Visi Berita
Pilih dengan Cerdas
Pemilihan Umum (Pemilu) sebuah sarana demokrasi yang teramat penting
untuk memilih putera-puteri terbaik bangsa menjadi wakil rakyat atau
pemimpin. Agar hasilnya (mereka yang terpilih) memiliki integritas diri,
komitmen, idealisme dan visi (bermasyarakat, berbangsa dan bernegara),
serta bersih dan tulus (hati, pikiran dan kelakuannya), kiranya rakyat
sebagai pemegang hak memilih, pemilik suara dan kedaulatan memilih,
secara tulus mengunakan haknya dengan cerdas.
Harapan ini kita kemukakan setelah melihat kinerja, komitmen, dan
perilaku para wakil rakyat, anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang
terhormat saat ini, sungguh menyedihkan. Sangat banyak diwarnai
peristiwa aib, korup, malas, angkuh, serta mementingkan diri dan
kelompoknya.
Sudah amat sering kita menyaksikan anggota dewan yang terhormat
ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), jaksa dan polisi karena
korupsi dengan berbagai modus. Juga beberapa dikabarkan berselingkuh,
malas dan ngantuk mengikuti rapat. Sering bicara arogan dan ngelantur.
Sungguh memprihatinkan, sehingga anggota dewan yang baik pun jadi ikut
tercemar dan mungkin sulit menunjukkan integritasnya. Mereka ini adalah
hasil pilihan rakyat sebelumnya (Pemilu 2004).
Kini, dalam beberapa hari menjelang masuk bilik suara menentukan pilihan
pada Pemilu legislatif, 9 April 2009, kita kiranya jangan lagi
terperosok masuk ke lubang yang sama akibat kesalahan dan kecerobohan
memilih orang dan partai yang salah. Kesalahan kita mungkin timbul
akibat kekurangjelian menilai perilaku para caleg dan petinggi partai
peserta pemilu.
Kita berharap bahkan berkeyakinan, semua partai politik (Parpol) peserta
Pemilu 2009 ini punya visi, misi dan program demi kesejahteraan rakyat,
kemajuan bangsa dan negara. Di atas sudut pandang positif inilah kita
menentukan pilihan. Tapi, kita tidak bisa terlena pada konsep dan janji
indah tanpa mencermati dengan cerdas sejauhmana intregritas diri,
komitmen, idealisme dan visi (bermasyarakat, berbangsa dan bernegara),
kebersihan dan ketulusan (hati, pikiran dan kelakuan) mereka, baik
pribadi caleg maupun parpol.
Salah satu indikasi kuat yang menunjukkan seseorang (calon legislatif)
itu punya integritas adalah tidak menjalankan politik uang. Di samping
itu, selain bersih dari politik uang, juga jujur, dan punya motivasi
untuk membela kepentingan banyak orang. Mereka ini memiliki motivasi
kuat ingin mengabdikan diri untuk berperan sebagai anggota legislatif
yang mempunyai 3 (tiga) fungsi dasar yaitu fungsi anggaran, fungsi
pembuatan kebijakan (legislasi) dan fungsi pengawasan.
Sementara, mereka (Caleg) yang punya motivasi mencari pekerjaan atau
ingin mengejar status sosial dan kesempatan yang lebih baik untuk
memperbaiki taraf ekonomi dan kekuasaan, sehingga menghalalkan segala
cara agar terpilih jadi anggota dewan, adalah kelompok yang perlu
diwaspadai. Mereka pastilah berharap, setelah duduk sebagai anggota
dewan yang terhormat, akan mendapat berbagai fasilitas dan kemudahan
untuk balik modal berlipat-lipat. Kecenderungan mereka ini berharap bisa
kebagian kesempatan korupsi, walaupun akhir-akhir ini Komisi Pemberantas
Korupsi (KPK) sudah menangkapi beberapa anggota DPR dan DPRD yang
ketahuan terlibat korupsi. Mereka yang tertangkap itu dipandang hanya
ketiban sial. Sementara yang tidak ketahuan, ya, tidak tertangkap!
Mereka ini gencar melakukan politik uang. Membagi-bagi uang dan
pemberian dalam bentuk lain kepada para konstituen, agar dipilih.
Politik uang ini memiliki daya rusak yang semakin mengerikan dalam
proses demokratisasi di Indonesia. Demokrasi yang diharapkan harus
bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat, malah melahirkan
koruptor-koruptor yang akan mengisap uang rakyat.
Sehubungan dengan itu, salah satu tanda kecerdasan kita dalam menentukan
pilihan, kiranya pilihan kita berada dalam prinsip dan tataran
antipolitik uang. Marilah kita pilih calon wakil rakyat yang bersih dari
politik uang. Kita pilih caleg yang berani melakukan perubahan demi
perbaikan, dengan tidak melakukan money politic, tetapi berkemauan
melakukan silah al-rahmi yang berkesinambungan dengan rakyat.
Mari kita bangkitkan kesadaran antipolitik uang, menolak politik uang!
Sebab pilihan yang didasarkan pada politik uang berarti menjual harga
diri dan ikut menyuburkan pratik korupsi dan suap-menyuap di masyarakat
secara luas. Dengan pilihan yang antipolitik uang, berarti kita juga
ikut membangun rumah rakyat (DPR) yang dihuni putera-puteri bangsa
terpilih untuk menyalurkan aspirasi rakyat, dan demi kesejahteraan
rakyat. ►BERITA INDONESIA
65 - ch. robin simanullang
*TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|
|
|