Menko Kesra
Aceh Bersih Dua Minggu Lagi
Banda Aceh 10/01/05: Menko Kesra Alwi Shihab mengintruksikan seluruh
jajaran operasi penanganan bencana gempa dan tsunami di Aceh untuk menyelesaikan
kegiatan pembersihan jenazah dan puing-puing dalam waktu dua minggu
terhitung sejak 7 Januari 2005. Atau sepuluh hari sejak hari ini (Selasa
11/1/05). “Seluruh kelompok operasi yang ada harus mampu menempatkan
target pembersihan dua minggu tersebut sebagai prioritas”, kata Menko
Kesra.
Bersamaan dengan itu, Alwi Shihab juga menekankan pentingnya bagi tim
operasi pembersihan untuk mempercepat relokasi bagi para pengungsi.
Target dua minggu yang telah ditetapkan pemerintah merupakan target
maksimum yang dapat ditoleransi pemerintah merelokasi pengungsi untuk
kembali memasuki kehidupan normal.
Dia mengingatkan semua pihak, bahwa masalah relokasi merupakan tolok
ukur dunia internasional untuk menilai kemampuan Indonesia dalam
menangani korban akibat bencana alam tersebut.
Hal itu dibahas dalam Rapat evaluasi harian Bakornas PBP yang dipimpin
Kepala Badan Koordinasi Penanganan Bencana Alam di Aceh Budi Atmaji yang
diadakan di kawasan pendopo. Rapat evaluasi yang juga dihadiri Panglima
TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Minggu 9/1/05 itu menyimpulkan
berbagai kemajuan signifikan dalam proses pembersihan dan evakuasi
jenazah di seluruh wilayah Aceh sesuai dengan empat prioritas yang telah
dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Dalam hal relokasi pengungsi, Deputi Bidang Pengelolaan Informasi LIN
Roem Lintang Suharto, menginformasikan bahwa sudah ditetapkan 24 titik di
Provinsi NAD, yang saat ini lima di antaranya sudah dalam proses
pembersihan. Dalam hal relokasi ini, Pangdam Iskandar Muda menghimbau
pihak-pihak terkait agar memilih titik-titik yang jauh dari pemukiman,
dapat dijangkau kendaraan darat serta bangunannya dapat tahan untuk
setidaknya dua tahun.
Khusus mengenai hasil yang dicapai pada hari Minggu, 9 Januari 2005,
lebih dari 2.400 jenazah berhasil ditemukan sehingga meningkatkan total
jenazah yang telah dievakuasi menjadi 36.288. Hal ini terlepas hujan yang
mengguyur kota Banda Aceh dan sekitarnya selama hampir dua jam.
Distribusi
Siaran pers yang diterima Tokoh Indonesia dari Posko Kominfo/Media Center
LIN di Banda Aceh, Senin malam 10/1/05, menginformasikan dalam hal
distribusi pangan kepada para pengungsi, kurangnya bahan bakar dan
halangan tranportasi sering kali menjadi kendala utama yang menghalangi
proses pendistribusian pangan. Transportasi udara masih mendominasi
metode angkutan yang digunakan dalam mendistribusikan bantuan ke
daerah-daerah di luar Banda Aceh.
Namun, beberapa kemajuan juga ditunjukkan oleh meningkatnya penggunaan
angkutan laut dan darat pada pelaksanaan operasi pada hari Sabtu dan
Minggu. Akses jalan darat melalui peisisir Barat Propinsi NAD juga mulai
terlihat dibandingkan waktu waktu sebelumnya dimana reruntuhan bangunan
dan jenazah merupakan penghalang utama bagi bantuan untuk sampai kepada
para IDP. Selain itu, pemerintah melalui TNI mulai mengoptimalkan
pemanfaatan jalur air melalui pendirian gudang-gudang terapung (floating
warehouse).
Saat ini, pemerintah masih memprioritaskan pengadaan suplai jaringan
listrik. “Keberadaan jaringan listrik harus dijadikan prioritas utama
untuk mempercepat normalisasi kehidupan masyarakat di Aceh. Selain itu,
keberadaan listrik juga sangat dibutuhkan untuk mendukung kegiatan
kemanusiaan guna meneruskan kerja di malam hari. Ini harus segera dimulai
dari Banda Aceh mengingat hal ini menjadi hambatan utama yang menghalangi
koordinasi di antara jajaran tim pembersihan, dan evakuasi”, tegas Alwi
Shihab. Ia juga mendesak PLN untuk mempercepat proses normalisasi
jaringan listrik di daerah-daerah operasi.
Sarana Kesehatan
Di bidang sarana kesehatan, rumah sakit Zainal Abidin di Banda Aceh
menjadi pokok pembahasan dalam rapat koordinasi. Sampai hari ini unit
gawat darurat dan ruang perawatan untuk 25 tempat tidur sudah mulai
difungsikan dan akan ditingkatkan menjadi 75 tempat tidur. Sedangkan
dalam waktu dua hari ini, PLN berjanji menghidupkan jaringan listrik
rumah sakit tersebut.
Dalam hal pendistribusian bantuan, saat ini 49 institusi, LSM dan donor
internasional yang dikoordinir oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai
meninggalkan tahap koordinasi dan mulai memasuki tahap operasional pada
hari minggu (9 Januari 2005) sudah dilakukan pengiriman bantuan berupa
bahan pangan dan obat-obatan ke Meulaboh.
Demikan pula halnya dengan TNI yang masih terus menerima dan menyalurkan
bantuan, baik yang datang melalui udara dari Jakarta, Palembang, Batam
dan Singapura, maupun yang melalui jalan darat yang seluruhnya berjumlah
10 ton lebih. *e-ti/LIN-mlp
|
|
|
|