Nias Butuh Bantuan
674 Meninggal, Infrastruktur Rusak
Gunung Sitoli 8/4/2005: Bencana gempa tektonik berkekuatan 8,7 skala
rihcter, tengah malam 28 Maret 2005, yang memorak-perandakan Nias dan
daerah sekitarnya telah menelan jiwa hampir seribu orang. Media Center
Lembaga Informasi Nasional (LIN) menginformasikan, berdasarkan laporan
terbaru dari Biro Humas Departemen Kesehatan (7/4), diketahui jumlah
korban yang sudah diidentifikasi meninggal dunia berjumlah total 674
orang.
Korban terbanyak terdapat di Kabupaten Nias 491 orang, Nias Selatan 141
orang, dan Tapanuli Tengah satu orang. Kemudian Kabupaten Simeuleu 22
orang, Aceh Singkil 15 orang, Aceh Selatan tiga orang, dan di Aceh Timur
satu orang. Diperkirakan masih ada korban jiwa yang tertimba reruntuhan
bangunan yang belum berhasil dievakuasi. Pemerintah pusat menetapkannya
sebagai bencana daerah.
Selain korban meninggal dunia, dilaporkan pula jumlah korban yang masih
menjalani rawat inap sebanyak 279 pasien. Mereka dirawat di berbagai
rumah sakit umum di Sumatera Utara 227 pasien, dan 52 pasien lainnya
dirawat di beberapa rumas sakit umum di NAD. Bantuan obat-obatan dan
alat kesehatan yang dikirim oleh Pos Kesehatan (Poskes) Medan untuk
Nias, itu baru tiba pada hari Rabu (6/4) atau sembilan hari setelah
kejadian sebanyak 4.464 koli.
Juga dilaporkan sudah tiba, dua truk bantuan lain berupa
obat-obatan, alat kesehatan dan diagnostik disumbangkan oleh Khidmat e
Khalq Foundation dari Pakistan. Sementara hampir 85 persen infrastruktur
rusak, termasuk rumah dan gedung sekolah dan perkantoran.
Setidaknya, empat lembaga yang terlibat penanganan pasca bencana gempa
bumi di Nias, memberikan informasi terbaru yang saling melengkapi
kondisi terkini di sana. Yakni Biro Humas Depkes, Posko Depsos, Posko
Kominfo, dan Bakornas PBP.
Bakornas PBP melaporkan Kabupaten Nias sangat membutuhkan bantuan dalam
waktu segera antara lain pasokan BBM, perbaikan sarana kelistrikan,
perbaikan sarana telekomunikasi, penyediaan air bersih dan bantuan
pangan, obat-obatan jenis injeksi seperti trasamin, piracetam, ulsikur,
manitol, ceftriaxon, lidokain, dan bantuan alat rontgen serta peralatan
cuci film. Sedangkan kebutuhan segera bagi warga di Nias Selatan antara
lain bantuan pangan beras, minyak tanah, obat-obatan, tenda-tenda,
genset, dan alat diagnostik.
Di Simeuleu RSU-nya membutuhkan tenda yang relatif representatif tahan
terhadap cuaca dingin dan nagit, kemudian alat medis seperti UGD, lab,
kamar bersalin, OK lapangan, dan rontgen lapangan. Warga di Gunung
Sitoli juga memerlukan tenda darurat yakni tenda plastik biru sebagai
tempat tinggal di luar rumah.
Sementara itu laporan dari Posko Departemen Sosial menyebutkan, terdapat
sebanyak 30.346 warga yang mengungsi akibat gempa yang terjadi di dua
provisin itu, Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), pada
Senin (28/03) tengah malam atau persis satu hari usai umat Kristiani,
yang dahulu mayoritas mendiami Pulau Nias, merayakan Paskah.
Walau korban meninggal dunia terbanyak terdapat di Pulau Nias, namun
sebaran pengungsi terbesar justru terdapat di Pulau Simeuleu sebanyak
18.000 jiwa, lalu di Kabupaten Nias 8.643, Nias Selatan 3.749 jiwa, dan
di Simalungun 64 jiwa. Warga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi
umumnya karena rasa takut kemungkinan munculnya gelombang tsunami,
sebagaimana telah melanda NAD dan Nias pada 26 Desember 2004 sebelumnya.
Nyatanya, hingga laporan dikirimkan ketakutan dimaksud tak pernah
terwujud.
