Pemerintah-PBB Sepakat
Empat Prioritas Kerja
Banda Aceh, 26/1/05: Empat minggu setelah peristiwa bencana alam
gempa bumi dan badai tsunami melanda wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)
dan Nias (Sumatera Utara), pada 26 Desember 2004, pemerintah bersama
badan dunia PBB sepakat akan melaksanakan empat (4) prioritas kerja
dalam satu bulan ke depan. Keempar prioritas kerja itu adalah:
Pertama pembangunan sarana sanitasi di lokasi pengungsi yang diikuti
distribusi dan variasi logistik, kedua penyelenggaraan kembali sektor
pendidikan terutama tingkat SLTA ke bawah, ketiga menjalankan roda
pemerintahan, serta keempat melibatkan masyarakat lokal dalam
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerahnya.
Joel Boutroue, United Nation (UN) Deputy Humanitarian Coordinator
Operation for Sumatera, menyebutkan, hingga minggu keempat pasca bencana
masalah stabilisasi populasi masih menjadi perhatian utama. Sebab
distribusi logistik ke sejumlah lokasi-lokasi pengungsian belum teratur,
demikian pula dari segi jenis atau variasi makanan masih belum memenuhi
syarat makan sehat.
Dalam konperensi pers yang berlangsung di Pendopo Gubernuran Provinsi
NAD, Joel Boutroue menyebutkan, dari hasil pemantauannya di
lokasi-lokasi pengungsian ditemukan tingkat malnutrisi (kekurangan gizi)
pada anak-anak mencapai 12,5 persen. Keadaan ini tidak jauh berbeda
dengan tingkat malnutrisi pada anak-anak tingkat nasional yang mencapai
9 persen. Saat ini, kata Joe, Pemerintah bersama organisasi-organisasi
kemanusiaan sedang mengusahakan distribusi makanan yang bervariasi agar
kebutuhan makanan sehat dapat dipenuhi.
Dikatakan oleh Joel Boutroue, adanya perpindahan pengungsi dari satu
lokasi ke lokasi lain telah menjadi masalah baru. Sebab hal ini
berkaitan dengan pengadaan air bersih dan fasilitas sanitasi lainnya. Di
beberapa lokasi pengungsian ditemukan terjadi penurunan jumlah pengungsi
karena mereka sudah ditampung di rumah kerabat atau kenalannya.
Dampaknya adalah berkaitan dengan pemerataan distribusi makanan beserta
kebutuhan hidup lainnya. Karena itulah, kata Joe, program relokasi
pengungsi diusahakan agar sedapat mungkin dilakukan ke tempat yang paling
dekat dengan tempat tinggal sebelumnya.
Dalam siaran pers yang diterima Tokoh Indonesia dari Media Center Lembaga
Informasi Nasional, yang didasarkan pada sumber Posko Kominfo & LIN-NAD,
disebutkan, masalah yang dihadapi Pemerintah sekarang adalah menyatukan
program dari pihak-pihak (actor) yang terlibat langsung dalam menangani
bencana. Saat ini sedang didaftar organisasi-organisasi yang datang dan
pergi agar keberadaan dan peranannya dapat dipantau.
Diharapkan, dalam waktu dekat seluruh organisasi sudah
terdaftar dan masing-maisng mengetahui program rehabilitasi terpadu apa
yang harus dilaksanakan, termasuk program jangka menengah dan jangka
panjang. Masing-masing pihak yang ingin terlibat dalam program dapat
menentukan bidang kegiatannya.
Ribuan Mayat Masih Tertimbun
Mayor Jenderal TNI Bambang Darmono, Panglima Operasi Penanggulangan
Bencana Aceh-Nias, menyebutkan, telah terjadi perubahan pendekatan proses
evakuasi jenazah dan pembersihan kota. Proses evakuasi jenazah tidak lagi
berdasarkan pendekatan jumlah, melainkan berdasarkan pendekatan wilayah.
Sebab, kendati sebuah kota dinyatakan telah dibersihkan dari jenazah,
namun kenyataannya masih saja banyak ditemukan mayat-mayat yang berada
dalam puing-puing reruntuhan yang jumlahnya diperkirakan ribuan.
Perubahan pendekatan evakuasi jenazah itu disepakati dalam sebuah Rapat
Koordinasi Penanggulangan Becana Aceh-Nias, yang dilaksanakan memasuki
hari ke-28 bencana. Laporan hasil rapat koordinasi disampaikan oleh
Mayjen Bambang Darmono selaku Panglima Operasi, kepada Ketua Harian
Panitia Nasional Penanggulangan Bencana Alwi Shihab, di Banda Aceh,
Minggu (23/1-2005).
Dikatakan Bambang Darmono, para petugas evakuasi tidak lagi bekerja
sendiri-sendiri tetapi secara bersama-sama dengan pendekatan target waktu
dan wilayah. Tim pembersih wilayah masih harus bekerja dengan pendekatan
beberapa rit dalam sehari supaya Tim dapat membuang sampah dan
puing-puing. Dengan demikian, tidak bisa dikatakan suatu daerah sudah
bersih walaupun jumlah puing yang dibuang banyak, sebab demikian pula
jenazahnya, apakah sudah bebas dari suatu wilayah.
Menanggapi laporan tersebut, Alwi Shihab mengarahkan agar proses evakuasi
difokuskan bukan pada proses evakuasi jenazah semata, melainkan,
pembersihan lingkungan/ kota pun sudah harus termasuk di dalamnya. (e-ti/ht) *e-ti/lin-ht |
|
|
|
BERITA LAINNYA |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
 |
:: Pemerintah-PBB Sepakat Empat Prioritas Kerja
:: Pasca Tsunami H-30, Korban Meninggal 173. 981 Jiwa
:: Panglima TNI, Calang Akan Dibangun Segera
:: Relokasi Pengungsi, Pemerintah Sewa Tanah Penduduk
:: Pasca Tsunami H-25, Data Dpekes 166.320 Meninggal
:: Pasca Tsunami H-22 Meninggal 110.229, Hilang
12.132 Orang
:: Presiden: Reorganisasi Bakornas PBP
:: Pasca Tsunami H-20, 81.665 Korban Dimakamkan
:: Telah Terbuka 90% Jalan Utama Banda Aceh
:: Bakornas PBP, Telah Dievakuasi 65.594 Jenazah
:: Menko Kesra, Aceh Bersih 10 Hari Lagi
:: Pasca Tsunami, Banda Aceh Mulai Aktif
:: Menko Kesra: Relokasi Pengungsi Prioritas
:: Presiden: Jamin Korban Anak Yatim
:: Akibat Tsunami, 2.742 Sarana Ibadah Rusak
:: Deklarasi KTT Dampak Tsunami
:: 1178 Tenaga Medis, Depsos Salurkan 969 ton
Beras
:: RS Zainal Abidin Berfungsi, 36.266 Jenazah
Dievakuasi
:: Sejuta Anak Pengungsi Aceh
:: Upaya Tim Depdagri Pulihkan Pemerintahan
NAD
=> Data Korban
Tsunami di Aceh dan Sumut
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
|