A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 
  B E R I T A
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Opini
 ► Editorial
 ► Resensi
 ► Leadership
 ► Berita KIB
 ► Berita Tsunami
 ► Berita 2003
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 

 


 
Presiden SBY:

Pemerintah Jamin Korban Anak Yatim


Jakarta 09/01/05: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan pemerintah akan bertanggung jawab terhadap para koban, anak yatim, korban yang kehilangan keluarga baik dari segi pendidikan, jaminan hidup dan tempat tinggal. Dia juga menegaskan bahwa dalam mengatasi musibah, solidaritas global dalam memberikan bantuan tidak ada kepentingan lain selain demi kemanusiaan.

Dalam keterangan persnya setelah meninjau pelaksanaan penyaluran bantuan dan pemberangkatan sukarelawan untuk korban gempa tektonik dan tsunami di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Sabtu, 08/01/05, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, mengatakan proses penanganan bencana butuh waktu panjang dan pemerintah akan terus bekerja keras mewujudkan rencana-rencana yang sudah dibuat untuk membantu para korban di Aceh dan Nias, Sumatera Utara.

Menanggapi pertanyaan tentang penanganan korban yang kehilangan tempat tinggal, Susilo menegaskan bahwa pemerintah akan melakukan pencatatan, pendataan dan pengelolaan bencana. Dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur tidak hanya memperhatikan milik pemerintah namun juga milik swasta dan sipil.

Tentang berapa lama pasukan asing seperti Amerika dan Australia berada di Aceh, Susilo menegaskan bahwa dalam mengatasi musibah, solidaritas global dalam memberikan bantuan kemanusiaan sudah menjadi suatu keharusan. “Tidak ada kepentingan lain selain demi kemanusiaan. Selain mengerahkan sumber daya nasional, pemerintah juga dibantu oleh negara-negara sahabat seperti Malaysia, Brunei, Timur Tengah, Australia, Amerika, Jepang, Cina, dan sebagainya. Pemerintah akan terus berkoordinasi dan memimpin pelaksanaan misi kemanusiaan ini,” jelas presiden.

Berusaha maksimal
Pemerintah akan berusaha semaksimal mungkin mengerahkan sarana angkutan udara dengan melibatkan semua pangkalan udara yang dimiliki seperti Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Pekanbaru, Medan, Banda Aceh, Batam dan Lampung. Presiden juga menyatakan terima kasih atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia kepada Perdana Menteri Malaysia yang telah menyediakan fasilitas di Bandar Udara Subang, Kuala Lumpur.

Kepala Negara mengatakan bahwa sarana angkutan udara memainkan peranan sangat penting dalam menyalurkan bantuan ke lokasi bencana di Aceh dan Nias, Sumatera Utara.

Sarana angkutan laut maupun darat menemukan kesulitan dalam mencapai wilayah-wilayah yang terkena bencana karena jalan terputus dan rusaknya pelabuhan. Di Meulaboh, sarana angkatan laut tidak bisa merapat ke daratan sehingga langkah pertama yang dilakukan untuk mendrop bahan bantuan adalah mengerahkan sarana angkut udara, yakni helikopter yang berangkat dari Medan ke Meulaboh.

Hingga saat ini, jumlah penerbangan di pangkalan udara di Banda Aceh sangat banyak. Biasanya dalam satu hari hanya 8-10 penerbangan, belakangan ini menjadi 120 penerbangan lebih. Begitu pula Medan, yang mengalami holding time lebih dari 30 menit. Belum lagi masalah konflik tentang siapa yang mendarat duluan di bandara dan refueling system yang tidak tersedia di Banda Aceh sehingga semua pesawat harus kembali ke Medan. “Mengatur padatnya arus penerbangan adalah persoalan yang sedang dihadapi dan dicari solusinya,” kata Susilo dalam keterangan persnya.

Susilo juga mengungkapkan bahwa kini terdapat kurang lebih 550 ribu pengungsi yang tersebar di Aceh. Mereka sangat memerlukan obat-obatan, pakaian, air bersih, dan pemenuhan kebutuhan ini akan berlangsung lama. Pemerintah masih harus menyediakan rumah, barak, dan fasilitas lain bagi mereka. Oleh karena itu, penggunaan sarana angkutan, baik darat, laut, maupun udara akan terus dikerahkan semaksimal mungkin. Susilo berharap dengan kerja keras dan koordinasi yang baik semua tantangan dan masalah yang dihadapi bisa diatasi.

Dalam keterangan persnya, sejumlah wartawan mengajukan pertanyaan. Mega Simarmata dari Voice Amerika menanyakan tentang penanganan jenazah-jenazah yang masih berserakan di banyak kota di Aceh. Menanggapi pertanyaan itu, Susilo menceritakan bahwa TNI bersama sukarelawan, PMI dan masyarakat sipil terus bekerja keras mencari dan mengumpulan jenazah kemudian mengebumikannya. Satu malam bisa mengebumikan ratusan bahkan ribuan jenazah.

Dalam melakukan pencarian, pemerintah mengerahkan alat-alat berat untuk mencari jenazah di sungai dan reruntuhan bangunan dengan harapan bahwa satu jiwa pun kalau bisa diselamatkan akan diselamatkan. Itulah kenyataan yang terjadi di lapangan. Dalam pencarian ditemukan anak kecil, ibu-ibu, dan seorang ayah yang masih bertahan hidup selama sepuluh hari setelah bencana terjadi.  *e-ti/mlp-LIN

  Berita Lainnya  

:: Presiden: Jamin Korban Anak Yatim

:: Akibat Tsunami, 2.742 Sarana Ibadah Rusak

:: Deklarasi KTT Dampak Tsunami

:: 1178 Tenaga Medis, Depsos Salurkan 969 ton Beras

:: RS Zainal Abidin Berfungsi, 36.266 Jenazah Dievakuasi

:: Sejuta Anak Pengungsi Aceh

:: Upaya Tim Depdagri Pulihkan Pemerintahan NAD

:: Kargo Gratis Garuda ke Aceh

:: Wapres: 3 Tahap Tanggulangi Bencana Tsunami

:: PMI Fokus di Meulaboh

:: Lindungi Anak Korban Tsunami

:: KTT Tsunami 6 Januari

:: Pengungsi Terus Bertambah

:: Difasilitasi Penerbangan Gratis

:: Daftar (Jumlah) Korban Tsunami di Aceh dan Sumut

:: Presiden: Gelar Konferensi Korban Tsunami

:: Posko Penanganan Bencana Aceh


=> Data Korban Tsunami di Aceh dan Sumut