BERITA 100 HARI SBY-JK
 
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 

 

  B E R I T A
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Opini
 ► Editorial
 ► Resensi
 ► Leadership
 ► Pernikahan
 ► Berita KIB
 ► Berita 2003
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 

 


 
Dikritik,

SBY Ngaku Lapang Hati


Indo Pos 1/2/05: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku lapang dada terhadap hujan kritik atas kinerja 100 hari pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). Dia menilai kritik maupun hujatan yang datang dari masyarakat saat ini sebenarnya merupakan dorongan yang baik bagi pembangunan bangsa.

"Banyak kritik yang baik meskipun keras. Kata-katanya menyakitkan, tapi sesungguhnya konstruktif agar pemerintah ini bekerja lebih giat sehingga menghasilkan apa yang diharapkan rakyat banyak," papar SBY saat memberi sambutan pada acara penyerahan penghargaan pemenang lomba kelompok sektor kelautan dan perikanan tingkat nasional di Istana Negara kemarin.

Atas banyaknya kritik tersebut, SBY mengaku sudah mengajak menteri dan para kepala daerah serta seluruh jajaran ke bawah untuk menerimanya secara terbuka. "Sambutlah kritik itu dengan jiwa besar dengan terbuka dan untuk menjadi pemicu dan pemacu agar kita bekerja lebih giat untuk membangun bangsa di waktu yang akan datang," kata mantan Kaster TNI ini.

Terhadap kecaman yang dinilai kurang objektif atau bertentangan dengan logika, SBY mengharapkan jajarannya menghadapi dengan kepala dingin. "Jawab dan jelaskan secara baik. Tidak harus kita bereaksi terlalu berlebihan dengan kegusaran atau marah. Tapi, jelaskan secara baik, secara gamblang, agar rakyat mengerti duduk persoalan yang benar," ungkap pria asal Pacitan, Jatim, ini dengan mimik serius.

Walaupun menerima kritik dengan lapang dada, SBY juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menjanjikan bisa menyelesaikan semua persoalan bangsa ini hanya dalam 100 hari pemerintahannya. "Saya belum pernah berbicara di mana pun. Tolong, dilihat rekaman-rekaman bahwa saya mengatakan, dalam 100 hari semua persoalan negeri ini dapat diselesaikan," jelasnya.

Tidak ada satu negara pun di dunia yang pemerintahannya bisa menyelesaikan semua persoalan dalam 100 hari.

Menurut presiden, 100 hari merupakan langkah awal dari pekerjaan-pekerjaan yang berat sampai lima tahun mendatang. "Begitu mandat dan amanah yang diberikan kepada saya," tambah suami Ibu Negara Kristiani Herawati ini, meyakinkan.

Apalagi, menurut dia, wacana 100 hari yang gencar disiarkan media massa sebenarnya tidak terlalu diributkan masyarakat di daerah. Kesan ini didapat dari dialog dengan masyarakat saat dirinya berkunjung ke daerah-daerah di wilayah tanah air. Terakhir, SBY mengaku telah berkunjung ke Kabupaten Ogan Komering Hulu Timur, Sumatera Selatan.

"Kesan saya, rakyat lebih berharap pada apa yang konkret kita lakukan ketimbang mempersoalkan yang disebut dengan 100 hari pemerintahan ini," jelas mantan Mentamben era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid ini.

Dalam kunjungannya itu, dia juga menangkap kesan bahwa masyarakat punya harapan besar untuk memajukan bangsa lewat bidang pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan energi. Dan, pemerintah saat ini mempunyai program konkret untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia.

Dia mencontohkan, pada 2005 pemerintah punya program untuk membangun saluran irigasi dengan target dana Rp 1,2 triliun dalam kerangka bantuan CGI (Consultative Group on Indonesia). Ini untuk menjawab keluhan masyarakat yang menyatakan masih banyak sawah yang tidak bisa berkembang karena irigasi yang tidak bagus. "Maka itu bisa dihitung pertambahan sawah yang bisa dikelola dan ditingkatkan produktivitasnya," terangnya.

