Banjir Landa Jakarta
Pintu Air Manggarai Lindungi Menteng
Jakarta 06/2/07: Kawasan elit Menteng, Istana Merdeka, dan Kawasan Monas
masih terlindung dari bencana banjir. Kendati kawasan ini jauh lebih
rendah dari kawasan Kampung Melayu, Bukit Duri dan Bidara Cina, yang
sudah berhari-hari di tenggelamkan banjir. Di kawasan yang dihuni rakyat
ini ketinggian banjir mencapai 8,5 sampai 10,9 meter. Rumah mereka
tenggelam, mereka harus mengungsi. Mereka, rakyat berkorban!
Mengapa kawasan Kampung Melayu dan Bukit Duri yang berada di dataran
lebih tinggi justru kebanjiran? Itulah fungsi pintu air Manggarai. Pintu
air ini direkayasa untuk menahan air aliran sungai Ciliwung, agar
kawasan elit Menteng, Monas, Istana Merdeka dan lain-lain bisa
terlindungi dari banjir. Kondisi normal ketinggian air di pintu air
Manggarai ini adalah 7,5 meter. Namun sering kali ketinggian air di
pintu air ini dibiarkan sampai mencapai 9 sampai 10,9 meter. Pada
ketinggian 10.9 meter, seperti kejadian Sabtu-Minggu 3-4 Februari 2007
lalu, bahkan air sudah sampai meluber dari atas pintu air. Hal ini
menyebabkan beberapa ruas jalan di kawasan Menteng sekitarnya kebagian
air, namun tidak sampai membanjiri rumah-rumah di sekitarnya.
Sehari sebelum ketinggian air mencapai 10,9 meter, Jumat 2/2 petang,
setelah hujan reda, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu Negara
Ani Yudhoyono datang mengunjungi korban banjir di Kampung Melayu,
Jakarta Timur itu. Presiden yang mendapat pengawalan ekstraketat dari
Paspampres langsung turun ke lokasi banjir, sehingga celana yang
dikenakan basah oleh air sungai yang kotor. Kepala Negara tampak menaruh
rasa kasihan sambil memberi salam dan menebar senyum khasnya menghibur
rakyat yang menderita itu.
Ribuan pengungsi banjir di Kampung Melayu, di tengah penderitaan dan
pengorbanannya tampak sangat antusias, respek dengan berduyun-duyun
turun memadati jalan yang dilalui Presiden, sambil berusaha menyalami
sang presiden.
Setelah Presiden membiarkan celananya basah sampai lutut, lalu Presiden
mendatangi para pengungsi banjir yang ditampung di SMP Santa Maria
Kampung Melayu. Menurut Juru Bicara Kepresidenan Dino Pati Djalal yang
ikut dalam rombongan, ini kunjungan mendadak, tidak direncanakan
sebelumnya. Diungkapkan, Presiden juga mengaku prihatin dengan musibah
yang kembali menimpa wilayah Jakarta dan sekitarnya. Presiden bahkan
membatalkan rapat kabinet intern yang sedianya akan dilaksanakan di
Istana Cipanas, Kamis (1/2) malam, karena ingin memantau perkembangan
bencana banjir. ''Bahkan, dalam rapat intern yang digelar di kediaman
pribadi Presiden di Cikeas, Bogor, Jumat siang, bersama tiga menteri
koordinator, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Kepala Bappenas Paskah
Suzetta, Presiden tetap melakukan pemantauan, baik melalui telepon
dengan Gubernur DKI maupun Badan SAR Nasional, serta laporan media massa,''
kata juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng.
Namun, sehari kemudian, pada malam Sabtu 3/2, ketinggian air di kawasan
itu mencapai puncak sampai 10,9 meter. Rakyat Kampung Melayu, Bukit Duri
dan Bidara Cina pasrah. Rumah mereka tenggelam. Harta benda mereka habis
terendam banjir. Bahkan seorang di antara mereka, meninggal dunia.
Gubernur Sutiyoso juga sebelumnya sudah menyatakan keprihatinan yang
mendalam atas penderiataan rakyatnya. Bahkan sama seperti Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan tidak akan mengorbankan rakyat demi
melindungi kawasan tertentu, atau melindungi Istana Negara dari terpaan
banjir.
Sutiyoso berjanji akan membuka pintu air Manggarai demi rakyat. Lalu
saat meninjau pintu air itu, Sutiyoso mendapat laporan dari petugas
setempat kalau kondisi air sudah mencapai 1.085 cm. Ketinggian yang
sudah jauh dari ambang normal pintu air tersebut. Jika pintu tidak
dibuk
|