Alwi Shihab
Aceh Masuki Tahap Transisi
= Enam Posko Beri Laporan Terbaru = WHO Cegah Kondisi Lebih Buruk
Banda Aceh 5/2/05:
Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Alwi Shihab, yang juga
menjabat Ketua Satkorlak NAD, mengatakan, keadaan darurat sudah berakhir.
Aceh kini memasuki tahap transisi menuju rehabilitasi dan rekonstruksi,
sebagai tahap penyempurnaan dari apa yang sudah dilakukan selama ini
seperti penyediaan tempat tinggal atau penampungan.
Shihab mengatakan hal itu saat menerima kunjungan Sultan Brunei
Darussalam, Sultan Hassanah Bolkiah, Selasa (1/2—2005). Keduanya
membicarakan sejauhmana operasi kemanusiaan di provinsi NAD sekarang ini,
berikut perkembangan situasi pemulihan akibat musibah gempa dan tsunami.
Menyinggung komitmen tentang batas waktu (time line) kehadiran pasukan
asing, yang ditetapkan pemerintah dibatasi hingga pada 26 Maret 2005
saja, Alwi Shihab mengharapkan agar komitmen itu dapat berjalan sendiri.
Diantaranya, terjadi pengurangan jumlah operasi helikopter yang
melaksanakan pendistribusian bantuan ke daerah relokasi. Sekarang ini,
kata Alwi, pemerintah/Tim Penanggulangan Bencana Gempa dan Tsunami di
Aceh, telah menyewa 20 kapal laut dengan muatan 50-70 ton untuk mengirim
logistik melalui jalur Pantai Barat ke Meulaboh.
Disebutkan Alwi, kehadiran militer asing yang melakukan misi kemanusiaan
di provinsi NAD akan digantikan oleh tenaga sipil. Komitmen itu telah
mendapat dukungan dari pemerintah Amerika Serikat. Hal yang mana juga
dilakukan oleh pemerintah Australia, setelah kunjungan PM Australia John
Howard yang bertemu dengan Menko Kesra khusus membicarakan masalah
pergantian tenaga militer Australia ke tenaga sipil. Walau demikian
kehadiran tenaga militer asing tetap akan disambut dengan baik sesuai
kebutuhan.
Pada kesempatan bertemu Sultan Brunei, Alwi Shihab mengucapkan pula rasa
terima kasihnya atas bantuan pihak-pihak internasional, termasuk NGO,
yang telah membantu pemulihan kondisi Provinsi NAD. Bantuan yang
diberikan sangat mendukung normalisasi kemandirian pemerintah Indonesia
mengatasi pemulihan bencana di Provinsi NAD dan Sumatera Utara,
khususnya Pemerintah Amerika Serikat dan Australia yang akan mengganti
tenaga militernya dengan tenaga sipil.
Menko Kesra juga menyampaikan terima kasih atas partisipasi Komunitas
Muslim Inggris, yang menyatakan komitmen memelihara 2.000 anak yatim
berupa pembayaran hidup dan pendidikan dasar sampai perguruan tinggi.
Enam Posko Beri Laporan Terbaru
Sebanyak enam posko penanganan bencana gempa dan
tsunami Aceh dan Nias, memberikan laporan terbarunya. Yakni Posko
Departemen Kesehatan (Depkes), Posko Departemen Sosial (Depsos), Posko
Departemen Dalam Negeri (Depdagri), Posko Departemen Perhubungan (Depub),
Posko Pusat Penerangan Mabes TNI (Puspen TNI), dan Posko LIN dan Kominfo
NAD.
Posko Depkes melaporkan, jumlah korban meninggal dan telah dimakamkan
sebanyak 109.169 jiwa di provinsi NAD, dan 128 jiwa di Nias provinsi
Sumatera Utara. Jumlah korban luka yang dirawat inap 4.512 jiwa dan yang
dirawat jalan 74.487 jiwa.
