A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 
  B E R I T A
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Opini
 ► Editorial
 ► Resensi
 ► Leadership
 ► Berita KIB
 ► Berita Tsunami
 ► Berita 2003
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 

 


 
Paca Tsunami H-18

Terbuka 90% Jalan Utama Banda Aceh


Jakarta 14/01/05: Pembersihan kota di Banda Aceh dan sekitarnya terus berlanjut sehingga 90 % jaringan jalan telah terbuka, kecuali lorong-lorong dan jaringan jalan dekat pantai (Lhoknga dan Uleelheu) belum dibesihkan. Jenazah korban yang sudah dievakuasi dan dimakamkan sampai dengan tanggal 11 Januari 2005 sebanyak 70.157 orang, dari sekitar 95.450 jiwa yang diperkirakan meninggal dan sekitar 77.000 jiwa hilang.

 

Sementara itu, Bakornas PBP dalam Memorandum Nomor: 17 /Posko/I/2005, tertanggal 13 Januari 2005, yang dilaporkan kepada Presiden, Wakil Presiden dan menteri-menteri terkait, yang diinformasikan oleh Media Center Lembaga Informasi Nasional kepada Tokoh Indonesia Kamis 13/1/05, memberikan data korban di 14 Kabupaten sebanyak 78.395 orang meninggal dan 131.479 orang hilang.
 

Dilaporkan upaya evakuasi dan pemakaman korban meninggal lebih diintensifkan sambil mengadakan pembersihan reruntuhan dan sampah yang tercampur dengan jenazah. Untuk ini Telah direkrut 500 orang tenaga evakuasi dengan perlengkapan khusus dari Medan dan Padang dan telah disalurkan secara bertahap.

Evakuasi jenasah di Banda Aceh pada tanggal 11 Januari 2005 sebanyak 3.096. Sehingga jumlah korban yang telah dievakuasi dan dimakamkan sampai dengan tanggal 11 Januari 2005 sebanyak 70.157 jenasah. Jumlah korban meninggal menurut informasi dari Departemen Kesehatan diperkirakan sekitar 95.000 jiwa dan korban hilang sekitar 77.000 jiwa. Korban luka/sakit rawat jalan sebanyak 3.461 orang, dan korban rawat inap berjumlah 1.201 orang,

Penggunaan High Pressure Pump sebanyak 4 unit membuahkan hasil cukup efektif, walaupun masih diperlukan penambahan compressor untuk mempercepat proses pembersihan kota Banda Aceh.

Sementara untuk wilayah Pantai Barat terutama kota Meulaboh, Lammo dan Calang masih memerlukan alat-alat berat dan supply bahan bakar dalam upaya pembersihannya. Kendala utama adalah sulitnya penambahan alat-alat berat ke wilayah itu karena jalur jalan yang masih terputus.

Jalan darat Meulaboh - Banda Aceh sepanjang 203,5 Km yang kondisi rusak berat sama sekali belum dapat dilalui kenderaan. Lebih kurang 150 Km jalan tersebut tergeser terus tsunami dan sekitar 110 buah jembatan (1.750 m). Upaya normalisasi jalan ini terus dilakukan.

Sementara jalan darat Banda Aceh-Meulaboh melalui Beureun-Keumata-Tangge-Tutut (jalur terpendek) yang rusak berat sepanjang 15 Km masih dalam pengerjaan kontraktor lokal dan diperkirakan akan selesai dalam akhir bulan Januari. Dalam upaya pembersihan itu telah pula diberangkatkan 2 unit mobil tinja dengan alokasi 1 unit untuk Meulaboh dan 1 unit untuk Banda Aceh.

 

Telepon dan Enerji
Normalisasi telepon, listrik dan penyaluran BBM terus diefektifkan. Sarana telekomunikasi di Banda Aceh sudah mendekati normal, kecuali di Meulaboh, Aceh Besar, dan Aceh Jaya.

