Presiden Yudhoyono
I Don’t Care
Pikiran Rakyat 4/2/2005: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku
dirinya tidak peduli dengan menurunnya popularitas diri dalam
menjalankan roda pemerintahan. Ia lebih peduli dengan kerja
pemerintahannya selama lima tahun mendatang supaya bisa memberikan
kesejahteraan pada rakyat.
"Salah satu kritik terhadap saya adalah pemerintahan SBY gagal.
Popularitas SBY menurun. I don't care with my popularity. Saya hanya
care pemerintah bisa bekerja penuh dan bisa memberikan kesejahteraan
rakyat," tegas Presiden Yudhoyono dalam sambutannya dalam rangka membuka
Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang Indonesia (Kadin) di
Istana Negara Jakarta, Kamis (3/2/2005).
Hadir dalam acara tersebut Menteri Perindustrian Andung Nitimihardja,
Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, Menteri Negara Koperasi
Usaha Kecil Menengah Surya Dharma Ali, Meneg PPN/Ketua Bappenas Sri
Mulyani, Gubernur BI Burhanuddin Abdullah, serta Sekretaris Kabinet Sudi
Silalahi. Juga hadir Ketua Umum Kadin M.S. Hidayat.
Menurut Presiden Yudhoyono, selama 100 hari pemerintahannya, pemeritah
selalu mendapat kritik yang tajam. Bahkan tak jarang kritikan tersebut
menggunakan kata-kata yang keras dan kasar. Namun semua itu selalu ia
dengarkan sebagai masukan untuk meningkatkan kinerja di waktu yang akan
datang.
"Kritik yang tidak fair, tidak objektif tetap saya dengarkan. Kalau
bisa, kita jelaskan. Tetapi yang penting, pemerintah harus mawas diri
dalam mejalankan tugasnya. Saya sendiri mendengar dengan jujur apa sih
masukan itu," ujar Presiden.
Salah satu kritikan yang menjadi perhatiannya adalah anggapan bahwa
pemerintah gagal dalam menciptakan lapangan kerja. Dalam 100 hari
pemerintahannya, tidak ada lapangan kerja yang terbuka di Indonesia.
"Kita bisa berargumentasi, negara mana pun, pemerintahan mana pun, dan
presiden siapa pun tidak akan mungkin menciptakan lapangan kerja secara
massal. Kalau 10 juta pengangguran, tidak mungkin dalam 100 hari
berkurang menjadi hanya lima juta. Tapi bagi saya, saya ambil positifnya
saja bahwa pengangguran betul-betul menjadi sasaran besar. Saya meminta
supaya pemerintah jangan sampai lalai dalam menangani ini," ujar
presiden.
Menurut Yudhoyono, dalam 100 hari pemerintahannya, pemerintah telah
berhasil menetapkan langkah dasar serta tujuan yang ingin dicapai dalam
lima tahun ini. Kebijakan dasar yang diambil untuk menetapkan program
jangkan pendek dan menengah dinilainya sudah berhasil dengan baik.
Di bidang ekonomi, pemerintah telah menggelar infrastruktur summit yang
menawarkan projek senilai Rp 1303 triliun. Juga telah berhasil menarik
investasi luar negeri untuk menggerakkan roda ekonomi, mengurangi
kemiskinan, mengatasi masalah pengangguran dan lainnya. "Jadi
landasannya sudah benar," kata presiden
Berkaitan dengan bencana gempa bumi dan gelombang tsunami yang
meluluhlantakkan Naggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatra Utara,
presiden menegaskan bahwa bencana di dua wilayah itu sama sekali tidak
menanggung pertumbuhan perekonomian nasional. Karena itu dia mengimbau
kepada semua pihak untuk perlu cemas bahwa bencana nasional itu juga
memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.
"Saya sudah berdiskusi dengan para ekonomi dari dalam dan luar negeri.
Tetapi dari diskusi yang mendalam itu dapat disimpulkan bahwa nebcana di
Aceh dan Sumatra Utara tidak berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi
nasional," tegas Presiden.(A-83)***
SBY Tidak Peduli Popularitasnya Turun
Suara Merdeka 4/2/2005: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
menyatakan, tidak peduli terhadap berbagai polling dan penilaian yang
menyebut popularitasnya menurun. Tapi dia tetap akan mendengar kritikan
yang muncul, betapa pun keras dan kasarnya.
