|
Hari-hari ini, hampir semua kita berpendapat bahwa keterpurukan bangsa
ini adalah akibat runtuhnya moralitas bangsa, terutama di kalangan elit.
Artinya, sesungguhnya kita masih memiliki kesadaran (pengetahuan) bahwa
bangsa ini akan bangkit dari keterpurukan jika kita (terutama para elit)
mampu menjagai nurani dan moralitas masing-masing. Tetapi, sayang,
kesadaran tentang kekuatan nurani dan moral itu hanya berada pada
retorika di ujung lidah, tidak lagi berada di dalam jiwa dan perilaku
kita.
Indonesia terkorup kedua di Asean, ketiga di Asia dan keenam di dunia.
Hasil survei Transparansi Internasional yang dirilis di Jakarta Selasa
7/10/2003 menyebutkan Indonesia bersama Kenya merupakan negara paling
korup keenam di dunia dari 133 negara dengan nilai index persepsi
korupsi 1,9 dari rentang nilai 1 sampai 10. Di regional Asean Indonesia
terkorup, kecuali dibanding Myanmar. Sementara di kawasan Asia, hanya
Bangladesh dan Myanmar yang lebih korup dari Indonesia.
Tokoh Indonesia DotCom, suatu media yang berobsesi bertutur
tentang upaya mendorong tampilnya orang-orang baik negeri ini
dalam kepemimpinan publik. Agak berbeda dengan beberapa media
yang cenderung memilih menyoroti keburukan orang-orang dan
institusi publik. Kecenderungan itu, tentu, bukan suatu hal yang
salah dan jangan! Tetapi, izinkan pula media ini memilih
menampilkan orang-orang baik. Sehingga tampilan buruk tidak
harus selalu mendominasi potret bangsa ini secara absolut.
Tokoh Indonesia DotCom
Tanggal 20 Mei adalah hari bersejarah bagi bangsa ini. Hari berdirinya
Budi Oetomo, yang kemudian setiap tahun diperingati sebagai Hari
Kebangkitan Nasional. Di tengah suasana bangsa saat ini, semangat
kebangkitan nasional ini terasa amat penting direvitalisasi. Sebaiknya,
harus dimulai dari setiap individu untuk bertanya perihal kontribusinya
dalam proses kebangkitan bangsanya. Apa yang telah diberikan kepada bangsa
dan negaranya. Dalam suasana itu, tepat satu tahun lalu, situs Tokoh
Indonesia DotCom mulai dipublikasikan.
Tajuk Suara Pembaruan
Kamis 23/01/03: Memasuki tahun 2003, Negara kita dihadapkan dengan situasi
politik yang makin memanas. Meskipun pemerintah telah merevisi kenaikan
harga bahan bakar minyak (BBM), tarif dasar listrik, dan menunda kenaikan
tarif telepon, unjuk rasa masih terjadi di beberapa tempat di Jakarta dan
beberapa kota lainnya. Isu yang dilontarkan para pengunjuk rasa sudah
bergeser dari penolakan kenaikan BBM menjadi tuntutan untuk memutuskan
hubungan dengan lembaga donor internasional, penegakan supremasi hukum,
mengadili koruptor sampai pada menjatuhkan duet Megawati-Hamzah.
Editorial Media Indonesia
Kamis 23/01/03: Politik dan kekuasaan di Indonesia, suka atau tidak suka,
adalah dunia yang didominasi laki-laki. Tetapi, para lelaki yang terjun ke
dunia laki-laki itu, suka atau tidak suka, banyak sekali yang tidak jantan.
Tidak mengherankan kalau dunia politik kita sarat dengan pertarungan yang
kekanak-kanakan.
|
|
|
|