Dari luar Pulau Nias diperoleh pula keterangan, terdapat 524 unit rumah
yang rusak akibat gempa dahsyat yang menggentarkan sebagian besar
provinsi NAD, Sumatera Utara, hingga Riau. Sebanyak 400 unit rumah yang
rusak terdapat di Kabupaten Mandailing Natal, lalu 67 unit di Samosir,
26 unit di Simalungun, 23 unit di Humbang Hasundutan, dan 8 unit lagi di
Tapanuli Utara.
Infrastruktur Rusak
Posko Kominfo di Pulau Nias lebih banyak menyoroti kondisi infrastruktur
yang rusak di wilayah NAD. Seperti, jalur darat Subulussalam-Kota
Singkil di NAD dilaorkan sudah dapat dilalui walau di beberapa ruas
jalan masih terdapat retak-retak. Kondisi badan jalan di Kawasan Sisik
Naga diketahui turun sepanjang 100 m, demikian pula jembatan Silotang di
ujung jalan jembatan kiri dan kanannya turun sekitar 40 cm. Jaringan
listrik di sepanjang Rimo-Kota Singkil terdapat 43 tiang listrik yang
tumbang, yang miring 143 tiang, dan 3 gardu distribusi dilaporkan
runtuh.
Sebanyak 80 persen sarana dan prasarana perkantoran di Simeuleu dalam
keadaan rusak, dan sekitar 1.500 unit rumah penduduk dilaporkan
mengalami kerusakan. Sekitar 40 persen gedung RSUD Simeuleu mengalami
kerusakan, yang mengakibatkan sekitar 60 persen fasilitasnya ikut pula
rusak. Kantor Bupati dan DPRD Simeuleu juga ikut rusak, dan mengenai
tingkat kerusakan pada gedung sekolah dan fasilitas umum lainnya masih
didata.
Bakornas PBP melaporkan berbagai kendala penanganan pasca gempa, antara
lain pendorongan bantuan sangat lambat karena lokasi bencana terisolasi
atau terputus-putus tak bisa dilalui akibat jembatan dan jalan rusak
sehingga harus melalui udara. Padahal, sarana angkutan udara sangat
terbatas sehingga bantuan tidak dapat segera didroping ke lokasi
bencana. Akibatnya barang-barang bantuan tampak sudah mulai menumpuk di
hanggar bandara Polonia Medan. Kondisi itu masih diperparah dengan
jaringan listrik dan komunikasi yang belum dapat berfungsi normal. *ti/ht-lin |
|
|
|
BERITA LAINNYA |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
 |
= Nias Butuh Bantuan
= Wapres Serahkan Rancangan Konstruksi NAD
= World Harvest: Peresmian Sarana Pembelajaran
= Ricuh, Kepemimpinan DPR Sangat Lemah
= 36 Tokoh Iklan Kenaikan Harga BBM
= Harga BBM Naik
= Tidak Semua Eselon I Akan Diganti
= Kementerian Negara Kominfo Jadi Departemen
= Ical, Sugiharto, dan Suryadharma Dapat Nilai Terendah
= M Samsul Arif, Kinerja Belum Sentuh Substansi
= Presiden Tak Pernah Janji Soal 100 Hari
= Dikritik, SBY Ngaku Lapang Hati
= Paul Sutaryono: 100 Hari Pemerintah dan Industri Perbankan
= FKB Kecewa, SBY-JK Tekesan Masih Kampanye
= Masalah 100 Hari, Presiden Terjebak Jargon Sendiri
= Seratus Hari Tanpa Perubahan Signifikan
= Gebrakan 100 Hari Tanpa Gebrakan
= Megawati: Janji SBY di Awang-awang
= Kinerja Kementerian BUMN Buruk
= Janji-Janji Presiden Sulit Sitepati
= Ketidakpuasan Publik Mulai Terekspresikan
= Presiden Belum Puas, 100 Hari Dapat Ponten 4
= 100 Hari SBY-Kalla, Tidak Puas Kinerja Aparat Hukum
= Penanganan Korupsi, SBY Sendiri Belum Puas
= Tajuk Kompas: Kinerja 100 Hari Pemerintah SBY-Kalla
= 100 Hari Pemerintahan SBY Penegakan Hukum Masih Buruk =
Presiden Tidak Puas Kinerja Polisi dan Jaksa =
Sukardi Rinakit: SBY dan Politik "Gusti Ora Sare" =
Presiden SBY, Jangan Cepat Vonis Pemerintah Gagal =
Frans Seda, Budaya 100 Hari =
Noktah Merah Rapor SBY =
Dr J Kristiadi, Hanya Retorika Politik
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
|