A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 
  B E R I T A
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Opini
 ► Editorial
 ► Resensi
 ► Leadership
 ► Berita KIB
 ► Berita Tsunami
 ► Berita 2003
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 

 


 
Menko Kesra

Aceh Bersih Dua Minggu Lagi


Banda Aceh 10/01/05: Menko Kesra Alwi Shihab mengintruksikan seluruh jajaran operasi penanganan bencana gempa dan tsunami di Aceh untuk menyelesaikan kegiatan pembersihan jenazah dan puing-puing dalam waktu dua minggu terhitung sejak 7 Januari 2005. Atau sepuluh hari sejak hari ini (Selasa 11/1/05). “Seluruh kelompok operasi yang ada harus mampu menempatkan target pembersihan dua minggu tersebut sebagai prioritas”, kata Menko Kesra.

Bersamaan dengan itu, Alwi Shihab juga menekankan pentingnya bagi tim operasi pembersihan untuk mempercepat relokasi bagi para pengungsi. Target dua minggu yang telah ditetapkan pemerintah merupakan target maksimum yang dapat ditoleransi pemerintah merelokasi pengungsi untuk kembali memasuki kehidupan normal.

Dia mengingatkan semua pihak, bahwa masalah relokasi merupakan tolok ukur dunia internasional untuk menilai kemampuan Indonesia dalam menangani korban akibat bencana alam tersebut.

Hal itu dibahas dalam Rapat evaluasi harian Bakornas PBP yang dipimpin Kepala Badan Koordinasi Penanganan Bencana Alam di Aceh Budi Atmaji yang diadakan di kawasan pendopo. Rapat evaluasi yang juga dihadiri Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Minggu 9/1/05 itu menyimpulkan berbagai kemajuan signifikan dalam proses pembersihan dan evakuasi jenazah di seluruh wilayah Aceh sesuai dengan empat prioritas yang telah dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
 

Dalam hal relokasi pengungsi, Deputi Bidang Pengelolaan Informasi LIN Roem Lintang Suharto, menginformasikan bahwa sudah ditetapkan 24 titik di Provinsi NAD, yang saat ini lima di antaranya sudah dalam proses pembersihan. Dalam hal relokasi ini, Pangdam Iskandar Muda menghimbau pihak-pihak terkait agar memilih titik-titik yang jauh dari pemukiman, dapat dijangkau kendaraan darat serta bangunannya dapat tahan untuk setidaknya dua tahun.


Khusus mengenai hasil yang dicapai pada hari Minggu, 9 Januari 2005, lebih dari 2.400 jenazah berhasil ditemukan sehingga meningkatkan total jenazah yang telah dievakuasi menjadi 36.288. Hal ini terlepas hujan yang mengguyur kota Banda Aceh dan sekitarnya selama hampir dua jam.

Distribusi
Siaran pers yang diterima Tokoh Indonesia dari Posko Kominfo/Media Center LIN di Banda Aceh, Senin malam 10/1/05, menginformasikan dalam hal distribusi pangan kepada para pengungsi, kurangnya bahan bakar dan halangan tranportasi sering kali menjadi kendala utama yang menghalangi proses pendistribusian pangan. Transportasi udara masih mendominasi metode angkutan yang digunakan dalam mendistribusikan bantuan ke daerah-daerah di luar Banda Aceh.

Namun, beberapa kemajuan juga ditunjukkan oleh meningkatnya penggunaan angkutan laut dan darat pada pelaksanaan operasi pada hari Sabtu dan Minggu. Akses jalan darat melalui peisisir Barat Propinsi NAD juga mulai terlihat dibandingkan waktu waktu sebelumnya dimana reruntuhan bangunan dan jenazah merupakan penghalang utama bagi bantuan untuk sampai kepada para IDP. Selain itu, pemerintah melalui TNI mulai mengoptimalkan pemanfaatan jalur air melalui pendirian gudang-gudang terapung (floating warehouse).

Saat ini, pemerintah masih memprioritaskan pengadaan suplai jaringan listrik. “Keberadaan jaringan listrik harus dijadikan prioritas utama untuk mempercepat normalisasi kehidupan masyarakat di Aceh. Selain itu, keberadaan listrik juga sangat dibutuhkan untuk mendukung kegiatan kemanusiaan guna meneruskan kerja di malam hari. Ini harus segera dimulai dari Banda Aceh mengingat hal ini menjadi hambatan utama yang menghalangi koordinasi di antara jajaran tim pembersihan, dan evakuasi”, tegas Alwi Shihab. Ia juga mendesak PLN untuk mempercepat proses normalisasi jaringan listrik di daerah-daerah operasi.

Sarana Kesehatan
Di bidang sarana kesehatan, rumah sakit Zainal Abidin di Banda Aceh menjadi pokok pembahasan dalam rapat koordinasi. Sampai hari ini unit gawat darurat dan ruang perawatan untuk 25 tempat tidur sudah mulai difungsikan dan akan ditingkatkan menjadi 75 tempat tidur. Sedangkan dalam waktu dua hari ini, PLN berjanji menghidupkan jaringan listrik rumah sakit tersebut.

Dalam hal pendistribusian bantuan, saat ini 49 institusi, LSM dan donor internasional yang dikoordinir oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai meninggalkan tahap koordinasi dan mulai memasuki tahap operasional pada hari minggu (9 Januari 2005) sudah dilakukan pengiriman bantuan berupa bahan pangan dan obat-obatan ke Meulaboh.

Demikan pula halnya dengan TNI yang masih terus menerima dan menyalurkan bantuan, baik yang datang melalui udara dari Jakarta, Palembang, Batam dan Singapura, maupun yang melalui jalan darat yang seluruhnya berjumlah 10 ton lebih.  *e-ti/LIN-mlp

  BERITA LAINNYA  
:: Menko Kesra, Aceh Bersih 10 Hari Lagi

:: Pasca Tsunami, Banda Aceh Mulai Aktif

:: Menko Kesra: Relokasi Pengungsi Prioritas

:: Presiden: Jamin Korban Anak Yatim

:: Akibat Tsunami, 2.742 Sarana Ibadah Rusak

:: Deklarasi KTT Dampak Tsunami

:: 1178 Tenaga Medis, Depsos Salurkan 969 ton Beras

:: RS Zainal Abidin Berfungsi, 36.266 Jenazah Dievakuasi

:: Sejuta Anak Pengungsi Aceh

:: Upaya Tim Depdagri Pulihkan Pemerintahan NAD

:: Kargo Gratis Garuda ke Aceh

:: Wapres: 3 Tahap Tanggulangi Bencana Tsunami

:: PMI Fokus di Meulaboh

:: Lindungi Anak Korban Tsunami

:: KTT Tsunami 6 Januari

:: Pengungsi Terus Bertambah

:: Difasilitasi Penerbangan Gratis

:: Daftar (Jumlah) Korban Tsunami di Aceh dan Sumut

:: Presiden: Gelar Konferensi Korban Tsunami

:: Posko Penanganan Bencana Aceh


=> Data Korban Tsunami di Aceh dan Sumut