Status recovery layanan telekomunikasi di NAD sampai tanggal 12 Januari 2005, sudah mencapai 68% dari saat bencana terjadi serta dengan 84% area dari 44 STO yang ada di seluruh NAD sudah beroperasi normal. Meliputi 93% seluruh nomor pelanggan di datel NAD dengan jumlah total 98.866 STT. Pekerjaan recovery kabel primer pemulihan 2 sambungan kabel primer kapasitas 20 pair di Banda Aceh centrum, Darussalam, Lamteumen, Sigli dan Sabang.

Sedangkan pengadaan BBM di Lammo masih terbatas karena pengiriman hanya dengan kapal kecil. Calang sudah tidak bisa dipergunakan tetapi telah didistribusikan genset sebanyak 200 unit. Pertamina diharapkan segera melaksanakan pendistribusian BBM dari Singkil ke Seumeule secara kontinue.

Pembersihan dalam tahap tanggap darurat memerlukan tambahan tenaga kerja, sehingga diupayakan tenaga tambahan yang diambil dari tenaga kasar yang berasal dari Medan dan Padang serta relawan dari Jakarta yang di koordinir Depnaker dan pengerahan tenaga Taruna yang akan diberangkatkan dengan Kapal Ganda Dewata.

Upaya penyediaan air bersih terus dilakukan dengan penambahan tangki air dan penyediaan peralatan penjernih air, mobil WTP (water treatment Punfier) yang berasal dariITB, Zeni dan Bantuan asing (Australia dan Perancis).

Kondisi operasional listrik untuk Banda Aceh 70%, Lhokseumawe 100%, Bireun 100%, Meulaboh 20%, dan Sabang 95%. Perbaikan instalasi listrik terus dilakukan untuk menormalkan penerangan, agar dapat bekerja pada malam hari untuk melakukan pembersihan serta kebutuhan penerangan pada instalasi Rumah Sakit. Guna mendukung upaya ini berbagai peralat PLN dari Jakarta yang akan diberangkatkan dari Jakarta pada tanggal 15 Januari 2005 dengan Kapal Tomini.

Pengungsi
Data Depsos menyebut jumlah pengungsi sebanyak 694,760 orang. Lokasi penampungan pengungsi di NAD berjumlah 69 titik tersebar di Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Markas TNI & Polri. Pemerintah Jerman telah menawarkan dan merencanakan bantuan pembangunan barak penampungan sebanyak 24 titik di NAD. Saat ini sedang dibangun 2 unit di Lhokseumawe dan 1 unit di Banda Aceh. Sementara pemerintah Indonesia – Cina telah menawarkan tenda penampungan sebanyak 3000 unit dengan kapasitas penampungan untuk 15.000 orang.

 

Sementara, Depsos melaporkan jumlah rumah rusak 30.258 unit. Di NAD 29.759 unit. antara lain di Bireun 5.745 unit, Aceh Utara 7.670 unit, Lhoksemawe 913 uni5t, Simeuleu 15.415 unit, Singkil 16 unit Di Sumut 499 unit yakni Nias 431 unit, Kab Sergai 8 unit dan Kab Madina 60 unit.

Di beberapa tempat kegiatan ekonomi sudah mulai berjalan, toko dan perbankan telah dibuka kecuali di Meulaboh. Aktivitas perdagangan (pasar) juga sudah mulai beroperasi, namun harga relatif masih tinggi.

Kurangnya stok gula di Aceh telah menyebabkan harga per kg menjadi Rp. 9000 s/d Rp. 12.000. Tindakan yang dilakukan mengirim gula, tetapi alternatif yang ditempuh dengan mengirim 400 ton pada tanggal 12 Januari 2005 dengan operasi pasar dan pengiriman gula tersebut akan terus ditingkatkan terutama mengerahkan gula yang ada di Medan 2250 ton dan yang berasal dari Jawa Timur. Dengan menggunakan sistem pasar, harga gula diperkirakan Rp. 7000/kg sehingga perlu upaya agar harga gula maksimal Rp. 5000/kg.

