan,
perikanan, peternakan, dan energi. Dan, pemerintah saat ini mempunyai
program konkret untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia.
Dia mencontohkan, pada 2005 pemerintah punya program untuk membangun
saluran irigasi dengan target dana Rp 1,2 triliun dalam kerangka bantuan
CGI (Consultative Group on Indonesia). Ini untuk menjawab keluhan
masyarakat yang menyatakan masih banyak sawah yang tidak bisa berkembang
karena irigasi yang tidak bagus. "Maka itu bisa dihitung pertambahan
sawah yang bisa dikelola dan ditingkatkan produktivitasnya," terangnya.
Pemerintah juga berkomitmen memperhatikan perkebunan kelapa sawit,
pembangunan instalasi listrik, serta karet.
SBY kemudian menyebutkan salah satu contoh kritik pedas yang diterimanya.
Apa itu? Dia dianggap gagal menciptakan lapangan kerja dalam 100 hari
pemerintahannya. Dia mengakui, penganggur di Indonesia cukup banyak,
yaitu sekitar 10 persen dari angkatan kerja. Menurut dia, mustahil
mengatasi pengangguran yang begitu banyak hanya dengan tempo tiga bulan.
"Teori ekonomi mana pun tidak mungkin menciptakan lapangan kerja yang
banyak dalam waktu 100 hari. Tapi, anggaplah itu harapan besar dari
rakyat untuk menciptakan lapangan kerja lima tahun mendatang," ungkapnya.
Yang harus dilakukan sekarang ini, menurut SBY, adalah bagaimana upaya
pemerintah di berbagai sektor bisa benar-benar menciptakan lapangan
kerja. Salah satunya meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dia berharap pada
2005 ini pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,5 persen. Pada 2004
pertumbuhan ekonomi Indonesia 5 persen. "Dengan adanya pertumbuhan
ekonomi, otomatis dari tahun ke tahun akan tercipta lapangan kerja,"
jelasnya.
Selain itu, dia memerintahkan seluruh kepala daerah untuk mengembangkan
sektor riil di daerahnya masing-masing. Misalnya, membuka 100 ribu
hektare lahan kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan secara bertahap. "Tentu,
misalkan dua hektare menyerap satu tenaga kerja, 100 ribu hektare bisa
menyerap 50 ribu tenaga kerja. Begitu pula sektor-sektor lain," paparnya.
"Jadi, mengukurnya begitu. Bukan mengukur 100 hari mana daerah-daerah
provinsi kok tak ada lapangan kerja baru yang besar-besaran," tambahnya.
Lapangan kerja juga identik dengan investasi. Karena itu, dia berharap
infrastructure summit yang lalu berhasil membangun sarana prasarana yang
sangat dibutuhkan untuk mengundang investor ke Indonesia. Juga penegakan
hukum harus jalan serta sinkronisasi pemerintah pusat dan daerah. (ssk)
|
|
|
|