Upaya penanganan masalah kesehatan yang dilakukan Posko Depkes, antara
lain memaksimalkan fungsi pelayanan rumah sakit, puskesmas, posyankes,
dan rumkitlap. Depkes melakukan imunisasi dan peningkatan kesehatan
lingkungan untuk mencegah kejadian luarbiasa (KLB), khususnya penyakit
campak, DBD, dan malaria. Juga memberikan pengetahuan dan keterampilan
kepada masyarakat, relawan, dan bidan desa mengenai cara pemberian
makanan bayi dalam situasi darurat.
Depkes menyebutkan, kebutuhan yang sangat mendesak saat ini adalah
tambahan 109 paket unit pelayanan kesehatan, terdiri 109 dokter umum,
218 perawat, 218 bidan, dan 109 ahli gizi dan sanitarian.
Posko Depsos melaporkan, jumlah orang yang hilang di NAD sebanyak 12.133
jiwa dan 24 jiwa di Sumatera Utara, sedangkan penduduk yang mengungsi
sebanyak 424.854 jiwa. Di NAD jumlah rumah yang rusak 29.743 unit dan di
Sumut 499 unit.
Posko Depdagri melaporkan, pada tanggal 15 Februari 2005 pembangunan
seluruh barak pengungsi telah selesai sehingga sebagian besar pengungsi
dapat direlokasi ke barak-barak tersebut. Di Kabupaten Aceh Timur
dibangun tiga barak, di Aceh Besar 11 barak.
Posko Depdagri melaporkan pula akibat gempa dan tsunami sekitar 70
persen gedung dan 60 persen peralatan kampus IAIN Ar-Raniry di Banda
Aceh, rusak, sehingga kegiatan kampus tidak bisa berjalan normal. Purek
I IAIN Ar-Raniry Warul Walidin mengatakan, aktivitas kampus baru akan
dimulai pada 14 Februari 2005.
Untuk mendapatkan bantuan, demikian laporan Posko Depdagri, seluruh
korban gempa dan tsunami akan diberi kartu pengenal yang dapat digunakan.
Biaya makan pengungsi telah dianggarkan Rp 150.000/orang/bulan. Bagi
korban yang tidak mengungsi tetap berhak mendapatkan bantuan sama.
Sementara itu Posko Dephub melaporkan, program pembangunan jalan dan
jembatan darurat di pantai barat Lhok Nga ke Meulaboh sepanjang 22 km,
akan dilaksanakan dengan mengalihkan seluruh program TNI Manunggal Masuk
Desa (TMMD), yang ada di provinsi lain, ke NAD. Program itu akan
dilaksanakan sejak 24 Februari hingga 24 Maret 2005.
Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengirim delapan unit kapal layar,
berasal dari para nelayan Sulawesi Selatan. Kapal itu telah tiba di
Pelabuhan Malahayati, pada 1 Februari 2005 untuk mendistribusikan
bantuan logistik ke Pantai Barat. Sedangkan KMP JATRA III tiba pada 3
Februari 2005, juga di Malahayati membawa 15 unit truk bantuan dari
Brunei Darussalam, 20 unit truk bantuan Korea Selatan, dan barang-barang
bantuan dari Singapura.
KM GANDA DEWATA yang masih dalam pelayaran dari Tanjung Priok menuju
Meulaboh, yang mengangkut barang milik Perpansi, itu berisikan 2.500
yard terpal, 800 buah tenda, 75.000 botol air mineral, 28 ton pakaian,
573 personil TNI, dan enam orang personil dari Yayasan Bina Mandiri. KM
EGON yang masih sandar di Tanjung Priok, memuat barang bantuan Wakil
Presiden Muhammad Jusuf Kalla sebanyak dua konttainer, dua dump truck
dari World Vision International, tiga truk pakaian, satu truk gula, satu
truk air mineral, satu unit mobil Kijang dari PT Pelindo II, serta enam
unit ambulans dan dua unit mobil operasional dari Reskrim Polri.