Demikian pula roda pemerintahan daerah NAD pasca bencana secara berangsur sudah mulai berfungsi sekitar 30% dikendalikan oleh Wagub. Sekretariat DPRD Prov. NAD juga sudah mulai berfungsi. Sebagian kantor Pemda belum berfungsi karena masih dipakai penampungan pengungsi. Kecamatan yang tidak berfungsi sebanyak 55 dari 227, sedang Desa yang tidak berfungsi mencapai 1.550 dari total 5.862.

Pembenahan Pemda telah dilakukan dengan mengadakan apel untuk mengecek kesiapan personil sehingga dapat mengetahui jumlah yang masih ada dan
meninggal/hilang. Sekitar 34 % PNS sudah melapor, 10% meninggal/hilang, 3% sakit, dan 50% belum diketahui keberadaannya. Kekurangan personil akan diperkuat dengan tenaga yang berasal dari STPDN.

Pendidikan
Sementara kegiatan belajar-mengajar untuk sekolah-sekolah yang rusak diupayakan akan dimulai tanggal 26 Januari 2005. Untuk sekolah yang masih berfungsi telah dimulai tanggal 10 Januari 2005. Beberapa gedung sekolah masih dipergunakan oleh pengungsi. Banyak juga yang belum dibersihkan dari lumpur dan mayat serta kondisi bangunan yang perlu diperiksa untuk keselamatan. Untuk mengatasinya dibuat tenda belajar, namun sangat tidak cukup.

Selain itu, tenaga guru juga sangat kurang di Banda Aceh dan Aceh Besar. Sebanyak 1.538 guru diperkirakan meninggal dan hilang, serta 1.000 orang cacat dan mengungsi.
Di samping itu, alat tulis kantor, buku tulis dan buku-buku pelajaran tidak tersedia sehingga harus didatangkan dari Medan. Diperlukan dukungan Mendiknas untuk pengadaan pakaian sekolah, buku-buku, dan dukungan lainnya.

Keamanan
Kegiatan orang asing akan ditertibkan. Kehadiran di Banda Aceh dan sekitarnya serta Meulaboh tidak masalah. Kegiatan di lokasi lain perlu mendapat persetujuan terlebih dahulu (semuanya demi pertimbangan keamanan). Disarankan kepergian orang asing ke daerah tertentu diupayakan berkelompok serta mendapatkan pengamanan.

Sedangkan perihal adanya berita tentang perlunya tambahan pengiriman personil TNI ke Aceh untuk memperkuat evakuasi korban meninggal dan pembersihan kota, masih perlu pertimbangan. Hal tersebut sebaiknya tidak dilakukan dengan mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi, kecuali merupakan satu-satunya jalan yang harus ditempuh.   *e-ti/LIN-mlp

  BERITA LAINNYA  
:: Telah Terbuka 90% Jalan Utama Banda Aceh

:: Bakornas PBP, Telah Dievakuasi 65.594 Jenazah

:: Menko Kesra, Aceh Bersih 10 Hari Lagi

:: Pasca Tsunami, Banda Aceh Mulai Aktif

:: Menko Kesra: Relokasi Pengungsi Prioritas

:: Presiden: Jamin Korban Anak Yatim

:: Akibat Tsunami, 2.742 Sarana Ibadah Rusak

:: Deklarasi KTT Dampak Tsunami

:: 1178 Tenaga Medis, Depsos Salurkan 969 ton Beras

:: RS Zainal Abidin Berfungsi, 36.266 Jenazah Dievakuasi

:: Sejuta Anak Pengungsi Aceh

:: Upaya Tim Depdagri Pulihkan Pemerintahan NAD

:: Kargo Gratis Garuda ke Aceh

:: Wapres: 3 Tahap Tanggulangi Bencana Tsunami

:: PMI Fokus di Meulaboh

:: Lindungi Anak Korban Tsunami

:: KTT Tsunami 6 Januari

:: Pengungsi Terus Bertambah

:: Difasilitasi Penerbangan Gratis

:: Daftar (Jumlah) Korban Tsunami di Aceh dan Sumut

:: Presiden: Gelar Konferensi Korban Tsunami

:: Posko Penanganan Bencana Aceh


=> Data Korban Tsunami di Aceh dan Sumut