A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 
  B E R I T A
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Opini
 ► Editorial
 ► Resensi
 ► Leadership
 ► Berita KIB
 ► Berita Tsunami
 ► Berita 2003
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 

 


 
Pemerintah-PBB Sepakat

Empat Prioritas Kerja


Banda Aceh, 26/1/05: Empat minggu setelah peristiwa bencana alam gempa bumi dan badai tsunami melanda wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Nias (Sumatera Utara), pada 26 Desember 2004, pemerintah bersama badan dunia PBB sepakat akan melaksanakan empat (4) prioritas kerja dalam satu bulan ke depan. Keempar prioritas kerja itu adalah:

Pertama pembangunan sarana sanitasi di lokasi pengungsi yang diikuti distribusi dan variasi logistik, kedua penyelenggaraan kembali sektor pendidikan terutama tingkat SLTA ke bawah, ketiga menjalankan roda pemerintahan, serta keempat melibatkan masyarakat lokal dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerahnya.

Joel Boutroue, United Nation (UN) Deputy Humanitarian Coordinator Operation for Sumatera, menyebutkan, hingga minggu keempat pasca bencana masalah stabilisasi populasi masih menjadi perhatian utama. Sebab distribusi logistik ke sejumlah lokasi-lokasi pengungsian belum teratur, demikian pula dari segi jenis atau variasi makanan masih belum memenuhi syarat makan sehat.

Dalam konperensi pers yang berlangsung di Pendopo Gubernuran Provinsi NAD, Joel Boutroue menyebutkan, dari hasil pemantauannya di lokasi-lokasi pengungsian ditemukan tingkat malnutrisi (kekurangan gizi) pada anak-anak mencapai 12,5 persen. Keadaan ini tidak jauh berbeda dengan tingkat malnutrisi pada anak-anak tingkat nasional yang mencapai 9 persen. Saat ini, kata Joe, Pemerintah bersama organisasi-organisasi kemanusiaan sedang mengusahakan distribusi makanan yang bervariasi agar kebutuhan makanan sehat dapat dipenuhi.

Dikatakan oleh Joel Boutroue, adanya perpindahan pengungsi dari satu lokasi ke lokasi lain telah menjadi masalah baru. Sebab hal ini berkaitan dengan pengadaan air bersih dan fasilitas sanitasi lainnya. Di beberapa lokasi pengungsian ditemukan terjadi penurunan jumlah pengungsi karena mereka sudah ditampung di rumah kerabat atau kenalannya.

 

Dampaknya adalah berkaitan dengan pemerataan distribusi makanan beserta kebutuhan hidup lainnya. Karena itulah, kata Joe, program relokasi pengungsi diusahakan agar sedapat mungkin dilakukan ke tempat yang paling dekat dengan tempat tinggal sebelumnya.

Dalam siaran pers yang diterima Tokoh Indonesia dari Media Center Lembaga Informasi Nasional, yang didasarkan pada sumber Posko Kominfo & LIN-NAD, disebutkan, masalah yang dihadapi Pemerintah sekarang adalah menyatukan program dari pihak-pihak (actor) yang terlibat langsung dalam menangani bencana. Saat ini sedang didaftar organisasi-organisasi yang datang dan pergi agar keberadaan dan peranannya dapat dipantau.

 

Diharapkan, dalam waktu dekat seluruh organisasi sudah terdaftar dan masing-maisng mengetahui program rehabilitasi terpadu apa yang harus dilaksanakan, termasuk program jangka menengah dan jangka panjang. Masing-masing pihak yang ingin terlibat dalam program dapat menentukan bidang kegiatannya.

Ribuan Mayat Masih Tertimbun
Mayor Jenderal TNI Bambang Darmono, Panglima Operasi Penanggulangan Bencana Aceh-Nias, menyebutkan, telah terjadi perubahan pendekatan proses evakuasi jenazah dan pembersihan kota. Proses evakuasi jenazah tidak lagi berdasarkan pendekatan jumlah, melainkan berdasarkan pendekatan wilayah. Sebab, kendati sebuah kota dinyatakan telah dibersihkan dari jenazah, namun kenyataannya masih saja banyak ditemukan mayat-mayat yang berada dalam puing-puing reruntuhan yang jumlahnya diperkirakan ribuan.

Perubahan pendekatan evakuasi jenazah itu disepakati dalam sebuah Rapat Koordinasi Penanggulangan Becana Aceh-Nias, yang dilaksanakan memasuki hari ke-28 bencana. Laporan hasil rapat koordinasi disampaikan oleh Mayjen Bambang Darmono selaku Panglima Operasi, kepada Ketua Harian Panitia Nasional Penanggulangan Bencana Alwi Shihab, di Banda Aceh, Minggu (23/1-2005).

Dikatakan Bambang Darmono, para petugas evakuasi tidak lagi bekerja sendiri-sendiri tetapi secara bersama-sama dengan pendekatan target waktu dan wilayah. Tim pembersih wilayah masih harus bekerja dengan pendekatan beberapa rit dalam sehari supaya Tim dapat membuang sampah dan puing-puing. Dengan demikian, tidak bisa dikatakan suatu daerah sudah bersih walaupun jumlah puing yang dibuang banyak, sebab demikian pula jenazahnya, apakah sudah bebas dari suatu wilayah.

Menanggapi laporan tersebut, Alwi Shihab mengarahkan agar proses evakuasi difokuskan bukan pada proses evakuasi jenazah semata, melainkan, pembersihan lingkungan/ kota pun sudah harus termasuk di dalamnya. (e-ti/ht)  *e-ti/lin-ht

  BERITA LAINNYA  
:: Pemerintah-PBB Sepakat Empat Prioritas Kerja

:: Pasca Tsunami H-30, Korban Meninggal 173. 981 Jiwa

:: Panglima TNI, Calang Akan Dibangun Segera

:: Relokasi Pengungsi, Pemerintah Sewa Tanah Penduduk

:: Pasca Tsunami H-25, Data Dpekes 166.320 Meninggal

:: Pasca Tsunami H-22 Meninggal 110.229, Hilang 12.132 Orang

:: Presiden: Reorganisasi Bakornas PBP

:: Pasca Tsunami H-20, 81.665 Korban Dimakamkan

:: Telah Terbuka 90% Jalan Utama Banda Aceh

:: Bakornas PBP, Telah Dievakuasi 65.594 Jenazah

:: Menko Kesra, Aceh Bersih 10 Hari Lagi

:: Pasca Tsunami, Banda Aceh Mulai Aktif

:: Menko Kesra: Relokasi Pengungsi Prioritas

:: Presiden: Jamin Korban Anak Yatim

:: Akibat Tsunami, 2.742 Sarana Ibadah Rusak

:: Deklarasi KTT Dampak Tsunami

:: 1178 Tenaga Medis, Depsos Salurkan 969 ton Beras

:: RS Zainal Abidin Berfungsi, 36.266 Jenazah Dievakuasi

:: Sejuta Anak Pengungsi Aceh

:: Upaya Tim Depdagri Pulihkan Pemerintahan NAD

=> Data Korban Tsunami di Aceh dan Sumut