Fasilitas telekomunikasi milik PT Telkomsel yang sudah beroperasi di
seluruh NAD sebanyak 69 BTS, perinciannya 33 BTS di Banda Aceh dan
Pantai Barat, 33 BTS di Lhok Seumawe dan Pantai Timur, dan 3 BTS di
Pantai Selatan. Sedangkan di Nias sebanyak dua BTS milik Telkomsel sudah
beroperasi.
Posko Puspen TNI melaporkan, jumlah personil TNI pada PBP di NAD
sebanyak 6.173 orang. Itu terdiri dari TNI-AD 2.684 orang, TNI-AL 1.500
orang, TNI-AU 748 orang, Mabes TNI 95 orang, serta dari Akademi TNI dan
Akademi Polisi 1.146 orang. Pasukan TNI, Polri, serta Relawan telah
melakukan evakuasi dan pemakaman sebanyak 1.009 jenazah di Pantai Barat.
Posko LIN dan Kominfo melaporkan Tim Evakuasi yang terdiri TNI, PMI, dan
Relawan gabungan, telah berhasil mengevakuasi 879 orang. Untuk mendukung
pelaksanaan tugas Tim Evakuasi masih sangat memerlukan peta agar dapat
diketahui daerah mana yang sudah bersih sehingga masyarakat dapat
memasuki daerah tersebut. Demikian pula alat-alat berat sangat
dibutuhkan sekali untuk mengevakuasi korban khususnya di Banda Aceh dan
Aceh Besar.
Dalam konperensi pers di Media Center Pendopo Gubernuran Banda Aceh,
Kamis (3/2-2005), Director of Health Action in Crisis WHO Dr David
Nabarro mengatakan, kehancuran yang terjadi dapat menunjukkan besarnya
krisis kesehatan. Namun, warning system yang dilakukan WHO bersama
pemerintah Indonesia, LSM, masyarakat dan pihak lain akan dapat
mengurangi tingkat resiko penyakit yang akan terjadi.
Posko LIN dan Kominfo menyebutkan telah dibagikan 16.500 paket buku
tulis dan alat belajar. UNICEF juga membagikan 25 koli buku tulis dan
buku pelajaran serta 100 tenda bagi pelajar. Menko Kesra Alwi Shihab,
dalam keterangan pers di Media Center Pendopo Gubernuran Banda Aceh,
mengatakan, Komunitas Masyarakat Muslim di Inggris akan membiayai
pendidikan 2.000 anak yatim hingga tingakt universitas.
WHO Cegah Kondisi Lebih Buruk
WHO menyadari besarnya skala tantangan yang dihadapi setelah melihat
secara langsung kehancuran akibat bencana gempa bumi dan badai tsunami,
yang terjadi di Aceh dan Nias pada 26 Desember 2004.
Dr David Nabarro, Director of Health Action in Crisis WHO, menyebutkan
hal itu saat berlangsung jumpa pers di Media Center Pendopo Gubernuran,
Banda Aceh, Kamis (3/2-2005). Dikatakannya, kehancuran yang terjadi bisa
menunjukkan besarnya krisis kesehatan. Namun Warning System yang
dilakukan WHO bersama pemerintah Indonesia, LSM, masyarakat, dan pihak
lain, itu telah dapat mengurangi tingkat resiko wabah penyakit yang akan
terjadi meskipun tetap harus waspada karena resiko wabah tersebut selalu
ada.
“Saya sudah sampai di Aceh dan melihat langsung akibat tragedi tsunami
tersebut. Namun, saya juga melihat adanya keberanian penduduk di sini
yang tetap mempunyai semangat untuk bangkit menghadapi akibat bencana
tersebut, dan terus membangun serta menormalisasi kehidupan mereka
sendiri,” kata David.
