BERITA TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  B E R I T A
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Opini
 ► Editorial
 ► Resensi
 ► Leadership
 ► Sebelumnya
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 


 
Visi Berita

Pilih dengan Cerdas


Pemilihan Umum (Pemilu) sebuah sarana demokrasi yang teramat penting untuk memilih putera-puteri terbaik bangsa menjadi wakil rakyat atau pemimpin. Agar hasilnya (mereka yang terpilih) memiliki integritas diri, komitmen, idealisme dan visi (bermasyarakat, berbangsa dan bernegara), serta bersih dan tulus (hati, pikiran dan kelakuannya), kiranya rakyat sebagai pemegang hak memilih, pemilik suara dan kedaulatan memilih, secara tulus mengunakan haknya dengan cerdas.

Harapan ini kita kemukakan setelah melihat kinerja, komitmen, dan perilaku para wakil rakyat, anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat saat ini, sungguh menyedihkan. Sangat banyak diwarnai peristiwa aib, korup, malas, angkuh, serta mementingkan diri dan kelompoknya.

Sudah amat sering kita menyaksikan anggota dewan yang terhormat ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), jaksa dan polisi karena korupsi dengan berbagai modus. Juga beberapa dikabarkan berselingkuh, malas dan ngantuk mengikuti rapat. Sering bicara arogan dan ngelantur. Sungguh memprihatinkan, sehingga anggota dewan yang baik pun jadi ikut tercemar dan mungkin sulit menunjukkan integritasnya. Mereka ini adalah hasil pilihan rakyat sebelumnya (Pemilu 2004).

Kini, dalam beberapa hari menjelang masuk bilik suara menentukan pilihan pada Pemilu legislatif, 9 April 2009, kita kiranya jangan lagi terperosok masuk ke lubang yang sama akibat kesalahan dan kecerobohan memilih orang dan partai yang salah. Kesalahan kita mungkin timbul akibat kekurangjelian menilai perilaku para caleg dan petinggi partai peserta pemilu.

Kita berharap bahkan berkeyakinan, semua partai politik (Parpol) peserta Pemilu 2009 ini punya visi, misi dan program demi kesejahteraan rakyat, kemajuan bangsa dan negara. Di atas sudut pandang positif inilah kita menentukan pilihan. Tapi, kita tidak bisa terlena pada konsep dan janji indah tanpa mencermati dengan cerdas sejauhmana intregritas diri, komitmen, idealisme dan visi (bermasyarakat, berbangsa dan bernegara), kebersihan dan ketulusan (hati, pikiran dan kelakuan) mereka, baik pribadi caleg maupun parpol.

Salah satu indikasi kuat yang menunjukkan seseorang (calon legislatif) itu punya integritas adalah tidak menjalankan politik uang. Di samping itu, selain bersih dari politik uang, juga jujur, dan punya motivasi untuk membela kepentingan banyak orang. Mereka ini memiliki motivasi kuat ingin mengabdikan diri untuk berperan sebagai anggota legislatif yang mempunyai 3 (tiga) fungsi dasar yaitu fungsi anggaran, fungsi pembuatan kebijakan (legislasi) dan fungsi pengawasan.

Sementara, mereka (Caleg) yang punya motivasi mencari pekerjaan atau ingin mengejar status sosial dan kesempatan yang lebih baik untuk memperbaiki taraf ekonomi dan kekuasaan, sehingga menghalalkan segala cara agar terpilih jadi anggota dewan, adalah kelompok yang perlu diwaspadai. Mereka pastilah berharap, setelah duduk sebagai anggota dewan yang terhormat, akan mendapat berbagai fasilitas dan kemudahan untuk balik modal berlipat-lipat. Kecenderungan mereka ini berharap bisa kebagian kesempatan korupsi, walaupun akhir-akhir ini Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) sudah menangkapi beberapa anggota DPR dan DPRD yang ketahuan terlibat korupsi. Mereka yang tertangkap itu dipandang hanya ketiban sial. Sementara yang tidak ketahuan, ya, tidak tertangkap!

Mereka ini gencar melakukan politik uang. Membagi-bagi uang dan pemberian dalam bentuk lain kepada para konstituen, agar dipilih. Politik uang ini memiliki daya rusak yang semakin mengerikan dalam proses demokratisasi di Indonesia. Demokrasi yang diharapkan harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat, malah melahirkan koruptor-koruptor yang akan mengisap uang rakyat.

Sehubungan dengan itu, salah satu tanda kecerdasan kita dalam menentukan pilihan, kiranya pilihan kita berada dalam prinsip dan tataran antipolitik uang. Marilah kita pilih calon wakil rakyat yang bersih dari politik uang. Kita pilih caleg yang berani melakukan perubahan demi perbaikan, dengan tidak melakukan money politic, tetapi berkemauan melakukan silah al-rahmi yang berkesinambungan dengan rakyat.

Mari kita bangkitkan kesadaran antipolitik uang, menolak politik uang! Sebab pilihan yang didasarkan pada politik uang berarti menjual harga diri dan ikut menyuburkan pratik korupsi dan suap-menyuap di masyarakat secara luas. Dengan pilihan yang antipolitik uang, berarti kita juga ikut membangun rumah rakyat (DPR) yang dihuni putera-puteri bangsa terpilih untuk menyalurkan aspirasi rakyat, dan demi kesejahteraan rakyat. ►BERITA INDONESIA 65 - ch. robin simanullang

 

*TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

  BERITA LAINNYA  
= Pilih dengan Cerdas
= Awas Racun Politik Uang
= Amerika Mau Mendengar
= Megawati-Jusuf Kalla, Sepakati Pemerintahan yang Kuat
= Tiga Pahlawan Nasional
= Deklarasi Kampanye Damai dan Tertib
= Kampanye Mulai 12 Juli 2008
= Nomor Parpol Pemilu 2009
= 34 Parpol Peserta Pemilu 2009
= SKB Tentang Ahmadiyah
= Penerima Kalpataru dan Adipura 2008
= Pintu Air Manggarai Lindungi Menteng
= Awal Ramadhan 1427 H
= Maklumat Keindonesiaan
= Gempa Yogya Tewaskan 4.611 Orang
= Buron BLBI Ditangkap di AS
= Purnawirawan TNI-AD Tolak MoU Aceh
= Damai, Damai, Damailah Aceh
= DPR Pilih Anggota Komisi Yudisial
= Aljazair Anugerahkan Medali kepada 13 Tokoh Indonesia.
= 36 Tokoh Iklan Kenaikan Harga BBM
= Harga BBM Naik
= Tidak Semua Eselon I Akan Diganti
= Kementerian Negara Kominfo Jadi Departemen
= Ical, Sugiharto, dan Suryadharma Dapat Nilai Terendah
= M Samsul Arif, Kinerja Belum Sentuh Substansi
= Presiden Tak Pernah Janji Soal 100 Hari
= Dikritik, SBY Ngaku Lapang Hati
= Paul Sutaryono: 100 Hari Pemerintah dan Industri Perbankan
= FKB Kecewa, SBY-JK Tekesan Masih Kampanye
= Masalah 100 Hari, Presiden Terjebak Jargon Sendiri
= Seratus Hari Tanpa Perubahan Signifikan
= Gebrakan 100 Hari Tanpa Gebrakan
= Megawati: Janji SBY di Awang-awang
= Kinerja Kementerian BUMN Buruk