Pasca Tsunami H-22
Meninggal 110.229, Hilang 12.132 Orang
Jakarta 17/01/05: Posko LIN-Kominfo di Banda Aceh melaporkan (16/1/05),
jumlah korban meninggal akibat gempa dan tsunami di NAD dan Sumut
(26/12/04) mencapai 110.229 orang (NAD 109.968 orang dan Sumut 261 orang).
Sedangkan korban hilang mencapai 12.132 orang (NAD 12.108 dan Sumut 24
orang). Mereka yang hilang diperkirakan meninggal atau dipengungsian.
Data yang bersumber dari Posko Direktorat BSKBA Depsos RI (15/1/05 pukul
16.00) yang diinformasikan Media Center LIN kepada Tokoh Indonesia
(16/1/05) itu juga mencatat jumlah pengungsi 703.518 orang yakni 699.505
di NAD dan 4.012 di Sumut. Korban yang dirawat sebanyak 925 orang (NAD
920 orang dan Sumut 5 orang). Sementara rumah yang rusak sebanyak 30.258
unit (NAD 29.759 unit dan Sumut 499 unit).
Sementara itu, diinformasikan juga bahwa Bakornas PBP sampai 15 Januari
2005 telah menyalurkan bantuan pangan sebanyak 1.463.975 kg beras, mie
instan 6.855, ikan asin 39.200 kg, minyak goreng 2.010 kotak, gula
20.100 kg, kecap 300 botol, sardencis 103 dus, susu 675 dus, air mineral
3.141 kotak, biskuit 7.465 dus. Bantuan non pangan berupa tenda 74 buah,
selimut 11.808 lembar, baju layak pakai 1.558 potong, kain sarung 5.017
karung, tikar 275 bal, kompor 100 buah, peralatan masak 250 lusin, dan
kantong mayat 30 buah.
Dilaporkan juga bahwa Lanud Sabang telah digunakan sebagai gudang
logistik alternatif penerimaan dan pergudangan logistik. Barang logistik
yang menumpuk di Batam, Medan, Jakarta dapat dikirim ke daerah via Banda
Aceh melalui darat dan Sabang melalui udara. Dapat juga dikirim melalui
laut via Lhok Seumawe dan Malahayati sesuai kemampuan pelabuhan.
Posko LIN-Kominfo di Banda Aceh lebih lanjut melaporkan secara
keseluruhan sampai 15/1/05 korban gempa dan gelombang tsunami yang telah
dimakamkan 84.637 jenazah dan dan 132.172 belum diketemukan (diperkirakan
meninggal dunia atau berada di luar Aceh). Sehari sebelumnya telah
dievakuasi 2.972 jenazah yang berasal dari Banda Aceh 2.871 jenazah dan
Pantai Barat 101 jenazah.
Hambatan evakuasi antara lain medan yang sulit dijangkau karena genangan
air, lumpur
dan sampah serta kondisi mayat yang mulai membusuk, sehingga diperlukan
alat proteksi
tubuh petugas/relawan, disamping perlunya tambahan sekitar 25 dump truk
dari 40 unit yang ada untuk kelancaran evakuasi jenazah.
Pengungsi sampai dengan tanggal 15 Januari 2005 adalah sebanyak 394.285
jiwa, di 64 lokasi. Pengungsi akan segera relokasi pada penampungan
sementara di 24 lokasi, yakni Kota Banda Aceh 34.146 orang (4 titik),
Kab. Aceh Besar 116984 (3 titik), Pidie 31.074 (2 titik), Bireun 17.024
(2 titik), Aceh Utara 28.266 orang (1 titik), Aceh Timur 2.356 orang (1
titik), Aceh Jaya 32.000 orang (6 titik), Aceh Barat 56.479 orang (4
titik), dan kabupaten lainnya 75.936 orang (1 titik).
Disebutkan, penanganan relokasi merupakan kunci keberhasilan penanganan
pengungsi khususnya dalam pendistribusian bantuan maupun layanan
kesehatan.
Aktivitas Pemerintahan Sementara itu,
Depdagri melaporkan bahwa aktivitas Pemerintahan Kota Banda Aceh telah
mulai berjalan walaupun dari data jumlah PNS yang melapor sebanyak 1.500
orang dari sekitar 5.845 orang PNS ( guru : 3.664 orang dan administratif
2.181 orang) Dilaporkan juga gaji PNS bulan Januari 2005 telah
dibayarkan penuh tanpa potongan. Sedangkan pembayaran gaji untuk tenaga
sukarela belum dapat dibayarkan yang jumlahnya sekitar 300 orang, tidak
termasuk tenaga honorer dari dinas kebersihan.
Proses belajar mengajar bagi SD sampai SMU yang seharusnya dimulai
tanggal 26 Januari 2005, namun dalam pelaksanaannya ditemukan kendala
antara lain belum cukup tersedianya buku dan alat tulis, pakaian sekolah
dan sarana transportasi. Khusus untuk gedung sekolah yang hancur
dibutuhkan tenda untuk melaksanakan kegiatan belajar.
Dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi pembangunan perkotaan, perlu
relokasi pusatpusat pemerintahan dan pemukiman termasuk tempat pembuangan
sampah. *e-ti/LIN-mlp
|
|
|
|