Presiden SBY:
Pemerintah Jamin Korban Anak Yatim
Jakarta 09/01/05: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan
pemerintah akan bertanggung jawab terhadap para koban, anak yatim,
korban yang kehilangan keluarga baik dari segi pendidikan, jaminan hidup
dan tempat tinggal. Dia juga menegaskan bahwa dalam mengatasi musibah,
solidaritas global dalam memberikan bantuan tidak ada kepentingan lain
selain demi kemanusiaan.
Dalam keterangan persnya setelah meninjau pelaksanaan penyaluran bantuan
dan pemberangkatan sukarelawan untuk korban gempa tektonik dan tsunami
di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Sabtu, 08/01/05,
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, mengatakan proses penanganan
bencana butuh waktu panjang dan pemerintah akan terus bekerja keras
mewujudkan rencana-rencana yang sudah dibuat untuk membantu para korban
di Aceh dan Nias, Sumatera Utara.
Menanggapi pertanyaan tentang penanganan korban yang kehilangan tempat
tinggal, Susilo menegaskan bahwa pemerintah akan melakukan pencatatan,
pendataan dan pengelolaan bencana. Dalam proses rehabilitasi dan
rekonstruksi infrastruktur tidak hanya memperhatikan milik pemerintah
namun juga milik swasta dan sipil.
Tentang berapa lama pasukan asing seperti Amerika dan Australia berada
di Aceh, Susilo menegaskan bahwa dalam mengatasi musibah, solidaritas
global dalam memberikan bantuan kemanusiaan sudah menjadi suatu
keharusan. “Tidak ada kepentingan lain selain demi kemanusiaan. Selain
mengerahkan sumber daya nasional, pemerintah juga dibantu oleh
negara-negara sahabat seperti Malaysia, Brunei, Timur Tengah, Australia,
Amerika, Jepang, Cina, dan sebagainya. Pemerintah akan terus
berkoordinasi dan memimpin pelaksanaan misi kemanusiaan ini,” jelas
presiden.
Berusaha maksimal
Pemerintah akan berusaha semaksimal mungkin mengerahkan sarana angkutan
udara dengan melibatkan semua pangkalan udara yang dimiliki seperti
Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Pekanbaru, Medan, Banda Aceh, Batam
dan Lampung. Presiden juga menyatakan terima kasih atas nama pemerintah
dan rakyat Indonesia kepada Perdana Menteri Malaysia yang telah
menyediakan fasilitas di Bandar Udara Subang, Kuala Lumpur.
Kepala Negara mengatakan bahwa sarana angkutan udara memainkan peranan
sangat penting dalam menyalurkan bantuan ke lokasi bencana di Aceh dan
Nias, Sumatera Utara.
Sarana angkutan laut maupun darat menemukan kesulitan dalam mencapai
wilayah-wilayah yang terkena bencana karena jalan terputus dan rusaknya
pelabuhan. Di Meulaboh, sarana angkatan laut tidak bisa merapat ke
daratan sehingga langkah pertama yang dilakukan untuk mendrop bahan
bantuan adalah mengerahkan sarana angkut udara, yakni helikopter yang
berangkat dari Medan ke Meulaboh.
Hingga saat ini, jumlah penerbangan di pangkalan udara di Banda Aceh
sangat banyak. Biasanya dalam satu hari hanya 8-10 penerbangan,
belakangan ini menjadi 120 penerbangan lebih. Begitu pula Medan, yang
mengalami holding time lebih dari 30 menit. Belum lagi masalah konflik
tentang siapa yang mendarat duluan di bandara dan refueling system yang
tidak tersedia di Banda Aceh sehingga semua pesawat harus kembali ke
Medan. “Mengatur padatnya arus penerbangan adalah persoalan yang sedang
dihadapi dan dicari solusinya,” kata Susilo dalam keterangan persnya.
Susilo juga mengungkapkan bahwa kini terdapat kurang lebih 550 ribu
pengungsi yang tersebar di Aceh. Mereka sangat memerlukan obat-obatan,
pakaian, air bersih, dan pemenuhan kebutuhan ini akan berlangsung lama.
Pemerintah masih harus menyediakan rumah, barak, dan fasilitas lain bagi
mereka. Oleh karena itu, penggunaan sarana angkutan, baik darat, laut,
maupun udara akan terus dikerahkan semaksimal mungkin. Susilo berharap
dengan kerja keras dan koordinasi yang baik semua tantangan dan masalah
yang dihadapi bisa diatasi.
Dalam keterangan persnya, sejumlah wartawan mengajukan pertanyaan. Mega
Simarmata dari Voice Amerika menanyakan tentang penanganan
jenazah-jenazah yang masih berserakan di banyak kota di Aceh. Menanggapi
pertanyaan itu, Susilo menceritakan bahwa TNI bersama sukarelawan, PMI
dan masyarakat sipil terus bekerja keras mencari dan mengumpulan jenazah
kemudian mengebumikannya. Satu malam bisa mengebumikan ratusan bahkan
ribuan jenazah.
Dalam melakukan pencarian, pemerintah mengerahkan alat-alat berat untuk
mencari jenazah di sungai dan reruntuhan bangunan dengan harapan bahwa
satu jiwa pun kalau bisa diselamatkan akan diselamatkan. Itulah
kenyataan yang terjadi di lapangan. Dalam pencarian ditemukan anak kecil,
ibu-ibu, dan seorang ayah yang masih bertahan hidup selama sepuluh hari
setelah bencana terjadi. *e-ti/mlp-LIN
|
|
|
|