David mengatakan, WHO belum pernah melihat dan menghadapi bencana yang
skalanya sebesar kejadian di Aceh. Namun, WHO, ujar David, telah
menempatkan personel-personel seniornya untuk bekerjasama dengan
pemerintah Indonesia dan pihak-pihak lain yang mendukung. Dengan
kejadian di Aceh, kata David, kita dapat belajar bagaimana besarnya
kebaikan orang-orang untuk turut membantu. Ia berharap jika terjadi
bencana sebesar ini agar terus menggalang spirit dalam membantu sesama.
WHO menurut David akan terus menjalankan kemungkinan-kemungkinan apa
yang bisa dilakukan. WHO juga akan tetap terus meningkatkan kinerjanya.
Komitmen WHO adalah mengembalikan infrastruktur kesehatan di NAD pada
standar yang sama dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Proses itu
memakan waktu. Namun pengamatan di lapangan telah menunjukkan
keberhasilan, yakni dengan meningkatnya orang-orang yang kembali bekerja
di Dinas Kesehatan sehingga WHO dapat bekerjasama untuk memulihkan
kesehatan masyarakat provinsi NAD.
David mengatakan, WHO bekerjasama dengan UNICEF tetap memprioritaskan
terjaminnya kesehatan anak-anak dan wanita. Seperti saudara kembar saja
WHO dan UNICEF memperhatikan kehidupan mereka. Seperti melaksanakan
kegiatan imunisasi terhadap penyakit-penyakit yang rawan antara lain
campak, diare, dan malaria. Di samping menangani penyakit yang bersifat
fisik, WHO juga tetap menangani penyakit yang bersifat non fisik
(mental) seperti trauma.
David Nabarro menambahkan, perkembangan terkini menunjukkan, seiring
kebutuhan yang terus berubah maka tenaga-tenaga WHO dapat menunjang
tenaga-tenaga lokal, provinsi maupun nasional, untuk terus membangun
infrastruktur dan tingkat kesehatan masyarakat Aceh. WHO telah berhasil
mencegah kondisi yang lebih buruk melalui bantuan media untuk
mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap bencana/wabah
penyakit yang akan datang, dan keberhasilan ini menjadi point penting
dari program WHO. *e-ti/lin-ht |
|
|
|
BERITA LAINNYA |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
 |
:: Alwi Shihab: Aceh Masuki Tahap Transisi
:: Telkom Bebaskan Tagihan Januari-Februari
:: H+35, Evakuasi Korban dari Medan Sulit
:: Pasca Tsunami H-31, Sekolah Dimulai Kembali
:: Pemerintah-PBB Sepakat Empat Prioritas Kerja
:: Pasca Tsunami H-30, Korban Meninggal 173. 981 Jiwa
:: Panglima TNI, Calang Akan Dibangun Segera
:: Relokasi Pengungsi, Pemerintah Sewa Tanah Penduduk
:: Pasca Tsunami H-25, Data Dpekes 166.320 Meninggal
:: Pasca Tsunami H-22 Meninggal 110.229, Hilang
12.132 Orang
:: Presiden: Reorganisasi Bakornas PBP
:: Pasca Tsunami H-20, 81.665 Korban Dimakamkan
:: Telah Terbuka 90% Jalan Utama Banda Aceh
:: Bakornas PBP, Telah Dievakuasi 65.594 Jenazah
:: Menko Kesra, Aceh Bersih 10 Hari Lagi
:: Pasca Tsunami, Banda Aceh Mulai Aktif
:: Menko Kesra: Relokasi Pengungsi Prioritas
:: Presiden: Jamin Korban Anak Yatim
:: Akibat Tsunami, 2.742 Sarana Ibadah Rusak
:: Deklarasi KTT Dampak Tsunami
:: 1178 Tenaga Medis, Depsos Salurkan 969 ton
Beras
:: RS Zainal Abidin Berfungsi, 36.266 Jenazah
Dievakuasi
:: Sejuta Anak Pengungsi Aceh
=> Data Korban
Tsunami di Aceh dan Sumut
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
|