BERITA TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  B E R I T A
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Opini
 ► Editorial
 ► Resensi
 ► Leadership
 ► Sebelumnya
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 


 
Banjir Landa Jakarta

Pintu Air Manggarai Lindungi Menteng


Jakarta 06/2/07: Kawasan elit Menteng, Istana Merdeka, dan Kawasan Monas masih terlindung dari bencana banjir. Kendati kawasan ini jauh lebih rendah dari kawasan Kampung Melayu, Bukit Duri dan Bidara Cina, yang sudah berhari-hari di tenggelamkan banjir. Di kawasan yang dihuni rakyat ini ketinggian banjir mencapai 8,5 sampai 10,9 meter. Rumah mereka tenggelam, mereka harus mengungsi. Mereka, rakyat berkorban!

Mengapa kawasan Kampung Melayu dan Bukit Duri yang berada di dataran lebih tinggi justru kebanjiran? Itulah fungsi pintu air Manggarai. Pintu air ini direkayasa untuk menahan air aliran sungai Ciliwung, agar kawasan elit Menteng, Monas, Istana Merdeka dan lain-lain bisa terlindungi dari banjir. Kondisi normal ketinggian air di pintu air Manggarai ini adalah 7,5 meter. Namun sering kali ketinggian air di pintu air ini dibiarkan sampai mencapai 9 sampai 10,9 meter. Pada ketinggian 10.9 meter, seperti kejadian Sabtu-Minggu 3-4 Februari 2007 lalu, bahkan air sudah sampai meluber dari atas pintu air. Hal ini menyebabkan beberapa ruas jalan di kawasan Menteng sekitarnya kebagian air, namun tidak sampai membanjiri rumah-rumah di sekitarnya.

Sehari sebelum ketinggian air mencapai 10,9 meter, Jumat 2/2 petang, setelah hujan reda, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono datang mengunjungi korban banjir di Kampung Melayu, Jakarta Timur itu. Presiden yang mendapat pengawalan ekstraketat dari Paspampres langsung turun ke lokasi banjir, sehingga celana yang dikenakan basah oleh air sungai yang kotor. Kepala Negara tampak menaruh rasa kasihan sambil memberi salam dan menebar senyum khasnya menghibur rakyat yang menderita itu.

Ribuan pengungsi banjir di Kampung Melayu, di tengah penderitaan dan pengorbanannya tampak sangat antusias, respek dengan berduyun-duyun turun memadati jalan yang dilalui Presiden, sambil berusaha menyalami sang presiden.

Setelah Presiden membiarkan celananya basah sampai lutut, lalu Presiden mendatangi para pengungsi banjir yang ditampung di SMP Santa Maria Kampung Melayu. Menurut Juru Bicara Kepresidenan Dino Pati Djalal yang ikut dalam rombongan, ini kunjungan mendadak, tidak direncanakan sebelumnya. Diungkapkan, Presiden juga mengaku prihatin dengan musibah yang kembali menimpa wilayah Jakarta dan sekitarnya. Presiden bahkan membatalkan rapat kabinet intern yang sedianya akan dilaksanakan di Istana Cipanas, Kamis (1/2) malam, karena ingin memantau perkembangan bencana banjir. ''Bahkan, dalam rapat intern yang digelar di kediaman pribadi Presiden di Cikeas, Bogor, Jumat siang, bersama tiga menteri koordinator, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Kepala Bappenas Paskah Suzetta, Presiden tetap melakukan pemantauan, baik melalui telepon dengan Gubernur DKI maupun Badan SAR Nasional, serta laporan media massa,'' kata juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng.

Namun, sehari kemudian, pada malam Sabtu 3/2, ketinggian air di kawasan itu mencapai puncak sampai 10,9 meter. Rakyat Kampung Melayu, Bukit Duri dan Bidara Cina pasrah. Rumah mereka tenggelam. Harta benda mereka habis terendam banjir. Bahkan seorang di antara mereka, meninggal dunia.

Gubernur Sutiyoso juga sebelumnya sudah menyatakan keprihatinan yang mendalam atas penderiataan rakyatnya. Bahkan sama seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan tidak akan mengorbankan rakyat demi melindungi kawasan tertentu, atau melindungi Istana Negara dari terpaan banjir.

Sutiyoso berjanji akan membuka pintu air Manggarai demi rakyat. Lalu saat meninjau pintu air itu, Sutiyoso mendapat laporan dari petugas setempat kalau kondisi air sudah mencapai 1.085 cm. Ketinggian yang sudah jauh dari ambang normal pintu air tersebut. Jika pintu tidak dibuk