Pemerintah juga berkomitmen memperhatikan perkebunan kelapa sawit, pembangunan instalasi listrik, serta karet.

SBY kemudian menyebutkan salah satu contoh kritik pedas yang diterimanya. Apa itu? Dia dianggap gagal menciptakan lapangan kerja dalam 100 hari pemerintahannya. Dia mengakui, penganggur di Indonesia cukup banyak, yaitu sekitar 10 persen dari angkatan kerja. Menurut dia, mustahil mengatasi pengangguran yang begitu banyak hanya dengan tempo tiga bulan.

"Teori ekonomi mana pun tidak mungkin menciptakan lapangan kerja yang banyak dalam waktu 100 hari. Tapi, anggaplah itu harapan besar dari rakyat untuk menciptakan lapangan kerja lima tahun mendatang," ungkapnya.

Yang harus dilakukan sekarang ini, menurut SBY, adalah bagaimana upaya pemerintah di berbagai sektor bisa benar-benar menciptakan lapangan kerja. Salah satunya meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dia berharap pada 2005 ini pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,5 persen. Pada 2004 pertumbuhan ekonomi Indonesia 5 persen. "Dengan adanya pertumbuhan ekonomi, otomatis dari tahun ke tahun akan tercipta lapangan kerja," jelasnya.

Selain itu, dia memerintahkan seluruh kepala daerah untuk mengembangkan sektor riil di daerahnya masing-masing. Misalnya, membuka 100 ribu hektare lahan kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan secara bertahap. "Tentu, misalkan dua hektare menyerap satu tenaga kerja, 100 ribu hektare bisa menyerap 50 ribu tenaga kerja. Begitu pula sektor-sektor lain," paparnya.

"Jadi, mengukurnya begitu. Bukan mengukur 100 hari mana daerah-daerah provinsi kok tak ada lapangan kerja baru yang besar-besaran," tambahnya. Lapangan kerja juga identik dengan investasi. Karena itu, dia berharap infrastructure summit yang lalu berhasil membangun sarana prasarana yang sangat dibutuhkan untuk mengundang investor ke Indonesia. Juga penegakan hukum harus jalan serta sinkronisasi pemerintah pusat dan daerah. (ssk)

  BERITA LAINNYA  
= Presiden Tak Pernah Janji Soal 100 Hari

= Dikritik, SBY Ngaku Lapang Hati

= Paul Sutaryono: 100 Hari Pemerintah dan Industri Perbankan

= FKB Kecewa, SBY-JK Tekesan Masih Kampanye

= Masalah 100 Hari, Presiden Terjebak Jargon Sendiri

= Seratus Hari Tanpa Perubahan Signifikan

= Gebrakan 100 Hari Tanpa Gebrakan

= Megawati: Janji SBY di Awang-awang

= Kinerja Kementerian BUMN Buruk

= Janji-Janji Presiden Sulit Sitepati

= Ketidakpuasan Publik Mulai Terekspresikan

= Presiden Belum Puas, 100 Hari Dapat Ponten 4

= 100 Hari SBY-Kalla, Tidak Puas Kinerja Aparat Hukum

= Penanganan Korupsi, SBY Sendiri Belum Puas

= Tajuk Kompas: Kinerja 100 Hari Pemerintah SBY-Kalla

= 100 Hari Pemerintahan SBY Penegakan Hukum Masih Buruk

= Presiden Tidak Puas Kinerja Polisi dan Jaksa

= Sukardi Rinakit: SBY dan Politik "Gusti Ora Sare"

= Presiden SBY, Jangan Cepat Vonis Pemerintah Gagal

= Frans Seda, Budaya 100 Hari

= Noktah Merah Rapor SBY

= Dr J Kristiadi, Hanya Retorika Politik