Ketika memberikan sambutan saat membuka Rapimnas Kadin di Istana Negara,
Kamis (3/2), Presiden mengaku mendengar banyaknya kritikan yang menyebut
bahwa pemerintahannya dalam 100 hari pertama telah gagal memenuhi
harapan rakyat.
"Saya mendengar banyak sekali kritik. Kritik itu antara lain begini,
pemerintahan Yudhoyono telah gagal, popularitasnya menurun. I don't care
about the popularity. Yang saya care adalah pemerintahan itu harus
bekerja penuh. Ada yang bisa kita lakukan tahun demi tahun untuk rakyat
kita," tegasnya di depan para pengusaha nasional. Saat itu Presiden
didampingi Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah, Menteri
Perindustrian Andung Nitimihardja, dan Ketua Umum Kadin MS Hidayat.
SBY lebih lanjut mengatakan, akan melihat secara positif setiap kritik
konstruktif. Betapa pun kerasnya, seberapa pun kasarnya, kritik itu
menurutnya wajib didengar untuk meningkatkan kinerja pemerintah di waktu
yang akan datang. Menurut dia, tugas utama pemerintahannya adalah
menciptakan lapangan kerja serta mengurangi kemiskinan.
Presiden mengakui di antara kritik itu memang ada yang tidak didasari
penilaian objektif. Terhadap hal yang tidak fair dan tidak objektif ini
SBY meminta para pejabat menghadapinya dengan menjelaskan semua
kebijakan yang telah diambil pemerintah.
"Tetapi yang penting kita mawas diri, introspeksi, mana kritik itu yang
benar untuk kita jadikan pemicu," ujarnya.
Di sisi lain, dia meminta agar masyarakat berbagai elemen dapat
bersama-sama bertanggung jawab atas kondisi bangsa dan negara Indonesia.
Sehingga kritikan itu dapat membangun dan menunjang kepentingan bangsa
dan negara.
"Kalau kita sama-sama bertanggung jawab tentunya dalam mendiskusikan,
mendialogkan, pasti dilandasi oleh sikap betul-betul untuk mendukung dan
menunjang kepentingan bangsa dan negara kita," kata SBY. *ti
|
|
|
|
BERITA LAINNYA |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
 |
= Presiden SBY: I Don't Care
= Kementerian Negara Kominfo Jadi Departemen
= Ical, Sugiharto, dan Suryadharma Dapat Nilai Terendah
= M Samsul Arif, Kinerja Belum Sentuh Substansi
= Presiden Tak Pernah Janji Soal 100 Hari
= Dikritik, SBY Ngaku Lapang Hati
= Paul Sutaryono: 100 Hari Pemerintah dan Industri Perbankan
= FKB Kecewa, SBY-JK Tekesan Masih Kampanye
= Masalah 100 Hari, Presiden Terjebak Jargon Sendiri
= Seratus Hari Tanpa Perubahan Signifikan
= Gebrakan 100 Hari Tanpa Gebrakan
= Megawati: Janji SBY di Awang-awang
= Kinerja Kementerian BUMN Buruk
= Janji-Janji Presiden Sulit Sitepati
= Ketidakpuasan Publik Mulai Terekspresikan
= Presiden Belum Puas, 100 Hari Dapat Ponten 4
= 100 Hari SBY-Kalla, Tidak Puas Kinerja Aparat Hukum
= Penanganan Korupsi, SBY Sendiri Belum Puas
= Tajuk Kompas: Kinerja 100 Hari Pemerintah SBY-Kalla
= 100 Hari Pemerintahan SBY Penegakan Hukum Masih Buruk
= Presiden Tidak Puas Kinerja Polisi dan Jaksa
= Sukardi Rinakit: SBY dan Politik "Gusti Ora Sare"
= Presiden SBY, Jangan Cepat Vonis Pemerintah Gagal
= Frans Seda, Budaya 100 Hari
= Noktah Merah Rapor SBY
= Dr J Kristiadi, Hanya Retorika Politik
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
|